
Sekarang,Tuan Mudanya malah menambahkan perkerjaannya dengan menyuruhnya memberi kado ulang tahun pada Nona Mudanya.Tapi yang lebih parahnya lagi,harus atas namanya sendiri.
Ntahlah,jika saja Sebastian bukan termasuk orang yang ia hargai dan ia sayangi sebagai saudara, mungkin saja ia akan langsung mengundurkan diri secepatnya tanpa berpikir panjang lagi...
"Apa kamu sudah tidak ingin hidup lagi,ha?" tanya Sebastian dengan nada kesalnya,karena Billy telah berani menyela perkataannya,padahal itu sudah hitungan ke 5 kalinya selama 1 tahun Billy bersamanya tapi tetap saja ia merasa kesal.
"Maafkan aku,Tuan Muda..." jawab Billy dengan cepat dan nada pasrahnya,mau melawan bagaimanapun,ia tetap tidak akan menang.
"Jangan lupa untuk memberikannya pada Jennifer,dan sekalian jemput ke 3 sahabatku nanti malam..." perintah Sebastian dengan nada tegasnya dan seperti biasanya ia juga mengabaikan permintaan maafnya Billy.
Ia bahkan juga mengabaikan deritanya Billy untuk beberapa hari ini,dan sekarang ia menambahkannya lagi tanpa merasa kasihan sedikitpun.
"Baik,Tuan Muda..." jawab Billy dengan cepat dan menahan segala rasa kesalnya,sekarang perkerjaannya semakin bertambah.Belum lagi,ia harus memikirkan tentang jawaban apa yang akan ia berikan,jika Nona Mudanya bertanya tentang kado tersebut.
Billy terus saja merutuki Tuan Mudanya dengan panjang lebar setelah Tuan Mudanya sudah menutup telepon tersebut,bahkan orang-orang yang sedang meeting bersamanya karena dirinya harus mewakili Sebastian itupun tidak berani menegur Billy ataupun bersuara sepatah katapun.
Mereka semua juga tidak mengerti,Billy yang ntah sedang menggerutu kesal apa,karena nada gerutuan kesalnya sangat pelan,terdengar seperti gumaman yang pelan sekali.
Kembali ke Sebastian...
Sebastian langsung menyimpan HPnya dengan gerakan pelannya,sambil tersenyum kecil,senyum yang bahkan ia sendiri tidak mengerti apa artinya.
Ia hanya tahu kalau hari ini atau malam ini Jennifer akan berulang tahun,karena ia masih ingat jelas kapan tanggal ulang tahunnya Jennifer tanpa perlu orang lain mengingatkan padanya lagi.
Tanggal tersebut tersimpan sendiri dibenaknya tanpa ia sadari,dan ia merasa kalau dirinya harus memberi sesuatu pada Jennifer sebagai hadiah ulang tahun darinya.Dan tidak mungkin ia memberinya langsung pada Jennifer dan mengatas namanya sendiri,bisa-bisa Jennifer akan baper dan semakin tidak mampu ia hadapi nanti.
Awalnya ia ingin memesan lebih awal,supaya ia bisa memerintahkan pada Billy untuk memberikannya pada Jennifer,pada pergantian malam tadi,tapi ia merasa kalau itu akan terlihat berlebihan.Jadi,ya begitulah...
"Tok tok tok..." terdengar suara ketukan pintu dari luar kamarnya tersebut yang sudah ia duga pasti pelayan yang ada disana,wajah tersenyumnya tadipun berubah menjadi datar kembali,lalu iapun berjalan kearah pintu dan berniat ingin makan siang,karena perutnya memang terasa agak lapar juga saat ini.
***
Malam harinya,semua orang sudah berkumpul dihalaman sampingnya Mansion tersebut,dengan wajah tersenyum bahagia tulusnya semua orang yang berada disana karena keluarganya Naava tidak pernah membeda-bedakan derajat mereka semua dan sangat ramah,keluarga Naava hanya tidak menyukai 1 hal saja yaitu pengkhianatan.
Jennifer,Sebastian dan yang lainnya pun juga sudah keluar dan berada disana,termasuk ke 3 sahabatnya Sebastian yang sudah dijemput oleh Billy tadi.
Sekarang mereka semua sudah mulai bernyanyi lagu ulang tahun sambil bertepuk tangan untuk Jennifer yang sudah mulai berdoa dan bersiap-siap akan meniup lilin ulang tahunnya yang ke 22 tahunnya.
Sedangkan Sebastian,ia hanya tetap berdiri disudut halaman tersebut sedari 20 menit yang lalu,sambil ikut bertepuk tangan tanpa nyanyian dan juga senyuman, dengan tatapan tenang yang terus saja terarah pada Jennifer,dan ia juga mengabaikan suara-suara berisik karena proses acara kecil yang sedang berlangsung itu.
Tapi walaupun berdiri disudut sana,Sebastian masih bisa melihat dengan jelas wajah tersenyum bahagianya Jennifer dari tempatnya berdiri karena jarak mereka hanya berjarak sekitar 20 langkah saja.
"Lihatlah pria dingin itu..." ucap Erik dengan wajah yang tersenyum kesal,saat ia melihat Sebastian yang berdiri tidak jauh dari mereka,Sebastian bahkan tidak menyapa mereka saat mereka sampai tadi.
__ADS_1
"Memang menyebalkan sih,tapi lihatlah,ia masih ingin bertepuk tangan..." ucap Elisa dengan wajah yang tersenyum senang,ia sangat yakin kalau Sebastian memang tertarik sama Nona Jennifer, lihatlah perubahan kecil yang menurutnya besar itu.
"Ia juga sama sekali tidak terganggu dengan suara berisik disekitarnya,dan hal itu tidak pernah terjadi dalam 1 tahun ini..." timpal Elvan dengan wajah tersenyum kecilnya,ternyata Jennifer lebih mampu dalam mengubah sahabatnya itu,dari pada mereka ber 3.
Sedangkan Erik,ia hanya mengangguk- nganggukkan pelan kepalanya saja,pertanda kalau ia juga sependapat dengan kekasihnya dan Elvan.
'Iya,kalian memang benar.Padahal biasanya,Tuan Muda selalu lebih memilih untuk menghindar atau mendiamkan mereka dengan caranya sendiri.Tapi sekarang lihatlah,Tuan Muda bahkan berdiri dengan sangat tenang disana,dengan keadaan sekitar yang seperti ini...' batin Billy dengan wajah yang tersenyum senang,setidaknya berkat Nona Mudanya,wajah Tuan Mudanya tidak akan terus datar saja,untuk kedepannya.
Lalu iapun mengalihkan pandangannya dari Tuan Mudanya kearah disekitarnya untuk memeriksa keamanan disekitar mereka,begitu juga dengan Aldy yang juga berada disekitar sana karena ikut membantu perkerjaannya Billy.
Setelah nyanyian mereka semuanya dirasa cukup dan juga sudah membaca doanya didalam hati dengan kedua tangan yang terkatup rapat dan kedua mata yang terpejam,Jenniferpun segera meniup lilin-lilin yang telah tertata rapi diatas kek ulang tahunnya tersebut,setelah ia melirik sekilas kearah Sebastian yang masih setia menatapnya.
Kemudian Jenniferpun langsung memotong kecil kue kek pertamanya dengan wajah yang terus tersenyum bahagia,dan membawakan kek kecil tersebut pada Sebastian yang masih tetap berdiam diri ditempatnya tadi.
Berbeda dengan Daddy dan Mommy yang menatap malas dan juga kesal kearah Jennifer, sahabat-sahabatnya Sebastian,Sylvia,Billy, Aldy dan yang lainnya,mereka semua malah menatap senang kearah Jennifer dan juga Sebastian.
"Ini untukmu,cepat buka mulutmu,aaa..." ucap Jennifer dengan nada senangnya sambil menyuapkan potongan kecil kek tersebut kearah mulutnya Sebastian,setelah ia sudah sampai dihadapannya Sebastian.
"Cepat buka mulutmu,tanganku sudah mulai merasa pegal karena menunggumu berpikir..." lanjut Jennifer lagi,dengan nada kesalnya saat Sebastian belum juga membuka mulutnya untuk menerima suapan kecilnya tersebut.
Sebastian yang masih merasa bingung dibalik wajah tenangnya itu,iapun langsung melirik sekilas kearah sekitarnya,lalu menatap potongan kek kecil dan wajah kesalnya Jennifer secara bergantian.
"Tuan Sebastian,aku mohon cepat buka mulutmu...Aku bukan hanya ingin menyuapimu saja,aku ingin menyuapi keluargaku juga..." lanjut Jennifer lagi,dengan wajah yang semakin memberengut kesal,karena Sebastian masih saja setia dengan mulut rapatnya.
'Wanita ini,kenapa harus pakai menyuapiku segala.Memaksa lagi...' batin Sebastian dengan perasaan bingungnya yang bercampur rasa kesal,tapi walaupun bingung dan juga kesal,ia tetap membuka mulutnya dengan gerakan pelan.
Sedangkan tidak jauh disana,sedari Jennifer berjalan mendekat kearah Sebastian tadi,Erik dan Billy sibuk mengabadikan momen yang menurut mereka indah itu dengan HP mereka masing-masing.
"Ayo, buka lagi,ini masih ada.Aaa..." ucap Jennifer dengan nada maksanya,sambil kembali menyodorkan suapan kedua kalinya kehadapan wajahnya Sebastian.
Sebastian yang memang tidak tahu harus berbuat apa,iapun hanya mampu menerima suapan tersebut dengan mulut terbuka pasrah hingga suapan ke 3 untuk ukuran potongan kecilnya Jennifer tadi.
"Sudah habis.Aku merasa sangat bahagia malam ini,karena kek kecil pertamaku sudah habis untukmu seorang.Ingat,kamu tidak boleh melupakannya, karena ini adalah kek yang diisi dengan cinta dan doaku untukmu..." ucap Jennifer dengan wajah yang tersenyum bahagia,saat potongan kek kecil pertama yang ia suapi untuk Sebastian itu sudah habis.
'Kenapa wanita ini,selalu saja tidak tahu malu, berbicara tanpa dipikir terlebih dahulu...' batin Sebastian dengan mempertahankan wajah tenangnya,sambil mengelap sisa kek dikedua sudut bibirnya dengan jari telunjuknya.
"Apakah kamu tidak memiliki hadiah special untukku pada malam ulang tahunku ini?" tanya Jennifer dengan wajah penuh harapnya,sambil menanti dengan tidak sabaran,jawaban dari Sebastian yang masih setia berdiam diri sedari tadi.
"Tidak..." jawab Sebastian akhirnya,dengan nada santainya,sambil mengambil tisu yang sedang disodorkan oleh Aldy yang baru saja sampai disampingnya.
"Coba kamu pikirkan baik-baik,mana tahu saja kamu lupa kalau sebelumnya kamu sudah menyediakan hadiahnya untukku..." ucap Jennifer yang mulai merasakan kesal,ia masih berharap kalau Sebastian sudah menyediakan hadiah special yang indah untuknya.
"Aku benar-benar tidak menyediakan hadiah apapun untukmu,Nona Jennifer..." jawab Sebastian dengan nada tegasnya dan wajah tidak bersalahnya.
__ADS_1
"Kamu ini memang benar-benar memyebalkan, dasar tidak punya perasaan...Menyesal aku menyuapimu tadi,dengan potongan kek pertamaku itu. Seharusnya,aku memberikannya pada kedua orang tuaku saja..."ucap Jennifer dengan wajah yang memberengut kesal dan juga kecewa,sambil berjalan pergi dari hadapannya Sebastian dengan beberapa hentakan kecil kakinya,ternyata Sebastian sama sekali tidak memikirkan perasaannya.
Sedangkan Sebastian,ia hanya tetap berdiri ditempatnya tanpa berniat ingin membujuk atau meminta maaf pada Jennifer sedikitpun.Tapi walaupun terlihat masih berdiri tenang disana,ia langsung tersenyum didalam hatinya saat ia melihat wajah memberengut kesalnya Jennifer.
"Sekarang kamu baru mengingat sama kedua orang tuamu,hm?" tanya Mommy dengan nada kesalnya, setelah ia melihat putri sulungnya itu sudah berada dihadapan mereka berdua.
Karena memang biasanya,Jennifer akan memberi mereka terlebih dahulu,lebih tepatnya Jennifer akan memberi untuknya terlebih dahulu,baru suaminya.Tapi sekarang,lihatlah,posisinya sudah tertukar sama Sebastian.
"Maaf,Mom,Dad..." jawab Jennifer dengan wajah yang tersenyum cenges-ngesannya,sambil mengambil potongan kek untuk kedua orang tuanya dan juga menyembunyikan wajah kesalnya tadi.
Sedangkan Mommy yang masih merasa kesal tadipun langsung dipeluk oleh Daddy dengan sayang,untuk menenangkan rasa kesalnya Mommy,dan pelukan tersebutpun mampu membuat rasa kesalnya Mommy menjadi berkurang.
"Nah,sekarang,gantian Mommy.Aaa..." ucap Jennifer dengan wajah yang benar-benar tersenyum bahagia,rasa kesalnya langsung menghilang karena melihat kedua orang tuanya yang selalu berada didekatnya saat ia berulang tahun,sambil menyuapi Mommy yang langsung membuka mulutnya dengan senang hati.
Kemudian Jenniferpun bergiliran menyuapi Daddy,lalu menyuapi Sylvia yang memang sedari tadi sudah menunggu dengan kesabaran penuhnya.
"Nona Muda..." panggil Billy yang ntah sejak kapan sudah berada ditengah-tengah dan diantara mereka semua,dan tepat dibelakangnya Jennifer.
'Aku harus berhasil,tidak ada kata gagal dalam hidupku...Semoga saja,kali ini aku juga akan berhasil...' batin Billy dengan perasaan khawatir dibalik wajah tenangnya,ia terus berdoa didalam hatinya sedari ia melangkah mendekat tadi,supaya dirinya diberi kemampuan lebih untuk melewati tugas yang menurutnya berat ini.
"Ada apa?" tanya Jennifer dengan wajah bingungnya sambil berbalik badan,setelah ia sudah selesai menyuapi Sylvia.
Sedangkan para pengawal dan para pelayan,semuanya sudah diperintahkan oleh Daddy untuk mengambil sendiri kue dan makanan-makanan yang ada disana dengan sesuka hati mereka.
"I itu,Nona Muda..." jawab Billy yang tiba-tiba saja bingung mau menjawab apa,sambil meremas pelan sebuah kado kecil yang berada digenggaman kedua tangannya saat ini.
"Itu apa?" tanya Jennifer dengan wajah yang semakin bingung,sambil meletakkan pelan piring kek tadi keatas meja.
"Nona Muda,selamat ulang tahun.Ini,untuk Nona Muda..." jawab Billy dengan berusaha untuk tetap tenang,sambil menyodorkan kado tersebut kearah Jennifer dan juga melirik sekilas kearah adik perempuan,Daddy dan Mommynya Jennifer yang sudah berada disamping kiri-kanan Nona Mudanya.
Sedangkan Sebastian,ia hanya tetap dengan posisinya dan wajah tenangnya,dan juga tatapan yang sedari tadi tidak berpindah sedikitpun.
Ia hanya berdiri dengan bersedekap dada dan menyandarkan tubuh kekarnya kesalah satu tembok yang ada disana,yang lebih parahnya lagi,sama sekali tidak ada ekpresi bersalah diwajah tampannya tersebut.
"Memangnya,ini apa?" tanya Jennifer dengan nada herannya,sambil menatap kado tersebut.
Ia mengerti kalau dirinya memang sedang berulang tahun malam ini,tapi Billy yang sudah ia anggap sebagai kakaknya itu,dan yang sudah bersama pamannya hampir 10 tahun ini,tidak pernah melakukan hal ini padanya.
Tapi sekarang,ntah angin apa yang membawa Billy melakukan hal tersebut.Pikirannya mulai kearah yang aneh-aneh saat ini...Tidak mungkin kan,Billy menyukai dirinya...
"Ini,kado untuk ulang tahunmu,Nona Muda.." jawab Billy dengan nada takutnya walaupun tidak begitu terdengar jelas,sambil melirik sekilas kearah tatapan tajam dari Tuan Besar dan Nyonya besarnya itu.
"Apa kamu masih waras,hm?" tanya Jennifer dengan nada kesalnya sambil menelisik kado kecil tersebut,untuk memastikan apa yang sedang ia pikirkan saat ini.Apa lagi,terpampang jelas namanya Billy diatas kado tersebut.
__ADS_1
'Tentu saja,aku masih waras,malahan masih sangat waras.Calon suamimu itu yang tidak waras,Nona Muda...' Billy hanya mampu membatin,karena rasa kesalnya pada Tuan Mudanya yang menurutnya sangat munafik itu.
"Aku masih waras,Nona Muda...Nona Muda,cobalah buka dulu...Mana tahu saja,Nona Muda akan langsung menyukai kado ini..." jawab Billy dengan perasaan kesal dibalik wajah tenang yang sudah bercampur ekspresi takut dan juga khawatir.