Suami Tampanku Yang Sederhana

Suami Tampanku Yang Sederhana
Bab. 127


__ADS_3

Padahal kalau Tuan Mudanya ingin memerintahkan dirinya yang mengurus semua perkerjaan dan masalah tersebut,ia pasti masih mampu untuk mengatasi semua itu,walaupun dengan sedikit kesulitan.Tapi nyatanya,Tuan Mudanya malah lebih memilih untuk turun tangan sendiri dan memerintahkan dirinya untuk menjaga Nona Muda mereka.


Sedangkan Sebastian,ia langsung menghentikan gerakan tangannya yang baru saja ingin kembali memeriksa dokumen-dokumen tersebut,bahkan wajah kesalnya barusan telah berubah menjadi lebih serius saat ia mendengar laporan dari Billy barusan.


"Tuan Muda...Bagaimana kalau aku sendiri saja yang akan kesana,untuk mengurus para berandalan itu?" lanjut Billy dengan nada dan wajah yang sama seriusnya dengan Tuan Mudanya,saat ia melihat ekspresi wajah Tuan Mudanya yang terlihat sedang berpikir serius.


"Sepertinya,mereka sengaja melakukan semua itu. Aku merasa heran,kenapa mereka terlihat tidak merasa takut terhadap kita sama sekali? Aku rasa,ada seseorang yang sedang mengarahkan mereka untuk melakukan semua itu..." lanjut Billy lagi,dengan nada dan wajah yang heran sekaligus bingung.


Ia sedang merasa bingung karena memikirkan apa sebenarnya motifnya para berandalan itu,dengan melakukan semua itu.Mereka semua,bahkan telah berani membakar beberapa anak perusahaan Tuan Mudanya.Untung saja,hanya 1 anak perusahaan saja yang berhasil mereka bakar,itupun hanya terbakar sedikit saja,berkat ketangkasan para anak buahnya yang memang diperintahkan untuk berada disana dan untuk berjaga-jaga disana.


"Tidak.Aku saja yang akan kesana,dan kamu hanya perlu menjaga istriku dengan baik saja...Mereka telah berani menganggu ketenanganku,aku akan segera memberi mereka sedikit pelajaran,supaya mereka tahu apa akibatnya karena telah berani bermain-main dengan kita..." jawab Sebastian dengan cepat,nada dan wajah tegasnya, sambil menyandarkan kepalanya kebelakang dengan gerakan santainya dan tatapan tajamnya yang lurus kedepan.


Walaupun saat ini ia masih terlihat tenang,tapi sebenarnya ia masih sibuk memikirkan tentang keselamatannya Jennifer.Apa lagi,firasat buruk yang sedari tadi malam ia rasakan itu,terus saja menganggu konsentrasinya.


"Tapi,Tuan Muda...Apakah tidak sebaiknya,Tuan muda saja yang menjaga Nona Muda?" tanya Billy dengan nada pelan dan perasaan bingung dibalik wajah santainya itu.


Ia hanya merasa khawatir dengan keputusan nekad yang telah diambil oleh Nona Mudanya malam semalam,dan ia berharap kalau Tuan Mudanya akan mampu menghentikan keinginan konyol Nona Mudanya itu,jadi saat ini mereka berdua harus segera bertukar posisi.


"Ada apa denganmu sebenarnya,hm?" tanya Sebastian dengan nada herannya,sambil memutarkan kursinya kearah Billy,tanpa merubah posisi menyandar santainya tersebut.


"Hah! Tidak,tidak ada apa-apa.Hanya saja,aku merasa kalau Nona Muda akan lebih aman,jika Nona Muda bersama Tuan Muda..." jawab Billy dengan nada dan wajah seriusnya,ternyata dirinya juga ikut merasakan firasat buruk yang sama seperti Tuan Mudanya.


Walaupun ia memang sudah lama berkerja dengan Tuan Hadden dan kemampuannya juga lumayan hebat,tapi tetap saja kemampuan dan ketangkasan Tuan Mudanya dalam bela diri dan menembaknya, lebih baik dari pada dirinya.


"Apakah kamu tidak sedang menyembunyikan sesuatu dariku,hm?" tanya Sebastian dengan nada heran dan tatapan yang menelisik tajam kearah Billy,baru kali ini ia melihat Billy yang merasa begitu khawatir dan kebingungan seperti ini.


Walaupun sedari tadi Billy masih bisa mempertahankan ekspresi wajah tenangnya,tapi kedua matanya sangat jeli untuk menangkap semua itu.


"Billy...Apakah kamu sedang menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya Sebastian lagi,dengan nada dan wajah tegasnya kembali,saat ia melihat Billy yang malah hanya terdiam saja dengan ekspresi wajah bingung yang mampu ia tangkap tersebut.


"Hah! Tidak,aku tidak sedang menyembunyikan apa-apa,Tuan Muda..." jawab Billy dengan cepat, saat ia baru menyadari tatapan menelisik tajam Tuan Mudanya itu.


Ia bingung harus melakukan apa sekarang?... Disatu sisi,Nona Mudanya memerintahkannya untuk tidak bicara apapun kepada Tuan Mudanya. Dan dilain sisi,jika sampai terjadi apa-apa terhadap Nona Mudanya nanti,karena dirinya yang terlalu memihak kepada Nona Mudanya itu.


Sudah dipastikan kalau Tuan Mudanya pasti akan langsung memukulnya habis-habisan atau mungkin akan membunuhnya saat itu juga,dan ia sendiri juga akan merasa bersalah.Padahal awalnya ia hanya ingin memberi sedikit pelajaran terhadap Tuan Muda egoisnya ini,tapi ia tidak menyangka kalau Nona Mudanya akan bersikap keras kepala seperti sekarang ini.


"Benarkah?" tanya Sebastian dengan tatapan yang sedang menelisik semakin tajam kearah Billy,tanpa bergerak sedikitpun dari posisinya tadi.


"Tentu saja benar,Tuan Muda.Sebenarnya,aku hanya sedang mengkhawatirkan tentang Irfan dan Rebeeca yang terlihat sangat mencurigakan belakangan ini..." jawab Billy dengan nada dan wajah seriusnya yang telah bercampur dengan ekspresi wajah khawatirnya itu.

__ADS_1


Tapi kali ini ia bukan hanya memberi alasan asal saja,karena ia memang sedang mengkhawatirkan semua itu.Dan belakangan ini,Irfan dan Rebeeca masih belum beraksi apapun


Ia bukan merasa takut 1au apapun,lebih tepatnya ia hanya merasa khawatir yang terlalu berlebihan.Tapi itu semua,karena sikap kedua majikannya yang sama-sama keras kepala.Belum lagi,tentang firasat buruknya itu.


"Bukankah yang lainnya sudah mengatakan kalau Irfan sudah berada dikota B sekarang,karena ingin ikut memeriksa semua yang telah terjadi disana, dan Rebeeca yang sedang berada diluar negeri saat ini..." ucap Sebastian dengan nada dan wajah santainya,sambil kembali memutarkan kursi kebesarannya tersebut kearah meja kerjanya itu.


"Asalkan kamu selalu melakukan setiap perintahku dengan baik,aku yakin kalau kita tidak akan mengalami kesulitan apapun..." lanjut Sebastian dengan nada dan wajah seriusnya,sambil memikirkan kembali keputusannya untuk berangkat kekota B nanti.


Sebenarnya sekarang bukan waktu yang tepat untuk ia pergi kesana,karena Daddy dan pamannya Jennifer bahkan tidak ada disini sekarang,Daddy yang sedang membawa istrinya pergi menikmati perjalanan bulan madu mereka yang ntah sudah keberapa kalinya dan paman Hadden yang masih sibuk dengan perkerjaannya yang belum juga selesai sedari hari itu.


Tapi beberapa pengusaha tersebut malah sibuk memaksa dirinya untuk bergegas berangkat kesana,untuk membantu mereka disana.Bukannya ia berpikir untuk meragukan kemampuannya Billy, tapi bagaimana kalau ada jebakan untuk mereka saat ini.


"Tapi Tuan Muda......." belum sempat kalimat keberatannya Billy selesai diucapkan,Sebastian sudah langsung menyelanya dengan cepat.


"Aku mempercayaimu..." sela Sebastian dengan nada dan wajah tegasnya yang terlihat tidak ingin menerima bantahan apapun lagi,dari Billy.


"Baik,Tuan Muda..." jawab Billy dengan cepat dan pasrah,dan ekspresi wajahnya terlihat sangat khawatir,tapi Sebastian malah mengabaikan wajah khawatirnya itu.


Tanpa Sebastian ketahui,kalau ia telah melanggar beberapa peraturan atau perintah yang telah diperintahkan oleh Tuan Mudanya tersebut. Sekarang, ia merasa semakin kebingungan dan sekaligus khawatir.


"Apakah istriku ada masuk kantor,hari ini?" tanya Sebastian dengan nada dan wajah serius yang sudah berubah menjadi lelah,sambil memejamkan kedua matanya.


'Bagaimana ini? Aku harus berpihak kepada siapa,sekarang?' lanjut Billy didalam hatinya, dengan perasaan khawatirnya.


Ingin berpihak kepada Sebastian,tapi ia merasa tidak tega terhadap Jennifer.Dan jika ia berpihak kepada Jennifer,ia harus melanggar beberapa peraturannya Sebastian.


Dan jika benar-benar sampai terjadi sesuatu pada Jennifer nanti,ia pasti akan merasa sangat bersalah.Dan sekarang,ia benar-benar merasa serba salah dengan sikap tegas yang seperti apa,yang harus ia ambil saat ini.


Sedangkan Sebastian,ia hanya diam saja,tanpa berniat ingin menanggapi ataupun membuka kedua mata terpejamnya itu.


'Kenapa sekarang,aku merasakan kalau ada yang telah hilang dari hidupku? Tapi apa?' batin Sebastian dengan perasaan bingungnya,tanpa membuka kedua matanya itu.


'Apakah sekarang aku benar-benar telah jatuh cinta pada istriku yang menyebalkan itu,hm? ' batin Sebastian lagi,tiba-tiba saja pertanyaan tersebut melintas dibenaknya barusan.


Sedari hari itu sampai sekarang,ia hanya tahu akan 1 hal saja,yaitu ia tidak ingin kehilangan Jennifer. Tidak ada yang boleh memiliki Jennifer,selain dirinya,itulah yang ada dibenaknya selama ini.


Tapi untuk kata cinta,ia masih merasa bingung tapi ia juga merasa kalau dihatinya memang telah terisi namanya Jennifer secara perlahan-lahan karena setiap harinya dibenaknya hanya ada Jennifer saja.


'Apa yang harus aku lakukan sekarang?' batin Sebastian lagi,semakin lama ia memikirkan hal yang satu itu,tapi lagi-lagi ia malah semakin bingung saja.

__ADS_1


Mau bertanya pada Billy,tapi Billy sama sekali tidak pernah memiliki kekasih satupun.Kepada orang tua mereka,itu hanya akan membuat dirinya akan merasa malu saja.Sepertinya ia akan bertanya kepada Erik saja,jika disaat ada waktu santai nanti.


Setelah itu,dan juga setelah perkerjaannya tidak sesibuk ini lagi,ia pasti akan mengajak Jennifer untuk berbicara baik-baik tentang hubungan mereka untuk kedepannya nanti.


Setelah merenung selama 10 menit lamanya, Sebastian segera berdiri dari duduknya dan menatap sekilas kearah jam tangannya yang sudah menunjukkan jam 4 sore lewat 20 menit,sambil menghela napas berat dengan panjang.


"Aku akan meeting 1 kali lagi,dan langsung berangkat kekota B.Dan kamu,lakukan tugasmu dengan baik,jangan sampai terjadi apa-apa dengan istriku.Jika tidak,kamu tahu sendiri apa akibatnya..." perintah Sebastian dengan nada dan wajah tegasnya,sambil berjalan keluar dari ruangannya dengan langkah lebar dan tegasnya,tanpa menunggu jawaban dari Billy lagi.


"Baik,Tuan Muda..." jawab Billy dengan cepat dan ekspresi wajah yang telah berubah menjadi campur aduk saat ini,sambil terus menatap punggung lebar Tuan Mudanya yang semakin lama semakin menjauh dari pandangannya.


"Apakah yang sedang aku lakukan ini,sudah benar?" tanya Billy pada dirinya sendiri,dengan bergumam pelan,tanpa mengalihkan tatapannya tersebut.


Tapi mau bagaimana lagi,Nona Mudanya sudah bertekad ingin meninggalkan Tuan Mudanya.Dan belum lagi,dengan Irfan dan Rebeeca yang bisa melakukan sesuatu yang buruk pada Nona Mudanya kapan-kapan saja.Sekarang,ia benar-benar dalam lingkaran kebingungan.


"Lebih baik,aku pergi menjemput Nona Muda terlebih dahulu..." gumam Billy lagi,dengan nada dan wajah lelahnya,iapun menjadi ikut-ikutan merasa lelah karena hanya sekedar memikirkan tentang kedua majikannya itu saja.


Setelah selesai bergumam,Billypun langsung berjalan keluar dari ruangan tersebut dengan langkah tegasnya,untuk segera menjemput Nona Mudanya.


Tapi bukan perusahaan Naava Group yang menjadi tujuannya saat ini,tapi ia akan menuju,dimana tempat Nona Mudanya yang pasti sedang sibuk merenung atau menunggunya datang menjemput. Tempat yang telah menjadi tempat favorit Nona Mudanya,selama 2 minggu ini.


***


Berbeda dengan Sebastian,Jennifer dan Billy yang saat ini sedang memiliki berbagai masalah. Ditempat lain,sepasang manusia malah sibuk mengobrol dengan senyum dan tawa mereka disebuah cafe sedari 30 menit yang lalu.


Dengan melihat senyum dan tawa mereka saja, semua orang yang melihatnya sangat yakin kalau mereka berdua memang sedang sangat bahagia saat ini.Hanya saja,tidak ada yang tahu kalau mereka berdua sedang merasa bahagia karena apa...


"Ayo,kita harus merayakan keberhasilan kita untuk semua yang telah kita lakukan...Cheers..." ucap wanita tersebut dengan nada dan wajah yang tersenyum senang, sambil memgangkat gelas anggurnya sedikit keatas.


"Apa yang kamu katakan,memang benar.Cheers..." jawab pria tersebut dengan nada dan wajah yang sama-sama tersenyum senang,sambil sedikit menyenggolkan gelas anggurnya kearah gelas anggurnya wanita tersebut.


"Tapi,apakah kita tidak terlalu cepat merayakannya?" tanya pria tersebut dengan nada pelannya dan wajah santainya kembali,setelah ia sudah selesai meneguk habis segelas anggurnya itusambil memikirkan wanita yang telah ia cintai sejak lama.


"Aku rasa,tidak juga.Bukankah kamu sendiri sudah mendengarnya,kalau priaku itu akan segera berangkat kesini sebentar lagi.Lagi pula,sebanyak yang aku dengar,priaku itu selalu mengutamakan perkerjaannya dari pada apapun.Apa lagi,aku sangat yakin kalau semua masalah yang telah kita buat itu,sudah mampu membuatnya tidak bisa terus duduk tenang dikursi kebesarannya itu" jawab wanita tersebut dengan nada dan wajah yang tersenyum yakinnya,ia juga langsung meneguk habis anggurnya itu, sama seperti dengan pria tersebut.


"Ya,perkataanmu ada benarnya juga.Lagi pula, sepertinya wanitaku juga sudah tidak ingin berada disampingnya lagi,dan kabar itu sangat bagus untukku.Rasanya,aku sudah tidak sabar ingin membawanya kesisiku dan kami akan segera menikah.Setelah itu,kami akan hidup bahagia untuk selamanya..." ucap pria tersebut dengan nada dan wajah yang tersenyum bahagia dan juga yakin,saat ia memikirkan hidupnya bersama wanita yang ia cintai untuk kedepannya nanti.


Ia merasa sangat senang sekaligus bahagia,saat tadi ia mendengar laporan dari anak buahnya kalau saat ini wanitanya akan segera meninggalkan suaminya.


"Aku juga sama sepertimu,aku juga sudah tidak sabar,untuk membuat priaku itu segera menjadi milikku seutuhnya dan selamanya.Tapi apakah kamu yakin, kalau kamu akan mampu mendapatkan hati wanitamu itu nantinya?" ucap wanita tersebut dengan nada dan wajah yang tersenyum bahagia lalu dengan nada mengejek diakhir kalimatnya sambil memerhatikan ekspresi bahagia diwajahnya pria tersebut.

__ADS_1


"Cih...Seperti kamu sendiri,akan mampu menaklukkan pria angkuh itu saja..." jawab pria tersebut dengan nada dan wajah yang tersenyum kesalnya,sambil memakai kembali Jasnya yang telah ia sampirkan dibelakang kursinya tadi.


__ADS_2