
"Bastian,aku......." ucapannya Siska yang kembali ingin membujuk Sebastian harus terhenti karena langsung disela oleh Sebastian dengan cepat.
"Sekarang juga,bawa wanita ini pergi dari hadapan kami.Atau aku yang akan melakukannya sendiri..." perintah Sebastian dengan nada tegasnya dan juga kesalnya karena 2 pria yang berprofesi sebagai Asisten dan Sekr3tarisnya itu seperti tidak mampu mengurus Siska saja.
"Baik,Tuan Muda..." jawab Aldy dengan cepat,dan langsung menyeret Siska untuk pergi dari sana dengan paksa,karena Siska mencoba untuk memberontak.
ia sangat tahu apa maksud dari Tuan Mudanya tersebut,karena kalau sudah Tuan Mudanya sendiri yang turun tangan,kalau bukan nyawa wanita tersebut yang melayang,pasti salah satu dari kaki atau tangannya Siska akan tertembak tanpa diberi peringatan lagi.
"Bastian,tunggu dulu,dengarkan penjelasanku terlebih dahulu.Kenapa kamu sangat tega sama aku..." ucap Siska yang tidak mau menyerah begitu saja dengan nada kesalnya,tapi apalah daya,tenaganya tidak cukup kuat untuk melawan tenaga kuatnya Aldy yang sudah membawanya paksa dari sana tanpa bisa ia melawan sedikitpun.
'Lebih baik,aku ikut Aldy saja....' batin Billy dengan wajah yang tampak berpikir untuk beberapa saat,lalu iapun segera mengejar langkah cepatnya Aldy,ia melakukan hal itu karena sengaja memberi waktu lebih untuk Nona Mudanya supaya bisa bersama Tuan Mudanya.
"Ayo..." ajak Sebastian dengan nada pelannya,sambil berjalan dengan Jennifer yang langsung mengikuti langkahnya,tapi tatapannya Jennifer terus saja tertuju kearah Siska yang masih sibuk memberontak dan juga berteriak tidak terima.
"Aku jadi penasaran,kenapa dulu kamu bisa sampai jatuh cinta sama wanita seperti itu?" tanya Jennifer dengan nada herannya,sambil mengalihkan tatapannya kearah wajah datarnya Sebastian, tanpa menghentikan langkah mereka.
"Jangan mengejekku...Masuklah..." ucap Sebastian dengan nada kesalnya dan juga menyembunyikan rasa malunya,sambil menghentikan langkah mereka disamping pintu mobilnya,tepat dibagian penumpang.
"Aku tidak sedang mengejekmu,aku hanya bertanya saja..." ucap Jennifer dengan tertawa kecil sambil melihat sebentar kearah Billy dan Aldy yang masih sibuk mengurus Siska,lebih tepatnya hanya Aldy seorang saja karena Billy hanya sibuk menonton saja.
'Tapi pertanyaanmu itu memang terdengar seperti sedang mengejekku...' batin Sebastian dengan menahan rasa kesalnya,sambil mengikuti arah pandangnya Jennifer.
"Apakah kamu yang akan mengemudinya?" tanya Jennifer dengan wajah seriusnya,sambil mengalihkan pandangannya kearah Sebastian.
"Hm...Memangnya kenapa?" tanya Sebastian balik dengan nada lambatnya dan wajah bingungnya,tapi wajah bingungnya langsung tersenyum tipis karena ia sudah mengerti apa alasan dari balik pertanyaannya Jennjer barusan,saat ia melihat Jennifer yang bukan masuk kekursi bagian penumpang tapi langsung masuk kebagian sampingnya pengemudi.
Iapun langsung berjalan memutar kearah pintu pengemudi dengan wajah yang terus saja menahan senyum,sambil melirik sekilas kearah ujung jalan sana,dimana ada sebuah mobil yang sudah ia curigai sedari ia berjalan keluar tadi.
………
Sementara ditepi jalan sana,sepasang mata wanita sedang menatap tidak suka dan juga marah kearah mereka berdua,sedari Sebastian dan Jennifer sudah berada disekitar parkiran tadi.
"Nona,wanita itu putri sulungnya Tuan Arka Septian Naava..." lapor anak buahnya wanita tersebut dengan nada ragu-ragunya,saat ia sudah berada disamping mobil tersebut,setelah ia sudah selesai mencari tahu tadi.
Itupun,untung saja kebetulan Asistennya Tuan Muda tersebut sedang memberi pengumuman dan ia juga sedang bersembunyi disekitar sana,lalu sisanya ia langsung mencari diinternet berkat nama lengkapnya Jennifer tadi.
"Bagaimana dengan Tuan Presdir tampan itu?" tanya wanita tersebut yang ternyata Rebeeca yang masih merasa tidak terima,dengan perlakuan kasarnya Sebastian padanya tadi.Apa lagi,dirinya juga diusir dari sana dengan cara tidak hormat dan juga tatapan sinis dari para karyawan sana.
"Pria itu bernama lengkap Sebastian Sachdev Rendra,Nona.Dan kesuksesannya sudah berada diperingkat no 2 saat ini,Nona juga mengetahuinya.Dia dikabarkan memiliki Ayah,Ibu dan seorang adik perempuan,dan Nona Jennifer adalah calon istrinya.Tapi banyak yang mengatakan kalau dia jarang bersama keluarganya.Bahkan sangat jarang orang yang mengetahui alamat rumahnya.Sisanya,pria itu menyimpan identitasnya dengan sangat baik,Nona" jawab anak buahnya dengan panjang lebar,karena memang hanya itu saja yang ia dapatkan dari beberapa karyawannya Sebastian tadi,tanpa ia sadari kalau semua para karyawan disana sangat menjaga privasi Tuan Presdir mereka,walaupun mereka semua hanya mengetahui sedikit saja tentang Sebastian.
"Ternyata pria itu,orangnya sangat hati-hati juga...Menarik.Aku harus segera memilikinya,apapun caranya" ucap Rebeeca dengan nada seriusnya,tekad kuatnya dan wajah yang tersenyum licik.Ia bahkan mengabaikan tentang calon istri yang dilaporkan oleh anak buahnya tersebut.
"Nona,mereka sangat tangguh.Apa tidak akan berbahaya untuk kita nanti,Nona?" tanya anak buahnya dengan hati-hati,sambil menatap khawatir kearah nonanya.
__ADS_1
Ia khawatir kalau apa yang sedang direncanakan oleh Nonanya itu akan berbalik pada Nonanya kembali,mungkin saja akan lebih parah dari pada apa yang sudah ia duga.
Karena ia sudah selalu mendengar sisi kejamnya dari Tuan Arka Septian Naava,dan dirinya sendiri juga tidak meragukan kekuatannya keluarga tersebut.Apa lagi,jika putri mereka sampai diganggu.Belum lagi,tentang Sebastian yang masih belum begitu ia ketahui jelas bagaimana kemampuan pria muda kaya tersebut.
"Aku sama sekali tidak takut,aku harus segera menyingkirkan wanita itu supaya aku bisa memiliki Sebastian..." jawab Rebeeca dengan nada tingginya karena merasa marah dengan tanggapan anak buahnya yang terdengar sedang meremehkan dirinya, ia sudah bertekad ingin memiliki Sebastian dengan cara apapun,dan tidak ada siapapun yang bisa menghalanginya.
Apa lagi dengan kekayaan dan ketampanannya Sebastian,kedua hal tersebut sudah mampu membuat tekadnya Rebeeca semakin kuat.
"Bagaimana dengan Tuan,Nona?" tanya anak buah tersebut dengan wajah khawatirnya.
"Jangan pernah berani mengatakan apapun pada Ayah,sebelum aku berhasil menyingkirkan wanita itu dan juga membuat Sebastian menjadi milikku...Jika tidak,kamu akan tahu apa yang akan aku lakukan padamu..." jawab Rebeeca dengan nada mengancamnya, sambil terus menatap punggung mobilnya Sebastian yang sudah menghilang dari pandangannya.
"Baik,Nona..." jawab anak buahnya yang berprofesi sebagai Asisten Ayahnya Rebeeca tersebut,dengan wajah pasrahnya.
'"Sekarang,kita pulang..." perintah Rebeeca dengan nada tegasnya,sambil memikirkan bagaimana caranya ia akan menyusun rencana supaya apa yang ia inginkan tersebut segera ia dapatkan.
"Baik,Nona" jawab Asisten tersebut dengan cepat,sambil menyalakan mobil tersebut dengan kecepatan sedang.
'Aku harap setelah ini,apapun yang akan terjadi,kamu tidak akan menyesal,Nona' lanjutnya didalam hati,sambil terus fokus kejalan dan juga memikirkan nasib Tuannya yang akan datang nanti.
Ia sangat berharap kalau keb*d*h*n Nonanya tidak akan berdampak pada Perusahaaan atau kesuksesan yang telah Tuannya raih dengan susah payah hingga mendapatkan peringkat ke 15 tersebut,tidak akan berakhir sia-sia ditangan putrinya yang buta akan cinta tersebut.Ntahlah,ia juga bingung dalam mengartikan hal tersebut,ntah benar-benar cinta,hanya obesesi,atau hanya egois,atau mungkin hanya rasa ketidak puasan saja.
………
Didalam mobilnya Sebastian...
"Apa kursi ini sangat empuk,sampai kamu tidak mau keluar dari sini?" tanya Sebastian dengan nada malasnya,sambil membaca dan juga mengetik sesuatu di HPnya untuk ia kirimkan pada Billy,untuk kedua kalinya.
Isi pesan untuk Billy...
"Cepat periksa,siapa pemilik mobil yang sedang berada ditepi jalan sana..." pesan pertamanya saat berada didalam mobil,sebelum ia melajukan mobil tadi.
"Baik,Tuan Muda" balasan dari Billy tadi.
"Itu mobil miliknya Nona Rebeeca,Tuan Muda.Tuan Muda,aku juga mendengar dari para karyawan kalau tadi ada seorang pria yang sedang bertanya tentang Tuan Muda" lanjut Billy,setelah ia selesai memeriksa.
"Cari tahu tentang pria itu,dan mulai sekarang awasi wanita itu,jangan sampai ada yang terlewatkan.Wanita itu pasti sedang merencanakan sesuatu..." pesan keduanya Sebastian saat ini.
"Baik,Tuan Muda" jawab Billy dengan cepat.
Kembali ke Jennifer...
"Jangan hanya tersenyum saja,masuklah kedalam dan mulai sekarang jangan sering keluyuran kemana-mana..." lanjut Sebastian dengan nada seriusnya saat ia memikirkan tentang Rebeeca tadi,sambil menyimpan HPnya dan juga menelisik wajah tersenyum cenges-ngesannya Jennifer yang terlihat sangat menggemaskan dimatanya.
__ADS_1
"Keluyuran kemana-mana? Maksudmu? Apa kamu pikir,aku ini seperti wanita yang suka dengan pergaulan bebas,wanita yang suka keluar kemana-mana,begitu?" tanya Jennifer dengan nada tinggi dan wajah kesalnya,sambil bersedekap dada.
Padahal tadinya ia hanya ingin berlama-lama saja didalam mobil tersebut,ia seperti tidak rela berjauhan dengan Sebastian,tapi Sebastian malah membuat dirinya menjadi kesal.
Apa lagi,saat ia melihat tatapan-tatapan mendambanya para karyawan tadi.Belum lagi,wanita-wanita yang seperti Siska dan juga Rebeeca.Hal itupun,mampu membuat dirinya terus kepikiran sepanjang perjalanan tadi dan takut kalau dirinya akan kehilangan Sebastian sebelum dirinya sempat membuat Sebastian jatuh cinta padanya, tanpa ia sadari kalau benih-benih cinta yang telah ia tanamkan dihatinya Sebastian sudah mulai berkembangbiak dengan baik.
"Bukan seperti itu maksudku..."jawab Sebastian dengan wajah kesalnya,kenapa Jennifer malah menyalah artikan maksudnya yang berniat baik tersebut.
Apa lagi,saat ia memikirkan tentang sikap cerobohnya Jennifer yang mungkin saja akan merepotkan dirinya,juga bahkan akan membahayakan dirinya Jennifer sendiri.
"Lalu,apa maksudmu,kalau bukan yang seperti itu?" tanya Jennifer dengan wajah yang masih saja kesal,sambil menelisik wajah kesalnya Sebastian yang malah menjadi bingung.
"Maksudku,maksudku...Ya sudahlah,pokoknya maksudku bukan seperti yang telah kamu katakan tadi.Sekarang cepat keluar dari dalam mobilku,masih banyak perkerjaan yang sedang menantiku disana,apa kamu tahu...?" jawab Sebastian dengan nada bingungnya,dan wajah kesal dan juga asal diakhir kalimatnya karena sudah bingung mau bagaimana caranya ia memberitahu Jennifer tapi tidak membuat dirinya ketahuan kalau dirinya sedang tahap mengawasi dan juga melindungi Jennifer saat ini.
"Atau kamu tidak akan bisa menemuiku lagi..." ancam Sebastian dengan nada seriusnya,saat ia melihat Jennifer yang tidak berniat ingin keluar,tapi malah terus saja menampilkan wajah kesalnya.
Jennifer yang memang tidak ingin hal itu terjadi,iapun segera menghilangkan wajah kesalnya dan menatap senyum kearah wajah seriusnya Sebastian.
"Apa kamu tidak ingin masuk sebentar saja? Daddyku pasti sedang menantimu..." tanya Jennifer dengan wajah tersenyum manisnya,ia masih mencoba cara lainnya lagi.
"Menantiku?" tanya Sebastian dengan nada bingungnya,dan juga kening yang mengernyit heran,karena buat apa Daddynya Jennifer menantinya.
Mereka bahkan jarang bertemu,dan menurutnya mungkin saja tidak akan akrab.Mereka juga baru pernah bertemu 1 kali,dan itu pada tahun lalu,pada saat acara ulang tahunnya Jennifer hari itu.
Apa lagi saat ia mengingat kembali tentang tatapan tidak suka Mommynya Jennifer terhadapnya hari itu,dengan mengingat hal itu saja,ia sudah sangat sadar diri,walaupun keadaannya saat ini sudah sangat jauh berbeda dari yang dulu.
"Iya.Kalau kamu tidak percaya,kamu harus masuk kedalam sebentar untuk membuktikan kalau kata-kataku barusan memang benar" jawab Jennifer dengan nada seriusnya,sambil menarik tangannya Sebastian dengan sengaja.
Ia hanya bicara asal saja karena ia tidak sabar ingin mengenalkan Sebastian pada Daddynya,tanpa ia tahu kalau Daddynya sudah mengetahuinya sejak lama,walaupun alasannya tadi hampir benar karena Daddynya memang sedang menanti Sebastian juga dari kemaren.
"Aku masih banyak perkerjaan,lain kali saja" jawab Sebastian dengan wajah yang dibuat serius,dan hanya membiarkan saja tangannya yang sedang digenggam oleh Jennifer itu.
"Aku sudah meninggalkan Billy untuk membantumu disana,jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkan perkerjaanmu lagi" ucap Jennifer dengan nada maksanya,tanpa melepaskan genggamannya.
'Membantu apanya? Perkerjaanku sudah aku selesaikan sedari tadi.Dan ya,aku hanya menyisakan beberapa perkerjaan yang sangat mudah untuk Billy kerjakan.Satu lagi,tentang proyek kerja sama dengan perusahaan milik Ayahnya wanita j*l*ng tadi ' batin Sebastian dengan wajah kesalnya,karena tadi ia hanya meninggalkan beberapa dokumen-dokumen tentang kerjasama dengan beberapa perusahaan kecil yang baru saja dibuka oleh mereka.
Bahkan beberapa hal tersebut sudah selesai ia periksa tadi,tapi belum ia tanda tangani lagi,karena ia ingin menyuruh Billy dan Aldy pergi memeriksanya terlebih dahulu sebelum ia menanda tanganinya.
Ia juga sampai melupakan tentang masalah yang telah dibahas oleh Rebeeca tadi,karena terlalu sibuk dengan Jennifer.Walaupun ia tahu kalau itu pasti akal-akalannya Rebeeca saja,hanya saja ia ingin semuanya jelas.
"Tapi...." Sebastian yang kembali ingin beralasanpun tidak sempat menyelesaikan kalimatnya karena langsung disela oleh jennifer dengan cepat.
"Kamu mau masuk sebentar atau aku akan melakukan hal aneh bersamamu disini?" tanya Jennifer dengan nada mengancamnya,sambil mendekatkan wajahnya tepat didepan wajahnya Sebastian yang langsung merasa kaget dan juga kaku karena tindakan tiba-tibanya itu.
__ADS_1
Bahkan Sebastian hanya terdiam saja,ia bahkan tidak mampu bicara sepatah katapun karena jarak wajah mereka yang hanya berjarak sekitar 5 cm saja,dan hanya hembusan napas mereka saja yang saling menerpa saat ini.
Dan seperti terhipnotis,tatapannya Sebastian yang hanya terus menatap wajah cantiknya Jennifer tadi pun turun kebibir seksinya Jennifer dengan perlahan.Lalu seperti ada dorongan yang ntah dari mana,Sebastian mulai memajukan wajahnya hingga tidak berjarak.