Suami Tampanku Yang Sederhana

Suami Tampanku Yang Sederhana
Bab. 125


__ADS_3

Kemudian Billypun segera mengganti kemejanya dengan miliknya yang baru,yang ada didalam tas kerjanya,yang berada diatas kursi penumpang sampingnya,karena ia tidak mungkin menggantinya disaat ada Jennifer bersamanya tadi.


Dan untung saja,ia memang selalu membawa pakaian gantinya disetiap ia akan berangkat berkerja.


Setelah ia selesai mengganti kemejanya itu,Billypun mulai membersihkan tisu-tisu bekasnya Jennifer tadi tanpa merasa geli sedikitpun, walaupun dengan wajah yang sedikit kesal.


Dan setelah ia juga selesai membersihkan semuanya selama beberapa menit.Lalu iapun langsung melajukan mobil tersebut untuk menuju kearah perusahaan Tuan Mudanya,tentunya setelah ia juga sudah selesai memerintahkan yang lainnya untuk menjaga Jennifer.


***


Sedangkan diperusahaan Sachdev J Group, Sebastian baru saja selesai meeting pertama dan keduanya pada hari ini,setelah tadi ia melewatkan meeting yang bisa mendapatkan untuk sebanyak hampir 1 M keatas,dan meninggalkan beberapa yang hanya 600-800 juta saja.


Saat ini ia baru saja masuk kedalam ruangannya, dan duduk dikursi kebesarannya dengan ekspresi wajah yang ia sendiri tidak tahu apa penyebabnya.


"Hatchim hatchim hatchim..." baru saja ia berniat ingin menyandarkan kepala lelahnya kebelakang,tapi tiba-tiba saja ia bersin-bersin sebanyak 3 kali tanpa sebab.


"Apa yang telah terjadi padaku, hari ini?" tanya Sebastian dengan dirinya sendiri,dengan nada dan wajah herannya,karena yang barusan adalah bersin-bersinnya yang ke 6 kalinya sedari ia tiba dan mulai berkerja diperusahaannya ini.


"Apakah ada yang sedang mengataiku dibelakang sana,tapi memangnya siapa yang berani mengataiku,sampai aku harus bersin-bersin sebanyak 6 kali pada hari ini..." lanjut Sebastian dengan nada dan wajah yang telah berubah menjadi kesal,sambil mengambil tisu untuk mengelap ujung hidungnya yang terasa sedikit basah,akibat bersin-bersin tersebut.


"Dan dimana Billy? Kenapa sampai sekarang,dia masih belum sampai-sampai juga? Apa saja,yang sedang dia lakukan disana?" lanjut Sebastian lagi, dengan nada dan wajah yang semakin kesal,sambil melirik jam tangannya.


Karena ia sudah menyelesaikan 2 kali meetingnya tadi,dan menurut perkiraannya seharusnya Billy sudah ada dihadapannya sekarang,tapi kenapa Asistennya itu sampai sekarang sama sekali masih belum menampakkan batang hidungnya sedikitpun.


Dan dirinya sudah berada didalam perusahaannya ini selama hampir 3 jam lamanya,karena ternyata saat ini sudah jam 3 siang.


Padahal ia telah bersabar menunggu dan memberi Billy waktu selama 4 jam lamanya,tapi kenapa Billy masih belum sampai-sampai juga,wajah kesalnya itupun langsung menjadi heran dengan kening yang mengernyit tajam.


Sedari tadi,ia sendiri bahkan berkerja dengan tidak begitu fokusnya,hanya saja ia masih mampu menyembunyikan dari yang lainnya dengan sempurna.Dan semua itu karena isi kepalanya yang sedang dipenuh dengan tatapan kecewa dan terlukanya Jennifer tadi.


Dan sekarang,Billy juga ikut-ikutan berhasil membuatnya merasa kesal.Ia bahkan masih harus melakukan 2 kali meeting lagi,setelah ini.


"Sebenarnya dia mengantar istriku pulang,atau kemana? Aku akan membunuhnya,jika dia masih tidak menampakkan wujudnya sekarang juga..." Sebastian kembali menggerutu kesal,sambil mengeluarkan HPnya dari dalam saku celananya dengan gerakan kesalnya.


Tapi baru saja ia sibuk mencari dan menekan namanya Billy dilayar HPnya itu,tapi sebuah suara pintu yang terbuka sedikit kuat itu,berhasil membuat Sebastian langsung mengalihkan wajah kesalnya kearah pintu yang telah terbuka lebar tersebut.


Sebastian langsung menghela napas kesal saat ia melihat siapa pelaku yang telah berani mendobrak pintu ruangannya itu,sambil mematikan dan menyimpan HPnya


"Aku mengira,kalau kamu sudah tidak mau berkerja lagi..." ucap Sebastian dengan nada menyindirnya dan sekaligus menampilkan wajah kesalnya itu, sambil menatap kesal kearah wajahnya Billy yang terlihat sedang sibuk mengatur napasnya,dan Sebastian juga bersedekap dada dengan posisi kepala yang menyandarkan kepalanya kebelakang.


Walaupun kedua mata jelinya langsung menangkap sesuatu pada kemejanya Billy yang berbeda dengan yang ia lihat tadi,tapi ia segera menepis perasaan herannya itu.Karena telah menjadi kebiasaannya Billy yang pasti akan mengganti pakaiannya,jika Billy sedang merasakan keringat dikemejanya itu ataupun terkena tumpahan yang tidak disengajakan.


"Maaf,Tuan Muda...." Billypun hanya mampu meminta maaf saja,bahkan napas ngos-ngosannya karena tadi ia sedikit berlari untuk bisa cepat sampai keruangan Tuan Mudanya itu,masih belum menghilang sepenuhnya.


"Cih...Maaf katamu? Apakah kamu sendiri tidak merasa bosan dengan kata maafmu itu? Aku bahkan ntah mendengar sudah keberapa kalinya kata maafmu itu,hari ini..." ucap Sebastian dengan nada malasnya,sambil menetralkan rasa kesalnya tersebut,dan juga memutarkan kursi kebesarannya itu menghadap kearah meja kerjanya kembali.


Sedangkan Billy,ia hanya mampu terus menggerutu kesal didalam hatinya saja,karena malas berdebat dengan Tuan Mudanya yang akan selalu mau menang itu.


Lagi pula ia terlambat berkerja,juga karena ulah Tuan Mudanya sendiri.Untung saja,tadi ia sudah makan siang terlebih dahulu disalah satu restoran yang sedang ia lewati diperjalanannya kesini tadi.

__ADS_1


"Aku hanya menyuruhmu untuk mengantar istriku pulang kerumah saja,kenapa kamu sampai harus baru sampai sekarang? Apakah kamu sedang mengukur jalan,tadi?" tanya Sebastian lagi,dengan nada kesalnya kembali,sambil fokus mengecek dokumen-dokumen yang untuk meeting pada 10 menit lagi.


"Maaf,Tuan Muda..." jawab Billy dengan sengaja membuat Sebastian merasa kesal kembali,sambil memerhatikan kegiatan yang sedang dilakukan oleh Sebastian saat ini.


Didalam hatinya ia bertanya-tanya,apakah Sebastian benar-benar tidak mencintai Jennifer, kenapa terlihat begitu santai dengan perkerjaannya itu,tanpa memikirkan keadaannya Jennifer sedari tadi.


Tapi apa makna dari kata istriku yang memang baru hari ini,Tuan Mudanya terus saja menyebutnya tanpa henti.


Sedangkan Sebastian,ia langsung kembali mendengkus kesal,sambil terus menetralkan segala rasa kesal yang ia tujukan untuk Billy selama beberapa menit.


"Apakah kamu dan istriku sibuk membicarakanku sedari kalian pulang bersama tadi?" tanya Sebastian dengan kembali memutar kursinya kearah Billy,sambil menelisik wajah tenangnya Billy tersebut.


"Tidak,Tuan Muda..." jawab Billy dengan cepat, sambil terus mempertahankan wajah tenangnya itu.


"Kamu yakin?" tanya Sebastian dengan kedua mata


yang terus saja menelisik,sambil kembali memutarkan kursinya dan melanjutkan apa yang ia kerjakan tadi.


"Sangat yakin,Tuan Muda..." jawab Billy dengan cepat dan nada santainya,sambil menghela napas lega,saat ia melihat Tuan Mudanya kembali fokus kedokumen-dokumen tersebut.


Sebastian tidak berkata apapun lagi,ia terus fokus pada dokumen-dokumen yang belum sempat ia baca tadi.


Setelah selesai fokus selama 5 menit,ia langsung berdiri dari duduknya,dan berjalan keluar dari dalam ruangannya itu.


"Apakah istriku baik- baik-saja?" tanya Sebastian dengan perasaan khawatir dibalik nada dan wajah santainya itu,sambil menghentikan langkahnya tepat dihadapannya Billy.


'Tentu saja baik...Untung saja,tadi aku telah berhasil membuat perasaannya Jennifer yang telah terluka itu lumayan mengurang...' lanjut Billy didalam hatinya,dengan perasaan kesalnya.


Sedangkan Sebastian,keningnya langsung mengernyit heran kearah wajah santainya Billy,tapi hanya selama beberapa detik saja.


"Billy..." panggil Sebastian dengan nada pelannya dan wajah yang terlihat sedang berpikir serius, sambil mengalihkan tatapan bingungnya lurus kedepan.


"Iya.Ada apa,Tuan Muda?" jawab Billy dan sekalian bertanya dengan nada dan wajah bingungnya,saat ia melihat Tuan Mudanya yang terlihat ragu-ragu ingin bertanya padanya.


"Tidak ada..." jawab Sebastian dengan nada santainya dan wajah tidak bersalahnya,sepertinya ia memilih untuk tidak bertanya saja,karena Billy saja sama sekali tidak pernah memiliki kekasih.


Bagaimana caranya ia akan bertanya tentang perasaannya yang ia sendiri tidak mampu mengerti itu,bisa-bisa Billy akan memberinya jawaban yang tidak jelas padanya nanti.


Lalu tanpa banyak kata lagi,iapun kembali melanjutkan langkahnya yang akan menuju kearah ruangan meetingnya itu,dan meninggalkan Billy yang masih menampilkan wajah kesalnya itu.


'Dasar aneh...' batin Billy dengan wajah kesalnya, sambil memerhatikan punggung lebar Tuan Mudanya yang sudah melangkah duluan itu, sepertinya ada sesuatu yang telah menganggu pikiran Tuan Mudanya saat ini.


'Cih...Istri? Mana ada suami yang bahkan untuk memberi perhatian kecil pada istrinya pun,tidak mampu...' Billy krmbali memgerutu kesal didalam hatinya,sambil mengikuti langkah lebar Tuan Mudanya itu.


'Aku sangat yakin,kalau sekarang pasti wajahnya Jennifer yang sedang terus bergentayangan didalam benaknya itu...' batin Billy lagi,sambil tersenyum puas.


Sepertinya Tuan Mudanya itu memang harus diberi pelajaran sebanyak-banyaknya,baru akan segera menyadari perasaan cintanya pada Jennifer.


Hanya saja,tiba-tiba ia merasa agak khawatir,saat ia memikirkan tentang perilakunya Irfan dan Rebeeca yang terlihat sangat aneh belakangan ini.Dan ia sangat yakin,kalau Tuan Mudanya pasti juga sama sepertinya.

__ADS_1


'Aku harap,kamu akan menjadi lebih menggila dari pada yang tadi,saat Jennifer benar-benar pergi jauh dari hidupmu nanti...' batin Billy lagi,dengan berusaha menetralkan segala rasa kesalnya sedari tadi,tanpa menghentikan langkah lebarnya itu.


Akhirnya mereka berduapun berhasil menyelesaikan beberapa meeting yang tersisa pda hati ini,dengan cepat dan juga lancar tanpa ada mengalami kesulitan sedikitpun.


Dan karena Billy memang telah berkerja dengan Sebastian cukup lama,jadi iapun bahkan mampu menyadari kalau memang ada sesuatu hal yang sedang mengangu Tuan Mudanya itu.


Terlihat dari Tuan Mudanya yang lebih banyak menatap lurus sedari tadi,tidak seperti biasanya, Tuan Mudanya itu pasti akan menatap tajam kearah siapa saja yang berani melakukan kesalahan sedikit saja.


Ntahlah,ia sendiri juga bingung,karena ia juga tidak bisa terlalu banyak ikut campur dalam masalah tersebut,karena ia sangat yakin kalau Jennifer pasti tidak akan menyukainya.Dan belum lagi, dengan Tuan Mudanya yang keras kepala itu,sudah dipastikan kalau dirinya yang akan menjadi korban nantinya.


***


Malamnya,didalam kamar miliknya sepasang pengantin yang baru menikah hari itu,dan sampai sekarang hubungan mereka malah semakin lama semakin berjarak karena kesibukan mereka masing-masing.


Sudah 1 bulan berlalu,tapi selama 1 bulan itu juga Sebastian terus sibuk dengan perkerjaannya, dan perkerjaannya malah semakin lama semakin banyak saja.


Sedangkan Jennifer,ia hanya diperbolehkan berkerja hingga jam 5 sore saja.Sebastian bahkan tidak memberinya izin untuk melakukan pertemuannya bersama kliennya diluar kantor.Dan Aldy atau Billylah yang akan menggantikan Jennifer,jika akan ada pertemuan yang akan dilakukan diluar kantor.


Sebastian sendiri bahkan selalu pulang dijam-jam antara 9-10 malam disetiap harinya selama 1 bulan ini,hingga membuat mereka sangat jarang bertemu.


Karena waktu mereka berdua yang memang memiliki kesibukan mereka masing-masing,dan malam harinya Jennifer juga tidak berniat ingin mendatangi Sebastian langsung kekantornya, karena rasa kecewanya yang semakin lama semakin besar itu.


Sebenarnya perusahaan miliknya Sebastian memang selalu akan seperti ini kesibukannya,pasti akan ada beberapa bulan yang akan sangat sibuk didalam 1 tahun.


Begitu juga dengan malam ini,lagi-lagi Sebastian pulang agak malam.Dan seperti biasanya, dijam-jam Sebastian pulang,Jennifer pasti sudah tidur bahkan sebelum ia sampai dirumah.


"Ceklek..." terdengar suara pintu kamar yang dibuka pelan dari luar,terlihat Sebastian yang baru pulang dari kantornya,dan berjalan masuk kedalam kamar mereka dengan langkah pelannya.


Setelah sudah berada didalam kamar dan juga menutup pintu kamar mereka dengan pelan.Iapun langsung melangkah pelan kearah kasur,dimana saat ini istri cantiknya sudah tertidur pulas dan sama sekali tidak menyadari kepulangannya.


Dan memang selalu akan seperti itu disetiap malamnya,hingga hal tersebutpun mampu membuat Sebastian mulai merasa ada sesuatu hal yang perlahan-lahan mulai menghilang dari hidupnya.


"Apakah kamu begitu lelah,hm? Sampai setiap harinya, kamu selalu tertidur duluan,sebelum aku sempat sampai dirumah?" tanya Sebastian dengan nada pelannya yang terdengar seperti sedang bergumam pelan,sambil membelai lembut poni sampingnya Jennifer yang tadinya sedikit menutupi wajah cantik istrinya itu,setelah ia sudah duduk tepat disamping wajah terlelapnya Jennifer.


Tapi sayangnya pertanyaannya hanya berlalu seperti angin,karena yang harus menjawabnya sedang terlelap pulas saat ini.


"Apakah kamu tidak merindukan aku,hm?" tanya Sebastian lagi,tanpa menghentikan belaian tangannya tersebut.


Selama sebulan ini,mereka berdua hampir tidak ada waktu santai,walau hanya untuk sedikit berdebat saja.Ia bahkan akan berangkat pagi-pagi sekali,karena perkerjaannya yang senakin hari semakin banyak itu.Dan Billy seorang diri saja,tidak msmpu mengatasinya,hingga mau tidak mau ia harus turun tangan dengan Billy yang membantunya.


Mereka hanya akan bertemu saat makan siang saja,itupun jika waktunya Sebastian sempat untuk pulang makan siang,hingga mereka berduapun hanya makan siang beberapa kali saja selama 1 bulan ini.


Malam ini saja,Sebastian sudah berusaha untuk segera pulang secepat mungkin.Tapi tetap saja,ia tidak bisa pulang terlalu cepat,ia bahkan masih meninggalkan begitu banyak perkerjaannya dikantornya tersebut.


"Apa aku sudah tidak waras,sekarang?" tanya Sebastian pada dirinya,sambil menggeleng-gelengkan pelan kepalanya.


Tidak biasanya dirinya seperti ini,bahkan sedang berkerjapun ia terus membayangin wajah cantik istrinya dan ia mulai merindukan perdebatan-perdebatan mereka kembali,dan juga sikap menyebalkannya Jennifer seperti yang sebelum-sebelumnya.


Tapi ntah kenapa,sadar atau tidak, ia merasa kalau Jennifer berniat ingin menjauhinya sekarang. Selama 1 bulan ini,ia memang sangat sibuk dengan perkerjaannya dikantor,tapi Billy sangat tahu kalau dirinya berkerja dengan hati dan pikiran yang berada ditempat lain.

__ADS_1


__ADS_2