
"Cih..." Sebastian hanya mampu berdecih kesal saat ia melihat istrinya dibawa oleh Ibu dan Stella begitu saja,tanpa meminta izin padanya terlebih dahulu.
Inilah yang selalu ingin ia hindari,makanya ia memperdikit waktu mengunjung keluarganya dirumah sakit, selama beberapa hari ini.
"Sudah,biarkan saja... Kamu ini seperti tidak tahu mereka saja..." ucap Ayah dengan nada dan wajah yang tersenyum lucu,sambil merangkul pundaknya Sebastian dan membawanya masuk kedalam rumah untuk mengikuti langkahnya Ibu dan Stella yang telah duluan masuk kedalam.
"Apakah dulu Ibu juga menyebalkan seperti ini,Yah?" tanya Sebastian dengan nada dan wajah kesal yang telah bercampur penasaran,tiba-tiba saja pertanyaan tersebut terlintas dibenaknya saat ini.
"Ehmm,lumayan..." jawab Ayah dengan nada pelannya sambil menatap punggung istrinya dan juga terlihat sedang berpikir,tanpa menghentikan langkahnya,begitu juga dengan Sebastian.
"Memangnya kenapa?" tanya Ayah dengan nada dan wajah penasarannya,sambil mengalihkan pandangannya kearah wajah kesalnya Sebastian.
"Tidak ada apa-apa.Apa saja hal-hal yang telah membuat Ayah jatuh cinta kepada Ibu?" jawab dan tanya Sebastian dengan nada penasarannya dan wajah kesal yang sudah mulai mengurang, sambil terus menatap Jennifer yang sibuk beristirahat duduk diruang tamu sana bersama yang lainnya.
"Banyak,salah satunya sikap Ibumu yang menyebalkannya itu..." jawab Ayah dengan wajah yang tersenyum jujur,sambil mengalihkan tatapan cintanya kearah istrinya sana.
"Jika kita telah mencintai seseorang... Dari hal-hal kecil saja,sudah mampu membuat kita merasa bahagia.Dan seiringnya waktu bahkan cinta kita kepadanya,semakin lama akan semakin banyak dan tidak terhitung...Apakah kamu tidak merasakan hal yang sama,nak?" jawab Ayah dan sekalian bertanya dengan nada dan wajah tersenyum santainya,sambil menepuk pelan pundaknya Sebastian sebanyak beberapa kali
Setelah selesai bicara,Ayahpun segera menjauhkan diri dari Sebastian,untuk bergabung bersama yang lainnya,dengan perasaan tenangnya.Karena ia bisa melihat kalau sekarang,sepertinya Sebastian sudah mengerti banyak hal tentang percintaan.
Sedangkan Sebastian,ia hanya menanggapi pertanyaannya Ayah dengan senyum tipisnya saja.Lalu iapun juga mengikuti apa yang sedang dilakukan oleh Ayah,dan duduk disampingnya Jennifer.
Sepertinya apa yang dikatakan oleh Ayah barusan,semuanya memang benar adanya,karena ia juga merasakannya selama beberapa hari ini.Bahkan sedari lama,hanya saja,baru sekarang ia menyadari semua itu
"Apakah kalian berdua sudah sarapan,tadi?" tanya Ibu dengan nada dan wajah tersenyum santainya,sambil memerhatikan wajah tenangnya Sebastian.
"Sudah,Tante..." jawab Jennifer dengan nada pelannya sambil tersenyum santai juga.
"Bagaimana dengan kalian,Tante? Apakah kalian semua juga sudah sarapan?" tanya Jennifer lagi,dengan nada santainya,sambil menatap malas sekilas kearah tangannya Sebastian yang malah sibuk memeluknya saat ini.
"Kami baru saja siap sarapan,nak. Tadinya Ibu dan Stella ingin menjemputmu,tapi ada seseorang yang malah terus mencegah kami untuk menjemputmu..." jawab Ibu dengan nada kesalnya,sambil melirik kesal sekilas kearah Sebastian yang terlihat santai saja.
"Iya,kak Jen. Menyebalkan sekali,padahal tadi kami sudah bersiap-siap akan menjemput kak Jen..." timpal Stella dengan nada dan wajah kesalnya,sambil melirik kesal juga kearah Sebastian.
"Ibu,Stella,aku mengira hanya aku saja yang bertemu orang yang menyebalkan itu..." ucap Jennifer dengan nada menyindirnya dan wajah kesalnya.
Sedangkan Sebastian,ia hanya tetap dengan tatapan lurus kedepannya dan ekspresi wajah santainya saja,karena malas berdebat dengan para wanita.Hingga salah satu bawahannya datang mendekat dan melapor tentang sesuatu...
"Tuan Muda..." panggil bawahannya Sebastian dengan nada pelannya,sambil menunduk hormat kearah Tuan Mudanya.
"Hm..." jawab Sebastian dengan singkat,tanpa memindahkan posisinya ataupun mengalihkan tatapan lurus kedepannya sedikitpun.
"Tuan Billy sedang menunggu Tuan Muda,diluar sana" lapor bawahan tersebut dengan cepat, sambil melirik sekilas kearah Nona Mudanya yang terlihat sudah lebih baik dari pada sebelum-sebelumnya,dan hal tersebut berhasil membuatnya ikut merasa senang karena Nona Mudanya yang sudah sehat kembali.
"Billy? Kenapa aku baru teringat dengan kak Billy...Dimana dia? Kenapa tidak disuruh masuk saja? Apakah kak Billy dalam keadaan baik-baik saja?" tanya Jennifer dengan nada dan wajah khawatirnya,sambil berniat ingin berdiri dari duduknya tapi malah ditahan oleh rengkuhannya Sebastian.
Akhirnya iapun hanya mampu mendengkus kesal saja,karena terlalu sibuk dengan sikap menyebalkannya Sebastian,ia sampai melupakan Billy yang telah mendapatkan tembakan dilengan pada hari itu.
"Katakan padanya,aku akan keperusahaan sebentar lagi..." perintah Sebastian dengan cepat dan nada tegasnya,sambil menahan rasa kesalnya,sebelum bawahannya tersebut sempat menjawab pertanyaannya Jennifer barusan.
Ia tidak mau kalau sampai Jennifer menemui Billy dan merusak permandangannya saat ini,ia bahkan merasa heran,kenapa Jennifer masih mengingat baik tentang Billy tapi tidak dengan dirinya.
"Baik,Tuan Muda..." jawab bawahannya tersebut dengan cepat,lalu segera berjalan pergi dari sana setelah ia sudah selesai menunduk hormat kearah Tuan Mudanya tersebut.
__ADS_1
"Kenapa kamu malah menyuruhnya pergi? Dia kan masih belum menjawab pertanyaanku tadi..." tanya Jennifer dengan nada dan wajah kesalnya, saat ia melihat Sebastian yang memerintah sesuka hatinya saja.
Sedangkan Sebastian,ia langsung mengalihkan tatapan lurus kedepannya kearah Jennifer,dan menelisik wajah kesalnya Jennifer.
"Aku heran,kamu masih bisa mengingat dan mengenal baik tentang semua orang.Tapi kenapa kamu tidak bisa mengenaliku?" tanya Sebastian balik,dengan nada dan wajah herannya,sambil mengalihkan tatapan menelisiknya kearah semua orang satu persatu.
Ia sudah merasa curiga sedari 2 hari yang lalu,tapi ia masih menyimpannya sendiri sampai saat ini,sampai ia merasa cemburu saat ia melihat Jennifer yang terlihat begitu khawatir dengan keadaannya Billy tadi.
"I itu,,, itu karena aku memang tidak mengenalimu,kamu saja yang memaksa... Dasar pria aneh..." jawab Jennifer dnegan nada dan wajah bingungnya,sambil meminta bantuan kepada Ibu,dengan kode ekor matanya.
"Iya,nak.Kalian berdua saja memang belum pernah bertemu dan berkenalan sebelumnya... Bagaimana mungkin Jennifer bisa mengenalmu, hm? kamu ini ada-ada saja..." timpal Ibu dengan nada dan wajah yang dibuat seserius mungkin.
"Lagi pula,sejak kapan kakak memiliki teman wanita? Teman prianya kakak saja,hanya beberapa saja..." timpal Stella dengan nada menyindirnya dan wajah yang tersenyum manis kearah Sebastian.
"Cih..." Sebastian hanya mampu berdecih kesal saat ia mendengar apa yang dikatakan oleh Ibu dan Stella barusan,sambil melirik sekilas kearah jam tangannya yang sudah menunjukkan jam 9 pagi.
"Baiklah.Sekarang,Tante dan adik sepupuku ini akan menemanimu sebentar ya,karena aku akan ada sedikit urusan diluar sana. Jika kamu ingin beristirahat,pergilah kekamar tidur atas yang ada dilantai 2 sana,biar nanti Stella yang mengantarmu..." lanjut Sebastian dengan nada dan wajah yang tersenyum seriusnya.
"Ingat...Kamu tidak boleh keluar kemana-mana, tanpa izinku,ya... Dan jangan mencoba untuk melakukan perkerjaan yang berat-berat disini, kamu hanya perlu beristirahat saja.Aku akan pergi,sekarang... " lanjut Sebastian lagi,dengan nada tegas dan wajah tegasnya,karena ia ingin sekalian membiarkan semua pelayannya mendengar jelas tentang apa yang ia sampaikan barusan.
Setelah selesai bicara,Sebastianpun segera berdiri dari duduknya dan berjalan tegas pergi dari sana,untuk segera keperusahaannya dan bertemu dengan Billy.
Perusahaannya yang telah seminggu ini ia tinggalkan,begitu juga dengan Billy yang selama seminggu ini malas ia temui.
"Kakak ipar,apa barusan kakak ipar bisa melihatnya?" tanya Stella dengan nada dan wajah yang tersenyum senang,sambil berpindah duduk kesampingnya Jennifer.
Sedangkan Ayah,ia yang memang tidak berapa suka berada dalam obrolan para wanita yang menurutnya sangat membosankan itupun,ia langsung berjalan kearah halaman belakang untuk duduk santai disana dengan segelas kopi paginya.
"Melihat? Maksudmu?" tanya Jennifer dengan nada dan wajah bingungnya,sambil mengalihkan pandangannya dari punggung lebarnya Sebastian yang telah menghilang itu kearah Stella.
"Iya.Sebastian sangat jarang tersenyum dan berbicara banyak,nak.Tapi yang barusan itu,sudah membuktikan kalau Sebastian benar-benar sudah berubah,dan itu semua karena kamu.Sepertinya,, sebentar lagi kamu akan terus diberi perhatian oleh suami keras kepalamu itu,nak..." jawab Ibu dengan nada dan wajah tersenyum senangnya,sambil memeluk Jennifer dengan sayang.
"Ternyata memang benar kata orang,setiap musibah yang terjadi sama kita,selalu ada hikmahnya.Lihatlah sekarang,akhirnya Sebastian baru mengerti tentang cara menyayangi wanita yang ia cintai dengan benar..." lanjut Ibu dengan perasaan yang penuh syukur,terutama adalah tentang Jennifer yang telah sadarkan diri,kembali sehat dan bersamanya saat ini.
"Iya,apa yang dikatakan Ibu memang benar.Kakak ipar,bagaimana perasaanmu sekarang?" timpal Stella lagi,dengan nada semangatnya,sambil menatap senang kearah Jennifer yang terlihat terus tersenyum senang yang telah bercampur malu.
"Tentu saja aku merasa sangat senang,tapi apakah Sebastian benar-benar telah mencintaiku sekarang?" jawab Jennifer dan sekalian bertanya dengan nada ragunya,sambil menatap secara bergantian kearah Ibu dan juga Stella.
"Dasar anak bod*h... Apakah kamu tidak bisa melihat,tatapan cintanya Sebastian padamu? Jangan pernah meragukan cintanya padamu, karena Sebastian tidak pernah suka bermain dengan perasaaannya sendiri..." jawab Ibu dengan nada seriusnya,dan diangguki setuju oleh Stella.
"Tapi aku belum pernah mendengarnya mengatakan cinta padaku,Bu.Selama berada dirumah sakit,Sebastian hanya menunjukkan sikap menyebalkannya itu saja..." ucap Jennifer dengan nada dan wajah memberengut kesalnya,sambil menunduk malu.
Karena memang benar adanya begitu,Sebastian belum pernah mengatakan cinta padanya tapi hanya terus membuatnya merasa kesal selama beberapa hari dirumah sakit.
Sedangkan Ibu dan Stella,mereka berdua langsung tertawa kecil saat mereka mendengar keluhannya Jennifer tersebut.Apa lagi,saat mereka melihat Jennifer yang sedang menunduk malu, yang sangat jarang mereka lihat itu.
Mereka berduapun bisa langsung menebak,kalau semua itu pasti pengaruh dari kehamilannya Jennifer.Tapi karena terlalu sibuk dengan keluhan-keluhannya Jennifer,lagi-lagi mereka lupa memberitahu Jennifer tentang kehamilan tersebut.
"Nak,kamu tenang saja.Sebastian pasti akan mengungkapkan cintanya padamu,sebentar lagi... "ucap Ibu dengan nada dan wajah tersenyum yakinnya,setelah tawa kecil mereka sudah mereda.
"Iya.Kakak ipar harus percaya pada kami,kakak pasti masih merasa malu untuk mengungkapkannya sekarang..." timpal Stella dengan nada dan wajah tersenyum yakinnya juga,karena pasti sangat sulit untuk mengungkapkan kata cinta,bagi pria datar seperti kakaknya itu.
"Iya.Semoga saja,apa yang dikatakan oleh Ibu dan kamu memang benar..." ucap Jennifer dengan nada dan wajah yang tersenyum penuh harap,tapi tetap saja masih terlihat ekspresi kesal diwajah tersenyumnya tersebut.
__ADS_1
Merekapun terus mengobrol dan bercanda hingga Jennifer mengatakan lelah,dan ingin pergi beristirahat dikamar miliknya dan Sebastian.
***
Diperusahaan J Sachdev Group...
"Tuan Muda..." semua pengawal dan karyawan yang sedang berpapasan dengan Tuan Muda mereka yang baru saja menampakkan batang hidungnya selama seminggu ini itupun,langsung menyapa dengan penuh rasa hormat kepada Tuan Muda mereka.
Sedangkan Sebastian,ia hanya mengabaikannya saja dan terus melangkah lebar dan tegas kearah ruangannya sana.
"Ceklek..." Sebastian langsung berjalan masuk dan duduk didalam ruangannya,setelah pengawalnya membuka pintu untuknya.
Baru saja Sebastian ingin bersuara,sebuah suara yang sedang mencarinya tadi sudah berada dibelakangnya dan bersuara terlebih dahulu.
"Tuan Muda..." panggil Billy dari belakangnya Sebastian,dengan nada pelannya sambil menggaruk-garukkan pelan tengkuk lehernya yang tidak gatal.
"Hm... "jawab Sebastian dengan singkat dan nada malasnya,sambil terus menatap lurus kedepan.
"Tuan Muda,aku minta maaf atas kejadian yang telah menimpa Nona Muda hari itu..." pinta Billy dengan nada seriusnya dan wajah bersalahnya
Kali ini Tuan Mudanya memang telah berhasil menghukumnya dengan lebih berat dari pada diberi hukuman pukulan ataupun tembakan, sekedar untuk bertemu dengan Nona Mudanya ataupun Tuan Mudanya saja,Tuan Mudanya tidak ingin memberinya izin.
Hingga sampai pagi ini,barulah Tuan Mudanya ingin bertemu dengannya,itupun dengan alasan perkerjaan.
Sedangkan Sebastian,ia langsung menghela napas berat dengan panjang saat ia mendengar permintaan maaf dari Billy barusan.
Ia tidak pernah memberi maaf pada siapapun,jika mereka telah berani menganggu ketenangannya. Apa lagi,kali ini Billy sampai berani membahayakan keselamatannya Jennifer.
"Selesaikan saja lembur tanpa gajimu itu,selama 3 bulan kedepan... " perintah Sebastian dengan nada dan wajah tegasnya,setelah ia sudah terdiam selama beberapa menit.
"Baik,Tuan Muda.Terima kasih banyak,Tuan Muda..." jawab Billy dengan nada senangnya,saat ia mendengar hukuman kecil yang telah diberikan oleh Tuan Mudanya tersebut.
Walaupun ia masih belum mendapatkan kata maaf dari Tuan Mudanya,tapi setidaknya,Tuan Mudanya masih memberi kesempatan padanya untuk mendapatkan kata maaf tersebut.
"Cih..." lagi-lagi Sebastian ntah harus berdecih kesal kebe8tjrapa kalinya pada hari ini berkat semua orang,termasuk Jennifer.
"Apa kamu memanggilku, hanya untuk itu saja,hm? lanjut Sebastian dengan nada kesalnya, sambil memutar kursinya kebelakang dan menatap kesal kearah Billy.
"Tentu saja bukan,Tuan Muda.Tadi pagi Tuan ... datang kesini,dia sedang mencari keberadaan putrinya dan berniat ingin menuntut kita,Tuan Muda..." Billypun langsung melaporkan tentang apa sebenarnya yang ingin ia laporkan tadi.
"Sepertinya dia sudah tahu kalau putrinya sedang berada ditangannya kita,Tuan Muda..." lanjut Billy dengan nada dan wajah seriusnya,sambil memerhatikan ekspresi wajah Tuan Mudanya
"Cih... Menuntut kita?" Sebastian kembali berdecih kesal,sambil kembali memutar kursi kebesarannya kedepan lagi.
"Biarkan saja,dan kamu hanya perlu menuntutnya kembali..." lanjut Sebastian dengan nada dan wajah santainya,sambil berdiri dari duduknya.
Memangnya polisi mana satu yang akan berani memenjarakan dirinya,yang ada,ia sendiri yang akan membuat mereka terpenjara jika ia ingin.
"Apa kamu tidak mampu berkerja lagi? Sampai harus menganggu waktu santaiku,dengan hal kecil yang seperti ini..." lanjut Sebastian lagi, dengan nada menyindir dan wajah malasnya,lalu ia langsung berjalan pergi dengan langkah tegasnya dan melewati Billy begitu saja.
Lebih baik ia meluangkan waktu lebih bersama istrinya saja,dari pada berada diperusahaannya. Lagi pula rasa kesalnya terhadap Billy masih tersisa,dan ia hanya perlu membiarkan Billy berkerja keras diperusahaannya selama beberapa bulan ini,sebagai bentuk pelampiasan kesalnya.
Sedangkan Billy,ia hanya mampu menghela napas kesal saja,sambil terus menatap punggung lebarnya Sebastian yang semakin lama semakin menghilang.
__ADS_1
Tuan Mudanya bahkan tidak memperdulikan tentang kesulitannya dalam menghadapi ratusan klien tersebut,ia harus menghadapi semua itu sendirian,tanpa sempat untuk beristirahat lebih disetiap harinya.
Setelah punggung lebarnya Sebastian menghilang,Billypun segera berjalan keluar dari sana untuk melanjutkan perkerjaan sibuknya tadi dengan ekspresi wajah pasrahnya,begitu juga dengan yang lainnya.