
Ntah kenapa tiba-tiba saja,ia merasa kalau mereka berdus akan segera mendapatkan kabar baik nanti,saat ia memikirkan tentang sikapnya Sebastian yang belum pernah ia lihat tadi.
Rengkuhan posesifnya dan wajah kesalnya Sebastian terhadap Jennifer tadi,ditambah lagi dengan panggilan manis yang menurutnya menggelikan itu.
Sepertinya kali ini,sebentar lagi bukan hanya akan terjadi jebakan saja,melainkan akan benar-benar terjadi hal yang sesungguhnya diatas sana.
"Maksudnya Ayah?" tanya Ibu dengan nada dan wajah bingungnya,sambil mengalihkan tatapan bingungnya kearah wajah suaminya yang sedang tersenyum senang kearahnya.
"Apa maksudnya Ayah,kalau sebentar lagi,mereka akan segera mencetak cucu untuk kita?" tanya Ibu dengan nada senangnya,saat ia sudah mengerti maksudnya Ayah tadi,melalui senyum senangnya Ayah tersebut.
"Hm..." jawab Ayah dengan nada santai dan anggukan pelannya.
"Kalau begitu,itu hal yang sangat bagus,Yah...Aku sudah tidak sabar ingin melihat kedatangan cucu kita,kedunia ini.Aku harap,apa yang Ayah maksudkan tadi memang benar.Dan,sebentar lagi mereka benar-benar akan segera memberi kabar baik pada kita..." ucap Ibu dengan nada dan wajah tersenyum senangnya dan juga penuh harap berserta doa,sambil menyandarkan kepalanya kepundak suaminya dengan manja
"Ya,Ayah juga berharap sama seperti Ibu..." ucap Ayah dengan nada serius dan wajah tersenyumnya yang sedari tadi tidak berkurang sedikitpun,sambil mendekatkan pipinya kepucuk kepala istrinya.
Mereka berduapun melangkah pelan kearah dapur,dengan disertai obrolan kecil dan sedikit candaan,dan juga ekspresi wajah yang terus saja tersenyum senang.Jangan lupa juga dengan pelukan sayang dan mesra mereka,pelukan yang selalu membuat semua pelayan yang ada dirumah tersebut merasa senang melihatnya.
***
Sedangkan didalam kamarnya sepasang pengantin yang baru saja menikah selama hampir 3 minggu tersebut,mereka berdua baru saja berada didalam kamar 10 menit yang lalu.Hanya saja,mereka berdua sedang duduk berbeda sisi saat ini.
"Apa kamu tidak perlu memberiku sedikit penjelasan saja,hm?" tanya Sebastian dengan nada tegasnya,sambil menahan rasa kesalnya dan juga terus memerhatikan istrinya yang masih sedang sibuk membersihkan wajah dari make upnya tadi.
"Penjelasan? Maksudmu?" tanya Jennifer balik, dengan wajah yang pura-pura bingung,sambil menahan rasa gugupnya dan terus membersihkan wajahnya dan juga melirik Sebastian yang sedang duduk disofa sana,melalui cermin yang ada dihadapannya itu.
Padahal make up yang Sebastian suruh bersihkan tadi itu,sudah selesai ia bersihkan sedari 1 menit yang lalu,tapi karena ingin menghindari tatapan matanya Sebastian yang mampu membuatnya semakin gugup itu,iapun berpura-pura terus membersihkan wajahnya saja.
"Penjelasan tentang kebersamaanmu dengan Elvan selama beberapa hari ini? Apakah kamu sama sekali,tidak berniat ingin menjelaskannya padaku,hm?" Sebastianpun kembali mengulang pertanyaannya tadi secara detail,ia lebih suka langsung keinti masalahnya saja,dari pada ia harus berbicara berputar-putar seperti wanita.
Ia bahkan harus menahan rasa kesalnya,saat ia bisa langsung menyadari Jennifer yang terlihat jelas sedang berpura-pura bingung barusan.
Untung saja,dress indah yang selalu Jennifer pakai untuk makan bersama Elvan itu,tidak terlalu pendek dan terbuka.Hingga tidak sampai harus membuat rasa kesalnya berada dipuncak yang paling tinggi,tapi tetap saja dress indah yang hanya sebatas lututnya Jennifer itu saja,mampu membuat dirinya tidak menyukai hal yang jarang ia permasalahkan pada dirinya Jennifer tersebut.
"Bukankah,yang tadi itu sudah jelas?" tanya Jennifer balik,dengan nada bingungnya,tapi rasa bingungnya karena ia bingung harus menjawab apa.
Tiba-tiba saja bakat aktingnya menghilang begitu saja,disaat-saat yang menurutnya penting seperti ini.Bukan karena apa,tapi karena tatapan matanya Sebastian yang sedari tadi terus fokus pada dirinya saja,hingga mampu membuat dirinya mulai menjadi salah tingkah sekarang.
"Apakah sekarang kamu sedang merasa cemburu, hm?" lanjut Jennifer,ia bertanya dengan nada dan wajah tersenyum menggodanya,tapi tatapannya masih tetap diposisinya tadi.
"Cih..." Sebastian langsung berdecih kesal,saat ia mendengar pertanyaan menggodanya Jennifer tersebut,hingga mampu membuat Jennifer langsung tersenyum lucu.
__ADS_1
Tapi senyumannya tersebut hanya bertahan selama beberapa detik saja,karena Sebastian malah mengabaikan pertanyaannya dan juga kembali bertanya kepokok permasalahan mereka tadi.
"Apakah aku perlu bertanya satu persatu,tentang keberanianmu yang telah berhasil membuat diriku menjadi tidak bisa fokus berkerja seperti ini,hm?" tanya Sebastian dengan perasaan kesal dibalik nada dan wajah tegasnya,sambil berdiri dari duduknya dan berjalan santai kearah Jennifer.
Ntah ia harus mengartikan hal tersebut sebagai rasa cemburunya,atau hanya sekedar karena sekarang Jennifer adalah istrinya.Tapi yang ia tahu pasti,ia tidak suka melihat kalau Jennifer harus menghabiskan banyak waktunya atau memberi senyumannya kepada pria lain,walaupun pria tersebut sahabat baiknya.
"Apa maksudmu? Ke keberanian yang ma mana?
A aku bahkan tidak melakukan apa-apa sedari tadi..." jawab Jennifer dengan nada gugupnya,dan kali ini ia bukan hanya melirik saja,melainkan ia terus menatap waspada kearah Sebastian yang sedang melangkah kearahnya itu,melalui cerminnya tersebut.
Ia juga berniat ingin berdiri dari duduknya supaya ia bisa melarikan diri kekamar mandi,tapi ntah kenapa tiba-tiba saja tubuhnya seperti sudah melekat mati dengan kursi yang ia duduki tersebut.
"Benarkah?" tanya Sebastian dengan nada kesalnya,tanpa menghentikan langkah lebarnya itu.
"Ten tentu saja benar,sedari tadi aku memang tidak melakukan apa-apa terhadapmu.Kamu jangan sembarangan menuduhku,tanpa bukti yang jelas. Lagi pula, jika kamu tidak bisa fokus berkerja, kenapa kamu malah menyalahkan aku? Itu salahmu sendiri,bukan salahnya aku..." jawab Jennifer dengan nada yang masih saja gugup,dan juga panjang lebar,untuk membela diri.
Tatapan waspadanya tadipun langsung mulai tidak tenang,saat ia melihat langkahnya Sebastian yang semakin mendekat kearahnya.
"Apakah kamu yakin,hm?" tanya Sebastian dengan nada pelan yang terdengar seperti berbisik,sambil mendekatkan wajahnya kesamping wajahnya Jennifer,hingga hembusan napas mintnya Sebastian begitu terasa dikulit wajahnya Jennifer.
"Ya yakin,ma malah aku sangat yakin..." jawab Jennifer dengan nada yang semakin gugup dan wajah memerahnya karena merasa malu,bahkan gerakan tangannya yang tadi masih sibuk membersihkan wajahnya tadipun langsung melambat.
Sekarang ia bukan hanya merasakan gugup saja,tubuhnya dan seisi kepalanya bahkan telah mulai dirasuki sensasi-sensasi dan pikiran-pikiran mesum.
Sedangkan Jennifer,ia hanya mampu mengangguk pelan saja.Apa lagi saat ia melihat wajah seriusnya Sebastian,tapi ia juga merasa penasaran dengan pertanyaan apa yang akan dilontarkan oleh suaminya ini.
"Pertama... Apakah kamu berniat ingin membersihkan wajahmu,hingga kulit wajahmu ini mengelupas nanti,hm?" tanya Sebastian dengan nada dan wajah santainya,sambil menahan senyum.
Ia bukannya tidak tahu kalau Jennifer sengaja ingin menghindari kontak mata dengannya,karena sedari tadi ia terus memerhatikan Jennifer yang membersihkan wajah tanpa henti.
"Hah! Ti tidak juga,ini juga sudah selesai" jawab Jennifer dengan nada gugup yang bercampur malu,sambil menurunkan tangannya,dan berlanjut dengan membersihkan meja cerminnya tersebut.
Sedangkan Sebastian,ia terus saja menahan senyum didalam hatinya,sambil mengalihkan tatapan lurus kedepannya tadi kesamping,hingga ia bisa nelihat dengan jelas wajah malunya Jennifer.
Apa lagi,ia juga memang sudah tahu kalau Jennifer sedang merasa malu sedari tadi.Sedari ia berjalan mendekat, hingga ia melihat wajah memerahnya Jennifer dicermin tadi.
"Jadi,apa cinta kamu sudah berpindah tempat sekarang?" tanya Sebastian yang kembali mengingat tentang masalahnya mereka tadi,sambil menetralkan rasa kesalnya yang kembali ingin keluar.
"Hah! A apakah ini pertanyaan keduamu?" tanya Jennifer dengan wajah bingung yang bercampur malu,lalu ia langsung tersenyum lucu tapi ekspresi malunya tetap menyertai.
"Hm..." jawab Sebastian dengan singkat,tapi tatapan matanya tidak beralih dari wajah malunya Jennifer,tatapan matanya terus saja fokus disekitar wajah cantiknya Jennifer hingga turun kebibir,naik kemata,dan terus saja begitu.
__ADS_1
"Kenapa kamu malah tersenyum?" tanya Sebastian dengan nada kesalnya,saat ia melihat Jennifer yang bukan menjawab tapi malah tersenyum.
"Bagaimana kalau menurut kamu sendiri?" tanya Jennifer dengan nada pelannya dan mengabaikan pertanyaannya Sebastian barusan,ia bahkan tidak berani,walau sekedar hanya ingin menoleh kesamping saja.
"Kalau begitu,aku akan langsung kepertanyaan yang ke 3 saja.Apakah sekarang,kamu masih mencintaiku?" tanya Sebastian balik dengan perasaan harap-harap cemasnya,sambil menyentuh pipinya Jennifer yang sebelah samping sana,dan menolehkan pelan wajahnya Jennifer kearah wajahnya,supaya ia bisa melihat jelas ekpresi wajahnya Jennifer saat Jennifer akan berbicara nanti.
Sedangkan Jennifer,mulutnya malah menjadi terkatup rapat karena pergerakan cepatnya Sebastian tersebut.
"Apakah sekarang,kamu masih mencintaiku?" Sebastian kembali mengulangi pertanyaannya, dengan nada tidak sabarannya,saat ia melihat Jennifer yang malah terdiam saja.
Ia bahkan sama sekali tidak merasa pegal dan capek,dengan punggungnya yang berada dalam posisi membungkuk itu.Apa lagi,saat ini wajah cantiknya Jennifer lebih penting baginya,dan lebih menarik untuk ia lihat.
"Me menurutmu?" tanya Jennifer balik,dengan nada gugup dan wajah malunya,karena posisi wajah mereka sangat dekat,hanya berjarak 1 cm saja.
Sebastian yang merasa kesal dengan jawabannya Jennifer yang sama untuk kedua kalinya itu,iapun langsung berdiri dari membungkuknya tadi,sambil mengangkat tubuh langsingnya Jennifer kedalam gendongannya dengan gerakan cepatnya.
"Arhhgg..." Jennifer langsung terpekik tertahan, saat ia merasakan tubuhnya yang tiba-tiba saja melayang dan terangkat keatas.
Karena ia tidak mau kalau dirinya sampai akan terjatuh,iapun segera merangkul leher kokohnya Sebastian,secara refleks.
"A apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Jennifer dengan nada gugupnya karena merasa kaget dan juga takut, sambil menelisik wajah kesalnya Sebastian,dan ternyata ia sudah berada didalam gendongannya Sebastian saat ini.
"Aku? Tentu saja,aku sedang melakukan yang seharusnya aku lakukan sedari 2 minggu yang lalu..." jawab Sebastian dengan nada santainya kembali,sambil membawa Jennifer kekasur mereka yang hanya tinggal beberapa langkah itu saja.
"Ma maksudmu?" tanya Jennifer dengan nada dan wajah yang semakin gugup saja,saat ia mendengar jawabannya Sebastian yang menurutnya terdengar seperti kalimat mutiara yang memang ia inginkan tapi rasa gugupnya malah semakin menjadi-jadi saja.
Apa lagi,saat ia melihat langkahnya Sebastian yang sedang membawa langkahnya mereka kearah kasur.
Hingga mampu membuat degupan jantungnya yang masih mampu ia kendalikan tadi,sekarang sudah semakin tidak mampu ia kendalikan,karena degupan jantungnya saat ini,semakin lama semakin tidak beraturan saja.
"Aku akan bertanya sekali lagi,padamu.Apa sekarang,kamu masih mencintaiku?" Sebastianpun benar-benar kembali mengulangi pertanyaannya tadi untuk ke 3 kalinya,dengan perasaan khawatir dibalik nada dan wajah seriusnya,sambil membaringkan tubuh langsingnya Jennifer keatas kasur dan menindihnya dengan pelan.
Lagi-lagi,ia langsung bicara keintinya saja.Ntah kenapa tiba-tiba saja ia merasa khawatir dan takut,kalau Jennifer benar-benar akan berubah haluan ke pria lain,dan menjauhinya tanpa memperdulikan dirinya lagi.
Walaupun sekarang,ia memang masih sedikit bingung dengan perasaannya.Tapi yang pasti, sekarang hatinya telah berkata kalau ia harus segera memiliki Jennifer seutuhnya,sebelum pria lain yang akan merebutnya dari genggaman kuatnya ini.
"Masih,aku masih mencintaimu.Aku bahkan sangat-sangat mencintaimu,hingga tidak ada satupun pria yang mampu menggantikan namamu dihatiku..." Jennifer seperti langsung terhipnotis dengan tatapan seriusnya Sebastian itu,hingga ia menjawab dengan panjang lebar dan melupakan misinya.
Lagi pula sepertinya misi tersebut tidak perlu ia lanjutkan lagi,karena sebentar lagi misi tersebut akan berhasil dengan sempurna,tanpa harus bersusah payah lagi.
Tapi kedua tangannya tetap menahan dada kekarnya Sebastian karena perasaan gugupnya tersebut, tapi nyatanya tenaga kecilnya tetap tidak mampu menahan terlalu jauh.
__ADS_1
"Benarkah?" tanya Sebastian dengan nada pelannya,tapi ia langsung tersenyum lega dibalik wajah tenangnya yang tidak begitu datar dan serius lagi.
"Tapi kenapa kamu terlihat sangat senang dan bahagia dengan kebersamaan kalian berdua tadi? Selama 4 hari ini bahkan kalian terus meluangkan banyak waktu untuk bisa bersama,dan melupakan statusmu sebagai istri..." tanya Sebastian setelah ia melihat anggukan pelannya Jennifer,dengan nada dan wajah kesalnya kembali karena ia kembali mengingat tawa canda dan senyumannya Jennifer dan Elvan selama 4 hari itu.