Suami Tampanku Yang Sederhana

Suami Tampanku Yang Sederhana
Bab.37


__ADS_3

Ia juga langsung mengalihkan pandangannya kearah Pak tua,setelah ia sudah selesai bertanya,sambil menaikkan sebelah kakinya keatas sebelah kakinya lagi,sama seperti apa yang telah dilakukan oleh Pak tua sedari tadi.


Ia bingung mau menjawab apa,ini karena gara-gara ia mengikuti saran dari Ayahnya.Dan Ayahnya yang tidak mau membantunya itu,tetap saja tidak mau memberinya penjelasan apapun setelah dalam seminggu ini ia terus memelas tanpa hasil.


Jika saja beliau bukan Ayahnya,mungkin saja ia akan memaksanya untuk bicara dengan cara apapun.Tapi,ya sudahlah...Sekarang ia harus menghadapi Pak tua ini terlebih dahulu...


Pak tua yang sedang menatap Sebastianpun langsung menoleh kearah samping,dimana terletak foto dirinya bersama istrinya dan juga putranya yang sudah berusia 18 tahun pada saat itu.Walaupun ia merasa agak sedikit kesal,karena pertanyaannya barusan malah dijawab dengan pertanyaan.


"Mereka adalah istri dan putraku,tapi sayangnya itu adalah foto terakhir kami,dan saat itu juga saat terakhir kalinya kami bisa bersama" jawab Pak tua dengan wajah datarnya,tapi dikedua matanya sedang menyiratkan kesedihan yang mendalam,dan sebastian bisa melihatnya dengan jelas.Apa lagi,saat ia mengingat kembali kecerobohannya saat itu.


"Paman,apa maksudmu?" tanya Sebastian dengan nada penasarannya,sambil terus menelisik kedua mata sedihnya Pak tua yang terus saja mengarah pada Foto besar tersebut.


"5 tahun yang lalu...Saat itu,setelah kami selesai berfoto.Aku meninggalkan mereka berdua di Mansion ini,karena aku harus segera pergi untuk mengurus beberapa masalah diluar sana,dengan membawa sebagian anak buahku yang ada di Mansion ini.Tapi hal yang tidak terduga terjadi di Mansion ini.Mereka membunuh istri dan juga putraku dengan kejam.Hingga saat aku pulang,semuanya sudah terlambat.Hanya dalam sekejap mata saja,hanya dalam beberapa jam saja,keluarga kecilku hancur begitu saja" jawab Pak tua dengan nada beratnya,mungkin kalau sekarang putranya masih hidup,pasti akan gagah dan tampan seperti Sebastian.Tapi nyatanya,nasib baik tidak selalu berpihak padanya.


"Mereka sengaja menjebakku dengan membuat beberapa masalah diluar sana,untuk membuat aku menjadi tidak fokus pada istri dan anakku.Dan cara kotor mereka,ternyata berhasil membuat aku merasa sangat kehilangan" lanjut Pak tua lagi,masih dengan nada beratnya.


Sebastian yang mendengar jawaban dari Pak tua tersebutpun,langsung merasa kaget dan juga ikut merasakan kesedihan yang sedang dirasakan oleh Pak tua.Ia tidak menduga kalau ternyata dibalik wajah kejamnya Pak tua,telah tersembunyi kisah yang sangat memilukan.


"Aku turut berduka untukmu,paman.Aku harap,paman tidak terlalu hidup dimasa lalu.Dan aku rasa mereka yang berada diatas sana, tidak akan menyukainya.Tapi siapa yang dimaksudkan paman dengan mereka? " tanya Sebastian dengan nada tulusnya dan juga penasaran,sambil menelisik semua foto yang ada dihadapannya itu.


Terlihat jelas wajah tersenyum disemua foto tersebut,kalau Pak tua terlihat sangat bahagia.Berbeda dengan wajah Pak tua yang sekarang ia lihat.Ia juga belum pernah menemukan senyum diwajah Pak tua disebelum-sebelumnya,ataupun saat ini.


"Mereka adalah salah satu dari musuhku" jawab Pak tua tanpa menoleh kearah Sebastian.


'Ya,jika Jennifer dan kamu sudah membuatkan aku beberapa bayi-bayi mungil yang comel untukku.Mungkin saja,hal itu akan mampu mengurangi kesedihanku' lanjut Pak tua didalam hatinya,sambil membayangkan tentang beberapa cucu atau bayi comel yang belum terkabul saat istri dan putranya masih hidup dulu.


"Dimana mereka sekarang? Apa mereka tidak memburumu lagi,paman?" tanya Sebastian,sambil terus menatap kearah Pak tua.


"Tidak.Lagi pula,bagaimana caranya mereka memburuku,kalau nyawa mereka saja sudah tidak bersama tubuh mereka lagi.Aku sudah membunuh mereka sampai tidak tersisa satu orangpun" jawab Pak tua,karena saat itu ia memang langsung membunuh orang yang menjadi dalang dari pembunuhan istrinya,dan juga berserta anak buahnya.


"What? Jadi..." tanya Sebastian dan menjeda kalimatnya diawal kalimat dengan wajah kagetnya,karena merasa tidak percaya dengan kekejaman yang dilakukan oleh Pak tua.


"Iya,aku membunuhnya dan semua anak buahnya.Dihidupku,nyawa harus dibayar dengan nyawa,dan siapa yang lemah pasti tidak akan bisa bertahan lama.Jadi aku harus menjadi lebih kuat dari mereka,jika ingin bertahan hidup.Apa lagi,yang telah mereka perbuat pada istri dan putraku,tidak akan termaafkan" jawab Pak tua dengan nada lambatnya,sambil mengalihkan tatapan datarnya kearah Sebastian.


Sebenarnya ia sudah tidak begitu memikirkan nyawanya lagi semenjak terbunuh istri dan putranya karena merasa sangat terpuruk dan juga putus asa,tapi ia hanya memikirkan hidupnya semua anak buahnya yang sudah pasti akan ikut terancam kalau dirinya tidak bisa menghadapi semua musuh-musuhnya.


"Ya,ya,aku bisa mengerti" ucap Sebastian dengan wajah santainya kembali,sambil mengangguk-nganggukkan pelan kepalanya untuk beberapa kali.Ia bahkan juga kembali menurunkan sebelah kakinya kebawah,untuk merilekskan tubuhnya dari sisa rasa kagetnya tadi.

__ADS_1


Walaupun ia sudah sering mendengar tentang dunia mafia dari Ayahnya,tapi saat ia mendengar langsung dari mafianya,seperti saat ini.Hal itu berhasil membuat dirinya merasa tidak begitu nyaman,tapi bukan berarti ia merasa takut,hanya pengaruh rasa perikemanusiaannya saja.


"Dan untuk sekarang,aku hanya tidak ingin membiarkan 2 keponakanku mengalami hal yang sama,seperti yang dialami oleh istri dan putraku.Aku dan kakakku,semakin lama akan semakin tua.Kami tidak akan mampu melindungi Jennifer dan adiknya untuk seumur hidup mereka" ucap Pak tua dengan nada seriusnya,dan ia tahu kalau Sebastian pasti mengerti dengan maksudnya.


"Jadi,bagaimana?" lanjut Pak tua dengan bertanya dan nada pelannya, sambil menatap seriusnya kearah Sebastian,ia juga heran dan juga senang sama Sebastian yang masih bisa santai setelah mendengar ceritanya tadi.


Tidak seperti orang lain yang sudah dipastikan,kalau tubuh mereka semua akan langsung bermandi oleh keringat.


"Bagaimana apanya?" tanya Sebastian yang berpura-pura bingung.Isi kepalanya sedang berpencar saat ini,dan ia sendiri tidak mengerti kenapa kondisi kepala seperti ini yang harus terjadi pada dirinya saat ini.


Apa lagi,saat ia mendengar ceritanya Pak tua tentang istri dan putranya Pak tua tersebut,dan hal itu telah berhasil membuat isi kepalanya semakin berpencar.


"Jangan berpura-pura bingung dihadapanku.Jangan katakan kalau kamu datang kesini,hanya untuk jalan-jalan saja?" tanya Pak tua dengan nada kesalnya,saat ia mendengar pertanyaan barusannya kembali dijawab dengan pertanyaan sama Sebastian.


"Jika saja,keponakanku tidak mencintaimu.Mungkin saja,hari ini kamu tidak akan mampu keluar hidup-hidup dari sini' batin Pak tua dengan wajah yang masih tetap kesal,walaupun sebagiannya karena ia menyukai hampir semua sikapnya Sebastian.


"Baiklah,kalau kamu tidak mau menerima tawaranku" lanjut Pak tua dengan nada pasrahnya,saat ia melihat Sebastian yang hanya diam saja sedari tadi,hanya kedua mata Sebastian saja yang terus menatap tenang kearah dirinya.


"Sepertinya aku sudah terlalu baik padamu...Buat apa juga aku membawamu kesini,kalau kamu tidak bisa memberiku jawaban yang aku inginkan" lanjut Pak tua lagi,dengan nada kesalnya kembali,sambil berdiri dari duduknya.


Karena ia berniat ingin kekamarnya saja untuk beristirahat,dari pada ia harus lama-lama bersama Sebastian dan terus merasakan kesal.


Tapi baru saja ia ingin melangkah melewati pintu ruangannya,terdengar suara Sebastian yang langsung mampu menghentikan langkahnya.


"Paman,kamu tidak perlu mencari pria lain lagi" ucap Sebastian dengan nada tegasnya,sambil berdiri dari duduknya.


Sedangkan Pak tua tersebut,ia langsung berbalik badan dan mengikuti perlahan-lahan arah langkahnya Sebastian yang ternyata sudah mulai berjalan kearahnya.


"Mulai sekarang,aku akan mempersiapkan diriku untuk bisa melindungi ke 2 keponakanmu itu.Aku harap,mulai sekarang paman akan mempersiapkan beberapa pria yang sudah sangat ahli dalam bela diri untukku,karena untuk 1 tahun kedepan aku akan sering mengunjungimu.Dan aku harap, kalau paman tidak akan keberatan dengan hal itu" lanjut Sebastian lagi,sambil menatap serius kearah Pak tua yang juga sedang menatap dirinya.


"Baiklah,sekarang aku akan pulang terlebih dahulu.Dan memikirkan,bagaimana caranya aku akan resign diri dari perkerjaan lamaku itu.Ingat paman,1 minggu lagi jangan lupa untuk menjemputku dirumahku" lanjut Sebastian lagi,sambil memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya,sambil menghela napas beratnya karena keputusan tiba-tiba yang telah ia ambil ini setelah berpikir cukup lama sedari tadi.


"Dan satu lagi,cara paman menyambut tamu tadi sangat tidak sopan.Baru kali ini,aku disambut tanpa minuman.Tapi karena sore ini aku sedang berbaik hati,jadi itu tidak masalah.Baiklah,sampai jumpa 1 minggu lagi,paman" lanjut Sebastian lagi dengan nada candanya,sambil tersenyum manis kearah Pak tua.


Lalu ia langsung berjalan keluar dari dalam ruangan tersebut dengan langkah lebarnya,tanpa menunggu jawaban dari Pak tua lagi.Karena dirinya harus segera pulang dan meminjam salah satu kamar di Hotel Restoran tempatnya berkerja itu,untuk merendamkan kepalanya yang sedang kacau itu dengan sedikit wewangian.


Beberapa anak buahnya Pak tua yang sudah mengerti dengan perkataannya Sebastian dan juga sudah mendapatkan isyarat dari Asisten tersebut,merekapun langsung mengikuti langkahnya Sebastian untuk mengantar pulang calon Tuan Muda mereka itu.

__ADS_1


Sedangkan Pak tua,ia hanya diam saja dengan wajah tenangnya.Tapi sudah ada senyum senang didalam hatinya,karena sudah terdengar jelas kalau ada nada yakin,tegas, dan serius didalam nada bicaranya sebastian tadi.


"Tuan,sepertinya Tuan Muda memang sangat tepat untuk menjadi seorang pemimpin" ucap Asisten tersebut dengan nada seriusnya saat ia melihat calon Tuan Mudanya yang sudah memiliki aura-aura kepemimpinan tanpa diajar,sambil mengikuti arah pandang Tuannya saat ini.


"Iya,kamu benar.Tenang saja,hari itu pasti akan tiba.Kita hanya perlu terus bersabar untuk menunggu hari itu tiba" jawab Pak tua dengan nada senangnya,sambil terus menatap punggung lebarnya Sebastian yang sudah mulai menjauh dari pandangan mereka semua.


Ia memang juga berharap kalau Sebastian akan mau meneruskan dunia hitamnya,tapi sepertinya hal itu akan sulit untuknya,karena pria seperti Sebastian tidak mudah untuk diajak bicara,dan ditambah lagi dengan Ayahnya Sebastian yang mungkin tidak akan mengizinkan putranya untuk masuk kedalam dunia hitam.


Dirinya sudah tua,dan mungkin hanya bisa bertahan hingga beberapa tahun kedepan saja,karena sekarang ia sudah berumur 50 tahun keatas.Dan sudah dipastikan,ia akan sangat membutuhkan Sebastian nanti.Jadi,ia hanya mampu berdoa saja,kalau Jennifer akan mampu menjerat Sebastian lebih kuat lagi nanti,supaya nanti dirinya mudah untuk membicarakan apapun.


"Baik,Tuan" jawab Asisten tersebut dengan wajah tersenyum senangnya.


"Baiklah...Ingat,kamu harus terus awasi pria brengsek yang sedang sibuk terus mengikuti Sebastian sekarang.Aku akan pergi beristirahat terlebih dahulu..." ucap Pak tua dengan wajah datarnya kembali,sambil berjalan keluar dari dalam ruangan tersebut dan menuju kekamarnya. Kepalanya langsung terasa sangat ringan,saat ia mendengar kalimat-kalimat panjang lebarnya Sebastian tadi.


"Dan satu lagi...Kamu juga harus ingat,lain kali kamu harus segera menyiapkan minuman untuk para tamu yang akan datang ke Mansion ini.Jangan seperti tadi lagi,memalukan saja" lanjut Pak tua lagi,dengan nada candanya saat ia baru mengingat ,tentang Sebastian yang sedang mengeluh tentang sambutannya tadi,tanpa menghentikan langkahnya.


"Baik,Tuan " jawab Asisten tersebut dengan cepat dan nada pelannya dan juga tersenyum lucu,lalu ia segera berjalan pergi dari sana untuk memeriksa sekitarnya lagi,setelah Tuannya sudah menghilang dibalik kamarnya.


………


Di Hotel Restoran tempatnya Sebastian berkerja,ke 3 sahabatnya Sebastian tersebut kembali sibuk berasumsi sendiri,saat mereka ber 3 melihat Sebastian yang sibuk meminta kunci dari salah satu kamar di Hotel Restoran tersebut.


"Apa Sebastian sedang diancam sama seseorang?" tanya Elisa dengan wajah penasarannya,sambil menyangga dagunya dengan kedua tangannya.


"Itu tidak mungkin terjadi karena setahuku,Sebastian paling tidak suka diancam" jawab Elvan sambil mengelap gelas-gelasnya yang sudah kering tersebut.


"Apa Sebastian baru saja habis dirampok sama penjahat? " tanya Sebastian dengan asal dan nada pelannya,karena sudah lelah menunggu Sebastian keluar dari kamarnya Hotel Restoran tersebut.


"Apa kamu melihat,kalau wajah dan seluruh tubuhnya Sebastian terlihat seperti orang yang baru saja habis dirampok?" tanya Elvan balik,dengan nada kesalnya.


"Apa mungkin,Sebastian masih memikirkan wanita j*l*ng itu?" tanya Erik,sambil berpikir keras dan mengetuk-ngetuk pelan jari telunjuknya diatas meja bar tersebut.


Mereka ber 3 sudah sedari 30 menit yang lalu berada dimeja bar tersebut,dan lagi-lagi Sebastian mampu membuat mereka ber 3 menjadi semakin penasaran lagi.Karena sudah selama 2 jam Sebastian berada didalam kamar tersebut,dan sekarang sudah menunjukkan hampir jam 6 sore,tapi belum menampakkan kalau Sebastian akan keluar dari dalam kamar tersebut.


"Itu lebih tidak mungkin lagi,kamu ini semakin melantur saja" jawab Elvan dengan nada kesalnya,sambil membuat sedikit kopi untuk dirinya minum.


"Kalau iya,berarti Sebastian memang sudah waras.Padahal,Siska tidak secantik aku dan aku juga tidak kalah langsingnya dengan dia,tapi kenapa Sebastian malah begitu mencintainya?" jawab Elisa dengan wajah kesalnya,saat ia mengingat kembali wajah sombongnya Siska dulu.

__ADS_1


__ADS_2