
"Bukannya memang seperti itu adanya..." jawab Ayah dengan nada santainya,karena dalam 2 hari ini, ia selalu melihat mereka berdua saling melempar kesal,Ayah berpikir kalau hal itu termasuk cara bertengkar juga bukan...
"Ayah,kami sama sekali tidak bertengkar.Dan aku baru pulang,karena tadi aku memang benar-benar sedang ada sedikit urusan diperusahaan..." ucap Sebastian dengan nada dan wajah kesalnya,sambil mengusap pelan tengkuk lehernya,iapun mengabaikan perkataannya Ayah barusan karena merasa malas.
Ia bahkan tidak berniat ingin mengatakan apa-apa pada Ayahnya tentang alasannya tidak ingin pulang awal dan makan malam bersama Jennifer, karena hal tersebut pasti akan membuat Ayahnya mengejeknya nanti.
Dan lebih tidak mungkin lagi,jika ia harus mengatakan pada Ayahnya, tentang apa yang telah ia lakukan diluar tadi.
Baru saja,Ayah berniat ingin melampiaskan rasa kesalnya lagi,pada Sebastian,tapi tiba-tiba saja sebuah suara merusak pendengarannya tanpa izin...
"Kriuk kriuk kriuk..." terdengar suara lapar dari perut sixpacknya Sebastian,tanpa mampu dikendalikan oleh pemiliknya lagi.
Jika saja Billy juga berada diantara mereka,pasti Billylah yang menjadi orang pertama yang akan menertawakan Sebastian,karena Billy tidak tahu kalau Tuan Mudanya ternyata belum makan malam sebelum kelokasi markasnya Geng Eagle Black tadi.Berbeda dengan Billy dan lainnya yang baru saja selesai makan malam,sebelum Tuan Muda mereka datang tadi.
"Apa kamu juga masih belum makan,hm?" tanya Ayah dengan nada dan wajah tidak percayanya, baru kali ini ia melihat Sebastian yang pulang larut malam dengan perut kosongnya.
"Iya Ayah...Perkerjaanku dikantor tadi terlalu banyak,jadi aku belum sempat makan malam sedari tadi..." jawab Sebastian dengan berpura-pura berwajah serius,sambil menggaruk-garukkan pelan punggung kepalanya.
Padahal laparnya baru terasa pada saat ini,Bahkan ia baru ingat kalau dirinya masih belum makan malam,akibat dirinya yang sampai lupa untuk makan malam, karena terlalu sibuk mengurus tentang Geng Eagle Black tadi,belum lagi tentang perasaan galaunya terhadap Jennifer tadi.
"Benarkah memang begitu?" tanya Ayah dengan kedua matanya yang menelisik curiga,tapi ia berpikir kalau suara lapar dari perutnya Sebastian tidak terdengar seperti bohongan,dan ia sendiri juga tahu kalau Sebastian memang sangat penggila kerja,hanya saja baru ini kali pertamanya Sebastian bersikap seperti ini.
"Ayah,memangnya sejak kapan aku pandai berbohong?" tanya Sebastian dengan nada kesalnya,padahal ia memang akan selalu berbohong kalau hal tersebut berkaitan dengan pembunuhan dan sebagainya.
"Mana aku bisa tahu...Memangnya kamu akan mengatakan pada Ayahmu ini,setiap kali kamu sedang atau akan berbohong?" tanya Ayah balik,dengan nada dan wajah malasnya.
Ia memang selalu merasa curiga dengan apa saja yang dilakukan oleh putra datarnya ini diluar sana, tapi sayangnya semua bawahan putranya tutup mulut tentang hal tersebut,karena takut pada Sebastian.
"Ayah,kamu sudah tua,jangan terlalu suka berprasangka buruk sama orang...Apa lagi,sama putramu sendiri... " jawab Sebastian dengan nada candanya dan wajah santainya.
"Cih..." Ayah langsung berdecih kesal,saat ia mendengar perkataannya Sebastian barusan,tidak ada gunanya juga ia berdebat dengan putra datarnya ini.
"Ajaklah istrimu untuk makan malam,tidak baik membiarkan istri tidur dengan perut yang lapar..." lanjut Ayah dengan nada kesalnya,sambil berjalan pelan menaiki anak tangga,dan melewati Sebastian yang langsung menyingkir kepinggiran tangga.
"Dan makanannya,jangan lupa dipanasin terlebih dahulu,sebelum kalian memakannya nanti..." lanjut Ayah lagi,dengan nada santainya kembali,tanpa menghentikan lamgkahnya,ataupun menatap Sebastian.
Siapa suruh putranya malah berulah dihari pertama pernikahannya, jadi panasin saja sendiri makanan malamnya.
Sedangkan Sebastian,ia hanya mampu menghela napas berat dengan panjang saja.Padahal tadinya ia berpikir ingin langsung merendamkan sebentar tubuh lelahnya,lalu pergi tidur.Tapi sepertinya,ia baru bisa tidur setelah tengah malam nanti.
Setelah Ayah menghilang dari pandangannya, akhirnya iapun memilih untuk membersihkan diri terlebih dahulu,dan juga sekalian melihat istrinya itu,langkah tidak semangatnya pun membawanya untuk menaiki anak-anak tangga tersebut.
"Kriuuk kriuuk kriuuk..."
"Kenapa aku bisa sampai lupa untuk mengisi perutku,sebelum mencari Billy tadi..." gumam Sebastian dengan nada pelannya dan wajah lelahnya,saat ia kembali mendengar suara perutnya yang sedang minta segera diisi itu.
20 menit kemudian...
__ADS_1
"Ceklek..." terdengar suara pintu ruangan ganti yang sedang terbuka pelan,dan disana terlihat Sebastian yang sudah rapi dengan kaos santainya,dan rambutnya yang juga sudah rapi.
Tadi saat ia masuk kedalam kamarnya,ia langsung masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri dan juga sekalian keruang gantinya,setelah ia sudah menatap wajah lelapnya Jennifer selama beberapa menit.
"Apa dia sama sekali tidak merasakan lapar,sampai tidur begitu nyenyak..." gumam Sebastian dengan kening yang mengernyit heran,sambil berjongkok tepat dihadapan wajah terlelapnya Jennifer.
"Kriuuk kriuuk kriuuk..." suara lapar dari perutnya Sebastian kembali terdengar,hingga Sebastian langsung menghela napas pelan yang ntah sudah keberapa puluh kalinya malam ini.
Sekarang ia jadi berpikir,kalau ini semua adalah buah karmanya dari tingkah nakalnya yang telah menyulitkan dan membuat Billy merasa kesal tadi.
"Apa aku harus mengendongnya kebawah saja..." gumam Sebastian lagi,ia bingung bagaimana caranya ia membangunkan istrinya yang tidurnya terlihat sangat nyenyak itu.
Ia jadi merasa tidak tega untuk menganggu tidur nyenyaknya Jennifer,tapi seperti kata Ayahnya tadi,ia juga tidak mungkin membiarkan Jennifer tidur dalam keadaan lapar seperti itu.
Lagi pula,perutnya terus saja menuntut untuk diisi sedari tadi,dan akhirnya iapun memilih untuk mengendong Jennifer saja.Apa lagi,sedikit banyak,ia juga merasa bersalah dengan Jennifer yang tertidur dalam keadaan lapar tersebut.
Perlahan-lahan Sebastian menyingkap selimut yang sebatas dadanya Jennifer tersebut,dengan gerakan ragu-ragu,ia menghela napas lega saat ia melihat pakaiannya Jennifer tidak berantakan ataupun tersingkap.
Kemudian kedua tangannya masuk pelan kebawah paha dan punggungnya Jennifer,lalu ia langsung mengangkatnya dengan gerakan perlahan-lahannya.
Beberapa menit kemudian,hingga akhirnya Sebastian berhasil mengendong Jennifer sampai keruang tamu.Untung saja,saat membuka pintu dan menutup pintu kamarnya tadi,ia tidak begitu kesulitan.
Ia bahkan harus menahan segala rasa dan juga degupan jantungnya yang tidak beraturan itu sedari tadi,karena Jennifer yang malah memeluknya dengan erat selama dalam gendongannya,hingga membuat dada kekarnya dan dada empuknya Jennifer merapat tanpa celah sedikitpun.
Apa lagi,saat kepalanya Jennifer yang terus saja bergerak-gerak untuk mencari kehangatan disekitar atas dadanya dan juga lehernya.
Dan ia berbicara dengan wajah kesal diakhir kalimatnya,saat ia melihat pelukannya Jennifer yang masih saja begitu erat.
Ia bahkan tidak sadar,kalau dirinya telah mengatakan kata " Tubuh indah " dikalimatnya barusan.Hingga...
"Kenapa mereka muncul lagi,didalam kepalaku...Menyebalkan..." lanjut Sebastian lagi,dengan nada dan wajah kesalnya,sambil menggeleng-gelengkan pelan kepalanya saat tubuh indahnya Jennifer yang tanpa sengaja ia lihat tadi sore itu kembali berputar didalam kepalanya.
Kemudian Sebastian segera membaringkan tubuhnya Jennifer keatas sofa panjang diruang tamu tersebut,dengan gerakan perlahan-lahannya.
Lalu ia langsung melangkah lebar kearah dapur untuk memanaskan kembali makanan malam tadi,sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dengan wajah heran dan juga tidak percaya,karena Jennifer tidur begitu nyenyak sampai tidak menyadari kalau dirinya yang telah mengendong dari dalam kamar hingga kelantai bawah.
20 menit kemudian...
Sebastian berdiri dan bersedekap dada disamping sofa panjang tersebut,ia baru saja selesai memanaskan makan malamnya,tapi Jennifer masih juga belum terbangun dari mimpinya.
Apakah istrinya ini sedang tidur mati? Ntahlah,ia hanya mampu terus menghela napas pelan sedari 5 menit yang lalu.
"Ehm ehem ehm..." Sebastian sengaja berdeham dengan nada tingginya,tapi istrinya tidak juga bangun-bangun,sedangkan sekarang sudah jam 12 malam lewat 5 menit...
Lagi-lagi,Sebastian kembali menghela napas pelan.Iapun kemudian berjongkok tepat dihadapan wajahnya Jennifer,dan menelisiknya sebentar,dan tanpa sadar ia tersenyum kecil selama beberapa detik.
"Hei,cepat bangun... " panggil Sebastian dengan nada tingginya sambil menggoyang-goyangkan pelan pundaknya Jennifer, tapi nada tingginya tersebut tidak sampai menganggu tidur yang lainnya.
__ADS_1
Dan Sebastian langsung tersenyum senang dibalik wajah datarnya,saat ia melihat kalau caranya barusan berhasil membuat Jennifer terbangun, terlihat dari kedua matanya Jennifer yang perlahan-lahan mulai terbuka.
"Honey,kamu sudah pulang?" tanya Jennifer dengan wajah ngantuknya yang langsung tersenyum senang saat ia melihat wajah tampan suaminya yang berada tepat dihadapan wajahnya itu,tapi ia mulai merasa beda dengan permandangan yang ada disekitar ruangan kamar mereka,saat rasa ngantuknya mulai mengurang.
Sedangkan Sebastian,ia hanya terus menelisik wajah senyum senangnya Jennifer yang masih mengantuk itu,dan sudah berubah menjadi bingung itu,iapun segera berdiri dari jongkoknya.
"Kenapa aku bisa ada disini?" tanya Jennifer dengan wajah bingungnya,sambil duduk dari berbaringnya tadi.
"Tadi kamu mengigau,hingga kamu tidur sambil berjalan sampai kesini..." jawab Sebastian dengan nada dan wajah malasnya.
"Benarkah? Tapi perasaanku,aku tidak pernah mengalami tidur berjalan seperti itu seumur hidupku..." ucap Jennifer dengan wajah yang semakin bingung,karena ia memang tidak pernah mengalami yang seperti ini.
"Apa kamu tidak tahu? Kalau orang yang sedang mengalami tidur berjalan itu,kebanyakan penderitanya tidak akan mengetahui apa saja yang sedang ia lakukan selama ia tidur,karena setelah bangun ia tidak akan mengingatnya lagi..." jawab Sebastian dengan wajah datarnya kembali.
"Jadi maksudmu,keluargaku yang tidak memberutahuku begitu?" tanya Jennifer dengan wajah kesal dan juga tidak percaya,sambil menatap kesal kearah Sebastian.
"Mana aku tahu...Memangnya aku keluargamu? Aku saja,baru 1 hari menjadi suamimu..." jawab Sebastian dengan wajah tidak bersalahnya sambil tersenyum didalam hatinya,ia bahkan tidak menyadari kalau dirinya telah banyak bicara malam ini.
"Lalu,kenapa kamu juga ada disini?" lanjut Jennifer dengan nada dan wajah penasarannya yang bercampur perasaan kesal,karena perkataannya Sebastian tersebut ada benarnya juga,Jennifer juga masih belum ingat dengan kekesalannya pada Sebastian hingga tertidur tadi.
"Cepatlah bersihkan wajah ngantukmu itu, sekarang juga.Aku akan menunggumu,diruang makan..." ucap Sebastian dengan nada santainya dan mengabaikan pertanyaannya Jennifer,lalu ia langsung berbalik badan dan berjalan kearah ruang makan sambil tersenyum kecil,berkat tingkah lucunya Jennifer tersebut.
Sedangkan Jennifer,ia masih sibuk mencerna perkataannya Sebastian barusan sambil mengucek-ngucek pelan mata ngantuknya itu.Hingga kedua matanya tertuju kearah jam dinding besar yang sedang tergantung didinding sampingnya,setelah punggung lebarnya Sebastian sudah menghilang dibalik dinding sana...
"Bukankah...Dasar pria menyebalkan..." Jennifer langsung menggerutu kesal,saat ia baru saja mengingat tentang seberapa besar rasa kesalnya pada suaminya itu,karena penungguannya yang sia-sia tadi.
Kemudian iapun mengelus-elus pelan perutnya yang langsung terasa lapar karena ia memang sama sekali belum makan malam sedari tadi,lalu iapun segera berdiri dari duduknya dan berjalan kearah kamar mandi yang ada disana dengan langkah kesalnya dan juga gerutuan kesalnya.
Beberapa menit kemudian...
Terlihat diruang makan sana,Sebastian yang sedang duduk sabar,setia dan tenang dengan kedua mata yang menatap lurus kedepan dan kedua tangannya yang berada diatas meja dan menyangga dagunya,untuk menunggu Jennifer.
"Duduk dan makanlah..." ucap Sebastian dengan nada pelannya,saat ia langsung menyadari kedatangannya Jennifer yang baru saja bersandar kesal dipintu ruang makan tersebut,mata ngantuknya tadi juga sudah tidak begitu terlihat lagi,dan hanya ada tatapan kesal saja disana.
"Dengar,aku tidak akan mengulangi perkataanku untuk kedua kalinya lagi..." lanjut Sebastian dengan nada dan wajah tegasnya,saat ia melihat Jennifer yang tidak juga duduk dan hanya sibuk menatap kesal kearahnya saja.
Jennifer yang perutnya memang merasakan lapar itupun akhirnya terpaksa duduk,dengan tatapan yang masih kesal.
Lalu ia mulai memerhatikan makanan malam tadi yang telah dipanasin oleh suaminya,dan juga piring nasinya yang sudah terisi,ditambah dengan segelas air putih disampingnya.
Walaupun masih merasa kesal,setidaknya semua itu mampu mengurangi rasa kesalnya tersebut.Ia bahkan tersenyum senang dibalik wajah kesalnya itu,ternyata suaminya ini bisa perhatian juga terhadapnya.
Mereka berduapun mulai memakan makan malam mereka yang tertunda itu,akibat tingkah mereka masing-masing...
"Tadi,kamu kemana saja? Kenapa sekarang baru pulang?" tanya Jennifer dengan nada dan wajah penasarannya tapi ekspresi kesalnya tetap terlihat,sambil mengunyah makanannya dan juga melirik kearah suami tampannya itu.
"Aku hanya pergi untuk mengurus beberapa masalah saja,diperusahaan..." jawab Sebastian dengan nada santainya,tanpa menghentikan makannya,sama seperti Jennifer.Jarang-jarang,ia berbohong terus seperti ini.
__ADS_1
"Memangnya urusan apa yang sedang kamu urus tadi? Hingga kamu tidak sempat,untuk pulang makan malam bersama kami?" tanya Jennifer dengan nada kesalnya,kedua orang tuanya saja tidak akan pernah melewatkan makan siang dan makan malam bersama mereka,walaupun perkerjaan tersebut sangat penting,kecuali darurat.