Suami Tampanku Yang Sederhana

Suami Tampanku Yang Sederhana
Bab. 152


__ADS_3

"Tapi kamu harus ingat 1 hal,kamu hanya milikku saja.Dan tidak ada satupun pria yang boleh mengambilmu dariku,karena hanya aku yang pantas untukmu.Dan kamu juga harus ingat, alasanku yang paling utama adalah karena aku mencintaimu...Ayo,sekarang kita harus segera masuk kedalam..." lanjut Sebastian dengan peringatan bisikan yang terdengar seperti gumaman pelan ditelinganya Jennifer,dan ekspresi wajah malasnya diakhir kalimatnya, sambil menarik pelan tangannya Jennifer tersebut.


'Memangnya aku barang...Dasar...' batin Jennifer dengan perasaan kesalnya tapi hanya sebentar saja,karena perasaan bahagia lebih memenuhi hatinya saat ini,karena kalimat panjang lebarnya Sebastian tersebut.


Sebastian yang tadinya sudah pasrah dan tidak berniat ingin berkata apapun lagi,malah dibuat bingung oleh Jennifer yang sibuk menahan tangannya untuk pergi dari sana.


"Ayo,kita masuk kedalam,dan kamu bisa beristirahat cukup saat didalam nanti..." ajak Sebastian lagi,dengan berusaha tetap tenang,sambil menahan segala rasa kacaunya tersebut,dan terus menatap wajahnya Jennifer yang masih terlihat bingung.


Kesal,lelah,pasrah,dan ia bahkan merasa kecewa karena ternyata Jennifer begitu mudahnya melupakan dirinya tapi sayangnya ia juga tidak bisa menyalahkan Jennifer.Dan sekarang,dirinya harus berjuang untuk mendapatkan cinta istrinya sendiri.


Dan yang paling membuatnya merasa bingung sekarang,karena selama dirinya bersama Jennifer dalam beberapa bulan ini,mereka berdua bahkan tidak memiliki waktu kebersamaan apapun.


Telepon dan pesan dari Jennifer saja,sangat jarang ia balas.Jika dibalaspun,ia hanya akan membalas dengan kata yang super singkat saja.Jadi bagaimana caranya ia akan memperjuangkan cintanya,untuk mengingatkan Jennifer tentang dirinya saja,ia merasa agak kesulitan.


"Bisakah kamu mengulangi apa yang telah kamu katakan tadi,hm?" tanya Jennifer dengan nada pelannya dan wajah bingung yang semakin lama semakin mengurang,sambil menarik tangannya Sebastian yang sibuk menariknya supaya berdiri dari duduknya tersebut.


"Mengulanginya? Sepertinya tidak perlu lagi,aku sendiri bahkan telah lupa dengan apa saja yang telah aku katakan tadi.Ayo,sebaiknya kita masuk kedalam saja... Terik panas matahari disini tidak baik untukmu..." jawab Sebastian dengan nada dan wajah seriusnya,sambil menarik pelan tangan dan juga tubuhnya Jennifer tapi nyatanya Jennifer masih belum ingin beranjak dari tempat duduknya.


"Tapi aku ingin mendengarnya.Kamu bisa kan,mengulanginya lagi?" tanya Jennifer dengan nada dan wajah memelasnya,sambil mempertahankan tubuhnya yang akan diangkat paksa oleh Sebastian.


"Aku hanya ingin kamu mengulanginya saja,aku ingin mendengarnya lagi..." lanjut Jennifer dengan nada dan wajah memelasnya yang tidak berkurang sedikitpun,sambil menggoyang-goyangkan lengannya Sebastian dengan gerakan manjanya.


Sedangkan Sebastian,keningnya langsung mengernyit heran sambil terus menelisik wajah memelasnya Jennifer tersebut.Setelah ia selesai menelisik selama beberapa derik,Sebastianpun akhirnya kembali duduk disampingnya Jennifer,setelah ia sudah selesai menghela napas pelan dengan panjang.


Iapun memilih untuk mengalah,saat ia mengingat kembali perkataannya sang dokter pada beberapa hari yang lalu,tentang moodnya Jennifer yang akan berubah-ubah karena kehamilannya tersebut.


"Memangnya kamu mau aku mengulangi yang mana satu,hm?" tanya Sebastian dengan nada dan wajah bingungnya,sambil terus mengenggam tangannya Jennifer.


"Bagaimana kalau bagian yang terakhirnya saja..." jawab Jennifer dengan nada senangnya dan wajah yang berpura-pura biasa saja.


"Baiklah... Ehem ehem ehem..." Sebastianpun kembali berdehem untuk menetralkan degupan jantungnya yang saat ini mulai menyerangnya lagi.


"Tapi kamu harus ingat 1 hal,yaitu kamu hanya milikku saja.Dan tidak ada satupun pria yang boleh mengambilmu dariku,karena hanya aku yang pantas untukmu.Dan kamu juga harus ingat, alasanku yang paling utama adalah karena aku mencintaimu.." Sebastianpun kembali mengulangi apa yang ia katakan tadi,dengan ekspresi wajah yang sedang menahan degupan jantungnya,sambil memperhatikan perubahan ekspresi wajahnya Jennifer.


"Apakah kamu bisa mengulangi kalimat yang akhirnya saja?" tanya Jennifer dengan nada seriusnya,sambil menahan tawanya yang mungkin akan meledak kapan saja.


"Kalimat yang akhir? Apakah yang aku mencintai mu itu?" tanya Sebastian dengan nada dan wajah bingung dan juga heran,tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah cantiknya Jennifer sedikitpun.


"Iya,kalimat yang itu.Aku masih ingin mendengarnya lagi..." jawab Jennifer dengan nada dan wajah santainya,tapi nyatanya ia merasa sangat senang didalam hatinya.


"Aku mencintaimu..." ucap Sebastian dengan nada pelannya.


"Lagi... " pinta Jennifer dengan nada senangnya.


"Aku mencintaimu,aku mencintaimu,aku benar-benar telah mencintaimu sekarang. Apakah kamu telah mengingat dan mengenaliku sekarang?" lanjut Sebastian,ia juga bertanya dengan nada dan ekspresi wajah yang penuh harap.


"Tidak,aku bahkan tidak tahu apa namamu sedari dirumah sakit sampai saat ini. Jadi,bagaimana bisa aku bisa mengenalimu lebih dekat lagi,hm? Kamu ini ada-ada saja" jawab Jennifer dan sekalian bertanya dengan nada santainya dan juga berpura-pura tersenyum bingung.


Sebastian kembali menghela napas berat dengan panjang,saat ia mendengar perkataannya Jennifer barusan.

__ADS_1


"Baiklah.Kalau begitu,maukah kamu memulai semuanya dari awal bersama aku.Tidak apa-apa jika saat ini kamu belum mencintaiku,kamu hanya perlu membuka hatimu untukku.Dan setelah ini,aku akan memberimu semua cintaku, dan aku juga akan membahagiakan dirimu sebanyak yang kamu inginkan. Percayalah... Disisa hidupku ini,aku hanya akan mencintaimu seorang saja...Bagaimana?" ucap sebastian panjang lebar dengan satu tarikan napas,ia sudah bingung mau mengatakan apa saat ini.


Yang ada dibenaknya saat ini,hanyalah segera mendapatkan cintanya Jennifer dan sisanya mereka akan hidup berbahagia bersama sang buah hati mereka yang masih dalam pertumbuhan didalam perut datarnya Jennifer saat ini.


"Tadinya aku menyuruhmu untuk mengulangi perkataan-perkataanmu tadi,karena aku ingin mendengarnya lebih jelas lagi.Dan ternyata kamu memang tidak berpengalaman dalam mengungkapkan cinta pada seorang wanita..." jawab Jennifer dengan nada seriusnya,sambil terus menahan tawanya.


Sedangkan Sebastian,ia langsung mendengkus kesal saat ia mendengar pernilaiannya Jennifer yang terdengar seperti ejekan tersebut.


"Dan sekarang aku jadi bertanya-tanya,apakah ini baru pertama kalinya kamu menyatakan cinta pada seorang wanita,hm? Atau aku termasuk wanita yang sudah keberapa kalinya?" tanya Jennifer lagi,dengan nada dan wajah yang tersenyum menggodanya,sambil terus memerhatikan wajah kesalnya Sebastian.


"Dasar..." Sebastian hanya mampu berucap kesal,sambil berdiri dari duduknya dengan gerakan kesalnya.


Padahal ia telah berbicara lumayan panjang lebar sedari tadi,ia mengira kalau dengan mengungkapkan segala perasaan cintanya tersebut,Jennifer akan merasa senang atau mungkin akan bersorak bahagia untuknya.


Tapi nyatanya Jennifer malah menertawainya,dan ia bisa melihat jelas wajahnya Jennifer yang sedang menahan tawa saat ini.


Dan sekarang moodnya telah berubah menjadi kesal,dan ekspresi wajah penuh harapnya tadi telah menghilang begitu saja.


"Auchk..." terdengar pekikan sakit dari mulutnya Jennifer,karena keningnya yang tiba-tiba saja disentil pelan oleh Sebastian,tapi tetap saja terasa ngilu sakit dikeningnya tersebut.


"Itu akibatnya,karena kamu telah berani menertawaiku..." ucap Sebastian dengan nada dan wajah kesalnya,sebelum Jennifer sempat bertanya kesal padanya.


"Dasar menyebalkan..." ucap Jennifer dengan nada dan wajah kesalnya,sambil mengelus-elus keningnya yang masih terasa ngilu itu,dengan sebelah tangannya lagi.


"Ayo,sebaiknya kita segera masuk kedalam sekarang..." ajak Sebastian yang ntah sudah keberapa kalinya sedari tadi,sambil bernimelangkah pergi dengan tarikan pelan digenggamannya tersebut.


Tapi baru saja kakinya melangkah yang langkah pertamanya,sebuah panggilan manis yang telah seminggu lebih ini tidak pernah ia dengar, kembali terdengar dipendengarannya tersebut.


"Honey..." Jennifer kembali memanggil dengan nada yang yang lebih tinggi dari yang tadi,hingga berhasil membuat Sebastian yang terdiam tadi langsung berbalik badan kearahnya secara perlahan-lahan.


"Apakah kamu memanggilku,barusan?" tanya Sebastian dengan nada dan wajah tidak percayanya,wajah kesalnya tadi ntah sudah menghilang kemana.


"Jadi,apakah itu artinya kamu sudah mengenaliku sekarang?" tanya Sebastian dengan nada dan wajah tersenyum senangnya, saat ia melihat anggukan pelannya Jennifer tersebut.


"Sayang..." panggil Sebastian dengan nada dan wajah yang tersenyum senang sekaligus bahagia,sambil mendekat kearah Jennifer dan memeluknya dengan perasaan sayang.


Tapi setelah beberapa detik ia menyalurkan segara perasaan rindu sekaligus bahagia tersebut,Sebastian segera melepaskan genggaman tangan dan menjauhkan pelukan mereka saat ia baru teringat akan sesuatu.


"Tapi sejak kapan kamu bisa mengenaliku?Bukankah tadi kamu masih belum bisa mengenaliku? Kenapa sekarang kamu,,," tanya Sebastian dengan nada dan wajah bingungnya dan menjeda perkataannya diakhir kalimatnya, sambil menelisik wajah tersenyum senangnya Jennifer.


"Menurutmu?" tanya Jennifer balik,dengan nada dan wajah tersenyum menggodanya,sambil berdiri dari duduknya supaya tubuhnya bisa sejajar dengan Sebastian yang sedang berdiri saat ini.


Sebastian terlihat sedang berpikir keras,wajah bingungnya langsung berubah menjadi kesal saat ia baru menyadari kebod*hannya tersebut.


"Jadi kamu telah membohongiku,bahkan sedari kamu sudah sadarkan diri hari itu..." ucap Sebastian dengan nada dan wajah kesal yang telah bercampur tidak percaya,ternyata dirinya yang biasanya selalu cerdas,sekarang malah bisa dengan begitu mudahnya dibohongi oleh istrinya sendiri.


"Dasar menyebalkan..." lanjut Sebastian dengan nada dan wajah kesalnya,saat ia kembali melihat anggukan pelannya Jennifer.


"Bisakah kamu mengulangi yang tadi itu lagi,Honey...? Aku sangat ingin mendengarnya lagi..." tanya Jennifer dengan nada dan wajah yang tersenyum menggodanya,sambil menahan tawanya.

__ADS_1


"Dasar..." Sebastian hanya mampu menahan rasa malunya,sambil menggaruk-garukkan pelan tengkuk lehernya yang tidak gatal itu.


Jenniferpun langsung tertawa kecil,saat ia memang sudah tidak bisa menahannya lebih lama lagi.


"Aku baru tahu,ternyata suami tampanku ini tahu rasa malu juga..." ucap Jennifer dengan nada mengejeknya,sambil terus tertawa kecil.


"Aku juga baru tahu,ternyata istriku ini berani mengerjaiku sampai seperti ini,hm..." ucap Sebastian dengan nada dan wajah kesalnya, sambil memeluk Jennifer dengan gerakan pelannya.


"Siapa yang menyuruh kamu begitu jual mahal padaku,sampai aku merasa bosan dan ingin segera mengakhirinya.Dan juga..... "Jennifer yang baru saja ingin mengeluarkan uneg-unegnya tersebut,Sebastian malah sudah langsung menyelanya dengan cepat.


"Jangan pernah mengatakan akan mengakhirinya lagi,karena mulai sekarang,aku tidak akan pernah mengecewakan kamu lagi..." sela Sebastian dengan nada dan wajah seriusnya,sambil memeluk erat tubuh langsingnya Jennifer.


"Benarkah? Apakah perkataanmu ini bisa dipercayai,Honey?" tanya Jennifer dengan nada dan wajah seriusnya juga,untuk memastikan apa yang ia dengar barusan.


"Kamu bisa pegang kata-kataku ini,aku tidak akan pernah mengingkari kata-kataku,terlebih kata-kata ini untukmu.Jika aku mengingkarinya,kamu bisa langsung membunuhku saat itu juga... " jawab Sebastian dengan nada dan wajah yang semakin serius,sambil terus memerhatikan wajahnya Jennifer.


"Ya,ya,melihat kesungguhanmu sedari tadi,sepertinya aku memang harus mempercayaimu.Tapi apakah kamu tidak pernah berpikir ulang,apakah tempat ini dan cuaca panas yang seperti ini akan pantas untuk dijadikan tempat dan waktu, untuk mengungkapkan rasa cinta terhadap seorang wanita cantik yang sepertiku ini,hm?" tanya Jennifer dengan panjang lebar,sambil memerhatikan disekitarnya mereka.


Halaman belakang yang memang terlihat luas dan dipenuhi oleh bunga-bunga yang indah,tapi cuacanya sangat terik karena saat ini waktunyamw akan menjelang siang hari.


Dan untung saja sedari tadi mereka berdua berada ditempat yang agak tertutup,hingga kulit mereka tidak sampai terbakar oleh terik panas tersebut.


Sedangkan Sebastian,kedua matanya mulai mengitari disekitar halaman belakangnya tersebut.


"Ya,memang tidak seperti yang kamu harapkan.Tapi setidaknya,aku termasuk pria yang kamu harapkan,bukan..." jawab Sebastian dengan nada bangganya dan wajah tersenyum malunya.


"Dasar... Tapi tetap saja,tempat,keadaan,dan cara pengungkapan cintamu ini memang sangat buruk... Aku rasa,yang paling terburuk dari sekian banyaknya cara yang pernah orang-orang lakukan,yang aku lihat selama hidupnya aku..." ucap Jennifer dengan nada dan wajah kesalnya, sambil merangkulkan kedua tangannya kelehernya Sebastian.


"Jadi,apa itu artinya kamu menolak cintaku?" tanya Sebastian dengan nada pelannya,sambil menahan senyumnya karena wajah kesalnya Jennifer tersebut.


"Tidak,aku tidak pernah berkata seperti itu. Tapi,memangnya wanita bod*h mana yang akan menolak cinta dari pria tampan dan sekaya dirimu,hm?" jawab Jennifer dengan nada dan wajah yang tersenyum menggoda,sambil terus menatap kedua matanya Sebastian yang tidak berhenti menatapnya sedari tadi.


Sedangkan Sebastian,ia langsung tersenyum bahagia.Tidak ada hal apapun lagi,yang mampu membuatnya merasa sebahagia seperti saat ini.


"Cup...Maafkan aku... " ucap Sebastian dengan nada dan wajah bersalahnya,setelah ia sudah selesai mengecup sekilas bibirnya Jennifer.


"Untuk apa kamu meminta maaf,Honey?" tanya Jennifer dengan nada dan wajah bingungnya.


"Untuk semua luka yang telah aku berikan padamu,selama kamu bersamaku.Dan juga tentang kejadian yang telah menimpamu,pada seminggu yang lalu...Maafkan aku,karena aku begitu bodoh sampai terus mengabaikan kamu selama ini..." jawab Sebastian dengan panjang lebar.


"Tapi sekarang kamu tenang saja,karena aku tidak akan pernah menyia-yiakan kamu lagi. Berlian berhargaku ini,lebih berharga dari apapun yang ada didunia ini.Jadi,aku pasti akan menjagaimu melebihi menjaga nyawaku sendiri..." lanjut Sebastian dengan nada dan wajah seriusnya,sambil membelai sayang rambutnya Jennifer.


"Apakah kamu tidak bisa ? Kalau berbicara sedikit lebih santai,tidak lelru seserisu begitu?" tanya Jennifer dengan nada dan wajah yang tersenyum lucu,tapi didalam hatinya merasa paling bahagia lebih dari dari siapapun saat ini.


"Tidak bisa sayang,bukankah kamu juga tahu kalau itu adalah bagian dari diriku,hm? Dan apakah perbuatan burukku itu masih dapat dimaafkan,sayang?" jawab Sebastian dan sekalian bertanya dengan nada dan wajah bersalah yang masih sama,sambil terus memerhatikan wajah cantiknya Jennifer yang sedang tersenyum.


"Aku akan memaafkan kamu,asalkan kamu mengganti nama panggilan untukku,kenama panggilan yang lebih manis lagi...Bagaimana?" tanya Jennifer balik,dengan nada dan wajah yang tersenyum penuh harap.


"Tidak masalah.Aku akan langsung mencari nama panggilan yang cocok untukmu,sekarang juga.Bagaimana kalau,,,," Sebastian terlihat sedang berpikir keras dengan wajah seriusnya tersebut,tapi malah terlihat lucu dimatanya Jennifer,hingga mampu membuat Jennifer terus tersenyum bahkan tertawa kecil.

__ADS_1


"Bagaimana kalau aku memanggilmu dengan nama Swetty saja,terdengar manis seperti pemiliknya.Bagaimana?" tanya Sebastian dengan nada dan wajah yang tersenyum senang dan juga lebar,sambil mengangkat dan mengendong Jennifer dengan posisi berhadapan seperti itu.


__ADS_2