
"Hah! Ti tidak,tidak,aku tidak berpikir mesum.Enak saja,kamu jangan sembarangan menuduhku..." jawab Jennifer dengan berpura-pura kesal tapi nyatanya nada gugupnya tetap terdengar karena ia sudah ketahuan sedang memerhatikan tubuh kekarnya Sebastian.
'Siapa yang suruh,kamu memperlihatkan tubuh menggiurkanmu itu dihadapanku,hm?' lanjut Jennifer dengan menahan rasa malunya,sambil berusaha untuk tetap tenang.
"Benarkah?..." tanya Sebastian dengan senyum lucu dibalik wajah santainya.
"Apakah kamu tidak tahu malu,dengan tubuh tanpa pakaian seperti itu dihadapanku,hm?" tanya Jennifer dengan nada kesal dan wajah malunya,sambil menatap kesal kearah wajah santainya Sebastian.
"Tidak.Lagi pula,kamu adalah istriku.Jadi,katakan padaku,apa yang harus aku malukan,hm?" jawab dan tanya Sebastian balik,dengan nada santainya.
Walaupun sebenarnya ia merasa sedikit malu, karena ini baru pertama kalinya ia memperlihatkan tubuh kekarnya dihadapan seorang wanita,selain keluarganya.Apa lagi,dengan jarak dekat yang seperti ini.Tapi ia berusaha untuk santai dan tenang,karena ingin sedikit membuat Jennifer kesal saja.
"Menyebalkan..." ucap Jennifer dengan wajah yang memerah karena ia sudah tidak mampu menyembunyikan rasa malunya lagi,ia juga berniat ingin berjalan melewati Sebastian karena ia ingin segera kekamar mandi, ia juga tidak ingin kalau wajah malunya sampai bertambah parah nanti.
"Bukankah tadi,kamu ingin meminta bantuan padaku?" tanya Sebastian dengan nada pelan dan wajah penasarannya,sambil menahan pelan tangannya Jennifer.
"Tadi?" tanya Jennifer dengan nada bingungnya,ternyata Sebastian masih mengingat tentang perkataannya tadi.
"Iya.Memangnya,kamu ingin aku membantumu apa?" tanya Sebastian balik,dengan kening yang mengernyit heran,saat ia melihat wajah bingungnya Jennifer tersebut.
"Ta tadi itu,aku hanya ingin meminta kamu untuk membantuku membuka resletingku..." jawab Jennifer dengan wajah yang tersenyum malu,sambil menunjuk kepunggungnya,melalui ekor matanya.
"What?" tanya Sebastian dengan wajah kagetnya.
'Kenapa juga aku harus bertanya tadi,sekarang aku harus membantunya atau tidak...' lanjut Sebastian didalam hatinya,dengan perasaan bingungnya sambil merutuki dirinya sendiri.
Ia sama sekali tidak pernah membuka resleting dressnya wanita,bahkan untuk adik atau Ibunya sendiripun.
Sedangkan Jennifer,ia langsung memikirkan tentang sesuatu saat ia melihat wajah kagetnya Sebastian barusan.Ia tersenyum nakal didalam hatinya,saat ia berpikir ingin menggoda Sebastian saja.
"Lihatlah,aku tidak bisa membukanya,tanganku tidak sampai... Jadi, bisakah kamu membantuku?" tanya Jennifer balik, dengan nada dan wajah memohonnya,sambil memperagakan gerakan tangannya kearah punggungnya yang memang sulit untuk ia gapai.
Tapi sebenarnya resleting tersebut memang benar-benar sulit untuk ia buka sendiri,jadi ia hanya sekalian ingin menggoda Sebastian saja.
"Kalau kamu tidak mau membantuku,aku akan meminta bantuan pada yang lainnya saja..." lanjut Jennifer dengan wajah yang pura-pura kesalnya sambil berniat ingin berjalan keluar dari sana, saat ia melihat Sebastian yang hanya diam saja dengan wajah bingungnya,tapi ia juga harap-harap cemas kalau Sebastian akan menahannya.
Tapi baru saja Jennifer berjalan 1 langkah, langkahnya langsung tertahan karena tarikan pelannya Sebastian ditangannya.Padahal hanya tarikan pelan saja,tapi tarikannya tersebut mampu membuat Jennifer menabrak dada kekarnya Sebastian tanpa bisa Jennifer cegah lagi.
"Apa kamu tidak waras,hm?" tanya Sebastian dengan nada kesalnya,sambil merengkuh lembut pinggulnya Jennifer,dengan sedikit menundukkan tatapan dan wajah kesalnya kearah wajah kagetnya Jennifer.
"Ke kenapa malah jadi aku yang tidak waras? Bukankah kamu sendiri yang tidak mau membantuku,jadi lebih baik aku mencari bantuan orang lain saja..." jawab Jennifer dengan nada gugupnya karena posisi mereka saat ini sangat intim,sambil menahan dada tel*nj*ngnya Sebastian dengan kedua tangannya.
Tujuannya ingin menggoda Sebastian,tapi kenapa sepertinya malah dirinya sendiri yang duluan tergoda, lihatlah wajahnya yang tidak berhenti memerah sedari tadi.
"Apa kamu sengaja, ingin memperlihatkan punggung mulusmu ini pada yang lainnya?" tanya Sebastian balik,sambil berusaha menetralkan rasa kesalnya,tapi tetap saja wajahnya masih terlihat kesal.
"Bu bukan begitu maksudku...Habisnya,,,kamu tidak mau membantuku.Jadi......" jawaban gugup malunya Jenniferpun langsung terhenti karena disela oleh Sebastian dengan cepat.
"Apakah tadi aku ada mengatakan,kalau aku tidak mau membantumu,hm?" sela Sebastian dengan nadanya yang semakin kesal,sambil menarik tubuhnya Jennifer supaya lebih dekat lagi ketubuhnya,hingga dada mereka merapat dengan dibatasi kedua telapak tangannya Jennifer saja.
__ADS_1
Apakah Jennifer benar-benar tidak waras,sampai ingin meminta bantuan sama orang lain, bagaimana kalau orang lain itu pria...
Lagi pula,ia telah menjadi suaminya Jennifer sekarang.Walau bagaimanapun,ia tidak akan rela kalau tubuh mulusnya Jennifer harus sampai dilihat oleh pria lain,selain dirinya.
"Memangnya,kamu ingin membantuku untuk membukanya?" tanya Jennifer dengan nada menggodanya,sambil menahan rasa malunya yang memang sudah sedari tadi tidak mampu ia tutupi lagi.
"Dasar..." ucap Sebastian dengan nada malasnya, ternyata Jennifer sengaja ingin menggodanya,dan iapun berniat ingin melepaskan rengkuhannya pada pinggulnya Jennifer.
"Tapi aku benar-benar tidak bisa menggapainya, Honey...Kalau kamu tidak mau membantuku,aku akan......." ucapannya Jennifer yang terdengar serius itupun mampu menghentikan niatnya Sebastian barusan.
Tanpa banyak bicara lagi,bukan dengan menyela istrinya tapi Sebastian langsung memindahkan kedua telapak tangannya keresleting tersebut, dengan gerakan perlahannya, sambil terus menelisik wajah cantiknya Jennifer yang terlihat semakin malu dan memerah tidak terkendali.
Sedangkan Jennifer,ia segera memegang erat bagian depan gaun pengantinnya, dengan wajahnya yang semakin memerah dan kedua tangannya yang masih berada diantara dada mereka berdua.
Apa lagi,saat tangannya Sebastian sedang menelusuri punggung langsingnya yang masih berbalut kain itu,hingga jari-jarinya Sebastian yang sibuk membuka resleting gaunnya saat ini.
"Sreetttt..." terdengar suara resleting yang sedang dibuka pelan oleh Sebastian,bahkan jari-jarinya Sebastian sedikit banyak menyentuh kulit punggungnya Jennifer akibat pakai raba-rabaan karena penglihatannya Sebastian yang sulit untuk menjangkaunya,hingga mampu membuat mereka berdua sama-sama panas dingin.
Kedua mata indahnya Sebastian yang bermata hazel itu bahkan hanya terus fokus kearah wajah cantiknya Jennifer,karena wajah cantiknya Jennifer terlihat lebih menarik dimatanya saat ini.
Beberapa detik kemudian...
"A apakah sudah selesai?" tanya Jennifer dengan nada gugupnya,saat ia melihat Sebastian yang sudah selesai membuka resletingnya,tapi beberapa jarinya malah tetap menyentuh kulit punggungnya tanpa bergerak sedikitpun.
Walaupun ia berpikir ingin melakukan malam pertamanya bersama Sebastian nanti malam,tapi ntah kenapa,hanya dengan sentuhan jari-jarinya Sebastian dipunggungnya saat ini saja, ia sudah merasa sangat gugup.
"Hah! Su sudah selesai..." jawab Sebastian dengan nada gugupnya sambil menjauhkan kedua tangannya sekaligus juga tubuh mereka,karena ia baru tersadar dari pikiran mesumnya tersebut.
Ntah kenapa,tiba-tiba saja isi kepalanya langsung dipenuhi pikiran mesum semua,saat mereka berdua berada diposisi yang intim seperti ini.
Padahal biasanya,walau semenggoda apapun wanita tersebut,ia tidak akan pernah goyah sedikitpun.Ia bahkan masih bisa menahannya seperti sebelum-sebelumnya,saat Jennifer beberapa kali sengaja menggodanya.
Dan ia juga masih belum ingin melakukan hal tersebut,sebelum Jennifer hamil,karena ia ingin mengetahui tentang bagaimana sebenarnya jebakannya Jennifer yang dirinya sendiri masih belum tahu sampai saat ini
"Te terima kasih, Honey..." ucap Jennifer dengan nada pelannya dan wajah yang tersenyum malu sambil berjalan masuk kedalam kamar mandi, dengan memegang erat gaun atasnya dan sebelah tangannya lagi sibuk mengangkat gaunnya yang sedikit menjuntai itu supaya ia tidak akan terjatuh jika ia berjalan sampai kekamar mandi nanti.
Tapi lagi-lagi mereka harus berada diposisi yang intim,berkat pijakan kakinya Sebastian yang secara tidak sengaja itu, diujung gaun pengantinnya Jennifer.
"Arrgghhh..." terdengar suara pekikan tertahan dari mulutnya Jennifer,karena merasa kaget akibat tubuhnya yang tiba-tiba saja tertarik kebelakang.
Sebastian yang kedua matanya sedari tadi memang terus fokus kearah Jennifer itupun langsung menangkap tubuhnya Jennifer dengan sigap,hingga membuat punggungnya Jennifer yang sedikit terbuka itu menabrak dan menyatu kedada telanj*ngnya Sebastian.
Kedua tangannya Sebastian juga telah mendekap perut rampingnya Jennifer dengan baik disana,tapi mereka berdua sama-sama terdiam dengan ekspresi malu dan gugup diwajah mereka.
Beberapa detik kemudian...
"Ehm ehm ehm...Apa kamu tidak apa-apa?" tanya Sebastian dengan nada seriusnya dan berusaha menetralkan segala rasa gugupnya,sambil menegakkan pelan tubuh kakunya Jennifer,lalu kembali mengusap pelan tengkuk lehernya.
"Hah! Tidak,tidak apa-apa.Sekali lagi,terima kasih,Honey..." jawab Jennifer dengan wajah malunya dan sikap salah tingkahnya,lalu ia langsung berjalan masuk kedalam kamar mandi.
__ADS_1
Padahal kalau dipikir-pikir,dirinya tidak perlu mengucapkan kata terima kasih lagi,karena mereka telah menjadi suami istri sekarang,dan hal tersebutpun mampu membuat Sebastian tersenyum geli didalam hatinya.
Ia sebenarnya sangat ingin tertawa saat ia melihat sikap salah tingkahnya Sebastian barusan,tapi sayangnya ia harus cepat-cepat kekamar mandi untuk membersihkan diri,sebelum wajah merahnya tidak mampu ia kontrolkan lagi dan semakin parah.
Sedangkan Sebastian,ia masih berdiri disana sambil menurunkan tangannya dari tengkuk lehernya dan terus menatap punggung mulusnya Jennifer yang telah terbuka itu hingga menghilang dibalik pintu kamar mandi.
"Ah,,,ada apa dengan diriku sebenarnya...Jangan sampai membuatku menjadi gil*,hanya gara-gara itu saja..." gumam Sebastian dengan nada pelannya dan wajah galaunya,sambil mengusap kasar wajah lelahnya.
Tadi,hampir saja benda bawah miliknya terbangun. Dan ini baru hari pertama pernikahannya bersama Jennifer,lalu bagaimana nasibnya untuk selanjutnya nanti...
"Lebih baik,aku tidur saja..." lanjut Sebastian dengan wajah pasrahnya,ia hanya ingin tidur selama sekitar 2 jam saja,dan ia ingin melupakan tentang Jennifer dan perkerjaannya untuk sejenak, supaya rasa lelahnya bisa menghilang ataupun berkurang.
Kemudian iapun segera menjatuhkan tubuh lelahnya keatas kasurnya dengan gerakan kasarnya,lalu ia langsung memeluk bantal gulingnya dan berniat ingin memejamkan kedua mata lelahnya.
Tapi baru saja ia memejamkan matanya sekitar beberapa menit,ia kembali membukanya saat ia merasakan seperti ada yang berbeda didalam kamarnya saat penampakan-penampakan sekilasnya tadi kembali terlintas dikepalanya.
"Siapa yang.......Ini pasti ulahnya Ibu..." gumam Sebastian dengan nada kesalnya,saat ia melihat kalau ternyata didalam kamarnya telah bertambah sebuah meja rias meja dan foto pernikahannya bersama Jennifer.
Bahkan warna-warna isi kamarnya yang biasanya hanya 1 warna saja,sekarang malah menjadi sedikit berwarna,dan hal tersebut mampu membuat dirinya mendengkus untuk beberapa kali.
Dan tiba-tiba saja,ia terpikir sama Jennifer yang pasti akan tidur diranjangnya.Iapun kembali berdiri dari kasur empuknya itu,dan mengambil bantal gulingnya,dan berjalan kesal kearah sofa panjang miliknya itu.
Baru saja ia ingin melemparkan tubuhnya keatas sofa,tapi tiba-tiba saja suara ketukan pintu mampu membuat dirinya kembali mendengkus kesal.
"Tok tok tok..." terdengar suara pelannya ketukan pintu dari luar.
"Menganggu saja..." kesal Sebastian,tapi ia tetap melangkah untuk membuka pintu kamarnya, padahal pintu kamarnya masih belum dikunci, mungkin saja itulah efek dari rasa kesalnya yang sudah berlebihan saat ini.
"Tuan muda,maaf,ini kopernya Nona Muda..." ucap pengawal tersebut dengan wajah takutnya,saat ia malah mendapatkan tatapan kesal dari Tuan Mudanya.
Sedangkan Sebastian,tanpa banyak bicara lagi,ia langsung mengambil koper tersebut dari tangannya pengawal itu,lalu...
"Brak..." terdengar suara pintu yang tiba-tiba saja tertutup dengan sedikit kuat,pengawal tersebut hanya mampu mengelus-elus dadanya dengan gerakan cepat karena rasa kagetnya,hampir saja wajahnya tertabrak pintu kamar tersebut,ia bahkan segera pergi dari sana tanpa aba-aba lagi.
"Merepotkan sekali..." ngeluh Sebastian dengan wajah kesalnya,sambil berjalan kearah kasurnya setelah ia sudah selesai mengunci pintu kamarnya.
"Padahal didalam sana pasti sudah banyak pakaian untuknya yang telah disediakan oleh Ibu,buat apa juga wanita menyebalkan ini pakai membawa koper segala kesini..." gumam Sebastian dengan wajah kesal dan juga malas,sambil meletakkan pelan kopernya Jennifer kesamping kasurnya, koper yang lumayan besar untuk puluhan pasang pakaian.
Lalu Sebastian segera kembali kesofanya tadi...
"Kenapa hidupku bisa berubah jadi kacau seperti ini,hanya dalam sekejap mata saja,hanya gara-gara wanita menyebalkan ini ...Sepertinya mulai sekarang aku memang harus terus menambahkan stok kesabaranku,untuk kedepan-depannya..." lanjut Sebastian lagi,setelah ia sudah selesai menghela napas berat,sambil merebahkan dirinya keatas sofa panjang tersebut,dengan posisi miring kesamping menghadap kearah kasurnya dan kedua tangannya yang memeluk bantal gulingnya.
Ia tidak mau,kalau nanti Jennifer sampai kembali menggodanya diatas kasurnya,bisa-bisa benda bawah miliknya itu benar-benar akan terbangun dan sulit untuk dijinakkan lagi.
Sekarang ia hanya mampu lebih banyak mengeluh didalam hatinya saja,karena hidup tenangnya selama 1 tahun ini,sepertinya tidak akan bisa ia pertahankan lagi.
"Ternyata kamu cantik juga..." lanjut Sebastian lagi,tanpa sadar ia langsung tersenyum senang saat kedua matanya tidak sengaja tertuju kearah foto pernikahan mereka didinding sana yang terbingkai dengan ukuran lumayan besar.
Setelah terus menatap foto pernikahan mereka selama 5 menit,kedua mata lelahnya langsung terpejam sempurna dengan gerakan pelannya.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian...
"Ceklek..." terdengar suara pintu yang terbuka sedikit,dan terlihat kepalanya Jennifer yang telah terbungkus handuk,yang duluan nongol dicelah pintu tersebut.