Suami Tampanku Yang Sederhana

Suami Tampanku Yang Sederhana
Bab. 139


__ADS_3

Ayah dan Stellapun langsung tersenyum lucu selama beberapa detik,dan diikuti oleh Ibu yang baru mengerti apa maksud dari senyum lucu mereka berdua.


Tapi kemudian senyum lucu mereka perlahan-lahan menghilang,saat pandangan mereka beralih kearah Jennifer yang masih setia dengan tidur panjangnya tersebut.


Ekspresi santai diwajah mereka yang bermaksud untuk menyemangati Sebastian tadipun,langsung berubah menjadi sedih dan juga khawatir.


"Kakak ipar,cepatlah bangun,jangan tidur terus-menerus seperti ini.Apakah kakak ipar tidak ingin melihat penampilannya kakak sekarang? Kakak ipar pasti akan tertawa,jika melihat penampilan kakak yang sekarang..." tanya Stella dengan nada pelannya dan wajah sedihnya,sambil mengenggam pelan tangannya Jennifer.


"Iya nak,jangan menghukumnya lebih lama lagi. Apakah kamu tidak memikirkan bayi kalian,hm?" timpal Ibu dengan nada dan wajah yang tersenyum sedih,sambil membelai sayang perut datarnya Jennifer.


"Kamu juga harus memikirkan kami,nak...Cepatlah bangun,supaya kita bisa memasak bersama lagi..." lanjut Ibu,sambil mengalihkan belaian tangannya kewajahnya Jennifer,dengan penuh rasa sayang.


"Iya,kakak ipar.Apakah kakak ipar tidak merindukan kami,hm?" timpal Stella lagi,dengan nada sedihnya tanpa melepaskan genggaman tangannya tersebut.


Sedangkan Ayah,dirinya yang memang tidak begitu pandai berkata banyak itu,ia hanya terus berdoa didalam hatinya dalam diam.


"Ceklek..." terdengar suara pintu kamar mandi yang terbuka pelan,dan keluarlah Sebastian yang terlihat lebih segar dari yang tadi,tapi ekspresi wajahnya tetap terlihat hampa yang bercampur aduk.


Ibu dan Stellapun kembali bersikap santai dan merubah ekspresi wajah mereka menjadi lebih bersemangat.


"Kakak...Ayo,sekarang kita sarapan dulu..." ajak Stella dengan nada santainya,sambil berjalan mendekat kearah Sebastian dan membawanya kemeja sana,untuk sarapan bersama.


Sebastianpun hanya mengikuti langkahnya Stella saja,tanpa menolak sedikitpun,karena ia tidak memiliki mood untuk berdebat dengan Stella.Lalu diikuti oleh langkahnya Ibu dan Ayah,karena mereka memang akan menemani Sebastian sarapan dalam beberapa hari ini.


Akhirnya merekapun sarapan,dengan disertai kalimat-kalimat semangat dari Stella,Ibu dan juga sedikit dari Ayah,untuk Sebastian.


2 jam kemudian...


Ayah,Ibu,dan Stellapun telah pulang,karena Ibu yang harus pulang untuk memasak dan Stella yang akan masuk agak siang pada hari ini.


"Ceklek..." terdengar suara pintu yang terbuka dari luar tanpa ketukan terlebih dahulu.


"Bas,bagaimana dengan keadaannya Jennifer sekarang?" lalu disusul dengan suara wanita muda yang terdengar begitu khawatir,dan juga terdengar begitu tidak asing dipendengarannya Sebastian.


Sebastian bahkan bisa langsung tahu siapa pemilik dari suara-suara tersebut dan selanjutnya,dengan hanya mendengarnya saja,tanpa menolehkan kepalanya sedikitpun.


"Bas...Apa Jennifer sudah membaik?" timpal Elvan dari belakangnya Erik,ternyata mereka adalah ke 3 sahabatnya Sebastian yang baru saja tahu tentang kejadian yang telah menimpa Jennifer tersebut.


"Iya.Apa keadaannya Jennifer sudah ada perubahan? Kenapa kamu tidak memberitahu kami?" ngeluh Erik dengan nada dan wajah kesalnya,sambil terus melangkah masuk kedalam bersama Elisa dan Elvan.


Itupun mereka baru diberitahu oleh Stella tadi pagi, hingga membuat mereka langsung bergegas datang kesini,setelah mereka sudah meminta izin k cuti 1 hari pada majikan mereka pada hari ini.Stella juga sudah memberitahu mereka secara detail tentang keadaannya Jennifer,hingga kabar baik tentang kehamilannya Jennifer.


Sedangkan Sebastian,ia langsung memejamkan kedua matanya untuk mengendalikan rasa kesal dan malasnya itu,karena kedatangan 3 sahabatnya itu telah berhasil menganggu ketenangannya pagi ini.


"Bas,bagaimana? Apakah keadaannya Jennifer sudah membaik?" Elisapun kembali mengulangi pertanyaan khawatirnya tadi,sambil menatap kearah wajah lelapnya Jennifer dan wajah diamnya Sebastian secara bergantian.


"Apa kalian tidak punya mata? Atau kalian memang tidak bisa melihatnya,hm?" tanya Sebastian dengan nada kesalnya,sambil membuka mata terpejamnya,dan menatap kesal kearah ke 3 sahabatnya satu persatu.


Mereka ber 3 pun langsung terdiam dan memerhatikan wajahnya Jennifer yang masih terlihat pucat, dan sama sekali tidak bergerak ataupun terganggu dengan suara-suara berisik mereka barusan.

__ADS_1


Mungkin saja mereka terlalu merasa kesal terhadap Sebastian,hingga lupa untuk memerhatikan keadaannya Jennifer saat ini.


"Jennifer...Maafkan kami,karena kami baru datang melihatmu sekarang... " ucap Elisa dengan nada dan wajah sedihnya,setelah terdiam sekitar beberapa detik,sambil mengenggam tangannya Jennifer yang sebelahnya lagi.


"Tapi kamu harus salahkan suami datarmu ini, karena suamimu sama sekali tidak mengabari kami.Untung saja,ada yang berbaik hati untuk mengabari kami.Jika tidak,kami tidak akan pernah mengetahui keadaanmu sampai kapanpun..." Erik langsung menggerutu kesal,sambil membawa 2 kursi kesamping ranjang pasiennya Jennifer dan duduk disana bersama Elisa,begitu juga dengan Elvan.


"Apakah kamu tidak menganggap kami sebagai sahabatmu lagi? Dasar..." timpal Elvan dengan nada dan wajah kesalnya,sambil duduk disampingnya Sebastian dan juga sedikit menyenggol lengannya Sebastian,lalu Erik dan Elisa yang duduk berhadapan dengan mereka.


"Memangnya,sejak kapan pria datar ini menganggap kita sebagai sahabat-sahabatnya? Aku rasa,hanya kita saja yang menganggapnya sebagai sahabat..." Erik kembali bergerutu kesal, sambil menatap kesal kearah Sebastian yang hanya mengabaikannya saja.


"Sudah,sudah... Bukankah kita datang kesini untuk melihat Jennifer...Kenapa kalian malah sibuk mempermasalahkan patung hidup ini?" timpal Elisa dengan nada menyindirnya,sambil menatap malas kearah semuanya satu persatu.


Sedangkan Sebastian,ia hanya mampu menghela napas kesal saja,sambil terus berusaha untuk terus mengendalikan segala rasa kesalnya terhadap ke 3 sahabatnya tersebut.


"Apa yang kamu katakan,ada benarnya juga..." ucap Elvan dengan nada dan wajah seriusnya, sambil menatap sedih kearah Jennifer,tentunya setelah ia sudah selesai menatap malas sebentar kearah Sebastian.


"Benar,benar,aku juga setuju..." timpal Erik dengan nada dan wajah malasnya juga,sambil mengalihkan tatapan kesalnya kearah Jennifer.


Apa lagi,saat tadi pagi mereka mendengar cerita singkat dari Stella, tentang perjuangannya Jennifer untuk mendapatkan hatinya Sebastian.


Tapi sekarang bukan saatnya mereka untuk terus membuat Sebastian merasa kesal,karena sekarang saatnya mereka harus memberi semangat hidup pada Jennifer,dengan mengajaknya mengobrol.


"Apa kalian sengaja datang kesini,hanya untuk menyindirku saja,hm?" tanya Sebastian dengan nada dan wajah kesalnya,sambil menatap kesal kearah mereka ber 3 yang malah tidak berniat ingin menatapnya.


"Tidak juga...Tapi jika kamu merasa,itu bukan salah dan masalahnya kami bukan?..." tanya Erik balik, dengan nada dan wajah santainya, tanpa menatap kearah Sebastian sedikitpun.


"Jennifer...Apakah kamu tahu,kalau kami sudah tidak sabar ingin melihat keponakan kami lahir..." ucap Elisa dengan nada dan wajah sedihnya,sambil mengelus-elus tangannya Jennifer.


Ia,Erik dan Elvanpun memulai obrolan mereka, tanpa memperdulikan ekspresi wajahnya Sebastian yang terus saja berubah-ubah karena kalimat-kalimat menyebalkan dari mereka sedari tadi.


40 menit kemudian...


"Apakah kamu ingin,kalau nanti patung hidupmu ini mencari istri yang baru lagi?" tanya Elisa yang sudah mulai tidak sabaran,sambil menahan rasa kesalnya karena Jennifer tidak juga bereaksi dengan obrolan-obrolan panjang lebar mereka sedari tadi.


Tapi walaupun merasa sangat kesal,didalam hati mereka ber 3,tetap rasa khawatirlah yang paling terasa didalam sana.


"Iya.Suami datarmu ini sangat tampan dan sangat kaya,pasti akan banyak wanita yang rela mengantri panjang untuk menjadi istri ke 2,ke 3 nya,dan selanjutnya..." timpal Erik dengan nada dan wajah tidak bersalahnya,dan mengabaikan tatapan kesalnya Sebastian yang kembali tertuju kearahnya.


"Sayang..." panggil Elisa dengan nada senangnya, sambil memberitahu sesuatu pada Erik dan Elvan, melalui kode matanya.


Erik dan Elvan langsung tersenyum senang,saat mereka melihat kalau ternyata jari-jari tangannya Jennifer terlihat sedang bergerak-gerak lemah.


Tapi sayangnya,Sebastian tidak sempat melihat hal baik tersebut,karena ia terlalu sibuk fokus dan merasa heran dengan senyum tiba-tibanya ke 3 sahabatnya tersebut.


"Ada apa dengan kalian ber 3,hm?" tanya Sebastian dengan nada malasnya dan kening yang mengernyit heran,saat ia melihat ke 3 sahabatnya yang tiba-tiba saja tersenyum-senyum tanpa penyebab yang jelas.


"Tidak,tidak ada..." jawab ke 3 nya dengan cepat, secara serentak,dan kembali keekspresi wajah sedihnya mereka tadi.


"Oh,iya...Apakah karena kamu tahu, kalau suami datarmu ini tidak mencintaimu...Maka dari itu, kamu ingin tidur lebih lama lagi,supaya suami datarmu ini bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dari kamu..." ucap Erik dengan nada dan wajah yang terlihat begitu serius,sambil terus sedikit menundukkan kepalanya,begitu juga dengan yang lainnya.

__ADS_1


Sebastian bahkan tidak menyadari apa yang sedang diperhatikan oleh ke 3 sahabatnya tersebut,karena segala rasa kesalnya sedari tadi.


"Tapi tidak apa-apa,kamu tidak perlu takut akan kesepian,karena setelah kamu bangun nanti,aku akan selalu ada untukmu.Jadi,cepatlah bangun untuk........" belum sempat Elvan menyelesaikan kalimat panjang lebarnya yang disengajakan itu, Sebastian langsung menyelanya dengan cepat.


"Siapa yang mengatakan kalau aku tidak mencintai Jennifer? Lagi pula dimataku,tidak ada wanita yang lebih baik dari pada istriku..." sela Sebastian dengan nada dan wajah kesalnya,ia mengatakannya tanpa ia sadari,tapi ke 3 sahabatnya bisa melihat dengan jelas,tatapan kesalnya Sebastian yang berisi kejujuran tersebut.


"Benarkah?" tanya Elisa dengan nada menggodanya,tapi ekspresi wajahnya terlihat serius.


Mereka ber 3 langsung tersenyum senang didalam hati mereka,saat mereka melihat umpan mereka telah berhasil mendapatkan hasil itu.


"Apa aku terlihat bercanda,hm?..." tanya Sebastian balik,dengan nada dan wajah kesalnya saat ia baru menyadari kalau ke 3 sahabatnya sedang mengerjainya.


"Apakah sekarang sahabat kita ini terlihat sedang bercanda atau serius, hm?" tanya Elisa dengan nada dan wajah malasnya,saat ia tidak mendapatkan jawaban yang ia inginkan dari Sebastian.


"Karena aku selalu melihat yang serius selama ini, aku sampai tidak tahu caranya membedakan yang mana serius,dan yang mana bercanda..." jawab Erik dengan nada malasnya juga,lebih tepatnya ia tidak berniat ingin menjawab serius pertanyaannya Sebastian barusan.


"Hal terpenting dalam hidup adalah belajar bagaimana memberikan cinta,dan membiarkannya masuk." Elvan mulai melafalkan kata-kata cinta yang baru saja terlintas dibenaknya barusan, sebelum Sebastian sempat memarahi mereka.


"Jika kamu menemukan seseorang yang kamu cintai dalam hidupmu,maka pertahankan cinta itu. Jika kamu melakukan sedikit kesalahan saja,nanti kamu pasti akan menyesalinya " timpal Erik dengan nada dan wajah serius mereka masing-masing.


"Orang yang jatuh cinta diam-diam pada akhirnya selalu melamun dengan tidak pasti, memandang waktu yang berjalan dengan cepat dan menyesali semua perbuatan yang tidak mereka lakukan dulu."


timpal Elisa,sambil membalas tatapan kesalnya Sebastian dengan tatapan seriusnya.


" Cinta itu seperti angin.Kamu tidak dapat melihatnya,tetapi kamu dapat merasakannya." timpal Elvan lagi.


"Cinta bukan hanya sesuatu yang kamu rasakan, itu adalah sesuatu yang harus kamu lakukan." timpal Erik lagi.


"Maka dari itu,kamu harus segera melakukan sesuatu, sebelum semuanya terlambat..." timpal Elisa lagi.


"Apakah kalian ber 3 sudah tidak waras? Atau kalian ber 3 telah salah makan obat,sebelum kalian datang kesini tadi?" tanya Sebastian dengan nada dan wajah herannya,tanpa mengalihkan tatapan herannya kearah ke 3 sahabatnya tersebut,sedari mereka mulai melafalkan kalimat-kalimat yang menurutnya agak aneh itu.


"Seharusnya,saat kita datang kesini tadi,kita harus membawa obat racun pembasmi hama..." ucap Elisa dengan nada dan wajah kesalnya,sambil berdiri dari duduknya,dan diikuti oleh Erik dan juga Elvan.


"Iya,kamu benar sekali.Supaya kita bisa memasukkan semua itu kedalam mulutnya patung hidup ini..." timpal Erik dengan nada dan wajah yang tidak kalah kesalnya,dengan Elisa.


"Jadi,kita tidak perlu mengatakan begitu banyak hal pada pria datar ini..." timpal Elvan dengan wajah kesal yang tidak jauh beda dengan kedua sahabatnya tersebut.


"Ayo,lebih baik kita pulang saja.Jennifer,kami pulang dulu ya,besok kami akan datang melihatmu lagi..." timpal Elisa dengan nada kesalnya,tapi nada tulus diakhir kalimatnya,lalu ia segera berjalan pergi dari sana tanpa berpamitan pada Sebastian lagi.


"Aku sarankan...Jika kamu benar-benar mencintainya dan tidak ingin sampai dia meninggalkan kamu begitu saja,segeralah ungkapkan rasa cintamu padanya.Biasanya wanita lebih mempercayai apa yang dia lihat dan dia dengar,dari pada yang dia rasakan..." ucap Erik dengan nada kesalnya,sambil berlalu dari hadapannya Sebastian,karena ia yakin kalau Sebastian pasti sama sekali belum mengungkapkan apapun kepada Jennifer.


'Apa lagi,jika pria itu adalah pria yang seperti kamu...' lanjut Erik didalam hatinya,dengan ekspresi wajah kesal yang tidak berkurang sedikitpun,sambil mengejar langkahnya Elisa yang sudah menjauh darinya.


"Apakah kamu tidak pernah mendengar? Kalau seseorang yang telah kehilangan cintanya,itu sama saja dengan kehilangan semangat hidupnya...Jika seseorang itu telah kehilangan semangat hidupnya,bagaimana caranya seseorang itu akan bangun dari tidur panjangnya ini.Dan tolong pikirkan juga tentang keponakan kami ini,kami tidak mau sampai kehilangannya,hanya gara-gara dia memiliki seorang Daddy yang bod*h..." ucap Elvan dengan nada malasnya setelah ia sudah selesai menghela napas pelan dengan panjang,karena memikirkan tingkah bod*hnya sahabatnya yang satu ini.


"Jika kamu ingin Jennifer segera bangun,berikan semangat yang berarti padanya,jangan hanya memberi obrolan-obrolan tidak bergunamu itu saja...Pikirkan baik-baik perkataanku ini,jangan sampai kamu salah mengambil langkah,dan sebelum semuanya terlambat..." lanjut Elvan dengan nada dan wajah seriusnya kembali,sambil menatap sebentar kearah tatapan kesalnya Sebastian yang mulai berubah menjadi tajam.


Setelah itu,iapun segera berjalan pergi dari hadapannya Sebastian dan tidak lupa juga ia menutup pintu,sebelum nanti Sebastian memberinya bogeman mentah atau apapun itu.

__ADS_1


__ADS_2