
Dan karena memang benar,para musuh-musuh tersebut tidak ada disana tadi.Tapi setelah Jennifer mendekati dirinya dan adiknya tadi,pria-pria tegap tersebut mulai bermunculan dan semakin banyak.
"Apa kamu bermaksud ingin membahayakan dirimu dengan keluar rumah tanpa ada anak buah yang mengikutimu?" tanya Sebastian lagi,dengan nada kesalnya sebelum Jennifer sempat membuka mulutnya,sambil terus menembak para musuh-musuh tersebut.
"Bagaimana aku tahu,kalau ternyata mereka masih saja terus mengikutiku,dan malah mengikutiku sampai kesini" jawab Jennifer dengan nada pelannya dan wajah bersalahnya,ia berpikir kalau perkataannya Sebastian memang masuk akal.
Karena ia memang sudah tahu kalau musuh-musuh Daddynya terus mengikutinya dari sejak ia tiba disini,hari itu.Tapi hari ini moodnya sangat parah karena ia tidak bisa menemukan keberadaannya Sebastian,jadi iapun melarang anak buah Daddynya untuk mengawalnya,dan membuat keadaan menjadi rumit seperti sekarang ini.
Ia bahkan sampai lupa kalau Daddynya memiliki musuh, karena ia merasa terlalu senang dengan pertemuan tidak sengajanya bersama Sebastian tadi.
Tapi walaupun begitu,ia tetap tersenyum senang,karena ternyata Sebastian juga bisa mengkhawatirkannya dan memerhatikannya,walaupun Sebastian suka sekali menampilkan wajah datarnya.
'Wanita ini,apa dia memang selalu bertingkah seperti ini?' Sebastian hanya mampu membatin didalam hatinya,karena terlalu sibuk dengan tembak menembaknya,tanpa ia tahu dan mengerti kalau Jennifer menjadi seperti itu semenjak mengenal dirinya pada tahun lalu.
Ditempatnya Billy dan Stella...
"Kak Billy,kenapa kamu tidak mengatakannya dari tadi kalau akan ada tembak-tembakan seperti ini? Tapi siapa mereka,kenapa mereka malah menembak kita?" tanya Stella dengan nada kesalnya yang sudah bercampur rasa takut,Billy terus membawanya bersembunyi sedari tadi tanpa melepaskan gandengan tangan mereka dan berbicara sedikitpun,hingga mampu membuat Stella merasa kesal.
Sedangkan Billy,ia harus melindungi Stella dengan baik.Jika tidak,kepalanya pasti akan melayang nanti karena ia pasti akan mendapatkan kemarahan besar dari Tuan Mudanya,kalau saja ia tidak mampu melindungi adik kesayangan Tuan Mudanya tersebut.
"Nona,apakah kamu melihat kalau aku punya banyak waktu untuk mengatakannya padamu? Nona cukup terus berada disampingku saja,kalau ingin selamat dari tembakan-tembakan dari orang itu.Dan satu lagi,yang terpenting,Nona jangan mengatakan pada Nona Muda Jennifer tentang hubungan kami berdua. Nona,sekarang ayo kita cari Tuan Muda..." jawab Billy dengan cepat dan nada seriusnya,sambil terus menembak para musuh dan berjalan cepat kearah tempat Tuan Mudanya berada dengan menarik pelan tangannya Stella.
Sedangkan Stella,ia terus menelisik wajah tampannya Billy sambil menyimpan semua perkataannya Billy didalam kepalanya dengan baik.
'Kenapa baru sekarang aku menyadarinya,kalau ternyata pria menyebalkan ini tampan juga.Ya,walaupun tidak begitu bisa humoris' batin Stella dengan jujur dan perasaan senanngnya,sambil terus mengikuti langkah cepatnya Billy dan menatap punggung lebar berserta wajah sampingnya Billy dengan wajah yang terus tersenyum senang.
Ia memang sudah terbiasa dengan keberadaannya Billy disamping kakaknya karena Billy selalu mengikuti kemanapun kakaknya pergi.Dan iapun menambahkan kata kakak didepan namanya Billy karena ia merasa nyaman dengan tambahan kata tersebut.Tapi tetap saja menurutnya,Billy selalu menyebalkan kalau sudah berbicara dengannya.
Dan sebenarnya sedari tadi sudah banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada Billy tentang Jennifer yang dipanggil Nona Muda oleh Billy,belum lagi tentang semua pelaku penembakan tersebut.
"Tu,, Nona Muda...Apa kamu baik-baik saja?" tanya Billy dengan nada khawatirnya sambil menatap kearah Nona Mudanya yang sedang berpelukan dengan tuan Mudanya ,setelah ia dan Stella sudah sampai didekatnya Sebastian.
Lagi-lagi Billy hampir saja kembali keceplosan,karena ia terus saja ingin memanggil Tuan Mudanya.
"Baik,aku sangat baik" jawab Jennifer dengan nada senangnya,sambil menelisik wajah khawatirnya Billy,walaupun ia merasa sedikit bingung dengan perkataan awalnya Billy barusan.
'Aku percaya,Nona Muda' jawab Billy didalam hatinya,karena terlihat jelas wajah senang Nona Mudanya yang terus saja berpelukan bersama Tuan Mudanya.
"Syukurlah,Nona Muda..." lanjut Billy dengan nada pelannya,sambil menatap bingung kearah tatapan tajam Tuan Mudanya yang ternyata tertuju untuknya.
Iapun segera menelisik dirinya sendiri,dan mencari apa kesalahan yang telah ia perbuat,sampai Tuan Mudanya malah menatap tajam padanya.
"Nona,tolong segera alihkan tatapan matamu kearah lain" pinta Billy dengan nada pelan dan juga kesal sambil melepaskan genggaman tangannya pada tangannya stella, saat ia melihat kalau Stella terus saja menatap dirinya.
__ADS_1
Karena terlalu fokus terhadap para musuh-musuh tersebut dan juga sibuk mengkhawatirkan keselamatan Nona Muda bersama Tuan Mudanya,ia jadi melupakan genggaman tangan mereka.
Stella yang terlalu fokus sama wajah tampannya Billy yang baru ia sadari kalau tampan itupun langsung tersadar dari fokusnya,dan menatap kesembarang arah dengan wajah malunya.Untung, hanya Billy saja yang sedang memerhatikan salah tingkahnya,karena kakaknya dan Jennifer sedang sibuk fokus kedepan setelah selesai menatap malas kearah mereka berdua.
'Ternyata adik dan kakak sama saja,sama-sama menyebalkan dan mematikan' batin Billy dengan perasaan kesalnya,saat ia melihat Stella yang mulai bersikap aneh padanya,tidak seperti biasanya yang selalu saja bersikap cuek padanya.
Belum sempat mereka ber 4 kembali saling bertanya lagi,beberapa suara ledakan dan tembakan kembali terdengar sangat kuat dan juga ribut diluar sana...
"Bom bom,dor dor dor dor dor,bom bom......" terdengar suara-suara mematikan tersebut secara bertubi-tubi tanpa henti,bahkan ada beberapa orang tidak bersalah yang juga ikut menjadi korban.
"Nona Muda,mungkin saja itu adalah bantuan dari Tuan Besar,karena tadi aku sudah mengirim pesan pada Tuan Besar tentang keadaan disini" ucap Billy dengan cepat saat ia melihat wajah penasaran Nona Mudanya yang tertuju kearah luar sana.
"Kerja bagus..." puji Jennifer dengan jujur dan tersenyum senang,setidaknya prianya tidak perlu sampai kewalahan melawan para musuh-musuh tersebut,tanpa Jennifer tahu kalau apa yang dikatakan oleh Billy barusan adalah salah satu perintah dari Sebastian pada Billy pada saat mereka ber 4 sedang makan siang tadi.
Sedangkan Sebastian,ia hanya tetap dengan wajah datar dan tenangnya saja,sambil terus memerhatikan musuh-musuh yang sudah mulai berkurang karena terus berjatuhan satu persatu.
"Ayo,kita harus segera pergi dari sini sekarang juga..." ucap Sebastian dengan nada tegasnya,sambil menarik tubuhnya Jennifer dengan pelan dan berjalan kearah basement yang dimana tempat ia memarkirkan mobilnya tadi,dan langsung diikuti oleh ke 3 nya dengan cepat.
"Apa kamu tidak bisa melangkah lebih pelan,Honey? Kenapa selalu saja melangkah secepat ini? Apa kamu kira, aku ini memiliki kaki robot?" tanya Jennifer dengan wajah kesalnya,sambil terus mengikuti langkah lebarnya Sebastian yang cepat itu dengan sedikit kewalahan.
'Wanita menyebalkan ini,merepotkanku saja' batin Sebastian dengan wajah kesalnya,sambil menyimpan pistolnya kedalam tempat semulanya kembali,dan tetap dengan langkah cepatnya.
Beberapa detik kemudian...
Sebastian langsung menghentikan langkah cepatnya secara tiba-tiba,lalu...
ia juga segera merangkul tengkuk lehernya Sebastian dengan cepat,karena ia takut kalau dirinya akan terjatuh.
"Dor dor dor..." terdengar suara tembakan dari Billy untuk beberapa musuh yang telah berhasil mengejar mereka ber 4 barusan.
Sedangkan Sebastian,ia yang sudah kembali melanjutkan langkahnya tadi,hanya terus melangkah lebar menuju kemobilnya,dan mengabaikan pertanyaannya Jennifer dan juga suara-suara tembakan tersebut.
"Apakah sekarang kamu sudah mulai perhatian sama aku,karena takut aku kelelahan? Atau mungkin kamu sedang merayuku,karena ingin membuat hatiku merasa senang dan juga terharu?" tanya Jennifer dengan penuh harap dan nada senangnya,sambil terus menatap wajah tampannya Sebastian yang hanya diam saja.
"Aku tidak menyangka,ternyata pria sepertimu bisa romantis seperti ini juga" lanjut Jennifer dengan nada pelannya,sambil menyembunyikan wajah malunya dibalik dada kekarnya Sebastian dengan pelan.
"Nona jangan salah paham,aku hanya tidak ingin menghabiskan waktu berhargaku ini,hanya untuk ikut berjalan pelan,sama sepertimu tadi.Jadi dengan cara seperti ini,kamu tidak akan membuat aku kerepotan lagi..." jawab Sebastian dengan nada menyindirnya dan juga malasnya tanpa menatap kearah Jennifer,padahal ia hanya ingin supaya mereka bisa segera sampai kemobilnya dan pergi dari sana,tapi Jennifer malah menganggapnya dengan berlebihan seperti itu.
"Dasar pria tidak pengertian,sangat menyebalkan..." ucap Jennifer dengan nada kesalnya,wajah malunya tadipun langsung berubah menjadi kesal,hanya saja wajahnya masih tetap diposisi tadi.
Sedangkan Billy dan Stella,mereka berdua terus tersenyum lucu sambil terus berjalan cepat,saat mereka mendengar pembicaraannya sepasang manusia tersebut yang masih belum memilik status yang jelas itu.
Setelah mereka sampai dimobilnya Sebastian,Billy segera membuka pintu mobil tersebut dengan cepat,supaya Tuan Mudanya bisa masuk kedalam mobil tanpa kesulitan.
__ADS_1
Jennifer yang masih berwajah kesal tadipun segera melepaskan rangkulannya pada lehernya Sebastian dengan pelan dan duduk dengan benar,dengan tatapan lembutnya yang kembali tertuju kearah Sebastian yang sedang malas ingin melihatnya.
Sedangkan Sebastian,setelah ia sudah mendudukkan Jennifer ditempat duduk penumpang,Sebastian segera melemparkan kunci mobilnya pada Billy,dan langsung masuk kedalam mobil dan duduk disampingnya Jennifer.
Billy dan Stella yang mengerti keadaanpun segera ikut masuk kedalam mobil dengan gerakan cepat,dan Billy langsung melajukan mobil tersebut dengan kecepatan sedang
Setelah beberapa menit berlalu,mereka ber 4 melalui perjalanan yang tanpa adanya obrolan sedikitpun karena mereka ber 4 malah sibuk dengan pikiran mereka masing-masing,dan hanya suara napas mereka saja yang terus saling bersahutan disepanjang perjalanan mereka.
Hingga terdengar suaranya Sebastianpun yang mulai mengusir keheningan yang sudah berjalan selama 35 menit tersebut.
"Ingat,lain kali kamu harus membawa para pengawal..." pesan Sebastian dengan nada seriusnya,tanpa menatap kearah Jennifer yang tidak ada bosannya menatap dirinya.
"Jangan merepotkanku seperti ini lagi,jangan menambah perkerjaanku lagi,karena perkerjaanku sudah cukup banyak.Apa kamu mengerti?" lanjut Sebastian lagi,dengan nada tegasnya,sambil menyandarkan kepalanya kebelakang dengan pelan.
Dan senyum senangnya Jennifer yang baru saja terbit itupun,langsung sirna begitu saja,saat ia mendengar perkataannya Sebastian barusan.
"Apa kamu bisa mengatakan nama Perusahaanmu,padaku sekarang?" tanya Jennifer dengan nada semangatnya,ia sampai rela mengabaikan kalimat-kalimat menyebalkan Sebastian tadi karena ingin mendapatkan nama Perusahaannya Sebastian.
"Tidak bisa..." jawab Sebastian dengan singkat dan nada malasnya,sambil memejamkan kedua matanya dengan pelan.
"Bagaimana kalau kamu memberiku No HPmu saja?" tanya Jennifer dengan berusaha menahan rasa kesalnya dan mencoba ide yang lainnya,supaya ia bisa mencari Sebastian kapanpun ia mau.
Karena saat ia meminta pada Stella tadi,ternyata Stella juga tidak memiliki No HP kakaknya sendiri.
"Tidak bisa..." lagi-lagi Sebastian kembali menjawab dengan singkat dan jawaban yang sama,dan bahkan dengan nada tegasnya tanpa membuka kedua matanya.
"Baiklah,kalau itu maumu..." ucap Jennifer dengan nada kesalnya,sambil berpikir ulang dengan ancaman yang akan ia berikan pada Sebastian.
"Kalau kamu tidak mau memberitahuku,tidak masalah.Aku akan langsung mencari paman dan tante saja,untuk memperdekat hubungan asmara kita.Adik ipar,bagaimana kalau menurutmu?" lanjut Jennifer dengan nada mengancamnya dan wajah yang sedang tersenyum serius,sambil bertanya sama Stella yang langsung menoleh kearahnya.
Sebastian yang tadi masih memejamkan kedua matanya,saat ini ia sudah langsung membuka kedua matanya dengan cepat dan juga menegakkan kepalanya kembali saat ia mendengar nada ancamannya Jennifer barusan.
"Aku sangat setuju,kak.Kami pasti akan sangat menantimu dirumah kami..." jawab Stella dengan jujur dan wajah yang tersenyum senang,sambil menolehkan kepalanya kedepan kembali saat ia melihat tatapan tajam kakaknya yang langsung tertuju untuk dirinya.
"Apakah sekarang kamu sedang mengancamku,hm?" tanya Sebastian dengan nada kesalnya,sambil bersedekap dada dihadapannya Jennifer.
"Tidak juga,kalau kamu ingin memberikan apa yang aku inginkan tadi" jawab Jennifer dengan nada santainya,sambil ikut bersedekap dada seperti Sebastian.
Sedangkan Sebastian,ia langsung mendengkus kesal dan menghela napas pelan untuk beberapa kali,sambil menatap kesal kearah Jennifer yang masih tetap bertahan dengan wajah santainya.
Ia tidak mau memberi 2 hal tersebut pada Jennifer karena takut kalau Jennifer akan terus saja menganggunya,dan ia tidak akan mampu hidup tenang lagi seperti sebelum-sebelumnya.
Lagi pula,ia belum siap untuk menghadapi tingkah-tingkah agresif,aneh dan menggemaskan dari Jennifer untuknya nanti.Karena ia sendiri masih belum bisa mengartikan apa kebenaran tentang perasaannya pada Jennifer.
__ADS_1
"Nama Perusahaanku, Sachdev J Group" jawab Sebastian dengan nada malasnya sambil menghela napas pelan kembali,setelah ia terdiam untuk beberapa menit.
Sedangkan Jennifer,ia segera mengeluarkan HPnya dan langsung mencatatnya didalam HPnya dengan wajah yang tersenyum senang,seperti orang yang sedang memenangkan sesuatu saja.