Suami Tampanku Yang Sederhana

Suami Tampanku Yang Sederhana
Bab. 154


__ADS_3

Disiang harinya,dikamar yang luas dan bernuansa hitam.Untung saja kamar tersebut dikombinasi dengan sedikit warna putih,hingga kamar bernuansa hitam tersebut terlihat begitu elegan.


Dan didalam kamar yang bernuansa hitam tapi elegan tersebut,sepasang manusia yang masih sedang dimabuk cinta itu masih sibuk bergelung dengan selimut tebal mereka dengan posisi yang terus berpelukan sedari hampir 2 jam yang lalu.


Karena merasa lelah dan juga masih terasa ngantuk,akibat dari tadi malam yang keduanya memang kurang tidur.Setelah pergelutan panas mereka selesai,mereka berduapun langsung berlanjut tidur diatas kasur empuknya mereka tersebut.


Hingga...


"Tok tok tok..." terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar,dan berhasil membangunkan Sebastian yang sedang dalam posisi nyamannya, kedua matanya yang masih terasa berat itupun, mau tidak mau terpaksa terbuka perlahan-lahan.


Belum sempat kedua matanya terbuka sepenuhnya,suara ketukan pintu tersebut kembali terdengar,hingga berhasil membuat dirinya langsung mendengkus kesal.


"Tok tok tok..." kembali terdengar untuk kedua kalinya,Sebastianpun segera mengerjap-ngerjapkan kedua matanya dan sedikit menggosoknya supaya rasa ngantuknya berkurang,lalu ia segera tutun dari atas kasur empuknya tersebut,dan kekamar mandi untuk memgambil jubah mandinya sebelum ia berjalan kearah suara yang telah berani menganggu kenyamanannya tersebut.


"Ceklek..." terdengar suara pintu yang sedang dibuka dari dalam oleh Sebastian,disertai ekspresi wajah datarnya.


"Tu Tuan Muda..Maaf karena telah menganggu istirahatnya,Tuan Muda.Tapi Nyonya Besar dan Tuan Besar sedang menunggu Tuan Muda dan Nona Muda, diruang makan sana..." ucap salah satu pelayan yang sedang diutuskan untuk memanggil Tuan Muda dan Nona muda mereka tersebut,ia bahkan berucap dengan nada gugupnya karena merasa takut.


Apa lagi saat ia melihat wajah datarnya Tuan Muda mereka yang terlihat sedang marah saat ini,karena hal tersebut telah menandakan kalau dirinya telah menganggu waktu istirahat Tuan Mudanya saat ini.


Ia bahkan langsung menundukkan kepalanya, karena Tuan Mudanya membuka pintu kamar tersebut,hanya dengan berbalut jubah mandi dan dada kekarnya yang terlihat jelas disana.


"Katakan pada mereka,kalau kami akan turun sebentar lagi..." perintah Sebastian dengan nada dan wajah tegasnya.


"Baik,Tuan Muda..." jawab pelayan tersebut dengan cepat dan ekspresi wajah takutnya yang telah mulai memerah karena penampilan Tuan Mudanya tersebut,lalu ia segera menunduk hormat kearah Tuan Mudanya dan berjalan pergi dari sana secepatnya.


Sedangkan Sebastian,ia langsung menutup pintu kamarnya dengan wajah kesalnya,karena ternyata kedua orang tuanya yang telah berani menganggu waktu istirahatnya tersebut.


Kemudian wajah kesalnya berubah menjadi tersenyum senang,saat ia melihat wajah terlelap pulasnya Jennifer.


"Sweety..." panggil Sebastian dengan nada pelannya,sambil berjongkok tepat dihadapan wajah lelapnya Jennifer.


"Sweety...Ayo,bangun..." panggil Sebastian lagi,dengan nada sedangnya,sambil memencet-mencet pelan ujung hidungnya Jennifer.


Sebastian langsung geleng-geleng kepala heran dengan wajah tersenyum kecilnya,karena nyatanya Jennifer sulit juga untuk dibangunin, buktinya Jennifer hanya bergerak-gerak malas dengan kedua mata yang masih terlelap.


"Sweety..." panggil Sebastian lagi,sambil mengangkat pelan tubuhnya Jennifer kedalam gendongannya,hingga berhasil membuat Jennifer langsung terbangun dari mimpi indahnya tersebut.


"Honey,aku masih ngantuk..." ucap Jennifer dengan nada dan wajah malasnya,sambil menggosok-gosokkan pelan kedua matanya yang memang masih terasa agak berat.


Ntah kenapa,dalam seminggu ini ia selalu merasa ngantuk dan ingin tidur saja.Dirinya yang biasanya sangat suka melakukan beberapa kegiatan disetiap harinya,tapi sekarang dirinya malah berubah menjadi agak pemalas.


"Sweety,sekarang sudah hampir jam 12 siang. Ayah,ibu,dan Stella sudah menunggu kita dibawah sana sedari tadi,untuk makan siang bersama. Apakah kamu ingin mereka terus menunggu kita,sampai malam tiba,hm?" tanya Sebastian dengan kening mengernyit heran,saat ia melihat tingkah malasnya Jennifer tersebut, sambil melangkah pelan kearah kamar mandi.


Walaupun sebenarnya ia tidak begitu memperdulikan tentang keluarganya yang sedang menunggu itu,tapi mereka berdua tetap harus mengisi perut bukan,dan sekalian untuk membuat Jennifer terbangun tanpa paksaan.


"Ayah,Ibu..." rasa ngantuknya Jenniferpun langsung menghilang dan berubah menjadi malu,ternyata perkataannya Sebastian barusan berhasil,walaupun memang benar adanya.


"Honey,cepat turunkan aku.Kenapa kamu tidak mengatakanya sedari tadi,Honey..." lanjut Jennifer dengan wajah malunya dan segera membuka kedua mata beratnya tersebut,sambil berusaha untuk bisa turun dari gendongannya Sebastian tersebut.

__ADS_1


Karena dibenaknya saat ini,hanya berpikir untuk segera membersihkan diri dan turun kebawah, supaya kedua mertuanya tidak akan menunggunya terlalu lama lagi,ia sampai tidak menyadari kalau dirinya sedang dalam tanpa sehelai benangpun.


"Apa kamu yakin,ingin aku menurunkan kamu sekarang,Sweety?" tanya Sebastian dengan nada dan wajah yang tersenyum menggoda,sambil menunjuk kearah dada empuknya Jennifer, melalui kode matanya,sambil menghentikan langkahnya tersebut.


"Honey...Dasar mesum..." pekik Jennifer dengan nada dan wajah kesal malunya saat ia mengikuti arah tunjuknya Sebastian,ternyata dada empuknya terpampang begitu saja,tanpa halangan apapun.


Setelah selesai terpekik kesal malu,Jenniferpun langsung menyembunyikan wajah malunya berserta dada empuknya tersebut dibalik dada kekarnya Sebastian.


"Aku sudah selalu melihatnya,Sweety.Aku bahkan mampu mengingat semuanya,tanpa perlu membuka kedua mataku lagi ..." goda Sebastian lagi,dengan tawa kecilnya,sambil melanjutkan kembali langkah pelan dan lebarnya tersebut.


Sedangkan Jennifer,ia hanya mampu terus menggerutu kesal,dengan ekspresi wajah kesalnya yang telah bercampur malu tersebut.


40 menit kemudian...


Terlihat dari anak tangga sana,sepasang manusia yang telah berhasil membuat keluarganya menunggu lama itupun,akhirnya berjalan turun juga dari sana.


Sebastian yang terus merengkuh pinggulnya Jennifer disepanjang mereka berjalan kearah ruang makan,dengan pakaian yang lebih santai,dan wajah yang lebih segar.


Sedangkan Ayah dan Ibu,mereka berdua hanya mampu menghela napas pelan saat mereka melihat kedatangan sepasang manusia tersebut karena memikirkan tingkah menyebalkan sepasang manusia tersebut.Berbeda dengan Stella yang sedari tadi terus menampilkan wajah kesalnya saja,karena saat ini sudah jam 12 siang lewat 40 menit,dan isi perutnya sudah teriak-teriak tidak menentu sedari tadi.


"Kakak,kakak ipar...Apakah kalian tidak bisa memikirkan kami terlebih dahulu,baru kalian sibuk bercocok tanam? Seperti tidak ada waktu lain saja..." ucap Stella dengan nada dan wajah kesalnya,sambil terus mengaduk-ngaduk makan siangnya dengan gerakan kesalnya,saat ia melihat Sebastian dan Jennifer yang sudah berada didekat mereka.


Mereka semua bahkan harus menunggu hampir 1 jam lamanya untuk bisa makan siang,dan sepasang manusia yang telah berhasil membuatnya merasa kesal ini malah sibuk enak-enakan dilantai atas,terbukti dengan bibir kakak iparnya yang masih terlihat begitu bengkak tersebut.


Padahal tadinya ia ingin makan duluan,tapi Ayah dan ibu malah menyuruhnya untuk menunggu kedua manusia yang menyebalkan tersebut.


"Honey,ini bukan salahnya kita.Lagi pula,apakah kalian tidak bisa makan siang terlebih dahulu? Kenapa juga kalian harus menunggu dan menganggu aktivitas menyenangkan kami?" tanya Sebastian dengan nada santainya dan wajah tidak bersalahnya,sambil mendudukkan Jennifer dikursi kosong yang memang tersedia untuk mereka berdua.


'Dasar tidak tahu malu...' Jennifer hanya mampu menggerutu kesal didalam hatinya saja,saat ia mendengar perkataan tidak tahu malunya Sebastian tersebut.


"Cih..." Stella bahkan Ayah dan Ibu,langsung berdecih kesal secara serentak.


"Auchk..Honey,kenapa kamu malah mencubitku?" tanya Sebastian dengan terpekik pelan dan wajah yang sedang menahan tawa karena ia tahu kalau istrinya sedang merasa malu saat ini,sambil mengelus-elus sebentar pinggangnya yang terasa agak ngilu karena cubitan kuat dari Jennifer barusan.


"Sudah,sebaiknya kita semua mulai makan makan siangnya sekarang.Jika tidak,mungkin sebentar lagi tidak akan enak rasanya.. " ucap Ayah dengan nada dan wajah tegasnya,saat ia melihat sekilas Stella yang kembali ingin melanjutkan perdebatan kecilnya tersebut bersama Sebastian,sambil menyendok makan siangnya tersebut.


Jika dibiarkan,sudah dipastikan kalau makan siang mereka harus dipanaskan kembali,karena telah menjadi terlalu dingin untuk bisa dimakan.


"Iya.Sebaiknya kita makan dulu..." timpal Ibu dengan berusaha untuk mengendalikan rasa kesalnya terhadap Sebastian tersebut,sambil mengikuti apa yang dilakukan oleh Ayah.


Kemudian diikuti oleh Stella dengan wajah yang tetap terlihat kesal,lalu diikuti oleh Sebastian yang sama sekali tidak merasa bersalah sedikitpun,dan juga Jennifer yang hanya mampu terus menampilkan wajah malu dan bersalahnya saja.


Ia bahkan tadinya hampir saja tidak mampu berjalan dengan baik,karena Sebastian kembali menggempurnya disaat sedang membersihkan diri bersama selama hampir 30 menit didalam kamar mandi tadi.


20 menit kemudian...


Mereka semuapun langsung berjalan keruang tamu,setelah mereka selesai makan siang. Seperti biasanya,setelah selesai makan siang,mereka akan bersantai dan sedikit mengobrol diruang tamu.


"Auchk..." tiba-tiba saja,terdengar pekikan sakit yang tertahan dari mulutnya Jennifer,saat ia baru mau duduk diruang tamu tersebut,hingga membuat Sebastian yang berada disampingnya itu langsung menampilkan ekspresi wajah khawatir,begitu juga dengan yang lainnya.

__ADS_1


"Sweety,ada apa? Apa ada yang sakit?" tanya Sebastian dengan nada dan wajah khawatirnya,sambil mendudukkan Jennifer dengan gerakan pelannya.


"Kenapa,nak? Apa kamu baik-baik saja?" timpal Ibu dengan nada dan wajah khawatirnya juga,saat ia melihat Jennifer yang terlihat sedang meringis sakit,walaupun tidak terlihat begitu sakit.


"Iya,kak...Apa kamu baik-baik saja?" timpal Stella yang sama khawatirnya dengan mereka, sambil berjalan mendekati Jennifer dan juga Sebastian,begitu juga dengan Ayah dan Ibu.


"Tidak apa-apa,kalian jangan khawatir,aku baik-baik saja.Aku hanya merasa sedikit ngilu dipinggangku ini saja..." jawab Jennifer dengan jujur dan ekspresi wajah tidak enaknya karena telah membuat semuanya merasa khawatir saat ini,sambil memegang pinggangnya yang memang terasa agak ngilu-ngilu begitu,sedari 10 menit yang lalu.


"Apanya yang baik-baik saja,wajah kamu sampai segitunya.Ayo,sebaiknya kita kerumah sakit sekarang..." ajak Sebastian dengan nada dan wajah tegas yang telah bercampur khawatir dan langsung dianggukin kepala oleh yang lainnya,sambil berniat ingin mengendong Jennifer,tapi tangannya malah ditahan oleh Jennifer sendiri.


"Honey,aku benar baik-baik saja.Mungkin saja,aku sedang ingin datang bulan,makanya sekarang pinggangku terasa agak ngilu-ngilu..." ucap Jennifer dengan nada dan wajah seriusnya,sambil menahan tangannya Sebastian,dan juga menahan rasa ngilunya tersebut.


"Datang bulan?" tanya Sebastian dengan nada dan wajah bingungnya,tapi ekspresi wajah khawatirnya tetap terlihat.


Berbeda dengan Sebastian yang langsung merasa bingung,Ibu dan yang lainnya langsung saling tatap mata dan baru teringat akan sesuatu hal yang belum mereka beritahu pada Jennifer.


"Nak,kamu tidak akan datang bulan selama 9 bulan ini.Jadi rasa ngilu yang kamu rasakan sekarang,bukan karena akan datang bulan..." ucap Ibu dengan nada dan wajah seriusnya, sambil duduk disampingnya Jennifer.


"Apa maksudnya Ibu? Bukankah jika kita datang bulan,memang akan merasakan ngilu-ngilu yang seperti aku rasakan sekarang?" tanya Jennifer dengan nada dan wajah bingungnya.


Sedangkan Sebastian,ia yang memang tidak begitu mengerti tentang kata datang bulan tersebut,ia hanya mampu mendengar dan memerhatikannya terlebih dahulu.


"Iya,yang kamu katakan itu memang benar. Tapi,,," jawab Ibu dengan nada pelannya,dan juga menjeda kalimatnya.


Kemudian Ibu menatap kearah semua orang satu persatu dan juga menghela napas pelan dengan panjang,lalu ia kembali menatap kearah Jennifer dengan ekspresi wajah bersalahnya.


"Tapi apa,Bu? Ibu,sebenarnya ada apa dengan kalian semua?" tanya Jennifer yang dibuat semakin bingung,dengan ekspresi wajahnya Ayah,Ibu dan Stella.Kecuali,dengan ekspresi wajah suaminya yang malah sama bingungnya dengan dirinya.


"Saat ini kamu sedang hamil,nak.Jadi,mana mungkin kamu akan datang bulan..." jawab Ibu dengan nada dan wajah yang tersenyum seriusnya.


"Tapi,,,Ibu berkata apa? Hamil? Aku sedang hamil,Bu?" tanya Jennifer balik,dengan nada dan wajah tidak percayanya,sambil mengalihkan tatapan tidak percayanya kearah semuanya satu persatu.


"Kenapa aku sama sekali tidak mengetahuinya,Bu? Tapi malah kalian yang mengetahuinya duluan..." tanya Jennifer lagi,dengan nada dan wajah bingungnya,sambil memegang perutnya dengan sayang.


"Kami juga baru mengetahuinya,saat kamu tidak sadarkan diri pada hari itu,nak..." jawab Ibu dengan nada dan wajah tersenyum kecilnya, sambil memeluk sebentar Jennifer yang terlihat mulai menampilkan wajah tersenyum bahagianya.


"Itu adalah kabar yang sangat membahagiakan, Bu..." ucap Jennifer dengan nada dan wajah yang tersenyum senang dan juga bahagia,lalu diikuti oleh Ibu,Ayah dan juga Stella.


"Tapi Sweety,kamu harus kerumah sakit sekarang.Ayo,sekarang kita kerumah sakit terlebih dahulu..." timpal Sebastian yang sedari tadi hanya diam saja,sedari tadi ia hanya terus mengkhawatirkan keadaannya Jennifer,tapi mereka malah sibuk mengobrol kecil sedari tadi.


"Tapi Honey,aku tidak mau masuk kerumah sakit lagi.Berada disana dan menc**m bau obat-obatan,membuat kepalaku terasa pusing dan juga selalu merasa mual..." ucap Jennifer dengan nada dan wajah manjanya,sambil menahan tangannya Sebastian yang sibuk ingin mengendongnya,dan juga menahan rasa ngilunya yang sudah tidak begitu terasa lagi.


"Baiklah.Kalau begitu,aku akan menyuruh dokternya kesini saja,ya..." ucap Sebastian dengan nada dan wajah pasrahnya,sambil segera mengeluarkan HPnya.


Sebastian langsung memencet no HPnya sang dokter,saat ia melihat anggukan kepalanya Jennifer tersebut.


"Hallo..." terdengar suara sang dokter dari seberang sana,dengan wajah bingungnya tentunya.


"Dalam 20 menit,jika kamu masih tidak terlihat dihadapan aku,hati-hati dengan kepalamu..." ucap Sebastian dengan nada dan wajah tegasnya,lalu ia langsung mematikan HPnya scara sepihak tanpa merasa bersalah sedikitpun.

__ADS_1


__ADS_2