Suami Tampanku Yang Sederhana

Suami Tampanku Yang Sederhana
Bab. 85


__ADS_3

Beberapa jam kemudian...


Diluar Gereja...Sebastian,Jennifer dan yang lainnya sudah berada diluar,untuk pulang kerumah mereka masing-masing.


Setelah mereka semua selesai makan siang bersama para tamu,dan mereka berdua juga mendapatkan ucapan selamat dari para tamu,berserta ke 3 sahabatnya Sebastian.


Para tamu bahkan sudah pulang duluan,karena mereka terlalu sibuk mengobrol obrolan keluarga mereka,dan tidak luput dari godaan dari ke 3 sahabatnya Sebastian.


Sedari tadi,Sebastian hanya mampu menahan segala rasa kesalnya saja,sambil memerhatikan ekspresi wajahnya semua orang.


Semuanya terlihat sangat dan lebih bahagia dari pada dirinya sendiri,terutama Jennifer.Ia masih bingung,ntah ia harus merasa bahagia atau bersedih saat ini...


Dan sekarang...


"Kamu mau kemana,hm...?" tanya Sebastian dengan nada tegasnya,sambil menahan gandengannya Jennifer yang ingin berjalan kearah mobil keluarganya,karena sedari berjalan keluar tadi,Jennifer terus saja menggandeng dirinya.


Karena mereka semua sedang bersiap-siap untuk masuk kedalam mobil dan pulang saat ini,kecuali ke 3 sahabatnya Sebastian yang sudah pulang duluan, sedari 20 menit yang lalu.Dan sekarang, hanya tinggal mereka berdua saja disana.


"Aku? Tentu saja,aku ingin berjalan kesana...Apakah kamu tidak melihat,kedua orang tuaku sudah menunggu kita disana?" tanya Jennifer balik,sambil menunjuk kearah mobil Daddynya,dengan dagunya dan beralih menatap bingung kearah wajah datarnya Sebastian.


"Benarkah? Lihatlah kesana..." tanya Sebastian balik,dengan nada santainya,sambil menunjuk kearah mobil Daddynya Jennifer,melalui ekor matanya.


"What? Hei,tunggu dulu...Dad,Mom,kenapa kalian malah meninggalkan kami?" teriak Jennifer dengan nada tingginya dan wajah paniknya,ia ingin mengejar mobil Daddynya,tapi sayangnya Sebastian masih saja menahan tangannya.


Ia bahkan sempat melihat Mommynya sedang say good bye padanya barusan,melalui lambaian tangannya dan senyum manis diwajah Mommynya.


"Memangnya apa yang sedang kamu pikirkan sekarang,hm?" tanya Sebastian dengan nada santainya,sambil menatap santai kearah Jennifer yang langsung mengalihkan tatapan kearahnya.


"Maksudmu?" tanya Jennifer dengan nada dan wajah bingungnya,bukankah sedari tadi ia sudah mengatakan kalau ia ingin pulang...


"Apakah kamu tidak pernah mendengar,kalau setelah menikah,seorang wanita akan tinggal dimana atau tinggal bersama siapa,hm?" tanya Sebastian balik,sambil menatap heran kearah Jennifer,kenapa Jennifer malah tidak mengetahui soal itu.


"Tentu saja,tinggal bersama suaminya ..." jawab Jennifer dengan wajah yang tersenyum senang.


"Ya,anak pintar...Jadi,apa kamu sudah mengerti sekarang,hm? " tanya Sebastian dengan nada malasnya,ternyata Jennifer masih tidak mengerti apa maksudnya tadi.


"Tentu saja,aku sudah menger,,,ti......" jawab Jennifer dengan nada semangatnya,tapi wajahnya langsung tersenyum cenges-ngesan diakhir kalimatnya,saat ia baru saja mengingat sesuatu.


Padahal tadi malam,Mommynya sudah mengatakan padanya tentang hal itu,tapi karena ia merasa terlalu bahagia,terutama dirinya sudah terbiasa tinggal bersama keluarganya atau sendiri. Jadi,ia melupakan hal-hal yang telah dikatakan oleh Mommy padanya malam tadi.


"Bagus.Kalau begitu,ayo kita pulang.Atau jika kamu ingin mengejar mobil Daddymu,atau mungkin kamu ingin menyuruh anak buahku untuk mengantarmu pulang...Silakan saja...Aku sama sekali, tidak akan keberatan..." ucap Sebastian dengan nada dan wajah santainya,sambil melepaskan pelan gandengan tangan mereka dan menunjuk kearah beberapa anak buahnya yang masih tersisa disana.


"Auchk..." terdengar suara pekikan sakit dari mulutnya Jennifer,saat ia malah merasakan sakit dikeningnya karena sentilan tiba-tiba dari jarinya Sebastian.


"Kamu ini ada-ada saja...Apakah kamu ingin membuat diriku merasa malu,hm? Dengan tinggal dirumah besarmu itu sekarang,setelah kita sudah menikah? Dasar menyebalkan..." lanjut Sebastian dengan nada dan wajah kesalnya,sambil berjalan pelan kearah mobilnya.

__ADS_1


Sedangkan Jennifer,ia hanya mampu terus mengelus-elus keningnya yang masih terasa sakit itu,dengan wajah kesalnya, sambil memerhatikan ekspresi wajahnya Sebastian yang terus saja berubah-ubah sedari tadi.


"Memangnya kamu pikir,aku pria apaan? Dimana aku akan meletakkan wajahku ini,jika aku sampai mengikutimu untuk tinggal bersama dirumah besarmu itu? Aku bahkan mampu menghidupi 50 istri sekaligus,jika kamu menginginkannya..." lanjut Sebastian lagi,dengan nada angkuhnya tapi wajahnya masih saja terlihat kesal,tanpa menghentikan langkah pelannya.


Setidaknya dengan mengeluarkan uneg-unegnya sekarang, rasa kesal yang sedari semalam ia pendam hingga saat ini,sudah sedikit mengurang.


"Tidak perlu,itu tidak akan pernah terjadi karena aku tidak akan pernah mengizinkannya,walaupun aku harus mengorbankan nyawaku sekalipun.Enak saja,50 istri..." ucap Jennifer dengan sedikit berteriak dan wajah yang memberengut kesal, sambil melangkah dengan sedikit berlari,untuk mengejar langkahnya Sebastian yang sudah sampai dipintu mobil sana,Sebastian bahkan langsung masuk kedalam mobil tanpa menunggu dirinya lagi.


Sedangkan Sebastian,ia langsung tersenyum kecil selama beberapa detik,sebelum ia masuk kedalam mobilnya.Senyum kecilnya tersebutpun mampu membuat sang supir langsung tersenyum senang, saat ia melihat wajah Tuan Mudanya yang sekarang sudah mulai berwarna.


'1 istri saja,bahkan kamu masih belum sempat menyentuhnya.Bagaimana caranya mau 50 istri...Dasar sombong...' lanjut Jennifer dengan wajah kesalnya, tapi wajah kesalnya langsung menjadi senyum malu saat ia memikirkan tentang malam pertama mereka yang ntah akan menjadi apa nanti.


Apa lagi,saat ia memikirkan tentang jebakannya pada Sebastian malam itu...


Lalu wajahnya berubah menjadi senyum lucu,saat ia mengingat kembali perkataan-perkataannya dan perubahan-perubahan ekspresi wajahnya Sebastian tadi,ternyata pria pujaan hatinya yang telah menjadi suaminya ini bisa bersikap cerewet juga.Sekarang sisi-sisi lain suaminya yang tersembunyi,akan mulai ia lihat satu persatu nanti.


"Tapi ada benarnya juga sih,kenapa aku malah melupakan hal yang satu itu..." gumam Jennifer dengan nada pelannya dan wajah tersenyum malunya,saat ia mengingat tingkah bod*hnya yang tadi berniat ingin mengikuti kedua orang tuanya pulang,pantasan saja Mommynya say good bye padanya tadi.


Setelah langkahnya sudah sampai disamping mobilnya Sebastian yang satunya lagi,Jennifer langsung masuk kedalam mobil tanpa menunggu untuk dibuka oleh anak buahnya Sebastian lagi.


'Apa lagi yang sedang dipikirkan olehnya,saat ini?' batin Sebastian,saat ia melihat senyumnya Jennifer yang tidak ia ketahui artinya itu,sambil menatap heran dengan kening mengernyit,kearah Jennifer yang baru saja duduk disampingnya.


Kemudian ia kembali menatap lurus kedepan,lalu merubah wajah herannya menjadi wajah datar khasnya,saat ia melihat Jennifer yang sedang menolehkan kepala kearahnya.


"Honey...Apakah kita akan pulang kerumah orang tuamu atau kerumahmu sendiri?" tanya Jennifer dengan nada pelannya dan wajah penasarannya.


"Apa kamu keberatan?" Jika kamu keberatan,kamu boleh......" belum sempat Sebastian menyelesaikan kalimatnya,Jennifer langsung menyelanya dengan cepat.


"Tidak,aku sama sekali tidak keberatan.Lagi pula,hal itu memang wajar bukan..Jadi,itu bukan masalah bagiku.Aku hanya berharap,kalau keluargamu tidak akan bersikap seperti mertua dan adik ipar yang ada disinetron-sinetron TV saja..." sela Jennifer dengan nada dan wajah seriusnya, sambil menelisik ekspresi wajah datarnya Sebastian yang tidak bereaksi apa-apa.


Sedangkan Sebastian,ia tidak berniat ingin menanggapi jawabannya Jennifer barusan,ia hanya tersenyum lucu didalam hatinya saja.


Ia bukan tidak mengerti tentang apa yang dikatakan oleh Jennifer barusan,hanya saja,menurutnya hal tersebut bukan hanya disinetron saja,bahkan juga sering terjadi didunia nyata.Dan ia rasa,Jennifer juga mengetahui tentang hal itu.


"Ngomong-ngomong,apakah dirumahmu memiliki


Asisten atau pelayan?" tanya Jennifer dengan wajah penuh harapnya,ia baru teringat dengan yang satu ini,tidak mungkin Sebastian yang memiliki kekayaan yang tidak terkira itu, sampai tidak memiliki asisten satupun bukan...


"Hanya 6 orang saja,bagian membersihkan halaman rumah dan lantai rumah saja,sisanya akan diselesaikan sendiri...Memangnya kenapa?" jawab Sebastian dengan nada santainya,dan sekalian bertanya sambil berpura-pura menatap penasaran kearah Jennifer yang langsung membulatkan bola matanya.


Hingga lagi-lagi mampu membuat Sebastian tersenyum lucu didalam hatinya,semalam ia sengaja meliburkan sekitar 30 Asisten rumahnya selama beberapa minggu kedepan,untuk menguji kemampuannya Jennifer yang telah Jennifer katakan sendiri padanya pada hari itu,yang mengatakan kalau dia akan berusaha menjadi istri yang baik.


Ia juga sudah meminta kedua orang tuanya dan adiknya,supaya bisa berkerjasama dengannya. Rumah mereka memang hanya 2 lantai saja,tapi lebarnya sebesar 5 ruko.


Dan halamannya yang lumayan luas dengan berbagai lapangan olah raga,seperti lapangan bad minton,basket, golf,kolam renang yang disertai oleh beberapa teduhan untuk bersantai,dan juga taman besar yang dipenuhi oleh bunga-bunga indah,berserta tempat duduk untuk menikmati semua yang ada disana.

__ADS_1


Jadi,dengan 6 asisten tersebut,semua itu tidak akan bisa diselesaikan dengan baik,jadi mau tidak mau,istrinya ini harus turun tangan untuk membantu mereka bukan...


Tapi yang menjadi alasan utamanya,karena ia ingin membalas rasa kesalnya,akibat dijebak oleh Jennifer,hingga dirinya harus menikah hari ini. Ya,walaupun didalam hatinya yang paling dalam, tanpa sadar ia tidak merasa keberatan sama sekali.


"What?..." tanya Jennifer dengan nada tinggi dan wajah kagetnya,ia langsung menutup mulutnya dengan kedua jarinya,saat ia langsung tersadar dengan tingkah memalukannya itu.


'Hanya 2 saja? Yang benar saja? Bagaimana ini?' lanjut Jennifer didalam hatinya,dirinya bahkan hampir tidak pernah melakukan perkerjaan rumah.


Bagaimana nanti kalau dirinya disuruh mengerjakan perkerjaan yang rumit baginya dirumahnya Sebastian,oleh mertuanya nanti.


"Memangnya kenapa,hm?" Sebastian kembali mengulangi pertanyaannya tadi,sambil menahan senyum dan menatap bingung kearah Jennifer yang masih sibuk menutup mulutnya.


"Hah! Ti tidak,tidak ada apa-apa.Hanya saja, tiba-tiba aku merasa kalau gigiku sakit..." jawab Jennifer dengan nada gugupnya karena ia kembali merasa kaget dengan suaranya Sebastian akibat lamunan kacaunya itu,sambil terus berpura-pura menyentuh giginya dari balik pipinya.


"Gigimu sakit?" tanya Sebastian dengan kening yang mengernyit heran,ia bahkan harus berusaha sekuat tenaga untuk menyembunyikan senyum lucunya.


'Nona Muda,jawaban seperti apa itu?' batin Billy yang ternyata sedang menjadi supir mereka sedari tadi,hanya saja Jennifer masih belum menyadarinya.


"Iya.Gigiku sakit,tapi tidak apa-apa,kamu tenang saja,Honey...Aku sudah biasa mengalami yang seperti ini,sebentar lagi ia pasti akan sembuh sendiri..." jawab Jennifer dengan berusaha tetap tenang, sambil menggaruk-garuk tengkuk lehernya yang tidak gatal tersebut dengan sebelah tangannya lagi.


"Apa sekarang, kamu sedang membodohiku? Apa kamu kira,aku tidak tahu bagaimana rasanya sakit gigi,yang sakitnya bahkan akan berhari-hari?" tanya Sebastian dengan nada santainya,sambil menelisik kearah kaca spion mobilnya tersebut,yang terlihat sesuatu yang harus ia waspadai sedari mereka mulai melajukan mobilnya tadi.


Lagi pula,ia juga pernah merasakan sakit gigi beberapa kali,hanya saja,ia sudah mulai menjalankan perawatan dari ia berumur 8 tahun dulu,berkat Ayahnya.Dan memangnya siapa yang tidak mampu menilai,seperti apa ekspresi wajah yang sedang mengalami sakit gigi.


"Kalau sudah tahu,kenapa kamu malah bertanya lagi?" tanya Jennifer dengan wajah yang tersenyum kesal,sambil menurunkan pelan tangannya dari mulutnya.


"Bukankah ada seorang wanita yang pernah mengatakan padaku,kalau dia akan berusaha menjadi istri yang baik untuk suaminya.Tapi saat tadi kamu mendengar,kalau aku hanya memiliki 6 asisten rumah,kenapa kamu malah langsung menjadi kaget?" tanya Sebastian dengan nada menyindirnya,ia juga mengabaikan pertanyaannya Jennifer tadi karena 90 % fokusnya sudah beralih kearah kaca spion mobilnya.


"I itu,yang tadi itu hanya refleks saja.Lagi pula,aku pasti akan berusaha semampuku dan tidak akan pernah menyerah sampai kapanpun... Jadi,kamu tenang saja,Honey..." jawab Jennifer dengan nada yakinnya dan wajah yang tersenyum malu,ia bingung mau menjawab apa,karena Sebastian langsung menyindirnya secara terang-terangan.


Sebastian tidak berbicara lagi,ia hanya menggeleng-gelengkan pelan kepalanya saat memikirkan tingkahnya Jennifer tersebut.


Sedangkan Jennifer,ia hanya mampu terus tersenyum malu saja,sambil terus memerhatikan wajah datarnya Sebastian yang terlihat sangat serius.


Baru saja ia ingin mengikuti arah pandangnya Sebastian,tapi sebuah suara yang sangat ia kenal tersebut,malah mampu mengagetkan dirinya...


"Nona Muda,sepertinya mereka akan mulai menyerang saat ini..." ucap Billy dengan nada dan wajah seriusnya,sambil fokus mengemudi dan juga menelisik apa yang ditelisik oleh Tuan Mudanya sedari tadi.


Dan seperti biasanya,perkataannya tersebut sebenarnya ditujukan untuk Tuan Mudanya,dan ia tahu kalau Tuan Mudanya pasti tahu apa maksudnya barusan,hanya saja Nona Mudanya juga bersama mereka saat ini.Jadi,begitulah...


Ia bahkan sudah menyiapkan pistol disebelah tangannya,karena sedari tadi mereka berdua sudah tahu kalau mobil mereka sedang diikuti oleh 2 mobil yang belum mereka ketahui siapa pelakunya, bahkan Tuan Mudanya yang duluan mengetahuinya dan telah memberinya kode mata.


"Billy? Apa yang sedang kamu lakukan disini?" tanya Jennifer yang rasa kagetnya masih belum menghilang sepenuhnya itu,sambil memiringkan tubuhnya agak kesamping untuk memastikan apa benar suara tersebut miliknya Billy.


Bahkan kedua tangannya bertumpu diatas pahanya Sebastian tanpa ia sadari,setahu dirinya,Billy akan sibuk diperusahaan siang ini,karena ada beberapa meeting yang tidak bisa ditunda disana.

__ADS_1


"Aku diperintahkan oleh Tuan Besar,untuk menjaga kalian,Nona Muda..." jawab Billy dengan asal dan nada pelannya,sambil menggaruk-garukkan kepalanya yang tidak gatal itu,walaupun itu memang termasuk salah satu alasannya menjadi supir mereka juga.


"Ehm ehm ehm..." dehem Sebastian dengan nada tingginya,lagi-lagi mampu membuat Jennifer merasa kaget,kali ini sampai terperanjat kaget karena suara tingginya Sebastian yang tepat disamping telinganya.


__ADS_2