Suami Tampanku Yang Sederhana

Suami Tampanku Yang Sederhana
Bab. 67


__ADS_3

Ia sendiri juga bingung sama dirinya sendiri,kenapa dirinya menjadi sangat b*d*h seperti ini dan tidak mampu menolak sedikitpun tawaran-tawaran sesuka hati mereka itu,ia bahkan bingung mau bagaimana caranya ia harus mengatakan yang sebenarnya tentang hubungan mereka yang sama sekali belum menjalin hubungan kekasih itu.


"Apakah kamu yakin,nak?" tanya Mommy dengan wajah seriusnya,sambil terus menahan senyum puasnya karena rasa kesalnya berhasil menghilang dengan begitu cepat berkat rasa kesalnya Sebastian.


"Tentu saja,aku yakin...Aku bahkan sangat yakin,Nyonya..." jawab Sebastian dengan wajah yang tersenyum paksa,bahkan rasa kesalnya masih utuh seperti sebelumnya.


'Walaupun senyumannya terpaksa,tapi tetap saja semakin tampan...' batin Jennifer dengan wajah yang tersenyum senang karena ia melihat wajah tampannya Sebastian yang sedang tersenyum paksa itu.


"Baiklah,kalau begitu,kami hanya akan menunggu kabar baik dari kalian saja.Ingat ya,jangan lama-lama..." ucap Mommy dengan nada seriusnya dan wajah tegasnya.


"Baik,Mom..."


"Baik,Nyonya..."


Jawab Jennifer dan Sebastian secara bersamaan.


'Ternyata istriku mampu menjadi aktris juga,aku sendiri sampai tidak bisa melihat kalau ada kepura-puraan diwajah cantiknya itu...' batin Daddy dengan tersenyum kagum dibalik wajah tenangnya.


"Dan satu lagi,tadi aku lupa untuk mengatakan ini,karena terlalu sibuk memikirkan tentang pernikahan kalian.Nak Sebastian,kamu tidak perlu memanggilku Nyonya lagi...Panggil saja seperti apa kata Daddynya Jennifer tadi,panggil aku Tante saja..." ucap Mommynya Jennifer dengan wajah yang benar-benar serius,bukan berpura-pura seperti sebelumnya lagi.


"Baik,Nyo Tante..." jawab Sebastian dengan nada bingungnya karena masih kaku,sambil menghela napas dengan berat.


Padahal mereka baru saja bertemu untuk kedua kalinya,tapi tiba-tiba saja bertanya tentang pernikahan.Belum lagi,ekspresi tidak suka tadi yang langsung bisa berubah drastis dalam waktu sekejab.Hanya dalam beberapa jam saja,tatapan tidak bersahabat tadi sudah menjadi sok akrab.


Ntahlah,sepertinya hari ini,hari terberat bagi dirinya.Karena hari ini,ia harus menghadapi banyak hal,tapi yang paling berat diantara semua hal pada hari ini adalah menghadapi keluarga kaya yang aneh dan menyebalkan ini.


"Sayang,sekarang biarkan aku berbicara dengan mereka diruang kerjaku terlebih dahulu ya...Karena masih ada beberapa hal yang harus aku bahas pada mereka berdua..." ucap Daddy tiba-tiba dengan wajah seriusnya sambil berdiri dari duduknya.


"Tidak apa-apa.Pergilah,aku bisa menemani putri kecil kita menonton disini.." jawab Mommy yang sudah langsung mengerti dengan maksud suaminya, karena sebelum turun tadi suaminya sudah memberitahunya kalau akan berbicara obrolan pria sama Sebastian.


Hanya saja,anehnya kenapa suaminya malah ingin membawa Jennifer juga,tapi ia akhirnya tidak terlalu memikirkannya lagi,karena ia mempercayai suaminya yang pasti memiliki alasan tersendiri.


Sedangkan Sylvia,ia yang sudah ditegur oleh Mommy secara tidak langsung tadi,iapun memilih untuk mengunci mulutnya rapat-rapat,dan menonton saja.


"Baiklah,sekarang kalian ikut aku..." perintah Daddy dengan nada tegasnya,sambil berjalan melewati Jennifer dan Sebastian dengan langkah tegasnya.


Sebastian yang masih tetap tenang dan Jennifer yang merasa bingung tadipun langsung berdiri dari duduknya mereka dan berjalan mengikuti langkahnya Daddy,setelah mereka sudah selesai menatap sebentar kearah Mommy.


'Aku tidak menyangka,kalau pria yang sempat aku pandang lemah hari itu,sekarang sudah mampu menjadi sehebat ini...' batin Mommy dengan wajah yang tersenyum kagumnya sambil menatap sebentar kearah punggungnya mereka berdua.


Kemudian ia kembali menatap putri bungsunya itu dengan wajah malasnya,karena Sylvia hanya terus menonton tanpa berhenti mengunyah.Ia memang tidak memiliki anak lelaki,ia hanya memiliki 2 anak perempuan,dan suami yang sangat mencintai dirinya.


Awalnya ia juga merasa khawatir tentang hal tersebut,tapi suaminya selalu memiliki banyak cara untuk menenangkan dirinya,dan menyuruhnya untuk tidak berpikir untuk mengandung lagi,karena suaminya selalu takut untuk melihat dirinya yang pasti akan kekurangan darah saat disetiap melahirkan kedua putri mereka dulu.


Walaupun begitu,sesungguhnya kedua putri mereka itu selalu mampu membuat mereka merasa senang dan juga sekaligus bahagia dengan tingkah-tingkah nakal dan yang lainnya mereka itu.


Tapi sekarang,sepertinya ia tidak perlu terlalu khawatir tentang kekayaan suaminya yang mungkin saja akan kewalahan kalau hanya diurus oleh Jennifer seorang saja,karena sekarang sudah ada Sebastian yang akan membantu mereka,dan juga melindungi keluarganya.

__ADS_1


Lebih tepatnya mungkin,tapi ia berharap kalau hal tersebut memang benar-benar akan segera terjadi...


………


Diruang kerja Daddynya Jennifer,mereka ber 3 sudah duduk ditempat mereka masing-masing dengan aura mencekamkan didalam sana,tapi hanya Jennifer saja yang merasakan hal tersebut,karena kedua pria beda usia itu masih terlihat tidak terpengaruh sedikitpun.


"Sekarang,kamu bisa memperlihatkan apa yang telah kamu sembunyikan dibalik syal itu,sedari tadi..." perintah Daddy dengan nada tegasnya setelah mereka ber 3 sudah sama -sama terdiam selama 1 menit,sambil duduk dengan tubuh tegaknya.


'Ternyata,Tuan Arka memang tidak bisa dibohongi.Seharusnya,aku mampu mengendalikan diri tadi..' batin Sebastian dengan wajah tenangnya,sambil terus merutuki kekhilafannya tadi.


Ternyata tebakannya barusan benar,dan sepertinya sebentar lagi ia harus bersiap-siap untuk menerima pukulan kuat dari Daddynya Jennifer.


"Mak maksudnya Daddy,apa?" tanya Jennifer dengan nada kaget dan wajah yang berpura-pura bingung,tapi perasaannya merasa khawatir dan lebih bingung lagi,karena ia bingung harus melakukan apa sekarang,untuk meredakan marah Daddynya yang mungkin saja akan semakin membesar setelah melihat lehernya nanti.


Ia tidak menyangka kalau Daddynya akan begitu jeli dan memeriksa dirinya sampai seperti ini,ia juga menatap khawatir kearah Sebastian yang sedang duduk disampingnya,yang masih terlihat tenang saja.Tidak ada sedikitpun, ekspresi khawatir disana,ataupun takut.


"Apa didalam sini,masih ada orang lain yang sedang memakai syal selain dirimu,nak...?" tanya Daddy balik,dengan wajah kesalnya karena Jennifer masih berani untuk berpura-pura didepannnya,sambil berdiri dari duduknya.


Syal yang sudah sedari tadi ia perhatikan,ia bahkan sudah memerhatikan lehernya Jennifer yang telah tertutup oleh Jasnya Sebastian tadi,sedari awal mereka berdua berada diluar Mansion tadi.


"Ba baiklah,Dad..." jawab Jennifer dengan nada gugupnya dan wajah semakin khawatirnya,sambil membuka syalnya dengan gerakan pelan.


Beberapa detik kemudian...


"Sebastian Sachdev Rendra,apa yang telah kamu lakukan pada putriku,ha?" tanya Daddy dengan wajah marahnya yang bercampur rasa kesal,sambil melangkah mendekat kehadapannya Sebastian.


Jarak mereka tidak jauh,karena saat ini mereka hanya duduk dikursi sofa,dan hanya berjarak 1 atau 2 langkah saja.


"Dad,ini bukan......" ucapan pembelaannya Jennifer untuk Sebastian langsung terhenti karena disela dengan suara marahnya Daddy.


"Jennifer Amoora Naava,Daddy tidak bertanya padamu..." sela Daddy dengan nada tingginya, sambil menatap kesal kearah Sebastian.


'Sepertinya,aku benar-benar harus bersiap-siap dari sekarang...' batin Sebastian dengan wajah tenangnya yang pasrah,sambil berdiri dari duduknya dan menatap tenang kearah Daddynya Jennifer yang semakin mendekat kearahnya.


Ia bahkan sudah selesai menebalkan kulit dikedua pipinya dan juga bagian perut dan bagian sensitif yang lainnya,karena ia hanya bisa menerima saja dan tidak bisa membalas.


'Bagaimana ini...' Jennifer hanya mampu membatin dengan wajah khawatirnya saat ia melihat wajah marah Daddynya yang jarang dilihatkan padanya itu,dan ia yakin kalau Daddynya pasti akan memberi pelajaran pada Sebastian saat ini juga.


"Beraninya kamu menyentuh putriku..." ucap Daddy dengan wajah marahnya,sambil mengepalkan kedua tangannya,hingga mampu membuat Jennifer langsung memejamkan kedua matanya dengan sedikit mengintip.


"Buk buk..." belum Sempat Sebastian membela diri,2 bogeman mentah sudah terlebih dahulu mendarat dipipi kiri dan kanannya dengan gerakan cepat.Tapi untungnya ia sudah bersiap-siap tadi, jadi tubuhnya tidak akan bergerak sedikitpun,hanya kepalanya sedikit tergerak saja,karena bogeman kuat tersebut.


'Ternyata tenaga pria tua ini masih bisa dirasakan...' batin Sebastian dengan menahan rasa kesal dan sakit sekaligus,saat ia merasakan kedua sudut bibirnya yang sepertinya sudah sedikit robek dan juga rasa sakitnya yang masih bisa ia tahan itu.


"Dad,apa yang telah Daddy lakukan? Honey,apa kamu baik-baik saja?" tanya Jennifer dengan nada dan wajah kagetnya yang bercampur rasa kesal, sambil berdiri dari duduknya dan segera memeriksa kedua pipinya Sebastian dengan wajah khawatirnya.


"Kamu masih bertanya ,apa yang telah Daddy lakukan? Daddy melakukan yang harus Daddy lakukan sedari tadi..." jawab Daddy dengan wajah yang masih marah,sambil kembali duduk ditempatnya tadi dan juga menghela napas berat.

__ADS_1


'Pria ini ternyata sangat kuat juga...' lanjut Daddy dengan perasaan kagumnya,karena bukan hanya Sebastian yang merasakan sakit,kepalan tangannya juga sedikit merasakan ngilu,hanya ia menahannya.


Terutama pada sikap gentlenya Sebastian,terbukti dengan Sebastian yang tidak berniat ingin menghindari bogemannya sedikitpun,dan bahkan tubuhnya sama sekali tidak bergeser,dan juga tidak berniat ingin mengelak.


Tapi walaupun begitu,setidaknya rasa marah dan kesalnya tadi sudah mulai mengurang,berkat 2 bogeman mentah yang sudah ia hadiahkan pada Sebastian barusan.


"Tapi Dad,itu semua bukan salahnya Sebastian..." ucap Jennifer dengan wajah kesalnya,sambil terus memeriksa kedua pipinya Sebastian yang terlihat sangat merah,bahkan kedua sudut bibirnya sampai mengeluarkan sedikit darah akibat bogeman mentah tersebut.


"Jadi,apakah kamu ingin mengatakan kalau semua itu salahmu sendiri?" tanya Daddy dengan wajah kesalnya,sambil menatap kesal kearah putri sulungnya itu.


"Iya,itu semua karena aku sendiri yang menggodanya duluan,Dad..." jawab Jennifer dengan jujur dan wajah malunya,sambil menundukkan wajah malunya dihadapan Daddynya.


Tanpa sadar,ia refleks menjawab seperti itu,ia hanya tidak tega melihat Sebastian yang telah dihajar sama Daddynya.


"What? Apa kamu tidak punya malu,hm? Kamu ini wanita,Daddy tidak pernah mengajari kamu untuk melakukan hal yang seperti itu...Apa kami berdua pernah mengajarkan hal seperti itu padamu,hm?" tanya Daddy dengan wajah yang semakin marah,sambil kembali berdiri dari duduknya.


"Ti tidak pernah,Dad.Maafkan aku,Dad..." jawab Jennifer dengan wajah malunya yang sudah bercampur ekspresi takut disana,karena suara tinggi dan wajah marah Daddynya,dan itu memang sangat jarang diperlihatkan oleh Daddy pada mereka,kecuali kesalahan mereka memang sangat parah.


Daddy langsung menghela napas panjang dengan berat saat ia melihat wajah takutnya Jennifer, apakah dirinya terlalu pemarah saat ini,padahal dirinya hanya tidak mau kalau putrinya akan melangkah lebih jauh lagi,sebelum Sebastian sudah benar-benar mencintai putri keras kepalanya itu.


"Sudahlah,keluarlah terlebih dahulu,bergabunglah sama Mommy dan adikmu diruang tamu sana... Dan jangan lupa, pakai syal itu kembali..." ucap Daddy dengan rasa kesal dibalik wajahnya yang sudah tenang kembali,ia juga merasa khawatir kalau sampai istrinya mengetahui hal tersebut,bisa-bisa Mansion ini akan seperti terkena gempa untuk beberapa hari kedepan.


"Tapi Dad,bagaimana dengan pipinya Sebastian?" tanya Jennifer dengan wajah khawatirnya,dan rasa takut yang sudah mengurang karena wajah tenang Daddynya tersebut.


"Kamu masih saja mengkhawatirkan wajah jeleknya pria ini?" tanya Daddy dengan wajah kesalnya kembali.


"Ba baiklah,Dad..." jawab Jennifer dengan wajah pasrahnya,sambil berjalan keluar dengan langkah cepatnya dan juga kembali memasang syal tersebut.


Setelah Jennifer sudah menghilang dibalik pintu tersebut,Daddy kembali menatap kesal kearah Sebastian.


Sedangkan Sebastian,ia yang sedari tadi hanya terus memerhatikan kedua anak ayah tersebutpun langsung ikut duduk sambil menahan rasa sakit dikedua sudut bibirnya yang ternyata masih terasa sakit ngilu juga.


'Pria ini,memang tidak tahu malu...' batin Daddy sambil mendengkus kesal.


"Aku tahu,kalau kamu itu sudah lama menjomblo,tapi apakah kamu tidak bisa menahannya untuk sementara ini?" tanya Daddy dengan wajah santai yang sedang menahan kesal,sambil ikut duduk kembali ditempatnya tadi.


"Apakah paman akan menahannya,jika istrimu sedang menggodamu?" tanya Sebastian balik dengan nada santainya,sambil mengangkat sebelah kakinya dan menyilangkannya.


"Apa kamu tidak waras,anak muda? Memangnya siapa yang tidak akan tergoda kalau istri sendiri yang sedang menggoda kita.Sedangkan yang kamu nodai itu,putriku.Dan kalian sama sekali belum meresmikan hubungan kalian berdua..." ucap Daddy dengan panjang lebar dan wajah kesalnya.


"Tapi tetap saja,putrimu itu wanita,paman..." ucap Sebastian dengan wajah malasnya,dan bertepatan dengan sebuah suara nada dering pesan miliknya Sebastian yang juga terdengar dipendengaran mereka.


"Ternyata kamu ini,pria yang sangat munafik juga.Bukankah yang aku dengar,kalau kamu ini tidak akan mau menyentuh wanita manapun... Kenapa yang aku lihat sekarang,malah berbeda jauh dengan kata orang diluar sana..." ucap Daddy dengan nada menyindirnya.


"Itu hanya sebagian saja, tentang diriku yang baru kamu dengar,paman..." ucap Sebastian yang juga tidak mau kalah begitu saja.


"Memangnya seberapa banyak bagian dirimu yang tidak aku ketahui,hm?" tanya Daddy dengan wajah malasnya,padahal selama ini ia selalu mengawasi setiap pergerakannya Sebastian,jadi ia rasa tidak ada yang tidak ia ketahui tentang Sebastian.

__ADS_1


"Paman tanya saja,pada Billy atau mungkin pada Aldy..." jawab Sebastian dengan nada kesalnya, karena ia sangat tahu kalau kedua pria itu pasti akan mengkhianatinya,kalau sudah melibatkan Daddynya Jennifer didalamnya.


Ia juga menyadari kalau dirinya selalu diawasi oleh Daddynya Jennifer selama ini,hanya saja ia memilih untuk cuek saja,dari pada ia harus membuang tenaga untuk Daddynya Jennifer yang tidak perlu ia khawatirkan.


__ADS_2