
Berbeda dengan Billy yang harus menahan segala rasa kesal dan yang lainnya itu,didalam ruangan tersebut,mereka berdua malah masih sibuk enak-enakan mengarungi samudra cintanya mereka tersebut.
Sebastian terus memacu tanpa lelah,hingga mampu membuat Jennifer semakin tidak berdaya dibawah kekuasaannya saat ini,selain hanya mampu mengeluarkan suara merdunya saja.
Sebastian sudah menahannya selama 3,4 hari ini,jadi hari ini ia tidak akan menahannya lagi,dan sekalian untuk memberi hukuman kepada Jennifer supaya hal yang mampu membuat darahnya naik tadi terulang kembali.
Setelah 50 menit berlalu...
Setelah cukup saling membalas deru napas tidak beraturan tersebut dan disertai suara merdu yang juga saling membalas,tapi tentunya suara merdunya lebih banyakberasal dari Jennifer.
Dan akhirnya samudra cintanya pun sudah selesai mereka arungi,dengan Sebastian yang telah mencapai puncak tertingginya dan juga kembali menyemburkan benih-benih unggulannya kedalam rahimnya Jennifer tanpa sempat dihitung lagi berapa banyak jumlahnya.
Sedangkan Jennifer,ia hanya mampu terbaring dengan tubuh tidak berdayanya dan masih sibuk mengatur napas tidak beraturannya tersebut.
Sedangkan Sebastian,ia langsung mendekatkan wajah tampannya yang sudah bermandi keringat itu kearah wajah cantik,tidak berdayanya Jennifer yang terlihat sangat menggemaskan dimatanya, sambil ikut mengatur napas tidak beraturannya itu.
"Lain kali,jika kamu berani memperlihatkan dada empukmu ini lagi...Aku akan menghukummu lebih lama lagi,dari pada yang kali ini..." peringat Sebastian dengan nada dan wajah seriusnya, sambil terus menetralkan deru napasnya yang masih terdengar tidak beraturan,hanya saja sudah mulai mengurang dari yang barusan.
'Tiba-tiba saja menyerangku,dan sekarang malah mengatakan hal yang sama sekali tidak bisa aku pahami.Dasar,sebenarnya ada apa dengan pria menyebalkan ini? Kenapa hari ini,ia terlihat aneh dan juga sangat menyebalkan...' batin Jennifer dengan menggerutu kesal panjang lebar dan juga menampilkan ekspresi wajah kesalnya,sambil berpikir keras tentang peringatan yang telah diberikan oleh suaminya barusan.
Ia membatin,tapi juga sambil memerhatikan Sebastian yang terlihat berniat ingin menyentuhnya lagi.Tapi itu hanya menurutnya saja, karena padahal Sebastian hanya ingin membantunya memakaikan dressnya lagi.
"Apa yang ingin ..........." kalimat kesalnya Jenniferpun terhenti,karena langsung disela oleh Sebastian dengan cepat.
"Diamlah..." sela Sebastian dengan nada dan wajah tegasnya setelah ia sudah selesai menutup resletingnya tadi yang hanya ia buka secukupnya saja.Lalu iapun langsung sedikit mengangkat tubuh polosnya Jennifer,supaya ia bisa lebih mudah untuk memakaikan kaca mata pada dada empuk istrinya itu,dan juga kembali merapikan dressnya Jennifer.
Untung saja,saat ia sedang menerkam rakus Jennifer tadi,ia tidak sampai mengerusakin dress istrinya seperti pada hari itu.Sedangkan Jennifer,ia langsung menunduk malu,dan membiarkan Sebastian melakukan perhatian yang sangat jarang ia lihat dan dapatkan itu.
"Bukankah,kita sudah pernah seperti ini? Kenapa kamu masih merasa malu juga,hm?" tanya Sebastian dengan nada dan wajah santainya, sambil terus melakukan kegiatan barunya tersebut dengan gerakan yang sedikit kaku dan juga kedua mata yang terus menelisik setiap bagian tubuh istrinya yang telah ia beri cetakan indahnya tadi.
Ia bahkan langsung tersenyum puas didalam hatinya,saat ia melihat begitu banyaknya cetakan maha karyanya yang ada hampir diseluruh tubuh polos hingga dileher istrinya itu.
"Dasar mesum..." jawab Jennifer dengan nada dan wajah kesalnya yang telah bercampur malu,saat ia mendengar dan melihat Sebastian yang begitu tidak tahu malunya,Sebastian juga mengabaikan perkataannya barusan.
Apa lagi,saat ia melihat jelas kalau tatapan santainya Sebastian itu,sedari tadi terus saja mengitari seluruh tubuh polosnya yang saat ini sudah tertutup oleh dressnya.
Tadi saja,Sebastian bahkan dengan santainya menyimpan kembali benda bawahnya yang telah tertidur itu kedalam celananya tersebut.
"Eh eh,stop,stop...Yang satu ini,biar aku saja yang akan memakainya sendiri..." lanjut Jennifer dengan cepat dan wajah memerah malunya,sambil menahan tangan kekarnya Sebastian yang ingin menaikkan kain segi tiganya yang tadi hanya disingkap hingga diatas lutut saja.
Sedangkan Sebastian,iapun kembali menarik tangannya yang sudah berada dipaha polosnya Jennifer,lagi-lagi ia harus kembali menahan senyumnya saat ia melihat wajah malunya Jennifer saat ini.
Setelah itu,ia segera mengambil kemejanya dan memakainya dengan gerakan santainya.Dan Jenniferpun juga segera merapikan kain segi tiganya tadi,dengan wajah yang masih terlihat sangat malu.
__ADS_1
"Sebaiknya,sekarang kamu pulang kerumah saja. Aku rasa,perkerjaanmu hari ini sudah cukup..." ucap Sebastian dengan nada dan wajah seriusnya, sambil mengambil Jas kerjanya dan juga sedikit membersihkannya karena terjatuh keatas lantai tadi,lalu ia langsung kembali memakaikannya ketubuhnya Jennifer.
Sedangkan Jennifer,ia tidak menjawab karena ia hanya berdiri bersandar disisi meja tersebut sambil sibuk memerhatikan sikap anehnya Sebastian yang hari ini terlihat sangat aneh baginya.
Karena hari ini sikapnya memang sangat aneh,Tuan Muda yang biasanya sangat jarang bicara,tapi hari ini Sebastian lumayan banyak bicara sedari ia datang keperusahaan ini tadi.
"Dan aku rasa,saat ini kamu sangat memerlukan ini..." lanjut Sebastian dengan nada menggodanya tapi wajahnya tetap terlihat santai,sambil mendekatkan kedua sisi Jasnya tepat didadanya Jennifer yang langsung bisa mengerti apa maksud dari perkataannya barusan.
Sepertinya sekarang ia sudah terbiasa dengan jarak dekat seperti ini dan permandangan- permandangan indah yang seperti barusan,rasanya bahkan ia telah mulai kecanduan sekarang.Tapi tentu saja,ia hanya akan merasa candu pada tubuh istrinya saja.
"Sepertinya mulai sekarang,kita harus sering-sering melakukannya,supaya kamu tidak akan merasa malu lagi..." lanjut Sebastian lagi,ia malah semakin gencar menggoda istrinya yang masih menampilkan ekspresi wajah malunya itu.
"Dasar mesum...Sepertinya,sekarang kepala besarmu ini telah dipenuhi dengan pikiran mesum semua..." ucap Jennifer dengan nada kesalnya dan wajah malu yang masih belum berkurang sedikitpun,sambil menepis kesal tangannya Sebastian dan juga langsung memegang kedua sisi Jas tersebut.
Karena saat ini ia memang sangat membutuhkan Jas kerja suaminya ini,untuk menutupi jejak-jejak yang telah suaminya beri padanya tadi.
"Memangnya apa yang salah dengan hal itu? Bukankah wajar saja,jika seorang pria yang sudah memiliki seorang istri,memiliki pikiran mesum?" tanya Sebastian balik,sambil merentangkan kedua tangannya keatas meja,tepat dikiri dan kanan tubuhnya Jennifer.
'Lagi pula,kamu sendiri yang telah mengubahku menjadi seperti ini...' lanjut Sebastian didalam hatinya,karena memang itulah kenyataannya.
Dan lagi lagi,ia kembali menahan senyumnya saat ia melihat Jennifer yang hanya mampu menampilkan wajah bingung yang bercampur malu saat ini, karena sedang bingung mau memberinya jawaban apa.
"Cup...Pulanglah bersama Billy,aku akan pergi keperusahaan sendiri saja..." ucap Sebastian dengan nada dan wajah tegasnya kembali,setelah ia sudah mengecup sekilas bibir kenyalnya Jennifer yang masih terlihat membengkak itu.
Apa lagi,beberapa meeting yang ada pada hari ini,mereka semua memang hanya menginginkan Sebastian sendiri yang harus langsung bertatap muka dengan mereka semua.
Dan karena tidak mau ada keributan,dan mereka semua juga berasal dari perusahaan yang bersih dan termasuk yang besar juga,jadi Sebastianpun tidak ingin terlalu mempersulitkan pihak manapun, termasuk dirinya sendiri.Lagi pula,ia hanya perlu menghadiri meeting tersebut beberapa kali saja, dengan waktu yang tidak akan sampai 1 jam.
Setelah ia selesai mengecup dan bicara,Sebastian segera berbalik badan dan berniat ingin berjalan keluar dari sana.Tapi suaranya Jennifer langsung berhasil menghentikan langkahnya yang ke3 itu,dengan cepat.
"Apa arti diriku,bagimu?" tanya Jennifer dengan nada dan wajah seriusnya,sambil terus menatap punggungnya Sebastian yang sudah berhenti itu.
Sedangkan Sebastian,ia terlihat sedang berpikir keras untuk menemukan jawaban,untuk ia berikan pada Jennifer.
Beberapa menit kemudian...
"Bagiku,kamu istriku" jawab Sebastian dengan singkat dan nada seriusnya juga,tanpa berniat ingin menoleh kearah Jennifer sedikitpun,karena ia masih sibuk memikirkan tentang jawabannya barusan yang memang bingung dan masih tidak mampu ia perjelaskan lebih banyak lagi.
Tapi jawaban singkat dan nada serius dari Sebastian itu malah terdengar sebagai lelucon dipendengarannya Jennifer,karena bukan itu jawaban yang diharapkan oleh Jennifer.
Bahkan Jennifer yang sedang sibuk menyentuh bibirnya karena kecupan dari Sebastian tadi itu,langsung melemah dan meluruh kebawah begitu saja.
"Apakah kamu melakukan itu semua,hanya karena sekedar nafsumu saja?" tanya Jennifer lagi,dengan nada dan wajah kesalnya saat ia melihat Sebastian yang kembali ingin melanjutkan langkahnya itu.
__ADS_1
Wajah malunya Jennifer tadipun bahkan langsung menghilang tanpa tersisa sedikitpun,karena rasa kesal dan rasa kecewanya yang kembali terasa itu.
"Ya,,,jika memang itu yang sedang kamu pikirkan saat ini.Aku harus apa,hm?..." jawab Sebastian dan sekalian bertanya,sambil membalikkan pelan badannnya kearah Jennifer.
Ia langsung menghela napas berat dengan panjang,saat ia malah kembali melihat tatapan kecewa dan sedihnya Jennifer yang pernah ia lihat pada hari itu.
'Ada apa lagi,dengannya? Bukankah ia memamg istriku,lalu aku harus menjawab apa,jika bukan menjawab itu?' batin Sebastian dengan perasaan bingungnya,sambil terus menelisik tatapan kecewa dan wajah sedih yang paling tidak suka ia lihat itu.
Sebenarnya didalam lubuk hatinya yang paling dalam,semuanya bukan hanya kata istri atau nafsunya saja,tapi ada sesuatu perasaan yang mampu membuatnya merasa kalau ia harus bisa memiliki Jennifer dan tidak boleh kehilangan istri cantiknya itu.
Hanya saja,sampai sekarang ia masih belum mengerti apa arti dari perasaan itu,dan ia bahkan bingung mau bagaimana caranya ia mengungkap perasaan yang masih tersembunyi didalam lubuk hatinya yang paling dalam itu.
"Kamu hanya perlu ingat,kalau kamu adalah istriku, dan selamanya akan tetap menjadi istriku.Jangan pernah sekalipun berpikir untuk berpaling dariku, ataupun menjauh dariku...Aku harap,kamu bisa mengerti apa maksudku kali ini..." lanjut Sebastian dengan nada dan wajah tegasnya yang bercampur serius,tanpa menghentikan tatapan menelisiknya tersebut.
Ntahlah,ia sendiri juga masih merasa sangat bingung dengan perasaan sebenarnya saat ini.Ia telah membekukan hatinya sejak kejadian yang telah menimpanya pada 1 tahun yang lalu itu,dan itu semua berkat Siska.Jadi sekarang,bagaimana bisa ia menjelaskan ataupun mengungkapkan apa perasaannya terhadap istri cantiknya ini.
Setelah selesai bicara,Sebastian langsung kembali berbalik badan dan berjalan keluar dari sana dengan langkah tegas dan juga ekspresi wajah datarnya kembali,sambil melirik sekilas kearah jam tangannya yang sudah menunjukkan jam 10 pagi lewat 20 menit,ia juga sambil merapikan rambutnya yang telah menjadi berantakan berkat remasan-remasannya Jennifer tadi.
Ia bahkan mengabaikan wajah memberengut kesalnya Jennifer yang disertai arti tatapan,yang telah bercampur aduk itu.
Saat ini ia harus bergegas untuk keperusahaannya, untuk memeriksa ulang dokumen-dokumen yang telah diperiksa oleh Billy dan belum sempat ia baca karena sedari tadi pagi ia terus sibuk mengawasi istri cantiknya ini.Dan ia juga akan sekalian makan siang diperusahaannya saja,ia memang harus bergegas,karena mereka akan meeting setelah ia selesai makan siang nanti.
Ya,walaupun ia tahu kalau sudah dipastikan,kalau Jennifer akan merasa semakin kecewa terhadapnya,tapi saat ini ia sendiri juga sedang kebingungan mau melakukan apa.Hingga akhirnya, iapun terpaksa memilih untuk mementingkan perkerjaannya yang menurutnya lebih mudah itu terlebih dahulu.
Sedangkan Jennifer,tatapan kecewanya yang masih tertuju kearah punggung lebarnya Sebastian tadi,ia langsung terduduk dikursinya tadi dengan gerakan tidak bersemangatnya setelah pintu ruangan tersebut sudah ditutup dari luar kembali oleh Sebastian.
"Cih...Kenapa aku selalu berhasil menjadi goyah seperti ini,saat berdekatan dengannya? Padahal ia hanya menganggapku sebagai istrinya saja,tidak lebih. Kenapa aku malah berharap terlalu tinggi seperti ini,padanya? Dasar menyebalkan..." gumam Jennifer dengan nada pelannya dan wajah kesalnya,sambil menepuk-nepuk pelan kepalanya dengan kedua tangannya dan gerakan kesalnya.
"Tidak,aku tidak boleh menangis,aku harus bisa lebih tegar dari yang pernah aku katakan pada hari itu..." lanjut Jennifer dengan nada pelan dan kesalnya, sambil menepis pelan beberapa tetes air matanya yang berhasil lolos melewati kedua ekor matanya barusan.
Rasanya ia sangat ingin menangis saat ini juga,tapi ia segera berusaha semampunya untuk menetralkan emosinya berkat segala rasa kecewanya tersebut.
Ia duduk terdiam disana selama 15 menit lamanya, tentunya dengan ekspresi wajahnya yang masih sama seperti tadi.
"Cih..." Jennifer kembali berdecih kesal,saat ia kembali mengingat tentang wajah kesal dan peringatan-peringatan yang telah diberikan oleh Sebastian padanya tadi.
Dan sekarang ia baru mengerti apa penyebabnya hingga dirinya mampu membuat Sebastian merasa sekesal dan menggila seperti tadi,ternyata hanya gara-gara ia memperlihatkan dada empuknya yang sebenarnya hanya terlihat sekitar 1 cm belahan gunung kembarnya saja.
Tadinya ia sangat berharap, kalau semua perhatian dan reaksi berlebihannya Sebastian tadi adalah bentuk ungkapan cinta untuk dirinya yang tidak pandai Sebastian ungkapkan padanya secara langsung.
Tapi sepertinya semua harapannya tadi harus sirna begitu saja,dan ia harus menguburkannya sedalam-dalamnya,supaya ia tidak akan berharap lebih seperti tadi lagi.
"Pulang? Ya,sepertinya saat ini aku memang harus pulang.Aku harap,Daddy dan Mommy bisa mengerti..." lanjut Jennifer lagi,dengan nada dan wajah tidak bersemangatnya,sambil sedikit membuka Jas tersebut dan menelisik dada terbukanya itu.
__ADS_1