Suami Tampanku Yang Sederhana

Suami Tampanku Yang Sederhana
Bab. 36


__ADS_3

"Memangnya kalian berdua kalau sedang berbicara seberapa dekat,sampai mampu membuatmu tidak bisa berpikir dan tidak bisa bernapas?" tanya Ayah dengan nada santainya sambil menahan senyumnya,ia sengaja ingin menggoda putra lugunya itu.


"I itu...Tidak begitu dekat juga...Ya,jarak kami saat sedang berbicara sekitar berjarak 30 cm" jawab Sebastian dengan nada gugupnya,sambil berusaha mempertahankan wajah santainya.


"Apa maksudmu,30 cm itu hanya jarak antara pijakan kaki kalian berdua saja?" tanya Ayah dengan wajah yang tersenyum menggoda kearah Sebastian yang langsung menjadi salah tingkah.


"Iya.Bu bukan...Iya,maksudku begitu juga dengan jarak antara wajah kami berdua" jawab Sebastian,masih dengan nada gugupnya, sambil menggaruk-garukkan pelan pelipisnya karena salah tingkah.


"Benarkah? Padahal Ayah tidak bertanya tentang jarak antara wajahnya kalian berdua..." tanya Ayah dengan ekspresi wajah yang masih sama.


"Ayah,aku serius.Jika Ayah tidak mau membantuku,jangan banyak bertanya sedari awal tadi..." jawab Sebastian dengan wajah kesalnya,saat ia menyadari kesengajaan Ayahnya.Bahkan, Ayahnya sedang tertawa kecil saat ini.


Sebastian langsung merutuki dirinya sendiri didalam hatinya,ternyata tadi ia telah salah karena mengkhawatirkan tentang Ayahnya yang akan merasa kesal atau syok.Tapi nyatanya, malah Ayahnya yang sedang mwmbuatnya merasa kesal saat ini.Ntah apa reaksi Ayahnya kalau sempat ia bercerita jujur tadi,mungkin akan lebih parah dari yang saat ini.


"Baiklah,baiklah,Ayah akan serius sekarang..." ucap Ayah dengan nada seriusnya,setelah tawa kecilnya barusan sudah reda.


"Bagaimana hubunganmu dengan kekasihmu itu sekarang?" tanya Ayah,sambil terus menelisik wajah kesalnya Sebastian.


"Apakah maksudnya Ayah,Siska?" tanya Sebastian dengan wajah bingungnya,ia lupa kalau keluarganya masih belum tahu jelas tentang hubungannya bersama Siska.


"Iya.Memangnya kekasihmu yang mana lagi,yang akan Ayah tanya? Seperti kamu memiliki beberapa kekasih saja" tanya Ayah balik dengan wajah malasnya,sambil menatap malas kearah Sebastian yang hanya mampu tersenyum cenges-ngesan saja.


"Ya,kami sudah tidak memiliki hubungan lagi karena dia benar-benar telah mengkhianatiku.Ya,mungkin lebih tepatnya dia sengaja mendekatiku,hanya untuk mendapatkan uangku saja.Dan aku begitu bod*hnya,sampai mempercayainya begitu saja" jawab Sebastian dengan nada santainya,dan ia memang merasa sangat bod*h karena dirinya berhasil dibodohi oelh seorang wanita yang seperti Siska.


"Ya,Ayah bisa melihatnya" ucap Ayah dengan nada pelannya,saat ia melihat jelas kalau sudah tidak ada cinta lagi di kedua matanya Sebastian untuk Siska.


"Memangnya apa yang telah Ayah lihat? Apa Ayah sedang melihat kebod*hanku sekarang?" tanya Sebastian dengan nada yang sudah mulai merasa kesal,ia ingin memastikan kalau apa yang ia pikirkan itu tidak benar.


'Ya,Tuhan.Kenapa aku baru menyadari,kalau putraku ternyata memiliki sisi b*d*hnya juga' batin Ayah sambil terus menatap tidak berdaya kearah Sebastian yang sedang menuntut jawaban dari dirinya.


"Iya,kalau kamu menganggapnya begitu" jawab Ayah dengan nada malasnya,sambil berdiri dari duduknya.


"Ayah,kamu mau kemana?" belum sempat Sebastian menampilkan rasa kesalnya,ternyata ia harus menampilkan wajah bingung terlebih dahulu karena Ayahnya tiba-tiba saja berdiri dari duduknya dan berniat berjalan keluar dari dalam kamarnya.


"Ayah? Tentu saja,Ayah mau keluar dari sini.Ayah mau cari udara segar didapur sana,bersama Ibumu.Dan apa kamu tidak sadar kalau kita sudah hampir 2 jam berada didalam sini.Dan apa kamu tidak berkerja hari ini?" jawab ayah dan sekalian bertanya balik,dengan nada santainya kembali dan wajah tidak bersalahnya.


"What? Tapi Ayah bahkan belum memberitahuku sedikitpun cara untuk menghilangkan gangguan tidurku.Apakah Ayah lupa,kalau tadi Ayah sudah berjanji padaku?" tanya Sebastina balik dan mengabaikan pertanyaannya Ayah barusan,dengan nada kesalnya.Apa lagi,saat ia melihat wajah tidak bersalah Ayahnya saat ini.


"Kamu tidak perlu khawatir,karena nanti kamu juga akan terbiasa seiring berjalannya waktu.Nikmati saja..." jawab Ayah dengan nada yang tetap santai.


'Yang benar saja,putraku menyuruhku untuk membantunya.Penawarnya saja ada pada dirinya wanita itu,bertahanlah untuk 1 tahun kedepan,nak' batin Ayah,saat ia mengingat kembali pada ceritanya Sebastian tadi yang mengatakan kalau Jennifer akan pergi selama 1 tahun kedepan,baru akan kembali kesini lagi.


"Ayah,sebenarnya apa kamu serius ingin membantuku?" tanya Sebastian dengan nada yang semakin kesal.


"Tergantung sama apa yang akan kamu percayai.Baiklah,Ayah akan kedapur saja" jawab Ayah,sambil berbalik badan.Ia benar-benar sudah mulai merasa sesak karena harus berada didalam sana bersama putra b*d*hnya itu.

__ADS_1


"Ayah, tidakkah kamu merasa kasihan padaku.Tidakkah kamu sedikit berbaik hati dengan menyarankan apa saja yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Sebastian dengan cepat dan nada memohonnya,sambil menahan rasa kesalnya pada Ayah.


"Yang harus kamu lakukan? Tentang apa?" tanya Ayah dengan pura-pura bingung,setelah ia sudah berbalik badan kembali.


"Ya,tentang semuanya" jawab Sebastian dengan nada lambatnya,sambil menampilkan ekspresi memelas diwajahnya.


"Apa kamu mencintai wanita yang bernama Jennifer itu?" tanya Ayah dengan nada seriusnya,sambil menelisik wajahnya Sebastian yang langsung berubah menjadi bingung karena tiba-tiba saja diberi pertanyaan yang seperti itu darinya.


"Hmm,tidak" jawab Sebastian dengan nada lambatnya,sambil berpikir dan terus menatap bingung kearah Ayah,karena Ayahnya seperti tidak memiliki pertanyaan yang lainnya saja.


Sedangkan ayah,ia langsung tersenyum didalam hatinya.Ia bisa melihat jelas kalau apa yang dikatakan oleh Sebastian barusan tidak sama dengan apa yang hatinya katakan.


"Kalau begitu,ikutilah apa kata hatimu saja.Pesan Ayah hanya satu,pikirkan baik-baik terlebih dahulu sebelum kamu ingin melakukan hal tersebut.Hal apapun itu...Ingat,kamu harus memikirkannya dengan baik-baik terlebih dahulu" ucap Ayah dengan nada dan wajah seriusnya.


"Dan satu lagi,kamu jangan coba-coba berniat ingin pergi kerumah sakit manapun untuk berkonsultasi.Jika tidak,Ayah akan menghajarmu sampai tidak bisa berjalan lagi" lanjut Ayah lagi,lalu ia langsung berbalik badan dan berjalan keluar dari dalam kamarnya Sebastian dengan langkah lebarnya,tanpa menunggu jawaban dari Sebastian lagi.


'Aku harus menyembunyikan dimana wajah tebalku ini,kalau sampai mantan rekan-rekan kerjaku mengetahui kalau betapa b*d*hnya putraku ini' batin ayah dengan perasaan malasnya,sambil terus melangkah.


Sedangkan sebastian,ia masih sibuk mencerna perkataan panjang lebar Ayahnya barusan.


"Ayah,apa maksudmu berkata seperti itu.Ayah,aku sedang meminta bantuanmu,bukan malah membuat diriku menjadi semakin bingung dengan kalimat-kalimat anehmu barusan" panggil Sebastian dengan nada kesalnya sambil berdiri dari duduknya,saat ia melihat Ayahnya yang ternyata sudah menghilang dibalik pintu kamarnya.


Berbeda dengan sebastian yang sedang merasakan kesal,Ayah malah tertawa kecil diluar kamarnya Sebastian sambil terus berjalan untuk mencari keberadaan istrinya.


"Seperti kamarku akan membuat orang merasakan sesak saja..." gumam Sebastian dengan nada pelannya tapi tetap dengan rasa kesalnya,saat ia mengingat perkataan Ayahnya yang mengatakan,kalau ingin keluar untuk mencari udara segar.


Kemudian iapun segera keluar dari dalam kamarnya,dan berjalan keluar dari dalam rumah untuk langsung pergi berkerja.Bahkan ia tidak berniat ingin berpamitan sama Ibunya yang sedang memasak saat ini,ia tidak mau melihat Ayahnya,karena sudah dipastikan kalau ia akan merasa semakin kesal dan semakin kesal lagi.


***


Seminggu kemudian...


Hari ini dimana waktunya Sebastian harus membuat keputusan untuk hal apa yang telah ditawarkan oleh Pak tua tersebut.Tapi nyatanya Sebastian masih sibuk dengan rasa bingungnya,antara terima atau tidak.


Tapi walaupun begitu, perkerjaannya tetap ia kerjakan dengan baik dan lancar selama seminggu ini. Sebastian memang terus saja memikirkannya,hanya saja ia mampu menyembunyikan rasa bingungnya tentang hal tersebut pada semua rekan-rekan kerjanya,kecuali kepada 3 sahabatnya itu.


"Pak..." panggil salah satu karyawan yang ada disana,sambil berjalan cepat kearah Sebastian yang baru saja keluar dari arah dapur karena Sebastian baru saja selesai makan siang.


"Ada apa?" tanya Sebastian dengan kedua tangannya yang memang sudah berada didalam saku celananya sedari ia berjalan dari dalam dapur tadi.


"Pak,didepan sana ada 3 pria berjas yang sedang mencarimu.Pria-pria berjas yang seperti minggu lalu itu" jawab karyawan tersebut dengan cepat,sambil menunduk hormat kearah Sebastian yang langsung berhenti tepat disampingnya.


"Pria berjas? Minggu lalu?" tanya Sebastian dengan wajah bingungnya,sambil menebak-nebak siapa 2 pria tersebut.


"Iya Pak.Apakah Bapak lupa,dengan pria-pria yang telah merusak pintu ruangannya Bapak hari itu?" tanya karyawan tersebut dengan nada pelannya.

__ADS_1


Sebastian yang sudah mengingatnya pun langsung berjalan kearah depan,tempat dimana 2 pria tersebut berada.Ia juga mengabaikan pertanyaannya karyawan tersebut,dan terus saja melangkah lebar.Dan langkah lebarnya pun,juga langsung diikuti oleh karyawan tersebut dari belakangnya.


"Apa yang kalian inginkan lagi?" tanya Sebastian dengan nada tegasnya pada 2 pria berjas tersebut yang sedang berdiri memunggung,setelah ia sudah berada dibelakangnya 2 pria berjas tersebut.


"Maaf,kalau kami menganggu Tuan muda.Tapi Tuan menyuruh kami untuk menjemput Tuan Muda" jawab pria berjas tersebut,bahkan 2 pria berjas tersebut langsung berbalik badan dan sedikit menunduk hormat kearah Sebastian yang masih saja menampilkan wajah tegasnya.


'Pak tua itu benar-benar selalu mampu membuatku merasa kesal' batin Sebastian dengan perasaan kesalnya.Apa lagi saat ia kembali mendengar panggilan Tuan Muda untuk dirinya,dan ditambah lagi dengan sikap hormat dari mereka.Ntah ia harus merasa senang atau sedih dengan keadaannya saat ini,ntahlah...


Dan mungkin saja, Pak tua tersebut baru menyadari kalau dirinya tidak mengetahui alamat Mansionnya.Jadi,Pak tua tersebutpun langsung mengirim ke2 pria berjas tersebut untuk menjemput dirinya


"Tuan Muda..." panggil salah satu pria dari 2 pria berjas tadi,saat ia melihat calon Tuan Muda mereka hanya diam saja.


Dan tanpa menjawab atau banyak bicara lagi,Sebastian langsung berjalan keluar dari dalam Restoran tersebut.Ntah apa yang ia pikirkan,tapi yang ia tahu jelas kalau ia harus menuruti langkah kakinya saat ini.


2 pria berjas yang melihatnyapun langsung berjalan cepat mengikuti langkah lebarnya Sebastian dengan sedikit berlari.


Bahkan Sebastian tidak perlu mencari dengan susah payah,mobil miliknya Pak tua tersebut.Karena sudah terlihat jelas ditempat parkiran sana,dengan beberapa pengawal yang berada disekitar mobil tersebut.


Sebastian sendiri juga bingung pada dirinya yang berjalan sendiri dan menuruti perintah dari Pak tua tersebut,padahal dirinya sendiri masih bingung.Tapi seperti saran Ayahnya hari itu,ia harus mengikuti kata hatinya.Dan langkah kakinya pun langsung mengikuti kata hatinya begitu saja.


Sedangkan ke 3 sahabatnya Sebastian,mereka ber 3 hanya mampu menatap dalam diam kearah punggungnya Sebastian yang perlahan-lahan mulai menghilang dari pandangan mereka ber 3.


Selama seminggu ini mereka ber 3 terus saja dilarang untuk bertanya tentang Pak tua ataupun Jennifer.Jika mereka bertanya,mereka akan langsung terancam mendapatkan hukuman.


Jadi,mereka ber 3 pun hanya boleh bertanya hal-hal lain selain yang 2 itu,dan sekarang mereka ber 3 juga hanya mampu menatap saja.


Di Mansionnya Hadden Padantya Naava...


Pak tua yang sedang berdiri dijendela ruang kerjanya,langsung tersenyum senang saat ia melihat Sebastian yang baru saja keluar dari dalam mobil miliknya.


"Nak,sepertinya apa yang telah kamu lakukan,mulai mendapatkan hasiĺ.Tenang saja,paman pasti akan berusaha untuk membantumu,semampu paman" gumam Pak tua dengan nada pelannya yang ditujukan untuk keponakannya Jennifer,sambil berjalan kearah sofanya dan duduk disana dengan tenang.


"Tok tok tok..." terdengar suara ketukan pintu dari luar ruangan kerjanya Pak tua.


"Masuk..." jawab pak tua dengan nada tegasnya,dan ia sudah tahu kalau didepan pintu ruangannya adalah sebastian yang sedang didampingi oleh anak buahnya untuk keruang kerjanya.


"Ceklek..." pintu ruangannya pun langsung terbuka dengan gerakan pelan,dan terlihatlah Sebastian yang langsung berjalan masuk kedalam ruangan kerja tersebut dengan wajah dan juga langkah tenang.


Sebastian langsung duduk dikursi sofa yang ada didalam ruangan tersebut,kedua matanya menelisik setiap sudut didalam ruangan tersebut.


Dan tidak ada bagian yang menarik dimatanya,karena ruangan tersebut memang sedikit lebar tapi hanya ada sebuah lemari kecil yang tertutup rapat,1 buah kursi,1 buah meja kerja,1 set sofa.Dan yang lebih parahnya lagi,warna ruangan tersebut semuanya serba hitam.


"Bagaimana? Apakah kamu sudah memutuskannya?" tanya Pak tua dengan nada santainya,sambil menatap kearah Sebastian yang sibuk menelisik pelan semua isi ruangannya.


"Apa mereka keluargamu?" tanya Sebastian dengan menyembunyikan rasa bingungnya dibalik nada santainya,sambil menunjuk kearah sebuah bingkai foto besar yang ada didinding, yang tepat berada dihadapannya,melalui ekor matanya.Sebuah foto besar yang berada diantara segitu banyaknya foto-foto kecil atau sedang yang berada di sekitar foto paling besar tersebut.

__ADS_1


__ADS_2