Suami Tampanku Yang Sederhana

Suami Tampanku Yang Sederhana
Bab. 83


__ADS_3

Lebih baik ia memakaikan pada jari manisnya Jennifer,cincin yang tadi sudah disediakan oleh Aldy saja,dari pada nanti ia harus membuat Jennifer merasa baper saja.


"Ternyata berpenampilan seperti ini,tidak buruk juga..." lanjut Sebastian dengan wajah yang tersenyum arogant,sambil menyangga dagunya dengan sebelah tangannya dan posisi yang tetap berdiri didepan cermin tersebut,karena ia memang belum pernah serapi ini.


Kemudian Sebastian terus memerhatikan wajah tampannya yang malah terlihat lebih tampan dari yang sebelum-sebelumnya,karena ia baru saja dimake up oleh jasa make up yang telah dipanggil oleh Daddynya Jennifer tadi,dan mereka semua baru saja keluar dari sana dari 20 menit yang lalu.


Lihatlah,wajah tegasnya yang dipoles tipis dengan alat make up yang terbaik,dan style rambutnya yang Model Rambut Populer Spike,semua itu semakin menyempurnakan ketampanan yang telah ia miliki tersebut.


Lalu tanpa sadar,ia langsung tersenyum sambil membayangkan tentang pernikahannya bersama Jennifer,pernikahan yang akan mereka lakukan sebentar lagi.


Tapi sayangnya senyumannya tersebut hanya bertahan selama beberapa detik saja,karena tiba-tiba saja sebuah suara ketukan pintu dari luar kamarnya langsung menyadarkannya dari lamunan indah tersebut...


"Cih...Apa yang sedang aku pikirkan...Kenapa aku malah memikirkan hal itu?..." ucap Sebastian dengan nada dan wajah kesalnya sambil mengusir lamunan tersebut dengan menggeleng-gelengkan pelan kepalanya,saat ia sendiri baru menyadari apa yang telah ia lamunkan tadi.


Ingin sekali ia mengatakan pada mereka semua kalau ia akan menunggu sampai Jennifer hamil saja,baru ia akan melanjutkan pernikahan tersebut.Tapi sepertinya hal tersebut malah terdengar sangat brengsek dipendengarannya sendiri,dan pastinya semuanya akan memarahi dirinya habis-habisan,terutama Ayahnya.


"Masuk..." lanjut Sebastian dengan nada tegasnya setelah ia sudah selesai menetralkan rasa kesalnya ,saat ia kembali mendengar suara ketukan pintu tersebut.


"Tuan Muda,sudah waktunya kita berangkat kesana.Apakah Tuan Muda sudah siap? " tanya Aldy dengan nada pelannya sambil menunduk hormat pada Tuan Mudanya,setelah ia sudah membuka pintu dan berjalan masuk sebanyak beberapa langkah kedalam.


Sedangkan Sebastian,ia tidak berniat ingin menjawab ataupun berkata apapun,ia hanya melihat jam tangannya yang masih ada 25 menit untuknya berada di Gereja tersebut.Dan perjalanan kesana hanya butuh 20 menit saja,karena jarak Mansion ke Gereja memang hanya sedekat itu saja.


Kemudian Sebastian kembali menghela napas pelan,tapi yang kali ini sedikit lebih panjang.Lalu iapun langsung berjalan keluar dari sana dan melewati Aldy begitu saja,dengan langkah dan wajah tegasnya.


Sedangkan Aldy,ia langsung mengikuti langkah Tuan Mudanya dalam diam dan langkah cepatnya.Ia juga merasa heran dengan Billy,ntah kenapa Billy selalu berusaha menghindari Tuan Mudanya sedari pagi semalam.


Tapi seperti biasanya,ia sama sekali tidak berniat ingin mencari tahu yang sebenarnya atau apapun itu,karena ia tidak mau kalau sampai nyawanya yang malah menjadi terancam.


20 menit kemudian...


Sebastian langsung berjalan keluar dan berjalan dengan langkah tegasnya,setelah sampai dan pintu mobilnya langsung dibuka oleh pengawal yang memang sudah berdiri rapi dihalamannya Gereja tersebut,dan diikuti oleh Aldy dari belakangnya.


"Bagaimana dengan keamanan yang ada disini?" tanya Sebastian dengan nada tegasnya,sambil melangkah masuk kedalam Gereja tersebut.

__ADS_1


"Semuanya aman,Tuan muda.Dan beberapa meeting pagi ini,aku juga sudah menundanya untuk beberapa hari kedepan.Hanya saja,tadi ada beberapa mobil yang memaksa untuk diperbolehkan masuk kedalam Gereja,tapi Tuan Besar langsung memerintahkan pada( kami untuk mengusir mereka..." jawab Aldy dengan cepat dan wajah seriusnya,tanpa menghentikan langkahnya yang sedang mengikuti langkah Tuan Mudanya,sambil memerhatikan kepala Tuan Mudanya yang terlihat sedang mengangguk pelan.


"Siapa saja?" tanya Sebastian dengan nada tenangnya,sambil melirik dengan kening mengernyit heran kearah semua orang yang ternyata sudah duduk rapi didalam Gereja tersebut.


'Ternyata pria tua itu sudah menyiapkan semuanya dengan baik...Ternyata,aku bisa sebod*h ini juga...' lanjut Sebastian dengan perasaan kesalnya,saat ia melihat,kalau bukan hanya ke 3 sahabatnya dan keluarganya saja yang ada disana,tapi sudah ada sekitar seratusan tamu yang tidak semuanya ia kenal karena diantara mereka,hanya ada sekitar 30 an orang saja yang ia kenal dan telah menjadi kliennya.


"Tuan Brennan sekeluarga dan Nona Rebecca,Tuan Muda..." jawab Aldy dengan nada pelannya,karena mereka sudah berada disekitar orang ramai.


Semua orang bahkan terus menatap mereka berdua,hingga membuat dirinya merasa tidak nyaman,walaupun ia tahu kalau semua orang yang ada disana bukan melihat dirinya,melainkan melihat Tuan Mudanya yang memang paripurna tersebut.


"Bagaimana dengan Siska?" tanya Sebastian lagi.


"Siska sudah dikirim ke Tuan Maison oleh Tuan Billy,Tuan Muda.Tuan Billy mengatakan,kalau Siska terus saja berusaha ingin mendapati Tuan Muda, dengan mendekati dirinya terlebih dahulu. Jadi,Tuan Billypun langsung memberinya kepada Tuan Maison,dan Tuan Maison tidak keberatan sama sekali..." jawab Aldy dengan panjang lebar,karena memang itu yang ia dengar dari Billy pada malam semalam.


"Bagus..." ucap Sebastian dengan tersenyum senang didalam hatinya,ternyata Billy yang tidak mau bersikap kejam pada Siska hari itu,kali ini mampu berpikir kejam dan cerdik tanpa ia perintah.


Tuan Maison adalah pria yang berumur sekitar 50 tahunan,pria yang mata keranjang,tidak perduli sama perasaan wanita,dan kekayaannya masih berada diurutan 40,dan dia juga sudah memiliki 2 istri.


'Cih...' batin Sebastian,perasaan senangnya tadi langsung sirna dan menjadi kesal,saat ia memikirkan tentang Billy yang telah berani mengkhianati dirinya.


Tapi walaupun begitu, memang harus ia akui kecerdikannnya Billy tersebut,karena setidaknya dirinya telah berkurang 1 masalah sekarang.


Setelah itu,Sebastian tidak berbicara lagi,karena langkahnya sudah sampai dihadapannya pendeta yang memang sudah menunggunya sedari tadi.


Sebastian hanya berdiri diam saja disana dengan wajah tenangnya tapi pendeta tersebut mampu menangkap sesuatu dibalik wajah tenangnya Sebastian karena ia sudah terbiasa dengan hal tersebut.


Dan beberapa menit lagi, acaranya akan dimulai.Ia menunggu sambil menghapal kembali janji suci pernikahan mereka yang harus ia ucapkan nanti,hapalan yang harus ia hapal,hanya dalam semalam saja...


Tapi bukan hapalannya yang menyulitkannya,tapi saat mengucapkannya nanti yang sedikit menyulitkan dirinya,karena ini kali pertamanya ia akan mengucapkan beberapa kalimat suci yang selalu ia pegang didalam tekadnya,akan ia ucapkan untuk terakhir kalinya juga.


Ntahlah,,, ia sendiri juga kebingungan dengan pernikahan mereka yang mendadak ini,tapi ia tidak berniat ingin berusaha menghentikannya,ia hanya mengikuti alurnya saja saat ini.


Ia bahkan belum mengenal Jennifer lebih dekat lagi,walaupun tanpa ia sadari,kalau didalam hatinya yang paling dalam,semua itu sudah cukup bagi dirinya.

__ADS_1


"Tuan,coba ambil napas dan buangkan dengan perlahan,lakukan saja terus sampai rasa gugupnya Tuan mengurang..." tiba-tiba saja,pendeta tersebut memberanikan diri untuk memberi saran pada Sebastian yang terlihat sedang gugup,karena terbukti dengan ujung sepatunya Sebastian yang sedang menghentak-hentak pelan dilantai tersebut saat ini.


Walaupun ia sedikit banyak telah mendengar kata kejam pada beberapa pengawal yang sedang mengobrol pelan tadi,tapi sebagai seorang pendeta,ia wajib berusaha untuk menghibur atau menenangkan para pengantin bukan...


"Memangnya siapa yang gugup,hm? Jangan sembarangan bicara,aku sama sekali tidak merasa gugup..." tanya Sebastian balik,dengan nada tegasnya dan perasaan kesalnya dibalik tatapan tajamnya yang tertuju untuk pendeta tersebut,sambil menahan rasa malunya,ternyata pendeta tersebut memerhatikan tingkahnya sedari tadi.


Padahal saat ia di Mansion tadi,ia biasa-biasa saja, dan masih mampu bersikap santai.Tapi kenapa saat ia sudah berada disini,ia malah menjadi gugup seperti ini,walaupun gugupnya tidak begitu terlihat, berkat dirinya yang berusaha untuk menyembunyikannya sedari tadi.Tapi nyatanya, pendeta tersebut masih mampu melihatnya.


"Maafkan aku,Tuan..." ucap pendeta tersebut dengan nada dan wajah takutnya,sambil sedikit menundukkan kepalanya.


"Hm..." jawab Sebastian dengan singkat dan nada santainya kembali,sambil mengikuti sarannya pendeta tadi,dalam diam.


Hingga mampu membuat pendeta tersebut langsung menahan senyum didalam hatinya karena ia takut walaupun hanya tersenyum kecil saja,saat ia melihat Sebastian yang ternyata sedang mengikuti sarannya tadi.


Beberapa menit kemudian...


"Ceklek..." terdengar suara pintu yang terbuka dari arah pintu sana,terlihat Jennifer yang semakin cantik saja,karena tubuh langsingnya sudah dibaluti dengan gaun pengantin,juga gaya rambutnya yang cantik,dan juga wajahnya yang sudah diberi make up.


Terlihat Jennifer yang sedang berjalan masuk keruangan tersebut dengan langkah anggunnya, wajah cantiknya yang terlihat sangat cantik, sempurna,dan juga kedua orang tuanya Jennifer yang sedang ikut berjalan disebelah kiri dan kanannya Jennifer,dengan gandengan tangan mereka untuk Jennifer.


Sedangkan Sebastian,ia yang tadinya hanya menatap lurus kedepan saja,ia langsung terpana dengan kecantikannya Jennifer yang memang sudah sempurna itu.


Apa lagi,dengan lesung pipi dikedua pipinya Jennifer yang terlihat sangat manis,dan juga tubuh langsingnya Jennifer yang telah dipadukan sama gaun pengantin yang sangat indah tersebut.


Gaun pengantin yang mengenakan gaun model strapless yang dirancang oleh salah satu desainer terkenal.Gaun ini memiliki detail payet yang rumit dan menonjolkan kesan mewah.


Adanya veil berwarna putih yang panjang dan menjuntai juga turut menjadi sorotan,saat Jennifer berjalan di altar tersebut, semua mata para tamu bahkan terus saja tertuju padanya karena begitu menawan dan elegan.


Bukan hanya mereka saja,karena tatapan matanya Sebastian juga tidak beralih dari wajah cantiknya Jennifer,bahkan sampai Jennifer dan yang lainnya sudah berada dihadapannyapun,Sebastian tetap saja terpana dengan kecantikannya Jennifer yang terlihat sangat berbeda saat ini.


Beberapa detik kemudian...


"Ehm ehm ehm..." dehem Daddy dengan nada kesalnya,saat ia melihat Sebastian yang terus saja menatap wajah cantik putrinya yang sedang tersenyum malu itu,bahkan kedua matanya Sebastian seperti tidak ingin berkedip saja.

__ADS_1


__ADS_2