Suami Tampanku Yang Sederhana

Suami Tampanku Yang Sederhana
Bab. 108


__ADS_3

Sebastian terus terdiam dengan posisinya yang masih tetap sama,tapi ekspresi wajahnya terus berubah-ubah sedari tadi,karena sedang mencoba untuk mencerna semua kalimat-kalimat kesalnya Jennifer tadi


"Tidak pernah terjadi? Apa sebenarnya yang sedang dipikirkan olehnya? Padahal yang tadi itu, aku hanya asal bicara saja.Kenapa Jennifer malah menjadi sekesal gitu? Lagi pula aku rasa, perkataanku tadi tidak terdengar sampai begitu menyebalkan,sampai Jennifer harus merasa kesal begitu..." gumam Sebastian dengan nada kesalnya, dan juga nada bingungnya diakhir kalimatnya, sambil menatap sebentar kearah senjatanya yang telah tertidur kembali dan tanpa sehelai benangpun yang menutupinya.


Untung saja ia segera menutupinya dengan kedua tangannya tadi,walaupun Jennifer juga tidak ingin menatapnya sedari telah berhasil menarik selimut tersebut tadi.


Ia tidak menyangka kalau Jennifer begitu tega sampai meninggalkan dirinya dalam keadaan yang dalam tidak pantas untuk dilihat itu,lalu iapun segera bergerak turun dari atas kasur untuk mengambil pakaiannya yang telah berserak diatas lantai,karena kegiatan panasnya mereka tadi.


"Mudah sekali ia berkata dan menyuruhku untuk menganggap kegiatan panas kami tadi,tidak pernah terjadi.Untuk melupakan yang hari itu saja, aku bahkan tidak mampu..." lanjut Sebastian dengan nada kesalnya, saat ia mengingat tentang perkataannya Jennifer tadi,dan juga saat ia melihat tubuh polosnya Jennifer hari itu,yang tanpa disadari oleh Jennifer sama sekali.


"Apa lagi,aku harus melupakan yang baru saja terjadi tadi... Apa sebenarnya yang diinginkan olehnya? Bukankah sekarang,aku sudah menjadi suaminya sepenuhnya.Apa itu juga belum cukup..." lanjut Sebastian lagi,dengan terus menggerutu kesal,sambil memakaikan pakaiannya satu persatu dengan gerakan tidak semangatnya.


Semangat membaranya saat menggempur istrinya tadi langsung sirna begitu saja,karena wajah memberengut kesalnya Jennifer terus berputar dipikirannya,ditambah lagi dengan nada marah dan kecewa tadi yang hanya mampu ia dengar sekilas saja.


Setelah selesai memakai pakaiannya,iapun juga mengambil dress dan berserta kedua kain kecil istrinya tersebut tanpa merasa geli sedikitpun.


Kemudian iapun berjalan kearah kasur mereka tadi dan duduk disana sambil menghela napas berat dengan panjang,dan juga dengan pakaian istrinya yang masih setia berada didalam pegangannya itu.


Ntah sudah berapa kali ia menghela napas berat sedari ia duduk diatas kasur mereka itu,karena ia terus mencoba untuk mencerna kembali apa yang telah dikatakan oleh Jennifer tadi.


"Sebatas suami istri?" gumam Sebastian dengan nada kesalnya,kenapa sekarang gantian dirinya yang merasa kesal saat tadi ia mendengarkan Jennifer berkata seperti itu.


Dan sekarang dengan memikirkannya saja,ia malah langsung merasakan kesal,ia jadi bertanya-tanya,seperti inikah rasa kesal yang dirasakan oleh Jennifer tadi,saat tadi ia mengatakan kalimat tersebut pada Jennifer.


"Cih...Sama sekali, tidak memerlukan aku lagi...Apa ia tidak berbicara terlalu cepat dan sombong,hm?" Sebastian hanya mampu terus bergumam dengan wajah kesalnya saja,sedari tadi.


Padahal yang tadi itu,ia benar-benar merasa khawatir terhadap istrinya itu,saat ia mendengar pekikan sakit dari Jennifer tadi.Apa lagi,pelakunya adalah dirinya sendiri.


"Dasar wanita..." lanjut Sebastian lagi,dengan ekspresi wajah yang bingung dan juga kesal,sambil memijit pangkal hidungnya dengan kedua siku yang berada diatas dikedua lututnya, karena sekarang kepalanya mulai terasa pusing.


Semakin ia mencoba untuk mencerna semuanya,ia malah menjadi semakin bingung dan kesal saja. Maka dari itu,sedari awal atau setelah kejadian dirinya bersama Siska dulu,ia mulai tidak suka untuk menjalin hubungan dengan wanita dan mencampurin urusan wanita.


Tapi sekarang,sepertinya mau tidak mau,ia harus mencoba untuk bisa mengerti tentang apa penyebab yang telah membuat Jennifer menjadi kesal seperti itu padanya.


Tapi nyatanya tetap saja,ia benar-benar tidak mampu mengerti dengan apa yang telah menjadi penyebab pastinya,yang telah membuat istrinya menjadi kesal sampai sebegitunya padanya.


Sekarang rasa kesalnya lebih banyak dibandingkan dengan rasa bingungnya,berkat semua kalimat-kalimat kesalnya Jennifer tadi.

__ADS_1


Kemudian iapun berniat ingin meletakkan pakaiannya Jennifer keatas kasurnya mereka setelah ia memijit pangkal hidungnya selama 10 menit lamanya,tapi gerakan tangannya langsung terhenti diudara,saat ekor matanya secara tidak sengaja malah menangkap sesuatu diatas kasur mereka tersebut.


"Apa ini?" tanya Sebastian dengan nada bingungnya,dan keningnya mulai mengernyit heran,sambil terus menelisik sebercak darah yang ada diatas kasur mereka tersebut,dan tangannya yang sedang mengudara barusanpun mulai turun dengan perlahan-lahan.


Setelah menelisik selama beberapa menit lamanya,Sebastian kembali bergumam dengan nada bingung dan kening mengernyit herannya yang masih setia ada diwajahnya sedari tadi.


"Memangnya,siapa yang terluka? Tapi aku rasa, tidak ada yang terluka diantara kami.Tapi kenapa bisa sampai ada darah diatas kasur kami?" tanya Sebastian yang ntah kepada siapa,karena memang hanya dirinya sendiri yang ada disana.


"Apakah......?" Sebastian tidak melanjutkan gumamannya lagi,saat ia baru saja tersadar dengan kebod*hannya barusan.


Kenapa ia baru terpikir dengan darah perawan yang memang sedang ingin ia cari,tapi tertunda karena Jennifer merasa kesal terhadapnya tadi. Apa lagi,letaknya posisi mereka melakukan hal tersebut itu,memang epat ada dibercak darah yang sedang ia telisik sedari tadi itu.


"Jadi ia benar-benar menjebakku,pada malam itu..." gumam Sebastian lagi,dengan nada dan wajah kesalnya kembali,saat ia baru menyadari kalau Jennifer memang benar-benar masih tersegel sebelum ia memasukinya tadi.


Dan yang pada malam itu,ia sama sekali tidak mengapa-ngapain Jennifer,tapi ia harus berakhir dengan pernikahan mereka sekarang.Ya,walaupun sekarang ia sudah mulai bisa menerima,tapi tetap saja ia tidak menyukai caranya Jennifer tersebut.


Hanya saja,satu hal yang berhasil membuat lubuk hatinya tersenyum lega.Hal tersebut,karena ternyata Jennifer masih bisa berpikir waras.Karena Jennifer tidak sampai mengorbankan keperawanannya pada saat jebakan tersebut terjadi,dan masih mampu mempertahankannya hingga kepernikahan mereka,dan hingga saat kegiatan panas mereka terjadi tadi.


Ya,setidaknya istrinya bukan wanita tidak waras yang seperti ia pikirkan pada hari itu.Lalu iapun kembali menatap kearah pintu kamar mandi sana,lalu mengambil jam tangannya yang ikut ia lepaskan dan tergeletak disudut kasur mereka tadi.


Ternyata sekarang sudah jam 10 pagi lewat 50 menit,tanpa ia sadari.Dan lagi-lagi ia baru menyadari kalau Jennifer sudah berada didalam kamar mandi selama hampir 30 menit lamanya dan suara air yang terus saja mengalir,hingga membuat ekspresi kesal diwajahnya langsung berubah menjadi khawatir.


Karena jika benar begitu adanya,ia akan segera menarik kembali perkataannya tentang kewarasannya Jennifer yang ada didalam hatinya tadi.


"Tidak,ia tidak mungkin akan sebod*h ini hanya karena perkataan-perkataanku tadi bukan?" tanya Sebastian pada dirinya sendiri,setelah ia sudah sampai dan berdiri tepat didepan pintunya kamar mandi tersebut.


"Jenni.........." Sebastian yang baru saja ingin memanggil nama istrinya itupun langsung menghentikan panggilannya yang belum sempat selesai itu,karena saat dirinya yang ingin memanggil Jennifer itu,bertepatan dengan Jennifer yang juga sedang membuka pintu kamar mandi tersebut.


Lihatlah,bahkan tangannya yang ingin mengetuk pintu kamar mandi tadipun ikut berhenti diudara tepat dihadapan wajahnya Jennifer,dan juga dengan pakaiannya Jennifer yang kebetulan sedang bergantung rapi disebelah tangannya yang sedang mengudara itu.


"Syukurlah..." ucap Sebastian dengan wajah tersenyum leganya sambil mengelus-elus pelan dadanya dengan sebelah tangannya lagi,dan ia melupakan tangannya yang masih mengudara itu,karena terlalu sibuk dengan rasa khawatirnya yang sudah berubah menjadi rasa syukur sekarang.


Sedangkan Jennifer yang memang telah memakai jubah mandi itu,ia yang berniat ingin mengambil pakaiannya tadipun langsung mengernyit heran kearah Sebastian.


Ia juga harus menahan rasa malunya ,saat ia melihat sekilas pakaiannya yang masih tergantung digenggaman tangannya Sebastian yang masih berada dihadapannya itu.


"Syukurlah,kalau tidak terjadi apa-apa sama kamu. Tadinya aku mengira,kalau kamu sedang melakukan percobaan bunuh diri didalam sana..." lanjut Sebastian dengan nada senangnya,senyum leganya bahkan masih terpancar diwajah tampannya.

__ADS_1


Tapi sayangnya,senyum diwajah tampannya yang memang sangat sulit untuk bisa dilihat itu, sekarang sudah tidak mampu menarik perhatiannya Jennifer lagi.


Apa lagi,dengan kalimat panjang lebarnya barusan yang langsung mampu membuat Jennifer merasa kesal dan marah kembali.


"What? Melakukan percobaan bunuh diri? Apa kamu mengira,kalau aku memang akan sebod*h itu?" tanya Jennifer dengan nada dan wajah kesalnya yang bercampur marah,sambil menatap kesal sekesal-kesalnya kearah Sebastian yang wajah senyum leganya tadi langsung berubah menjadi bingung.


Setelah ia merasa cukup dengan tatapan kesalnya, Jennifer langsung mengambil pakaiannya yang masih tergantung ditangannya Sebastian itu,lalu ia segera memasukkan kembali badannya kedalam kamar mandi dan menutupnya dengan begitu kuat karena rasa kesalnya tersebut.


"Brakk..." terdengar suara pintu kamar mandi yang barusan ditutup kuat oleh Jennifer,dan Sebastian hanya mampu memejamkan kedua matanya untuk menyiapkan mentalnya supaya tidak akan merasa kaget,ia bahkan tidak diberi kesempatan untuk berbicara lebih.


"Ada apa dengannya?" gumam Sebastian dengan nada pelan dan wajah bingung yang telah bercampur kesal saat ini,sambil membuka pelan kedua matanya dan juga menurunkan tangannya yang masih mengudara tadi.


"Apa salahnya,jika aku merasa khawatir pada kamu?" Sebastian masih saja tidak bisa mengerti dengan apa saja yang menjadi kesalahannya dipagi hari ini,malahan ia semakin lama semakin bingung dan kesal saja.


Tapi walaupun begitu,ia tetap setia berdiri didepan kamar mandi untuk menunggu Jennifer keluar dari dalam kamar mandi.


Lagi pula,ia sendiri juga masih belum membersihkan diri,setelah melewati kegiatan panas yang terasa n*km*t dan yang baru pertama kalinya ia rasakan tadi.


Apa lagi,ia masih ingin memastikan apa yang telah ia lihat sekilas tadi,karena sibuk berucap syukur tadi.


Sedangkan didalam kamar mandi sana,Jennifer kembali berdiri dihadapan cermin dan kedua matanya juga kembali memanas karena perkataannya Sebastian barusan.


Suaminya tidak tahu saja,kalau ternyata Jennifer lebih banyak menangis didalam kamar mandi sedari tadi.Jennifer bahkan membersihkan dirinya dengan asal saja,karena terus fokus menghentikan tangisannya yang seperti tidak ingin berhenti mengalir.


Ia juga meredam suara tangisannya dengan suara air keran yang sengaja ia biarkan terus mengalir, dan segera memakai jubah mandinya.


Iapun mencoba untuk menenangkan diri supaya wajah menangisnya tidak akan terlalu terlihat oleh Sebastian nanti,makanya ia berada sangat lama didalam kamar mandi sedari tadi.


"Oh,ayolah...Kamu harus bisa lebih tegar lagi,dari yang sekarang.Dan memulai harimu dengan lebih baik lagi,setelah ini.Jangan terus memikirkan pria tidak punya perasaan itu,kamu harus mengurangkan data-data pria tidak punya perasaan itu didalam hatimu.Ingatlah,masih ada banyak pria yang akan menyayangi dan mencintaimu..." gumam Jennifer dengan nada pelan dan kesalnya,sambil menepuk-nepuk pelan pipinya untuk menghilangkan kedua pipi panasnya yang sudah berhasil mengurang itu.


"Iya,bukankah masih ada Daddy,Paman,dan Ayah mertuaku yang akan menyayangiku.Dan juga mencin....." kalimat senang dan bod*hnya Jenniferpun langsung terhenti,saat ia tersadar dengan perkataan bod*hnya sendiri.


Mereka ber 3 memanglah pria,dan sudah bisa dipastikan kalau mereka ber 3 akan bisa menyayangi dan mencintainya dengan setulus hati mereka.Tapi sayangnya,mereka ber 3 tidak akan bisa menemani dirinya selama hidupnya nanti. Sebaiknya untuk sementara ini,ia harus melupakan semua itu.


Sekarang ia menyesal dan terus merutuki dirinya yang terus menunda permintaan dari Daddynya yang terus memintanya untuk mulai mengurus perusahaan, sedari seminggu yang lalu.


Sekarang sepertinya,ia akan berubah pikiran,untuk mengalihkan perasaan terlukanya tersebut. Mungkin untuk sementara ini,keputusannya tersebut akan lebih baik untuk dirinya saat ini.

__ADS_1


"Sepertinya seperti itu juga lebih baik,karena dengan sibuk berkerja,aku tidak akan perlu terus merasakan sakit hati seperti ini..." gumam Jennifer lagi,dengan ekspresi penuh tekad diwajahnya, sambil mengelap wajahnya yang telah mengalir beberapa tetes air mata tadi.


__ADS_2