Suami Tampanku Yang Sederhana

Suami Tampanku Yang Sederhana
Bab. 75


__ADS_3

Ia berkata seperti itu karena berharap kalau Nona Mudanya akan segera menerima kado tersebut dari tangannya,dan menghentikan tatapan tajam dari kedua orang tua Nona Mudanya yang masih tetap bertahan itu.


"Benarkah,kamu masih waras?" tanya Mommy dengan nada heran dan tatapan tajamnya.


"Aku rasa,kak Billy sudah tidak waras sekarang. Kalau waras,kenapa kakak tiba-tiba saja memberi kado pada kakakku?" timpal Sylvia yang sama herannya dengan yang lainnya,hanya saja tatapannya santai saja.


"Nyonya Besar,Nona Muda Sylvia,bukankah hal yang wajar kalau aku memberi kado pada Nona Muda Jennifer yang sedang berulang tahun malam ini?" tanya Billy balik,ia sudah bingung mau menjawab apa,akhirnya iapun memilih untuk memberanikan diri ,untuk berbicara akrab saja.


"Iya.Hal itu memang wajar,kalau bukan kamu yang memberinya..." jawab Daddy dengan nada tegasnya,dan disetujui oleh 3 wanita beda usia tersebut dengan anggukan pelan kepala mereka.


Sekarang Billy benar-benar dalam masalah,karena terlihat ekpresi curiga diwajah ke 4 majikannya itu,walaupun wajah curiganya Nona Muda sylvia tidak terlihat begitu jelas dan lebih santai.


"Nona Muda,ambillah dan bukalah dulu.Aku yakin,kalau Nona Muda pasti akan menyukainya, setelah melihatnya..." ucap Billy dengan nada maksanya,ia bahkan mengabaikan semua ucapan majikan-majikannya tersebut.


'Ada apa sebenarnya,dengan Billy? Apa ada orang yang sedang mengancamnya?' batin Daddy dengan kening yang mengernyit heran saat ia melihat Billy yang begitu memaksa dan baru pertama kalinya bersikap kurang ajar samanya,seperti ini.


Iapun segera menelisik keadaan dan orang-orang disekitar mereka,hampir saja ia menduga kalau isi didalam kado tersebut adalah bom atau benda berbahaya, tapi sama sekali tidak ada yang terlihat mencurigakan disekitar mereka.Apa lagi,saat ia melihat Sebastian yang masih setia dengan wajah tenangnya,yang menandakan kalau disekitar mereka memang benar-benar dalam keadaan aman.


"Kenapa kamu ini memaksa sekali,hm? Aneh..." tanya Jennifer dengan nada kesalnya sambil melirik sekilas kearah Sebastian yang tidak bereaksi apapun,tapi walaupun begitu,ia tetap mengambil kado tersebut dengan gerakan ragu-ragunya.


Sedangkan Mommy dan Sylvia,mereka berdua hanya mampu menampilkan wajah bingung dan juga penasaran mereka saja.Begitu juga dengan Erik dan yang lainnya.


Dengan perlahan,Jenniferpun membuka kado kecil tersebut dengan wajah penasarannya yang bercampur rasa kesal,begitu juga dengan puluhan pasang mata yang ikut menyertai dengan wajah penasaran mereka semua.


"Apa ini?" tanya Jennifer dengan nada pelannya dan wajah penasarannya,saat ia melihat kalau terdapat sebuah kotak perhiasaan tipis persegi didalam kado tersebut.


Ia membukanya dengan gerakan pelan,sambil melirik sekilas kearah Billy yang tidak berniat ingin menjawabnya sama sekali.


'Wah,indah sekali...' batin Jennifer dengan wajah yang tersenyum senang,sambil mengeluarkan isi dalam kotak persegi yang sedikit lebar itu dengan pelan.


Terlihat sebuah kalung indah yang sedang bergantung diantara jari-jari lembutnya Jennifer yang sudah terangkat sedikit keatas itu,kalung tersebut memang sangat indah dengan bertabur berlian briolette di tengahnya, kalung ini beratnya 75,36 karat.


Mommy,Daddy dan Sylviapun ikut menelisik kalung tersebut lebih dekat,memang terlihat sangat indah.Begitu juga dengan yang lainnya,walaupun mereka hanya mampu melihat dari jarak sekitar 10 langkah saja,tapi tetap saja keindahannya kalung tersebut masih bisa terlihat jelas dimata mereka.


Dan mereka semua yakin,kalau Jennifer memakainya nanti,sudah dipastikan kalau Jennifer akan terlihat sangat sempurna, anggun dan juga elegant,berkat keindahan kalung tersebut dan juga aura kecantikan miliknya Jennifer yang memang sudah paripurna tersebut.


Lihatlah,kalung indah tersebut,keindahannya mampu membuat wanita- wanita lain ingin memakainya dan juga merasa iri dengan keberuntungannya Jennifer yang sepertinya tidak akan ada habisnya itu.



Tapi wajah tersenyum senangnya Jennifer langsung sirna,berganti dengan wajah penuh curiga saat ia mengingat siapa pemilik dari pemberi kalung tersebut.


Apa lagi,saat ia melihat kalau terdapat huruf S ❤ J,tepat dipengait kalung tersebut,walaupun hurufnya sangat kecil,tapi mata jelinya itu masih mampu melihatnya dengan jelas.

__ADS_1


Didalam hatinya ia sangat berharap,kalau yang memberinya adalah Sebastian karena huruf tersebut sangat pas untuk huruf awalnya Sebastian,tapi nyatanya Billylah yang memberinya dan ada dihadapannya saat ini.


"Apakah benar? Kado ini darimu,kak?" tanya Jennifer dengan nada mengintimidasinya,tanpa mengalihkan pandangannya dari kalung indah yang harganya pasti sekitar seharga 150-160 Milliar.


Sekarang ia mulai merasa curiga,tidak mungkin Billy rela membeli kalung semahal itu,hanya untuk diberikan padanya yang sudah memiliki segalanya.


Terlebih lagi,selama ini sedikitpun Billy tidak pernah memperlihatkan ekspresi tentang rasa apapun padanya,dan tiba-tiba saja Billy malah bersikap manis malam ini.Bukankah,hal itu menjadi sangat aneh...


"Iya.Kado itu memang benar dariku,Nona Muda..." jawab Billy dengan berusaha menahan rasa gugupnya,saat ia mendengar panggilan akrab yang biasa digunakan oleh Jennifer,jika Nona Mudanya itu sedang menginginkan kejujuran darinya.


"Dad,apa kamu percaya? Lihatlah baik-baik,kalung ini..." tanya Jennifer dengan nada seriusnya pada Daddy yang memang sudah sedari tadi menelisik kalung tersebut,dan ia tahu kalau Daddynya pasti sudah mengerti apa maksudnya.


Tidak seperti Mommy dan Sylvia yang hanya mampu menampilkan wajah bingung mereka yang bercampur rasa kagum itu saja,karena mereka bukan seperti Daddy dan Jennifer yang sangat pengalaman hampir 90% tentang perhiasan apapun.


"Apakah kamu sedang menaruh hati pada putriku ini,hm?" tanya Daddy dengan nada mengintimidasinya,sama seperti Jennifer tadi.


"Ti tidak,Tuan Besar.Aku hanya memberi kado itu,sebagai tanda sayang sebagai kakak keadiknya saja.Tuan Besar,Nyonya Besar,Nona Muda Sylvia dan Nona Muda Jennifer,aku mohon,kalian jangan salah paham pada niat baikku ini..." jawab Billy dengan nada gugup dan wajah seriusnya,sambil menahan rasa kesalnya untuk Tuan Mudanya yang masih mampu berdiri santai disana.


"Lalu,apa arti dari huruf S ❤ J yang ada dikalung ini?" tanya Jennifer dengan nada kesalnya.


'S ❤ J? ' batin Sebastian dari jarak 20 langkahnya sana,ia merasa kalau ia tidak pernah menyuruh pemilik perhiasan tersebut,mencetak huruf yang seperti itu,karena ia masih ingat dengan jelas kalau ia hanya mengatakan untuk mencetak huruf J saja untuk namanya Jennifer.


Tapi walaupun ia menjadi bingung,ia tetap berdiri tenang disana,dengan tatapan yang tertuju kearah wajah cantiknya Jennifer,sambil menebak-nebak penyebab atas kebingungannya.


"Solihin?" Jennifer,Sylvia dan Mommy langsung bergumam pelan,secara bersamaan,dengan wajah bingung mereka.


'Sepertinya,aku tahu siapa pelaku sebenarnya...' batin Sebastian dengan perasaan kesalnya,saat ia mendengar kata "Keponakan" dari mulutnya Billy barusan.


"Tuan Besar,bukankah Tuan Besar juga pernah melihat keponakan tampanku itu.Bukankah keponakanku itu selalu meminta fotonya Nona Muda pada Tuan Besar..." lanjut Billy lagi,saat ia melihat Jennifer yang kembali ingin bertanya.


"Hah!" jawab Daddy dengan wajah bingungnya,sambil menelisik wajahnya Billy yang seperti sedang memberinya kode meminta bantuan.


"Tuan Besar,bukankah baru semalam Solihin juga sudah menelepon Tuan Besar?" tanya Billy dengan cepat,dan segera kembali meminta bantuan dengan kode matanya saat ia melihat tatapan Jennifer yang sedang beralih kearah Daddynya, begitu juga dengan Mommy dan Sylvia.


"Oh iya,aku baru mengingatnya.Jennifer sayang, ternyata Solihin itu keponakan tampannya Billy yang selalu mengidolakan kamu,nak...Ternyata ia memang sangat tulus dalam mengidolakanmu, panatasan saja Billy sampai rela membeli kalung ini untukmu dari anak kecil tampan itu..." jawab Daddy dengan cepat dan wajah yang tersenyum senang sambil melirik sekilas kearah Sebastian,setelah ia mengerti apa maksudnya Billy barusan.


"Memangnya kapan,,,tapi bukankah.............." ucapan Mommy yang baru saja ingin memastikan sesuatu karena setahu dirinya Billy anak yatim piatu yang dibantu oleh adik suaminya,lalu dari mana datangnya keponakan tersebut,tapi pertanyaannya langsung terhenti saat ia disela dan juga mendapatkan sentuhan lembut dari tangan suaminya dari belakangnya.


"Oh iya,aku juga baru ingat.Ternyata keponakanmu itu sangat manis juga,sampai mampu berpikir sejauh itu..." lanjut mommy dengan wajah yang tersenyum senang, walaupun ia merasa bingung,kenapa dirinya dan suaminya malah jadi berbohong bersama-sama.


"Jangan sia-siakan kalung indah ini,nak.Kalau kamu masih ragu-ragu,kamu boleh menyimpannya dulu..." saran Daddy dengan nada santainya ,sambil menyuruh Billy untuk segera pergi dari sana,dengan isyarat tangannya.


'Untung saja,Tuan Besar masih berbaik hati ingin membantuku,dari pada pria datar itu.Sepertinya Tuan Muda harus berterima kasih padaku,karena aku telah menyematkan namanya didalam kalung indah tersebut...' batin Billy dengan wajah yang tersenyum lega ,sambil berjalan pergi dari sana dengan langkah lebarnya,untung saja tadi ia memilih untuk meminta bantuan saja.

__ADS_1


Dan ia merasa sangat senang tentang huruf yang menurutnya sangat indah itu,karena huruf S ❤yang ada dipengait tersebut,ia sendiri yang menambahkan dalam diam tanpa sepengetahuan Tuan Mudanya,hingga membuat penyatuan huruf tersebut menjadi sangat sempurna.


"Kamu juga boleh memakainya,kalau kamu suka..." timpal Mommy dengan wajah yang tersenyum senang,karena kalung tersebut memang sangat indah.


Dan ia tahu kalau suaminya pasti tidak akan sembarangan dalam menyetujui sesuatu bukan,walaupun ia masih belum tahu apa maksud dari suaminya itu.


"Kalau kakak tidak mau,berikan saja padaku..." timpal Sylvia dengan wajah yang tersenyum serius saat ia melihat Jennifer yang masih diam saja,tapi ia malah mendapatkan dengkusan kesal dari kakaknya itu.


"Baiklah.Kalau begitu,aku akan menyimpannya dulu..." jawab Jennifer dengan wajah yang tersenyum bingung,sambil melirik sekilas kearah Billy yang ternyata sudah menjauh dan juga menyimpan kalung tersebut kekotaknya kembali,lalu kedalam tas kecilnya.


Ia masih merasa tidak percaya dengan apa yang telah dikatakan oleh Billy dan Daddynya,tapi karena tidak ingin membuat acara ulang tahunnya menjadi tidak menyenangkan,iapun tidak ingin terlalu banyak bertanya lagi.


Apa lagi sebentar lagi,ia harus melakukan ide gil*nya itu.Dan ia harus berhasil malam ini,untuk bisa menikahi Sebastian secepatnya.


Akhirnya mereka ber 3 pun terus bercerita tentang beberapa hal,sambil memakan makanan enak yang ada disana,bersama yang lainnya.


Sedangkan Sebastian,ia hanya tetap dengan posisinya dan tatapannya yang sudah beralih kesembarangan arah karena ingin memeriksa keamanan disana.


Beberapa jam kemudian,malam sudah semakin larut,dan sekarang ternyata sudah jam 10 malam,tapi mereka semua masih begitu menikmati acara kecil tersebut dengan saling bercanda ria, memanggang, meminum sedikit wine,dan stok makanannya juga masih tersisa banyak,lumayan untuk 2 jam kedepan.


'Apakah aku harus mencegahnya,atau aku diam saja? dan berpura-pura tidak melihatnya...' batin Billy dengan wajah bingung dan serba salahnya,ia sedang duduk diantara keramaian tersebut,sambil melihat Nona Mudanya yang baru saja turun dari atas dan sedang berjalan kearah Tuan Mudanya saat ini.


'Bagaimana ini?' batin Billy lagi,sepertinya Nona Mudanya akan memulai rencana kejamnya itu pada Tuan Mudanya,tapi anehnya kedua kakinya tidak mampu bergerak sedikitpun seperti terhipnotis dengan ancaman-ancaman dari Nona Mudanya tadi pagi.


Sedangkan diujung halaman Mansion tersebut,Sebastian sedang sibuk menikmati kesendiriannya diujung meja sana,setelah ia baru saja selesai mengobrol ringan bersama 3 sahabatnya itu,walaupun ke 3 sahabatnyalah yang lebih banyak bicara dari pada dirinya.


"Apa kamu tidak bosan,sedari tadi hanya kebanyakan menyendiri saja?" tanya Jennifer dengan nada herannya,sambil duduk tepat disampingnya Sebastian,setelah ia sudah berjalan sampai disampingnya Sebastian yang sibuk memutar-mutar pelan gelas winenya.


Sebastian yang tadi masih sibuk menatap gerakan wine miliknya itu,iapun langsung menolehkan wajah datarnya tadi kearah Jennifer yang sudah duduk dengan baik disampingnya.Tapi hanya sebentar saja,karena Sebastian kembali menatap kearah winenya dengan wajah gerakan cueknya.


"Apa yang sedang kamu pikirkan,hm?" tanya Jennifer dengan menahan rasa kesalnya,karena pertanyaan sebelumnya malah diabaikan oleh Sebastian.


"Apa kamu sedang memikirkan diriku,hm?" tanya Jennifer dengan wajah yang tersenyum menggoda, sambil terus menelisik wajah datarnya Sebastian,ia sengaja ingin membuat Sebastian merasa kesal.


"Kenapa kamu selalu terlalu percaya diri,hm?" tanya Sebastian balik,dengan nada kesalnya tanpa menatap kearah Jennifer.


"Bukankah sudah aku katakan,percaya diri itu memang wajib didaftar prinsipku..." jawab Jennifer dengan nada santainya.


"Apakah itu berarti,kamu memang sedang memikirkan diriku sekarang?" tanya Jennifer lagi,dengan nada menggodanya.


Sedangkan Sebastian,ia langsung mendengkus kesal sambil menyesap winenya sedikit demi sedikit.


"Kenapa kamu tidak menjemput Stella sama kedua orang tuamu?" tanya Jennifer lagi,dengan wajah penasarannya,sepertinya ia harus terbiasa dengan wajah datar dan cueknya Sebastian itu.

__ADS_1


"Buat apa aku menjemput mereka?" tanya Sebastian dengan nada malasnya sambil menatap wajah penasarannya Jennifer,hingga winenya masih tersisa beberapa sesapan lagi.


__ADS_2