Suami Tampanku Yang Sederhana

Suami Tampanku Yang Sederhana
Bab. 41


__ADS_3

"Bahkan untuk mengingat namamu saja,aku sering salah nama,seperti sedang berbicara sama orang-orang yang tidak memiliki identitas saja.Aku heran sama mereka berdua,selalu saja suka memerintahkan orang-orang baru untukku.Sangat menyebalkan..." gerutu Jennifer dengan panjang lebar dan wajah yang sedang memberengut kesal,tanpa menghentikan langkah tegasnya.


Karena sedari ia kecil,Daddy dan pamannya itu selalu saja menggonta gantikan pengawal pribadinya,hingga sudah hitung ratusan orang sampai saat ini.Padahal kesalahan para pengawal tersebut hanya masalah biasa menurutnya.


Tapi tidak kalau menurut Daddy dan pamannya.Karena menurut mereka,kalau tatapan mesum dan tatapan kagum yang diperlihatkan oleh para pengawal tersebut sangat bahaya dan tidak termasuk dalam salah satu ciri-ciri pengawal terbaik.


"Jika saja,Nona Muda tahu,kalau pria tersebut adalah pria yang sedang berhasil mengambil hatinya 1 tahun yang lalu" gumam Billy dengan nada pelannya dan wajah pasrahnya,karena ia masih belum bisa memberitahu Nona Mudanya,sebelum Tuan Mudanya mengizinkan.


"Apa barusan,kamu sedang mengatakan sesuatu?" tanya Jennifer dengan wajah penasarannya, saat ia mendengar sekilas gumaman kecil dan pelannya Billy barusan,sambil menghentikan langkahnya dan menoleh kearah Billy.


"Hah! Tidak,tidak ada Nona Muda.Aku hanya berkata kalau Tuan Arka dan Nyonya sudah menunggu Nona Muda di Mansion sedari tadi pagi" jawab Billy dengan cepat,sambil berusaha menetralkan rasa kaget dan gugupnya,untung saja tadi ia berhasil menghentikan langkahnya karena langkah Nona Mudanya yang tiba-tiba saja berhenti itu.


"Benarkah?" tanya Jennifer dengan kedua mata yang menelisik kearah wajah tenangnya Billy.


"Benar Nona Muda" jawab Billy dengan nada tenangnya.


"Awas saja,kalau kamu sampai ketahuan berbohong" ucap Jennifer dengan nada tegasnya,sambil berbalik badan,lalu ia kembali melanjutkan langkah tegasnya tadi.Dan diikuti oleh Billy yang langsung menghembus napas lega dengan pelan,saat ia melihat Nona Mudanya yang sudah kembali melangkah.


Sedangkan diseberang sana...


"Tuan Muda..." panggil sang supir yang ntah sudah keberapa kalinya,mungkin yang ini sudah hitung ke 5 kalinya,tapi Tuan Mudanya masih tetap terus diam dengan kedua mata yang terus saja tertuju pada Nona Mudanya.


"Tuan Muda..." panggil sang supir lagi,dengan nada yang agak sedikit tinggi.


"Hm...Ehm ehm" jawab Sebastian yang baru saja tersadar dari lamunannya,sambil berdehem untuk menetralkan rasa kaget dan malunya karena ketahuan sedang melamun.


Karena terlalu fokus sama wajah cantiknya Jennifer yang lumayan sempurna itu,dan juga wajah yang sedang memberengut tadi,ia malah menjadi orang b*d*h seperti ini.


"Tuan Muda,mobilnya Nona Muda sudah mau jalan.Apa kita akan mengikuti mobil Nona Muda,Tuan Muda?" tanya sang supir dengan nada pelannya,sambil menatap takut kearah Tuan Mudanya.


"Memangnya buat apa aku berada disini? Kalau kita tidak mengikuti mereka?" tanya Sebastian dengan wajah yang sedang menahan rasa kesalnya,karena Asisten yang biasanya selalu mengerti apa yang ia inginkan tanpa bicara,malah tidak bisa bersamanya hari ini.Dan yang lebih parahnya lagi,sang supir yang sedang menggantikan Asistennya ini,sedari tadi terus saja tidak mampu mencerna 1 kalimatnya sedikitpun.


"Kamu tunggu apa lagi,cepat jalankan mobilnya..."perintah Sebastian denga nada tegas dan nada tingginya, sambil menatap kesal kearah sang supir tersebut,saat ia melihat sang supir tersebut yang hanya diam saja dan terlihat seperti sedang berpikir keras.


"Ba baik,Tuan Muda..." jawab sang supir dengan cepat dan gugup karena merasa takut sama nada tinggi Tuan Mudanya itu,sambil menjalankan mobil tersebut dan menambahkan kecepatan mobil tersebut.


'Apakah aku harus memecatnya saat ini juga?...' batin Sebastian dengan perasaan kesalnya,sambil memerhatikan mobil yang sedang membawa Jennifer, yang sudah jalan duluan beberapa detik yang lalu karena tingkah b*d*h supir barunya ini.


Padahal ia sudah membatalkan meetingnya pagi ini,demi bisa melihat Jennifer.Tapi suasana hatinya yang baik ini,malah dirusak oleh sang supir tersebut,dalam hitungan menit saja.


Perjalanan merekapun berjalan lancar selama sekitar 10 menit,sehingga tiba-tiba saja...

__ADS_1


"Percepatkan mobilnya..." perintah Sebastian dengan nada tegasnya yang sudah bercampur rasa khawatirnya,saat ia melihat,kalau ada 2 mobil lain yang sedang mengikuti Jennifer.


"Tuan Muda,lebih cepat itu fatal dan lebih lambat itu aman." ucap sang supir dengan wajah takutnya,ia pikir kalau Tuan Mudanya sedang emosian atau kesal,makanya memerintahkan dirinya untuk percepatkan lajunya mobil tersebut.


Dan menurutnya,itu tidak baik dan tidak aman untuk keselamatan mereka berdua.Ia tidak mau mati muda,hanya karena kekonyolan Tuan mudanya.


"Apa kamu sudah tidak mau hidup lagi,ha?" tanya Sebastian dengan wajah marahnya,sambil mengeluarkan pistol andalannya yang sudah selama 1 tahun ini.


"Tapi Tuan Muda...Ba baik,Tuan Muda" jawab Sang supir tersebut dengan cepat,ia langsung mempercepatkan laju mobil tersebut,saat ia melihat kalau ternyata Tuan Mudanya sedang meniup-niup pelan ujung pistol yang sedang dipegangnya saat ini.


"Lebih cepat,apa kamu tidak bisa lebih cepat lagi? Apa kamu masih tidak bisa mengerti juga? Dan apa kamu tidak melihat,apa yang ada didepan sana?" tanya Sebastian dengan nada emosi yang sudah bercampur rasa kesal,saat ia melihat sang supir yang ternyata tidak juga mengerti dengan apa maksudnya tentang percepat tadi,karena laju mobilnya hanya bertambah sedikit saja.


Sang supirpun segera menuruti kata Tuan Mudanya,ia langsung menelisik apa yang dikatakan oleh Tuan Mudanya barusan.


"Baik,Tuan Muda" jawab sang supir tersebut dengan cepat dan wajah seriusnya,saat ia sudah melihat jelas apa yang dimaksudkan oleh Tuan Mudanya tadi,sambil menambahkan kecepatan mobil tersebut.


"Mohon maafkan ketidak waspadaanku,Tuan Muda" lanjut sang supir lagi,dengan nada sungguh-sungguh dan wajah bersalahnya,sambil terus fokus pada mobil Nona Mudanya,karena ia benar-benar tidak menyadarinya tadi.


Sebastian hanya terus berusaha menetralkan rasa kesalnya saja,dan mengabaikan permintaan maaf dari sang supir tersebut.


'Kenapa Billy malah mengirim supir seperti ini untukku...' batin Sebastian dengan wajah datar dan juga tenangnya yang sedang menahan rasa kesalnya pada Billy, sambil memakai kaca mata hitam dengan sebelah tangannya,kaca mata yang memang sudah ada diatas kepalanya sedari diperjalanan ke Bandara tadi.


Lalu ia mulai bersiap-siap untuk menembak,setelah ia sudah sedikit membuka jendela mobil supaya dirinya bisa leluasa untuk menembak.


Sebastian hanya bisa menghela napas pelan saja,untuk saat ini.Mungkin nanti saja,ia akan melampiaskan rasa kesalnya pada Billy .Karena untuk saat ini,ia harus segera membereskan 2 mobil pengacau tersebut terlebih dahulu.


Sedangkan dimobilnya Jennifer...


"Nona Muda,bersiap-siaplah.Sepertinya ada yang sedang mengikuti kita..." ucap Billy dengan wajah seriusnya,saat ia sudah memastikan kalau 2 mobil yang sudah ia perhatikan sedari tadi itu memang sedang mengikuti mereka.


"Benarkah?" tanya Jennifer dengan wajah malasnya,sambil menelisik disekitar mobilnya.


Ia sudah sangat hapal sama kejadian yang seperti ini,karena ia memang selalu mengalaminya,jika ia sedang pulang kesini dan sedang keluar rumah dan juga sedang berbelanja.


"Daddy..." Jennifer langsung berteriak kesal dengan nada pelannya,saat ia melihat kalau memang ada yang sedang mengikuti mereka saat ini,ntah ia harus merasa senang atau sedih,karena telah menjadi putri dari seorang Arka Septian Naava.


Bahkan kedua mobil tersebut sudah mulai mendekati mobil mereka,karena terlalu malas dan juga kesal,ia sampai tidak menyadari kalau masih ada 1 mobil lagi yang sedang ikut melaju dibelakang sana.


Billy langsung menahan senyumnya,saat ia melihat tingkah lucu Nona Mudanya itu.


" Cepat berikan pistolmu padaku...Biar aku saja yang menembak mereka,kamu fokus menyetir saja" perintah Jennifer dengan nada tegasnya,saat ia melihat Billy yang sedang memegang pistol yang baru saja dia keluarkan.

__ADS_1


"Tapi,Nona Muda......" bantahan Billy pun langsung disela oleh Jennifer dengan cepat.


"Tidak ada tapi-tapian...Cepat berikan padaku,atau aku akan meloncat dari dalam mobil ini,saat ini juga..." sela Jennifer dengan nada mengancamnya,tapi malah terdengar seperti candaan ditelinganya Billy.


Tapi walaupun begitu,Billy tetap memberi pistol tersebut pada Nona Mudanya dengan wajah pasrahnya,sambil melirik kearah mobil Tuan mudanya yang sudah berjarak dekat dengan 2 mobil tadi,melalui kaca yang ada diatas kepalanya itu.


Sepertinya sebelum Nona Mudanya sempat beraksi terlebih dahulu,kedua mobil tersebut pasti sudah terkapar tidak berdaya,karena ia sangat yakin sama kemampuan Tuan Mudanya.Dan memikirkan hal itu saja,sudah mampu membuat dirinya bisa lebih tenang dalam berkendara,walaupun ia tahu kalau Nona Mudanya juga mampu dalam melawan musuh mereka.


"Aku akan membuat kalian tidak bisa tersenyum lagi,untuk menit-menit kedepannya" ucap Jennifer dengan wajah kesalnya,saat ia melihat pria yang menyetir bersama teman-temannya itu sedang tersenyum sinis kearahnya dengan pistol yang juga sudah tertuju kearahnya,karena mobil mereka sudah berdampingan saat ini.


Tapi baru saja Jennifer berniat ingin membuka kaca jendela mobilnya tersebut,tiba-tiba saja...


"Dor dor dor..." terdengar suara tembakan untuk beberapa kali, dari belakangnya untuk mobil yang berada dibelakang mobilnya Jennifer.


Ternyata suara 3 tembakan itu,tembakan yang berasal dari peluru yang ditembakkan oleh Sebastian barusan,dan tepat mengenai 3 buah ban mobil miliknya salah satu dari 2 mobil musuh Daddynya Jennifer tadi,hingga mampu membuat mobil tersebut melaju tidak menentu karena kehilangqn kendali akibat 3 ban mobil mereka yang sudah bocor mendadak itu.


Beberapa detik kemudian...


"Dor dor dor ... Bom ..." kembali terdengar suara beberapa tembakan dari Sebastian,dan langsung disusul dengan suara ledakan dari mobil tersebut karena beberapa tembakan tadi yang tepat langsung mengenai bagian pengisi minyak mobil tersebut.


"Dor dor dor dor dor..." kembali terdengar beberapa tembakan yang saling menembak dikedua pihak,antara mobilnya Sebastian dan mobil musuh yang masih tersisa 1 tadi.


"Siapa yang sedang menembak mereka?" tanya Jennifer dengan wajah kagetnya yang sudah berubah menjadi penasaran,sambil terus fokus kearah mobil Rolls-Royce Cullinan Klassen yang berwarna hitam,mobil yang baru terlihat dari kepulan asap,akibat ledakan mobil tersebut.


"Aku tidak tahu,Nona Muda.Mungkin saja,dia adalah malaikat penyelamat kita,Nona Muda" jawab Billy dengan asal dan nada pelannya,ia memang sudah tahu siapa malaikat penyelamat tersebut tapi ia masih belum bisa memberitahu Nona Mudanya saat ini,karena ia terus kembali mengingat perintah dari Tuan Mudanya tadi pagi.


"Apa kamu pernah mendengar tentang malaikat yang akan muncul disiang bolong seperti ini? Atau apa kamu sering menonton film constantine? Sampai kamu bisa berpikir hal mustahil seperti itu.Lagi pula,apa kamu lupa,kalau mobil ini adalah mobil Lincoln Navigator L,walau 2 buah granat sekalipun yang menyerang kita,mobil ini masih bisa menahannya.Jadi,kita tidak memerlukan malaikat apapun..." tanya Jennifer dengan nada malasnya dan panjang lebar,tapi tatapannya tidak beralih dari tempatnya sedikitpun.


"Aku tidak pernah mendengarnya,Nona Muda" jawab Billy dengan cepat,sambil melirik kearah Nona Mudanya yang masih sibuk fokus kearah mobil Tuan Mudanya.Ia juga mengabaikan perkataan sombong Nona Mudanya barusan.


'Itu film tentang malaikat pemburu iblis,bukan malaikat penyelamat,Nona Muda...' lanjut Billy dengan perasaan herannya,sambil menghela napas pelan karena sudah malas mau bedebat sama Nona Mudanya itu.Mungkin saja karena fokusnya sudah terbagi,jadi cara bicara Nona Mudanya pun mulai melantur kemana-mana.


Jenniferpun hanya terus menelisik kedalam isi mobil yang Billy sebut malaikat penyelamat tadi itu,tanpa menanggapi jawabannya Billy lagi.


Tapi sayangnya,pria yang sedang sibuk menembak itu hanya terlihat sebatas dari atas kepala hingga ujung hidungnya saja,itupun kedua matanya tertutup oleh kaca mata hitam,hingga membuat dirinya tidak bisa melihat jelas siapa pria yang ada dibalik kaca mata tersebut.


Sedangkan didalam mobil yang sedang berada disampingnya Jennifer tadi,anak buah dari musuh Daddynya Jennifer,terus saja mengumpat karena mobil rekan mereka sudah menjadi abu saat ini.


"****,siapa mereka?" tanya salah satu dari dalam mobil musuh tersebut,sedangkan beberapa teman yang sedang bersamanya sudah mulai merasa takut karena tembakan lawan mereka sangat cepat dan terus saja tepat sasaran,terbukti dari 2 temannya yang sudah tertembak didalam mobil tersebut,padahal jendela mobil mereka hanya terbuka sedikit saja.


"Dor dor dor..." kembali terdengar tembakan yang beruntun,tembakan yang ntah sudah keberapa kalinya,dan lagi-lagi tepat mengenai 3 buah ban mobilnya musuh tersebut.

__ADS_1


Dan mobil tersebutpun langsung oleng seperti mobil musuh sebelumnya tadi,tanpa menunggu lagi,Sebastian langsung kembali menargetkan bagian dipengisi minyak mobil tersebut.


"Dor dor dor...Bomm..." kembali terdengar suara tembakan dan disusul dengan suara ledakan,akhirnya 2 mobil tersebut langsung hancur tidak bersisa ditangannya Sebastian dalam sekejab mata saja.


__ADS_2