Suami Tampanku Yang Sederhana

Suami Tampanku Yang Sederhana
Bab. 64


__ADS_3

Itu bukan sekedar sebuah ancaman saja,karena ia selalu serius dalam setiap ucapannya,jika sudah menganggu ketenangannya,seperti saat ini.


Ia sudah lelah saat ini,dengan tingkah Siska dan juga Rebeeca.Sekarang ia tidak mau menambahkan nama Cecilia didalam daftar masalahnya.Ia bukan tidak mengerti dengan tatapannya Cecilia tadi yang terus saja tertuju padanya,hanya saja ia mengabaikannya.


Lagi pula,ia juga memang harus bertindak duluan,sebelum Daddynya Jennifer duluan yang mungkin saja akan menjawab iya,dan mencoba untuk menjebak atau semakin mempersulitkan dirinya lagi.Ntah dendam apa Daddynya Jennifer sama dirinya...Padahal perasaannya,ia tidak pernah mencari masalah sedikitpun.Dan yang tadi itu,menurutnya hanya khilaf saja.


"Apa lagi yang kalian tunggu,hm? Ternyata, kalian masih tidak memgerti dengan apa yang telah aku katakan tadi... Apa kalian menunggu untuk disuruh pergi sama calon menantuku ini? Mungkin saat itu juga,nyawa kalian sudah tidak berada didalam tubuh kalian masing-masing lagi..." tanya Daddynya Jennifer dengan nada santai dan wajahnya yang masih tetap tenang sedari tadi.


'Ternyata pria berwajah datar ini,pintar juga...' lanjut Daddy didalam hatinya dengan tersenyum dibalik wajah tenangnya,sambil terus memerhatikan tingkah calon menantunya itu.Karena tadinya ia memang benar-benar ingin menjawab iya,untuk melihat bagaimana caranya Sebastian menghadapi godaan dari Cecilia.


"Arka Septian Naava,kamu akan menyesal karena tidak mendengar kata-kataku,dan lebih memilih untuk mendengarkan pria penjahat ini..." ucap Brennan dengan nada kesalnya,lalu ia langsung berjalan pergi dari sana dengan membawa istrinya,dan diikuti oleh kedua putra-putri mereka.


Ternyata kali ini,ia mereka kembali tidak berhasil mendapatkan apa yang mereka inginkan,


Akhirnya mereka ber 4 pun langsung berjalan pergi dari sana dengan wajah kesal mereka,sambil memikirkan cara lain untuk bisa mendapatkan kekayaannya keluarga kaya tersebut.


'Pria tua ini sok akrab tapi dalam diam selalu mencoba untuk memberiku perkerjaan tambahan.Apa sebenarnya tujuannya,sampai harus merepotkan diriku seperti ini...' batin Sebastian dengan perasaan kesalnya,sambil menyimpan pistolnya kembali dan menatap malas kearah Daddynya Jennifer yang sedang menatap tenang kearahnya,setelah keluarga ular tersebut sudah menghilang dari pandangan mereka semua.


'Tumben,Mommynya Jennifer hanya diam saja...' batin Sebastian lagi,dengan tatapan herannya sambil melirik sekilas kearah Mommynya Jennifer yang memang lebih banyak diam sedari tadi,tapi ia tidak berniat ingin terlalu memikirkannya.Lalu iapun segera berbalik badan,berniat untuk melanjutkan langkahnya tadi.


"Tunggu...Bukankah kamu itu,pria yang ada di Restoran,tempat Jennifer melaksanakan acara ulang tahunnya pada tahun lalu?" tanya Mommy dengan tiba-tiba saja,saat ia sudah mengingat jelas siapa pria yang terlihat tidak asing dimatanya ini.


'Pantasan saja...' batin Sebastian dengan tatapan malasnya,saat ia baru mengerti apa penyebab dari diamnya Mommynya Jennifer,ternyata lebih banyak sedang mengingat-ngingat tentang dirinya.


"Benar,kamu kan Manajer dari Restoran itu...Kenapa kamu bisa bersama putri sulungku?" lanjut Mommy dan bertanya dengan wajah kesalnya,sambil berdiri dari duduknya.


"Nyonya.Silakan,kamu tanyakan saja langsung pada putrimu ini?" jawab Sebastian dengan nada santainya,sambil kembali berbalik badan dan mengalihkan tatapannya kearah Jennifer yang malah menjadi kebingungan.


Ia bertanya-tanya didalam hatinya,ntah sampai kapan drama tidak terduga dan tidak terdaftar didalam kepalanya ini akan berakhir,padahal tadinya ia hanya ingin mengantar wanita menyebalkan ini pulang saja.


"Apa Mommy tidak memerhatikan sikap kakak,semenjak kakak pulang hari itu? Apakah Mommy tidak menyadari,kalau semua itu karena kakak ipar.Tapi Mom,sudahlah,lupakan saja yang itu.Mommy lihat saat kakak ipar beraksi tadi,hebat bukan? Lihat saja,keluarga ular itu,mereka sampai tidak berani membuat keributan disini.Kakak ipar,aksimu tadi bahkan lebih keren dari Daddy..." timpal Sylvia dari belakangnya Mommy,sambil berdiri dan merangkul pelan pundak Mommynya.


Walaupun dirinya masih duduk dibangku SMA,tapi tingginya hampir sama dengan Jennifer,karena memang hampir semua tentang mereka berdua menurun dari Daddy mereka.Salah satunya, yang tubuhnya tinggi,berbeda dengan sang Mommy yang sedikit lebih pendek.


'Kakak ipar? Ternyata bukan Daddynya saja,adiknya juga sok akrab...Ntah aku harus merasa sedih atau senang sekarang?' batin Sebastian dengan perasaan lelahnya.


'Anak ini,bagusnya terus diam saja,seperti tadi.Sekali berbicara,ia hanya mampu membuat diriku semakin sulit saja...' batin Jennifer dengan wajah kesalnya.


"What? Karena pria ini?" tanya Mommy dengan wajah yang semakin kesal,walaupun ia akui kalau aksinya pria tersebut tadi memang terlihat hebat.


Apa lagi,gayanya,sikap tegas,sikap arogant, tatapan tajam ,dan caranya mengeluarkan, memasukkan dan juga memakai pistol. Memikirkan itu saja,ia jadi seperti melihat suaminya ketika muda dulu.Walaupun sekarang suaminya masih sama seperti dulu,hanya saja sikap arogantnya sudah sedikit berkurang,kecuali pada saat darurat saja.


"Apa benar? Dia lebih keren dari Daddy?" tanya Daddy dengan nada kesalny,sambil kembali bersedekap dada.

__ADS_1


"Dan apakah kamu juga tahu,kalau pria ini bukan kakak iparmu?" tanya Mommy sambil menatap kesal kearah Sylvia yang langsung tersenyum cenges-ngesan.


'Ya,Tuhan.Aku harus segera melarikan diri sekarang...' batin Sylvia dengan wajah yang terus saja tersenyum cenges-ngesan,sambil melirik semua tatapan kesal yang baru saja ia sadari,yang sedang tertuju padanya,dan juga tatapan malas kakak iparnya.


"Oh iya,aku lupa kalau aku masih ada PR MTK dan B.Inggris.Dad,Mom,kakak,kakak ipar,sepertinya aku harus pergi dulu,aku harus segera menyelesaikan PR-PRnya aku terlebih dahulu..." ucap Sylvia dengan wajah yang berpura-pura serius dan juga benar-benar sedang melupakan PRnya saat ini,lalu iapun segera berjalan cepat dari sana,dengan melewati Daddy,mommy,kakaknya dan juga calon kakak iparnya itu.


"Kakak ipar,aku menyukaimu.Kakak ipar tenang saja,aku pasti akan selalu berada dipihakmu..." teriak Sylvia dengan nada yang sedikit tinggi tanpa merasa bersalah sedikitpun,saat ia sudah berada diatas tangga sana,bahkan ia terus saja melangkah pergi tanpa berniat ingin melihat wajah kesalnya mereka sedikitpun.


Sedangkan yang lainnya,hanya mampu menatap kesal kearah punggung langsingnya Sylvia untuk beberapa detik.Lalu mereka kembali saling tatap,dengan wajah malasnya Sebastian yang sudah kembali menjadi tenang.


'Sepertinya,aku memang harus terbiasa dengan keadaan seperti ini...' batin Sebastian dengan menghela napas sepelan mungkin.


"Sayang,biarkan mereka berdua beristirahat dulu...Lagi pula,kita masih ada banyak waktu untuk mengobrol bukan..." ucap Daddy dengan nada pelannya,sambil merengkuh pelan pinggul istrinya,karena tadi ia sudah menyuruh Sebastian untuk menginap beberapa hari disini.


Bukannya ia berniat ingin membantu putri sulungnya dan Sebastian,hanya saja sebenarnya ia hanya sedang menolong dirinya sendiri saja.Karena jika mulut kesal istrinya sudah berbicara,telinganya juga akan ikut-ikutan merasa sakit.


"Apa kamu berniat ingin menjelaskan semuanya padaku,sayang?" tanya Mommy dengan wajah tersenyum kesalnya,sambil bersedekap dada,sepertinya suaminya memang mengetahui lebih banyak tentang pria tersebut.


"Jika kamu tidak mau menjelaskan semuanya padaku,lebih baik......... " belum sempat Mommy menyelesaikan kalimatnya,suaminya sudah lebih dulu menyelanya.


"Baiklah,aku akan menjelaskan semuanya padamu.Oke?" sela Daddy dengan cepat,sambil menghela napas pelan.


"Kalau begitu,kalian berdua sudah boleh keatas sekarang,pergilah beristirahat..." ucap Mommy dengan tatapan yang masih kesal kearah Jennifer dan juga Sebastian, sambil tersenyum senang didalam hatinya,karena suaminya akan memberitahu apa saja yang telah membuat dirinya bingung dan juga penasaran tadi.


"Baik,Mom..."


"Baik,Nyonya..."


Jawab Jennifer dan Sebastian secara serentak,lalu mereka berduapun langsung berbalik badan dan berjalan pergi dari sana,meninggalkan Daddy yang sedang sibuk menjelaskan semuanya tentang Sebastian.


"Kenapa Daddy seperti ingin menjelaskan banyak hal saja,padahal kan,Daddy juga tidak begitu mengenalmu.Kalian bertemu saja,baru 2 kali.Apa ada yang telah aku lewati?" tanya Jennifer pada Sebastian dengan wajah bingungnya,lebih tepatnya ia bertanya pada dirinya sendiri karena dirinya tampak sedang berpikir dengan tatapan kedepan.


'Kata Pak tua,wanita menyebalkan ini cerdas. Kenapa aku melihatnya,malah tidak seperti itu...' batin Sebastian dengan wajah herannya,sambil menelisik wajah bingungnya Jennifer.


"Bisakah kamu melepaskan genggaman tanganmu dari tanganku sekarang?" tanya Sebastian dengan wajah kesalnya,tanpa menghentikan langkah mereka yang sudah berada dilantai ke 2.


"Tidak bisa..." jawab Jennifer dengan cepat,sambil tersenyum senang dan mengabaikan wajah kesalnya Sebastian.


Wajah bingungnya tadipun langsung menghilang begitu saja,ia juga melupakan tentang Daddynya tadi,dan memang itu yang diinginkan oleh Sebastian.


'Dasar menyebalkan...' Sebastian hanya menjawab didalam hatinya dengan wajah kesalnya,karena malas berdebat dengan Jennifer saat ini,akibat pikirannya yang sudah lumayan lelah.


"Sepertinya,kamu sudah mulai mencintaiku? Benar tidak?" tanya Jennifer dengan nada senangnya.

__ADS_1


"What? Apa katamu barusan?" tanya Sebastian dengan sedikit nada tinggi dan wajah kagetnya,sambil menghentikan langkah mereka.


"Santai saja kali,kenapa kamu harus merasa malu?" tanya Jennifer balik,dengan wajah yang tersenyum lucu,karena dirinya menganggap kalau wajah kagetnya Sebastian tersebut gambaran dari ekspresi malunya.


"Kamu ini benar-benar tidak waras..." jawab Sebastian dengan wajah kesalnya,ia tidak habis pikir dengan apa yang telah dipikirkan oleh Jennifer barusan.


Mulai mencintainya? Yang benar saja...Yang ada,saat ini ia sudah mulai merasa lelah dengan kejadian-kejadian yang telah terjadi pada hari ini,lebih tepatnya merasa lelah karena tubuhnya memang belum beristirahat sedari tadi karena kedatangannya Jennifer diperusahaannya tadi.


"Tidak waras apanya,bukankah kamu memang sudah mulai mencintaiku?" tanya Jennifer dengan wajah bingungnya dan juga kesal,saat ia mendengar kata tidak waras dari mulutnya Sebastian.


"Mulai mencintai apanya,aku bahkan sama sekali tidak merasakan apa-apa terhadapmu..." jawab Sebastian dengan perasaan bingung tapi ia tetap mempertahankan wajah kesalnya,karena memang hanya itu saja yang ada dibenaknya saat ini, ia bahkan berbicara tidak menurut dari kata hatinya.


"Benarkah?" tanya Jennifer untuk memastikannya,dengan kedua mata yang sedang menelisik tajam.


"Buat apa juga aku berbohong padamu...Kamu ini ada-ada saja..." jawab Sebastian dengan nada malasnya.


" Lalu,kenapa kamu sedikitpun tidak berusaha untuk menolak tapi malah menyetujui perkataan Daddy tentang calon menantu tadi?" tanya Jennifer dengan perasaan kecewanya,sambil menatap kesal kearah wajah tenangnya Sebastian saat ini.


"Mau bagaimana lagi...Memangnya apa yang bisa aku lakukan,kalau sudah Daddymu yang bersuara duluan..." jawab Sebastian dengan wajah kesalnya,sambil kembali melanjutkan langkahnya,dengan menarik pelan tangannya Jennifer.


"Dasar pria brengsek..." umpat Jennifer dengan bergumam pelan,karena merasa sangat kesal,dan sekaligus merasa kecewa saat ia mendengar ada keterpaksaan didalam nadanya Sebastian barusan.


Apa lagi,saat ia mengingat kembali c**m*n panas tadi.Sekarang ia merasakan,dirinya seperti habis manis,sepah dibuang saja.


'Tapi tidak masalah,aku juga sudah senang dengan dirimu yang akan berada didekatku,untuk beberapa hari nanti...' lanjut Jennufer dengan tersenyum senang dibalik wajah kesalnya.


"Apa barusan, kamu sedang mengatakan sesuatu?" tanya Sebastian dengan wajah bingungnya,saat ia mendengar gumaman kecilnya Jennifer yang tidak terdengar jelas sedikitpun dipendengarannya.


"Tidak ada..." jawab Jennifer dengan nada ketusnya,sambil melepaskan genggamannya dengan kasar,lalu ia langsung melangkah kesal kearah kamar tidur miliknya dan mentupnya dengan kuat karena langkah mereka memang sudah sampapi dikamar miliknya.


"Ada apa dengannya?" tanya Sebastian pada dirinya sendiri,dengan wajah bingungnya sambil menatap pintu kamar tersebut dan tamgannya ,ia hanya mampu terus berdiri didepan pintu kamarnya Jennifer,dengan wajah bingungnya.


Beberapa detik kemudian...


" Ceklek..." terdengar suara pintu yang kembali terbuka oleh Jennifer.


"Kamar tidurmu disamping kanan kamar tidurku ini..." "Brak..." ucap Jennifer dengan nada dan wajah kesalnya,lalu ia kembali menutup pintu kamarnya,tanpa nenunggu jawaban dari Sebastian lagi.


"Apa sebenarnya salahku? Kenapa wajahnya terlihat sangat kesal begitu?" tanya Sebastian pada dirinya sendiri lagi,sambil mengernyit heran kearah pintu kamarnya Jennifer yang sudah tertutup rapat itu untuk beberapa detik.


Saat ia merasa kalau Jennifer tidak akan kembali membuka pintu kamar lagi,iapun langsung memghela napas pelan.


Lalu iapun langsung berjalan kearah kamar yang telah dikatakan oleh Jennifer tadi,ia ingin mengistirahatkan tubuh berserta kepala lelahnya saat ini.

__ADS_1


Tentang menghadapi kedua orang tuanya Jennifer,nanti saja baru akan ia pikirkan.Karena untuk saat ini,ia ingin beristirahat dan juga membersihkan diri terlebih dahulu,supaya ia bisa menjawab semua pertanyaan dari Kedua orang tuanya Jennifer nanti.


__ADS_2