Suami Tampanku Yang Sederhana

Suami Tampanku Yang Sederhana
Bab. 27


__ADS_3

"Ehm ehm ehm" dehem Sebastian lagi karena Jennifer masih menampilkan wajah memberengut kesalnya,ia jadi bingung mau berkata apa setelah c**man panas yang mampu menggairahkan seluruh organ tubuhnya itu selesai.


"Apa kamu sudah menjadi tidak bisa bicara sekarang?" tanya Jennifer dengan nada kesalnya,karena ia juga merasa kesal sama Sebastian yang lambat dalam membalas c**mannya tadi.


Kemudian ia tersenyum,saat ia melihat bibir tebalnya Sebastian yang masih basah karena c**man mereka tadi,bahkan sudah sedikit membengkak karena is*p*nnya tadi.


"Sudah,sekarang sudah tidak ada bekas milik wanita lain lagi disini.Karena mulai saat ini dan mulai sekarang,hanya bibirku saja yang boleh merasakannya" lanjut Jennifer lagi,sambil kembali menatap dan mengelus-elus bibir basahnya Sebastian.


Sedangkan Sebastian,lagi-lagi ia hanya mampu diam saja dan terus menatap ekspresi wajahnya Jennifer yang selalu berubah-ubah,ia juga terus menarik dan mengeluarkan napasnya berulang-ulang secara perlahan.Tapi terdapat senyum tipis dibalik wajah tegangnya,tanpa ia sadari,saat ia mendengar perkataanya Jennifer barusan.


"Tidak sia-sia,malam tadi aku memerhatikan setiap adegan yang ada di....." ucap Jennifer dengan nada senangnya,tapi kemudian ia menjeda kalimatnya dengan wajah malunya,saat ia baru saja menyadari kalau dirinya yang hampir saja keceplosan tentang hobi barunya beberapa minggu kebelakangan,yaitu menonton film romantis.


"Lupakan saja,aku hanya salah bicara saja" lanjut Jennifer lagi,dengan wajah malunya sambil menatap mata indahnya Sebastian yang berwarna hazel, tanpa menghentikan elusan jarinya di bibir basahnya Sebastian.


"Apa kamu masih menginginkannya lagi,hm?" tanya Jennifer,ia sengaja menggoda Sebastian untuk mengusir rasa malunya tadi.


"Tidak" jawab Sebastian dengan cepat,sambil menjauhkan wajahnya dari wajahnya Jennifer,hingga jari-jari lentiknya Jennifer langsung terjatuh pelan kedada kerasnya.


'Wanita ini,sebentar lagi detakan jantungku bisa langsung berhenti berdetak karena overdosis sama semua vitamin yang telah wanita ini berikan sedari tadi' lanjut Sebastian didalam hatinya,sambil menahan segala rasa didalam hatinya,termasuk rasa kesal.


"Dasar pria munafik...Kamu itu terlalu sok suci,padahal tadi saja kamu terlihat begitu men*kma*tinya.Sekarang malah jual mahal,,,dasar..." ucap Jennifer dengan wajah kesalnya kembali.


Sedangkan Sebastian,ia hanya mampu terus diam dan menahan rasa malunya saja,karena apa yang dikatakan oleh Jennifer barusan memang benar adanya.Hanya saja,tidak dengan kata munafiknya.


Karena ia masih selalu mengingat nasihat-nasihat dari kedua orang tuanya dan masih ia pertahankan sampai sekarang .Salah satunya,jangan pernah menjadi seorang pria brengsek.Dan yang tadi itu juga karena ia hanya terbawa suasana gara-gara ulahnya Jennifer.


"Tapi tidak masalah,tidak apa-apa,karena aku menyukainya" lanjut Jennifer lagi,dengan nada jujur dan wajah yang tersenyum senang,lebih tepatnya karena ia mencintai pria yang ia katakan munafik ini.


"Baiklah,aku akan pulang sekarang.Dan Kamu harus ingat apa yang sudah aku katakan tadi,jaga hati dan matamu ini hanya untukku saja,sampai pertemuan kita yang selanjutnya" lanjut Jennifer lagi,dengan wajah seriusnya,sambil menepuk pelan dada kerasnya Sebastian dan menatap mata hazelnya Sebastian dengan penuh cinta.


'Apa yang dimaksud dengan pertemuan selanjutnya...Kenapa sedari tadi,wanita menyebalkan ini terus saja mengeluarkan kata-kata aneh itu.Seperti pertemuan yang selanjutnya akan lama saja.Dan wanita menyebalkan ini telah berhasil membuat aku menjadi seperti orang bod*h,malam ini' batin Sebastian dengan kedua mata yang terus menelisik wajah berserta kedua mata indahnya Jennifer,ia bisa melihat dengan jelas tatapan cintanya Jennifer.


"Cup,hm..." kemudian Jennifer langsung mengecup dan juga sedikit ******* bibirnya Sebastian dengan cepat,setelah ia berhasil menarik tengkuk lehernya Sebastian untuk mendekat kewajahnya.


Lalu Jennifer segera berdiri dari pahanya Sebastian dengan gerakan cepat,lalu ia berjalan pergi begitu saja dan meninggalkan Sebastian yang baru saja sadar dari rasa kagetnya karena c**man kilat yang ia berikan barusan.

__ADS_1


Tapi baru saja berjalan beberapa langkah,Jennifer kembali berbalik badan dan berjalan kearah Sebastian yang masih terpaku diam,saat ia baru teringat akan sesuatu.


"Nona,kamu mau apa lagi?" tanya Sebastian dengan nada kesalnya,karena Jennifer tidak henti-hentinya menggodanya dan membuat dirinya terlihat seperti orang bod*h.Bahkan ia tidak sempat berdiri dari duduknya,karena tiba-tiba saja Jennifer sudah kembali berdiri dihadapannya dengan cepat.


Ia segera membekap mulutnya sendiri dengan cepat,setelah ia sudah selesai bicara.Ia langsung bersikap waspada saat barusan ia sudah menyadari kalau Jennifer sudah berada dihadapannya.


"Aku hanya ingin mengembalikan ini saja...Kamu tidak perlu terlalu curigaan seperti itu,Hubby" jawab Jennifer dengan wajah yang tertawa kecil karena tidak tahan melihat gerakan cepat dari sikap waspadanya Sebastian,sambil mengambil kotak cincin yang ada didalam tasnya,dan melepaskan cincin yang ia sematkan dijari manisnya tadi,dan juga memasukkan cincin kedalam kotak tersebut.


"Ini,aku hanya ingin mengembalikan milikmu ini.Jujur,aku sangat menyukainya.Tapi sayangnya kata Daddy,aku tidak boleh mengambil milik orang dengan cara paksaan atau tanpa izin.Aku harap,kamu tidak akan menjualnya kembali dan kamu juga akan menyimpannya untukku.Dan aku juga berharap kalau dipertemuan kita yang selanjutnya nanti,cincin ini akan segera menjadi milikku tanpa paksaan" lanjut Jennifer lagi,dengan panjang lebar, nada seriusnya dan tersenyum manis ,sambil menarik sebelah telapak tangannya Sebastian yang satunya lagi dan meletakkan kotak cincin tersebut kedalam telapak tangannya Sebastian dengan gerakan pelan,lalu ia segera mengenggam tangannya Sebastian dengan lembut.


"Dan aku juga baru teringat tentang satu hal lagi,Hubby...Kamu harus hati-hati sama Irfan,aku takut kalau dia akan membalasmu dengan cara kotor" lanjut Jennifer dengan nada santainya,karena ia sudah memiliki seorang paman yang akan melindungi pria pujaan hatinya ini,jadi ia tidak perlu merasa khawatir lagi.


'Dan penyebabnya adalah kamu,dan baru ini kali pertamanya aku punya masalah dengan orang lain.Semenjak bertemu denganmu,sepertinya hidupku akan mulai berantakan' batin Sebastian dengan tatapan kesalnya,tanpa menjauhkan telapak tanganya dari mulutnya,karena ia takut kalau bibirnya akan diterkam sama Jennifer lagi.


"Yang terpenting,kamu jangan pernah mengkhianatiku,karena aku punya banyak mata-mata untuk mengawasimu dari jauh.Kalau kamu berani mendekati atau menggoda wanita yang lain,aku akan membunuhmu saat itu juga" lanjut Jennifer lagi,dengan ancaman asalnya,sambil menatap serius dan tersenyun kearah Jennifer dan terus mengenggam lembut tangannya Sebastian.


"Dan kamu tenang saja,Hubby...Aku tidak akan menc**m bibirmu,tapi aku akan menc**m...Cup..." lanjut Jennifer lagi,ia sengaja menjeda kalimatnya dan ia langsung mengecup sekilas pipinya Sebastian dengan cepat.


"Dan mulai sekarang,jangan lupa untuk memikirkan aku,ya...Bye-bye,Hubby.Sampai jumpa dipertemuan selanjutnya lagi" lanjut Jennifer lagi,sambil berbalik badan dan berjalan pergi dari hadapannya Sebastian dengan langkah tegasnya dan wajah yang tersenyum puas,karena malam ini ia berhasil membuat Sebastian merasakan kesal yang lebih dari rasa kesalnya yang sebelum-sebelumnya.


'Aku harap dipertemuan kita yang selanjutnya,aku akan mendapatkan cintamu,dan hubungan kita yang belum jelas ini akan berlanjut hingga kepernikahan' lanjut Jennifer lagi,sambil terus berjalan kearah anak buahnya yang sudah berbalik badan kearahnya karena mendengar suara langkah kakinya.


Walaupun ia masih merasa tidak rela untuk berpisah dengan Sebastian,tapi mau tidak mau ia harus menyelesaikan kuliahnya terlebih dahulu,baru ia bisa mengejar cintanya sebastian dengan mudah.


"Well,done done....................." bahkan karena rasa senangnya,Jennifer mulai menyanyikan lagunya Sebastian yang berjudul I'm yours dengan suara merdunya,sepanjang jalannya menuju kemobil Daddynya.Ia juga mengabaikan tatapan kagumnya orang-orang yang ada disekitarnya,dan para anak buahnyapun ikut tersenyum senang.


Sedangkan Sebastian,ia yang kembali merasa kaget karena c**man pipi dari Jennifer itupun langsung menghela napas lega saat ia melihat Jennifer yang sudah berjalan menjauh darinya.


"Padahal itu hanya sebuah lagu saja,tapi wanita menyebalkan itu malah menganggapnya dengan serius" gumam Sebastian dengan wajah herannya,lalu ia tersenyum tanpa ia sadari saat ia mendengar judul lagu yang sedang dinyanyikan oleh Jennifer dengan suara merdunya sambil terus menggoyang-goyangkan pelan tubuh langsingnya dan kepalanya disepanjang jalan.


Kemudian ia kembali menampilkan wajah kesalnya,saat ia mengingat tingkah-tingkah anehnya Jennifer tadi.


"Aku harap,tidak akan ada pertemuan kita yang selanjutnya lagi" gumam Sebastian dengan nada pelannya,sambil terus menatap kesal kearah punggung langsingnya Jennifer yang masih terbalut Jas kerjanya tadi.


Ia terus menatap hingga punggungnya Jennifer sudah terlindung oleh tubuh tegap para anak buahnya Jennifer,sambil menetralkan semua rasa gugup yang sudah bercampur aduk dengan rasa yang lainnya tadi.

__ADS_1


"Memang cantik,tapi sayangnya tidak tahu malu dan sedikit agresif.Aku benar-benar akan mati muda,kalau aku terus bertemu dengannya"gumam Sebastian lagi,setelah semua rasa yang telah membuat semua organ tubuhnya mati rasa tadi sudah berangsur-angsur menghilang satu persatu,begitu juga dengan benda bawah miliknya yang sudah kembali tertidur pulas.


"Baru separuh katanya...Aku rasa,jiwaku sudah tidak berada diragaku lagi,saat ia sudah selesai mengatakan semuanya" gumam Sebastian lagi,dengan wajah kesalnya sambil mengusap pelan wajahnya yang sudah terlihat sudah lebih tenang dari yang tadi.


"Ntah mimpi apa aku,malam semalam?" Atau anggap saja,yang tadi itu hanya mimpi" gumam Sebastian lagi,dengan wajah bingungnya yang bercampur pasrah.Ntah kenapa,malam ini ia bisa bertemu sama Jennifer dan mengalami kejadian yang seperti tadi.


Bagaimana tidak,Jennifer mengajaknya bicara dengan posisi duduk dipangkuannya,rangkulan ditengkuk lehernya,paha m*l*s yang sedikit terlihat dan terangkat,belahan kedua gunung kembarnya yang masih saja terlihat,dan juga posisi mereka yang hanya berjarak 2,3 cm saja.


Ia tidak bisa membayangkan kalau terus berada diposisi seperti tadi dan mendengarkan Jennifer bicara hingga habis,ia tidak tahu akan berakhir seperti apa dirinya...Dan mungkin,ia tidak akan setegang tadi,kalau saja Jennifer mengajaknya bicara dengan posisi yang lebih normal dari yang tadi.


Ia tidak mengerti dengan cara pikir dan tingkah Agresifnya Jennifer tadi,lebih tepatnya ia yang tidak mau mengerti dan ia tidak mau perduli,walaupun sedikit banyak ia bisa mengerti apa alasannya Jennifer sampai melakukan semua itu.


Lagi pula,ia sudah tidak percaya lagi sama yang namanya cinta setelah hari itu ia sudah tahu kalau ternyata Siska tidak mencintainya tapi hanya menginginkan uangnya saja.


"Apa ia serius saat mengatakan semua kalimat-kalimat mutiara tadi? Apa ia lupa,kalau aku hanyalah seorang pria miskin yang tidak memiliki apa-apa,dan aku berkerja sebagai seorang Manager Restoran yang perbulan hanya bergaji sekitar 7 juta saja" gumam Sebastian lagi,saat ia mengingat kembali kalimat-kalimat yang telah dilontarkan oleh Jennifer tadi.


Ia berpikir,kalau saja Jennifer tahu kalau gajinya yang hanya tidak seberapa itu,sudah pasti Jennifer sudah tidak akan terus mengatakan tentang pertemuan kita yang selanjutnya lagi.Tapi ia tidak tahu kalau Jennifer tidak pernah mempermasalahkan tentang hal itu,dan Jennifer juga sangat tahu tentang berapa saja gaji setiap staf di Restoran manapun.


Walaupun ia bersikap tegas kalau ia tidak mau perduli tentang apa saja yang dikatakan oleh Jennifer tadi,tapi tetap saja kalimat-kalimat mutiaranya Jennifer terus terngiang-ngiang dipendengarannya dan bahkan terus melintas didalam kepalanya saat ini.


Beberapa menit kemudian...


"Pak..." panggil salah satu karyawan sambil berjalan mendekat,salah satu karyawan dari beberapa karyawan yang sudah dari tadi memerhatikan Pak Manager mereka yang hanya duduk diam saja dengan wajah yang tersenyum dan juga kesal secara bergantian,setelah beberapa gumaman-gumaman pelan yang tidak bisa mereka dengar tadi karena jarak yang agak jauh.


"Pak..." karyawan tersebut kembali memanggil karena Pak Manager mereka tidak juga menyaut.


"Pak Sebastian..." panggil karyawan tersebut lagi, dengan nada yang agak tinggi,saat ia merasa kalau suara pelannya tadi tidak mampu menyadarkan Pak Manager mereka dari lamunan yang tidak mereka ketahui itu.


"I iya.Ada apa?..." jawab Sebastian dengan cepat saat ia baru saja tersadar dari lamunan kacaunya itu karena suara tingginya salah satu karyawannya itu,ia langsung bertanya sambil menolehkan kepalanya kearah karyawan tersebut.


"Pak,semua karyawan yang akan berganti shift,sudah datang sedari tadi.Dan sekarang mereka sedang menunggu pemeriksaan dari bapak" jawab karyawan tersebut dengan cepat,sambil menahan tawa saat ia melihat wajahnya Pak Manager mereka yang sedang menahan rasa malu karena tertangkap basah kalau sedang melamun,begitu juga dengan yang lainnya.


Mereka tidak tahu pasti apa yang dilamunkan oleh Pak Manager mereka,tapi mereka tahu kalau lamunannya Pak Manager mereka pasti berhubungan dengan wanita cantik yang tadi.Dan mereka turut bahagia kalau itu memang benar,karena mereka semua lebih menyukai wanita cantik tadi dari pada Siska.


Apa lagi,saat mereka semua tidak sengaja melihat bibir tebalnya Pak Manager mereka yang sedikit membengkak.Dan mereka semuapun langsung bisa menebak dengan benar,apa penyebabnya.

__ADS_1


__ADS_2