Suami Tampanku Yang Sederhana

Suami Tampanku Yang Sederhana
Bab. 158


__ADS_3

"Uhuk uhuk uhuk..."belum sempat salah satu dari mereka menjawab lebih dulu,Jennifer malah lebih dulu terbatuk-batuk karena hampir tersedak sama es campur yang sedang ia minum tersebut.


"Sweety,apa kamu baik-baik saja?" tanya Sebastian dengan nada dan wajah khawatirnya, sambil menepuk-nepuk pelan punggungnya Jennifer.


"Nak,apa kamu baik-baik saja?" Ibupun ikut bertanya dengan nada dan wajah khawatir yang sama dengan Sebastian,walaupun sebenarnya ia sangat ingin tertawa karena ia bisa menebak kalau Jennifer hampir tersedak es campur,pasti karena pertanyaannya tersebut.


"Iya.Aku baik-baik saja,Honey,Bu... Kalian tenang saja,mungkin aku minumnya terlalu buru-buru..." jawab Jennifer dengan nada pelannya,sambil menahan rasa malunya dan mengambil tisu untuk mengelap sisa batuk dibibirnya tersebut, dan tentunya setelah batuknya tersebut sudah reda.


"Kakak ipar,kamu tidak perlu merasa malu seperti itu dengan pertanyaannya Ibu tadi.Itu adalah hal bagus atau biasa yang memang harus dilakukan oleh sepasang suami istri yang baru saja menikah.Kenapa juga kakak ipar harus merasa malu?" timpal Stella dengan nada dan wajah tersenyum santainya, sambil berusaha menahan diri untuk tidak mengejek atau menertawakan kakak iparnya saat ini juga.


Padahal nikahnya mereka sudah hampir 3,4 bulan,dan sekarang bahkan kakak iparnya tersebut telah berbadan 2,tapi kakak iparnya masih saja menampilkan ekspresi wajah malunya.


Ntahlah... Ia sendiri baru tahu kalau kakak iparnya ternyata memiliki sisi malu yang seperti ini,padahal biasanya sikap kakak iparnya itu selalu berbanding terbalik dengan yang sekarang.Hal tersebut bahkan,telah berhasil membuat dirinya merasa begitu geli,apalagi saat ia melihat rona merah diwajah kakak iparnya itu.


"Tapi kakak ipar,apa yang dikatakan oleh Ibu barusan ada benarnya juga.Kalian berdua memang harus pergi berbulan madu,supaya......" lanjutannya Stella yang berniat ingin bercanda tapi juga ingin menggoda Jennifer dan kakaknya itu.


Tapi suara kesalnya Jennifer berhasil menyelanya dan juga membuat bibirnya tidak mampu berbicara banyak,selain hanya mampu mengunyah makanan yang sedang ia makan saat ini.


"Jika kamu terus bicara lagi... Setelah ini,kamu tidak akan diperbolehkan untuk memakan semua ini lagi..." sela Jennifer dengan nada dan wajah kesalnya,sambil memberikan tatapan kesal yang tajam kearah Stella yang langsung mendengkus kesal.


"Cih...Dasar menyebalkan...Ternyata kakak dan kakak ipar sama-sama menyebalkan..." ucap Stella dengan nada dan wajah kesalnya sambil melanjutkan makan sorenya tersebut.


'Dasar kakak ipar yang munafik...' Stella bahkan hanya mampu menggerutu kesal didalam hatinya saja,karena jika tidak,ia akan kehilangan hak untuk menikmati semua makanan yang ada depannya ini untuk selanjutnya nanti.


Sedangkan Ibu dan Sebastian,sedari tadi mereka berdua terus saja tersenyum lucu saat mereka bisa melihat kalau wajah cantiknya Jennifer yang sedang kesal tersebut mulai memerah karena merasa malu.


"Nak,pergilah berbulan madu bersama suami keras kepalamu ini... Kalian juga bisa sekalian pergi berjalan-jalan..." Ibupun melanjutkan sarannya tadi,karena sepasang suami istri ini memang sama sekali belum pernah memiliki waktu bersama yang indah.


Dan dengan melihat Jennifer yang telah berhasil membuat perubahan besar pada diri putra sulung atau satu-satunya ini,itu saja sudah berhasil membuatnya merasa begitu senang dan juga bahagia.


Tidak seperti 1 tahun kebelakangan ini, Sebastian selalu melalui hari-harinya dengan senyuman yang begitu jarang terlihat diwajah tampannnya,dan malah waktunya hanya dipenuhi dengan perkerjaan saja.


Walaupun Sebastian tidak sampai membuat mereka merasa khawatir yang berlebihan karena Sebastian tidak sampai melakukan perbuatan-perbuatan bodoh lainnya,tapi tetap saja ia dan suaminya selalu berharap kalau Sebastian akan mendapatkan kebahagiannya sendiri nantinya.


Dan seperti inilah kebahagiaan yang ingin ia lihat untuk sekarang dan juga selanjutnya,dan semua itu berkat adanya menantu kesayangannya ini.


"Ibu,kamu tenang saja...Aku pasti akan membawa istri cantikku ini,pergi berbulan madu sebentar lagi..." jawab Sebastian dengan cepat dan wajah tersenyum senangnya,sebelum Jennifer sempat menjawab.


Pikirannya pun langsung melayang jauh disana,ia berpikir kalau akan betapa menyenangkan jika ia dan Jennifer pergi berbulan madu nanti,tanpa gangguan apapun dari yang lainnya.Tapi kemudian ia hanya mampu menghela napas pelan tapi masih tetap tersenyum senang,saat ia memimirkan perkataannya sang dokter tentang kehamilannya Jennifer tadi siang.


"Baguslah,kalau memang benar begitu...Tapi kalian harus berhati-hati,ya... Karena sekarang bukan hanya ada kalian berdua saja,tapi sudah ber 3..." pesan Ibu dengan nada dan wajah tersenyum bahagia tapi juga terlihat begitu serius,karena ia tidak ingin kalau akan sampai terjadi apa-apa dengan cucu pertamanya yang masih belum tumbuh sempurna tersebut.

__ADS_1


"Iya Bu,Ibu tenang saja,kami pasti akan sangat berhati-hati..." jawab Sebastian dengan nada dan wajah seriusnya sambil mengeratkan pelukannya dan mendekatkan kepalanya kepucuk kepalanya Jennifer,ia sendiri juga tidak akan membiarkan istri dan buah hati mereka kenapa-kenapa,walaupun harus mengorbankan nyawanya sekalipun.


"Iya Bu,Ibu jangan khawatir,kami pasti akan menjaganya dengan baik..." timpal Jennifer dengan nada dan wajah tersenyum malunya, sambil mengelus-elus pelan perutnya yang masih belum begitu kelihatan tersebut.


"Kakak,kakak ipar,memangnya kalian akan pergi berbulan madu kenegara mana? Dan kapan kalian akan pergi?" Stella yang tadinya hanya sibuk makan,iapun mulai kepo,karena ia memang sangat suka berjalan-jalan ataupun traveling kalau kuliahnya sedang liburan.


"Mau tahu atau mau tahu banget?" tanya Jennifer dengan nada dan wajah tersenyum malasnya,saat ia melihat ekspresi wajah ingin tahunya Stella tersebut,dan sekalian ingin membalas rasa kesalnya pada Stella tadi.


"Cih..." Stella langsung mendengkus kesal, dengan nada dan wajah kesalnya.


"Kakak,kakak ipar,sebentar lagi aku akan liburan panjang...Bagaimana kalau........." lanjut Stella dengan nada dan wajah tersenyum semangat 45 nya,tapi sayangnya senyum semangat 45 nya tersebut langsung sirna begitu saja,karena kalimat senangnya yang belum selesai itu malah langsung disela oleh Sebastian dengan cepat.


"Kamu tetap dilarang untuk ikut bersama kami, kamu bisa fokus belajar dirumah atau membantu Ibu saja..." sela Sebastian dengan singkat,nada dan wajah tegasnya,sambil menatap malas kearah Stella yang lagi-lagi kembali mendengkus kesal.


'Lagi pula jika kamu ikut bersama kami,hanya akan menjadi pengacau saja...' lanjut Sebastian didalam hatinya,karena jika Stella ikut bersamanya dan Jennifer,sudah dipastikan kalau Stella akan terus menganggu waktu bersama mereka dengan obrolan recehannya itu.


"Ibu..." Stellapun mencoba untuk meminta bantuan kepada ibu,tapi ia malah berhasil membuat Ibu merasa kesal saja.


"Apa kamu berniat ingin menjadi nyamuk besar diantara kakak dan kakak iparmu,disana? Kamu ini ada-ada saja..." jawab Ibu dengan nada dan wajah kesalnya,saat ia melihat wajah tidak tahu malunya Stella,seperti tidak ada cara yang lain untuk bisa berlibur saja.


Apakah Stella sudah tidak waras,karena sangat suka berjalan,sampai ingin mengikuti kakak dan kakak iparnya untuk berbulan madu.


"Menyebalkan..." ucap Stella dengan nada dan wajah memberengut kesalnya,sambil meminum sisa es campurnya dengan gerakan kesalnya tersebut.


Sedangkan Stella,ia hanya terus memakan makanannya tersebut.Karena rasa kesalnya akan bertambah,jika ia harus melihat kakak dan kakak iparmya.


"Maksudmu apa,Sweety?" tanya Sebastian dengan nada dan wajah bingungnya,apa lagi saat ia melihat alisnya Jennifer yang masih naik turun tersebut.


"Maksudku...Bukankah belakangan ini Billy sangat sibuk dengan perkerjaan perusahaanmu,jadi ada baiknya kamu menyuruh Stella untuk membantu Billy.Dan bisa juga sekalian untuk mengajari Stella,untuk belajar soal bisnis bukan?" jawab Jennifer dengan nada dan wajah seriusnya,sambil melirik sekilas kearah Stella yang terlihat mulai bereaksi dengan perkataannya tersebut.


"Dan kita juga bisa sekalian menjodohkan Billy dengan Stella,Honey..." lanjut Jennifer tepat disamping telinganya Sebastian,suaramya bahkan seperti sedang berbisik.


"Baiklah.Kalau memang itu yang kamu inginkan,Honey..." ucap Sebastian dengan nada pelan dan wajah tersenyum kecilnya,sambil melirik Stella yang sedang mengernyit heran kearah mereka berdua.


Walaupun ia merasa kalau Stella memang masih belum bisa mengerjakan apapun tentang perusahaan,tapi demi kesenangan istrinya,mau tidak mau ia harus mengabulkan permintaan istrinya tersebut.


"Tuan Muda... Semua ini,makanan yang dipesan oleh Nona Muda tadi..." salah satu bawahannya yang dìperintahkan untuk pergi membawa makanan yang diinginkan oleh Jennifer tadi.


"Letakkan disana...Setelah itu,pergilah..." jawab Sebastian dengan nada dan wajah tegasnya, tanpa menoleh kearah bawahan tersebut sedikitpun.


"Baik,Tuan Muda..." jawab bawahan tersebut, dengan cepat dan segera meletakkan makanan yang telah ia bawa itu keatas meja,lalu iapun segera pergi dari hadapan Tuan Muda dan Nona Mudanya.

__ADS_1


"Kakak,kakak ipar,apa yang sedang kalian bicarakan tadi?" tanya Stella dengan nada pelannya,sambil menatap curiga kearah Sebastian.


"Tidak ada yang kami bicarakan,hanya berbagi oksigen saja..." jawab Sebastian dengan nada dan wajah santainya,sambil memerhatikan wajah menyelidikinya Stella tersebut.


"Kapan kamu akan liburan panjang,hm?" tanya Sebastian dengan nada dan wajah seriusnya.


"Sepertinya sekitar 2 minggu lagi,memangnya kenapa kak?" jawab Stella dengan nada dan wajah yang semakin mengernyit heran saja.


"Apakah kakak sudah berubah pikiran sekarang, dan ingin mengajakku untuk berbulan madu bersama?" tanya Stella dengan nada dan wajah yang tersenyum senang dan juga penuh harap.


"Kalau begitu,kakak ingin kamu pergi membantu perkerjaannya Billy diperusahaannya kakak,saat kamu sedang liburan panjang nanti..." ucap Sebastian dengan nada dan wajah seriusnya dan mengabaikan pertanyaannya Stella barusan, sambil menatap serius kearah Stella.


"What? Apa kakak sedang tidak waras,atau mungkin sedang panas dalam? Yang benar saja,aku bahkan tidak pandai apapun soal perusahaan besar kakak itu..." ucap Stella dengan nada dan wajah tidak percayanya,sambil menatap menyelidik kearah Jennifer dan juga Ibu yang sedang sibuk makan.


"Lagi pula,aku hanya ingin menghabiskan waktu liburan panjangku hanya dengan pergi berjalan-jalan saja..." lanjut Stella dnegan nada dan wajah kesalnya,saat ia memikirkan tentang apa yang akan terjadi padanya,jika ia sampai harus membantu Billy disana.


"Apa yang baru saja kakak katakan tadi sudah bulat,dan kamu harus menurutinya... Jika tidak......" kalimat tegasnya Sebastianpun, langsung disela oleh Stella dengan nada dan wajahnya yang semakin kesal saja.


"Baiklah,baiklah,aku akan membantu kak Billy diperusahaannya kakak,disaat aku liburan panjang nanti...Dan aku harap,kakak tidak akan menyalahkan aku,jika perusahaannya kakak akan mengalami kerugian atau apapun nantinya..." sela Stella dengan nada dan wajah yang memberengut kesal,sambil menatap kesal kearah Jennifer yang terlihat sedang tersenyum menang kearahnya,karena ia memang sama sekali tidak paham tentang perusahaan.


Sekarang ia sudah tahu,ternyata kakak iparnya sendiri yang jadi pelaku dari penderitaannya saat ini.


"Tidak masalah..." jawab Sebastian dengan nada dan wajah tersenyum santainya.


"Ibu rasa...Ada baiknya juga kamu belajar lebih bersama Billy nanti,nak...Supaya nanti kamu bisa belajar mandiri,tidak hanya mengharapkan uang kakakmu saja..." timpal Ibu yang tadi hanya memerhatikan dan mendengarkan dalam diam saja,dan ia merasa kalau hal tersebut termasuk ide yang tidak buruk juga.


"Apa yang dikatakan oleh Ibu memang benar... Setiap wanita manapun harus bisa belajar mandiri,supaya para wanita seperti kita tidak akan terlihat lemah dimatanya para pria atau yang lainnya.." timpal Jennifer dengan nada seriusnya dan wajah yang tersenyum senang,karena rasa kesalnya terhadap Stella tadi sudah terbalas dengan lancar.


"Iya.Apa kamu sudah dengar,nak.Apa yang dikatakan oleh kakak iparmu barusan memang ada benarnya.Kamu tidak boleh terlalu berharap kepada pria manapun atau orang lain,ataupun keluargamu sendiri.Karena ada waktunya, kemandirianmu itu sangat diperlukan dimasa depanmu nanti..." ucap Ibu dengan nada dan wajah seriusnya.


Walaupun ia tahu kalau Jennifer sedang melampiaskan rasa kesalnya terhadap Stella,tapi ia sangat setuju dengan sarannya Jennifer tersebut.


"Iya Bu,aku sudah mendengarnya sangat jelas...Terima kasih,kakak iparku yang cantik..." jawab Stella dengan nada dan wajah yang tersenyum kesal sebentar kearah Jennifer,lalu ia kembali melanjutkan makannya tersebut.


Mau melawanpun tidak ada gunanya,karena semua tabungannya memang hanya mengharapkan kakaknya saja.Jadi bisa dikatakan,hidupnya ada ditangan kakak sekaligus kakak iparnya saat ini.


Sepertinya kata mandiri tadi mulai terdengar bagus dipendengarannya,supaya lain kali ia tidak akan tertindas seperti ini lagi.


"Baiklah.Kalau begitu,Ibu akan masuk duluan ya..." ucap Ibu dengan nada dan wajah yang tersenyum senang,sambil berdiri dari duduknya, karena ia juga sudah lama berada disana dan meninggalkan suaminya didalam.


Walaupun sebenarnya tidak masalah,tapi ia juga bosan berada disana.Dan yang terutama,ia sudah berumur,jadi iapun tidak bisa terlalu makan semua makanan yang berminyak seperti yang ada dihadapannya saat ini,ia hanya perlu makan sedikit saja.

__ADS_1


"Iya,bu..." jawab Jennifer dengan nada dan wajah tersenyum senangnya juga,sambil terus menatap punggungnya Ibu yang sudah menjauh dari pandangannya,setelah membalas senyum senangnya tersebut.


__ADS_2