Suami Tampanku Yang Sederhana

Suami Tampanku Yang Sederhana
Bab. 56


__ADS_3

"Bastian,apa yang sedang kamu lakukan?" tanya wanita tersebut yang ternyata adalah Jennifer yang langsung masuk setelah ia sudah mempersiapkan diri selama sekitar 2 menit tadi,seperti seorang wanita yang sedang memergoki kekasihnya ketahuan sedang selingkuh saja,dan untung saja pintu ruangan tersebut tidak terkunci sama sekali,hingga tidak membuat dirinya kesulitan sedikitpun.


Ia bahkan mengabaikan pertanyaannya Sekretaris tersebut dan wajah meringisnya Rebeeca,karena kedua matanya hanya terus fokus sama cengkraman tangannya Sebastian yang terlihat seperti genggaman lembut dimatanya karena dirinya sudah terlanjur terbakar oleh api cemburu.


Sebastian yang tadi masih marah,langsung berdiri dari duduknya dengan wajah kagetnya yang bercampur ekspresi marah dan ia juga segera menolehkan kepalanya kearah Jennifer,tanpa melepaskan cengkraman tangannya tersebut.


Sebenarnya ia sudah bisa mengenal suaranya Jennifer dengan pendengarannya saja, tanpa harus ia melihat wajahnya terlebih dahulu,hanya saja ia merasa kaget.Dan sekarang ia seperti tertangkap basah kalau dirinya sedang selingkuh,padahal dirinya tidak melakukan apa-apa sedari tadi.


"Aku bertanya,apa yang sedang kamu lakukan ha?" tanya Jennifer lagi,dengan wajah yang memberengut kesal,sambil berjalan mendekat kearah Sebastian yang sedang menatap kaget dan juga bingung kearahnya.


Walaupun Sebastian bingung dengan pertanyaan dari Jennifer untuknya ,tapi amarahnya tadi tetap saja terlihat,terbukti dari cengkramannya yang masih terasa kuat tersebut.


"Tuan,aku mohon maafkan aku.Sekarang tolong lepaskan tanganku.Ini sangat sakit..." pinta Rebeeca lagi,dengan ekspresi memohon diwajahnya sambil melirik sekilas kearah wanita tersebut dan berusaha melepaskan cengkramannya Sebastian yang tidak bisa ia gerakkan sama sekali.Bahkan permintaannya sama sekali tidak diperdulikan oleh Sebastian,padahal kedua matanya sudah mulai basah karena air mata akibat rasa teramat sakit dipergelangan tangannya.


"Sebastian Sachdev Rendra,aku bertanya,apa yang sedang kamu lakukan bersama wanita ini?" tanya Jennifer dengan nada dan wajah yang semakin kesal setelah ia sudah berada dihadapannya Sebastian,tapi wajah kesalnya mulai berubah menjadi bingung saat ia baru menyadari wajahnya wanita tersebut yang ternyata sedang meringis kesakitan,ditambah lagi dengan banyaknya tetesan air mata tersebut.


"Aku?" tanya Sebastian dengan nada bingungnya,sambil menelisik wajah bingungnya Jennifer.


Sedangkan Sekretaris tersebut,ia hanya mampu terus memerhatikan ke 3 orang tersebut dengan wajah bingungnya.Apa lagi,saat ia melihat kalau Tuan Mudanya bahkan tidak terlihat terganggu dengan kehadiran wanita cantik tersebut.


"Iya,tentu saja kamu.Memangnya siapa lagi yang harus aku tanya,selain kamu?" tanya Jennifer balik,dengan nada kesalnya,sambil menunjuk kearah wanita yang tidak ia kenal itu dengan ekor matanya.


Sebastianpun langsung mengikuti arah tunjuknya Jennifer dengan pelan,wajah bingungnya tadipun kembali dipenuhi amarah seperti tadi,bahkan cengkraman tangannya semakin kuat dari yang tadi.


"Auchkk...Tuan aku mohon,tolong lepaskan tanganku.Jika tidak,tanganku akan patah nanti,dan aku akan melaporkanmu kekantor polisi..." ucap Rebeeca dengan nada tinggi saat ia merasakan kalau pergelangannya malah semakin sakit dan juga seperti mau patah,sambil memukul-mukul tangannya Sebastian yang tidak mampu ia lepaskan sedari tadi,bahkan wajahnya sudah dibasahi air mata semua.


"Tadi aku lupa mengatakan padamu,Nona.Kalau aku paling tidak suka diganggu ataupun disentuh oleh siapapun,terutama oleh wanita...Apa lagi,jika penganggu itu,wanita sepertimu.Lain kali,jika hal seperti ini terjadi lagi,aku akan membunuhmu saat itu juga.Apa kamu sudah mengerti sekarang?" ucap Sebastian dengan nada marahnya dan tatapan tajamnya,sambil melepaskan cengkramannya diakhir kalimatnya,dengan gerakan kuat hingga mampu membuat tubuh seksinya Rebeeca langsung terduduk diatas lantai dengan lumayan keras,tepat disampingnya sofa.


"Dan satu lagi...Jika kamu ingin melaporkan aku kekantor polisi,silakan saja..." lanjut Sebastian lagi,dengan nada tegasnya,sambil mengambil tisu untuk mengelap lehernya yang sedikit terkena tumpahan teh hangat tadi.


Polisi saja tidak berani menyentuh dirinya,bagaimana caranya Rebeeca akan melaporkan dirinya.Karena dirinya memang tidak pernah memiliki daftar kejahatan sedikitpun,ditambah lagi,dengan jati dirinya yang sudah banyak diketahui oleh para polisi,walaupun hanya beberapa polisi saja yang pernah melihatnya secara langsung.


Rebeeca yang sudah merasa sangat kesakitan hampir seluruh tubuhnya karena terduduk begitu kuat itupun,hanya mampu terus memegang pergelangan tangannya yang sudah sangat memerah dan menatap tidak percaya dengan ekpresi marah diwajahnya Sebastian,belum lagi nada mengerikan disetiap kata-katanya Sebastian barusan.


Ia bahkan tidak berniat ingin menjawab pertanyaannya Sebastian,akibat sibuk menahan perasaan marah dan kesalnya karena perlakuan kasarnya Sebastian padanya tadi.


Dan bukan hanya Rebeeca dan Sekretaris tersebut saja yang merasa kaget karena ia memang sangat jarang mengikuti Tuan Mudanya,dan ini pertama kalinya ia melihat langsung kemarahan Tuan Mudanya.


Tapi Jennifer juga ikut merasa kaget,bahkan ia bingung mau mengatakan apa lagi.Ia hanya mampu menatap tidak percaya,secara bergantian kearah wajah marahnya Sebastian dan pergelangan tangannya wanita tersebut yang mungkin saja akan patah,kalau saja Sebastian tidak melepaskannya tadi.


"Ada apa kamu datang kesini?" tanya Sebastian dengan nada pelannya,sambil menetralkan amarahnya dan menatap penasaran kearah Jennifer yang masih berdiri tercengang disampingnya,padahal didalam hatinya ia merasa sangat senang dengan kedatangannya Jennifer dikantornya saat ini.

__ADS_1


Lagi-lagi wajah tidak percayanya Sekretaris tersebut semakin meningkat saat ia melihat nada pelan Tuan Mudanya,beda dengan suara marah-marah tadi.Begitu juga dengan Rebeeca yang baru mendengarnya sedari ia masuk kedalam ruangan tadi.


"A aku? Datang kesini? Tentu saja aku ingin menemuimu.Lagi pula,aku tidak memerlukan alasan apapun untuk bisa datang kesini..." jawab Jennifer dengan sedikit suara terbata-bata karena baru saja tersadar dari rasa tercengang dan tidak percayanya tersebut,sambil memeluk lengannya Sebastian dengan pelan dan juga lembut.


"Ingin menemuiku?" tanya Sebastian dengan wajahnya yang sudah tenang kembali,sambil menelisik dress yang sedang dipakaikan oleh Jennifer saat ini.


Bahkan ia tidak masalah dengan pelukannya Jennifer barusan,ia juga tersenyum didalam hatinya,saat ia melihat dressnya Jennifer yang tidak begitu terbuka.


"Iya,aku ingin......." Jennifer yang ingin menjawabpun harus menghentikan perkataannya karena disela oleh Sebastian dengan cepat.


"Aldo,bawa wanita itu keluar dari dalam ruanganku sekarang juga..." perintah Sebastian dengan nada tegasnya saat ia baru teringat dengan Rebeeca yang masih berada didalam ruangannya itu,sambil menatap tajam kearah Rebeeca yang langsung menampilkan wajah kesalnya.


"Baik,Tuan Muda" jawab Sekretaris tersebut dengan cepat,sambil menarik tangannya Rebeeca yang mulai melawan padanya.


'Aldy,Tuan Muda...Ntah sudah berapa puluh kali,aku mengatakan padamu,Tuan Muda' ngeluh Sekretaris tersebut didalam hatinya,saat ia kembali mendengar kalau Tuan Mudanya kembali mengubah huruf y menjadi o diakhir namanya.


"Tuan,kamu tidak adil padaku.Bukankah kamu baru saja mengatakan kalau kamu tidak suka disentuh oleh wanita,bukankah dia ini juga wanita? Kenapa kamu tidak mempermasalahkannya,seperti padaku tadi?" tanya Rebeeca dengan nada kesal dan mencoba untuk berani, sambil berusaha melepaskan pegangannya Sekretaris tersebut.


Ia merasa tidak puas dengan cara perlakuan berbedanya Sebastian terhadap dirinya dan wanita yang tidak ia kenali itu,bahkan wanita tersebut memeluk lengannya Sebastian dengan leluasa,tapi untuk memarahinya saja Sebastian tidak melakukannya.


Sebastian yang mendapatkan pertanyaan dari Rebeeca itupun,ia langsung menelisik sebentar wajah cantiknya Jennifer yang sedang menatap tenang kearah Rebeeca,lalu ia kembali menatap tajam kearah Rebeeca.


"Karena dia bukan kamu" Sebastian...


Sebastian dan Jennifer menjawab secara serentak,sambil terus menatap kearah Rebeeca dengan tatapan mereka masing-masing,dan juga ekor mata yang saling melirik untuk sekitar 1 detik.


"Kekasih?" lagi-lagi Rebeeca kembali menampilkan wajah tidak percayanya,karena setahu dirinya Tuan Presdir tersebut masih belum memiliki istri ataupun kekasih,tapi apa yang barusan ia dengar.


"Nona,sudah waktunya kamu keluar dari sini" ucap Aldy dengan nada tegasnya dan juga kesalnya yang ditujukan untuk Rebeeca, saat ia mendapatkan tatapan tajam dari Tuan Mudanya, sambil menyeret paksa Rebeeca dengan cepat sebelum Rebeeca kembali merengek atau apapun itu.


Ia bahkan mengabaikan teriakan tidak terimanya Rebeeca karena diusir dengan cara yang seperti itu dan juga tentang kekasih Tuan Mudanya itu,walaupun ia juga merasa tidak percaya dengan kata "kekasih" dari Jennifer tadi.


Diluar ruangan...


Terlihat Billy yang masih setia untuk menunggu panggilan dari Nona Mudanya,tapi ia malah merasa kaget dengan Aldy yang baru saja keluar dari dalam ruangan tersebut.


"Ada apa ini? Apa sebenarnya yang telah terjadi?" tanya Billy dengan wajah kaget yang sudah bercampur penasaran,sambil terus menatap wanita yang memang ia kenal tersebut.


Tapi bukan itu yang telah membuat dirinya merasa kaget,ia merasa kaget karena ia melihat Rebeeca yang sedang diseret paksa oleh Aldy,dan ditambah lagi dengan pergelangan tangannya yang terlihat sangat merah dan hampir kebiruan.


"Tuan Billy..." panggil Aldy dengan wajah kagetnya,karena tiba-tiba saja Billy ada dihadapannya akibat dirinya yang berjalan keluar tanpa memerhatikan disekitarnya.

__ADS_1


"Tuan,tolong suruh pria ini lepaskan aku..." mohon Rebeeca dengan wajah memelasnya,sambil terus berusaha melepaskan diri dari pegangan eratnya Aldy,karena ia masih tidak rela melepaskan Sebastian begitu saja dan berniat ingin bertanya beberapa hal lagi sama Tuan Presdir tersebut.


"Tuan,aku rasa sekarang bukan waktu yang tepat.Aku akan menjelaskannya pada Tuan nanti saja,setelah ini" jawab Aldy dengan cepat dan nada sopannya,sambil berjalan cepat dengan menarik paksa Rebeeca untuk keluar dari dalam Perusahaan tersebut.


Dan meninggalkan Billy yang masih berdiri dengan wajah bingung dan juga penasarannya,sambil terus menatap secara bergantian kearah punggungnya Rebeeca dan pintu ruangan tersebut yang masih terbuka akibat dibuka oleh Aldy tadi.Ia bahkan tidak berani,walau sekedar untuk mengintip saja,karena mengingat perintah dari Nona Mudanya tadi.


Didalam ruangan...


Setelah Rebeeca dibawa pergi...


"Apa sebenarnya yang telah terjadi? Siapa wanita itu?" tanya Jennifer dengan kedua mata yang menelisik kearah Sebastian yang sedang menatap santai kearah dirinya.


Ia hanya ingin memastikan kalau Sebastian dan wanita tadi benar-benar tidak memiliki hubungan apapun,walaupun rasa cemburunya sudah mulai mengurang saat ia melihat perlakuan buruknya Sebastian terhadap wanita tadi.


"Wanita itu,hanya putrinya rekan kerjaku saja.Sisanya,kamu pikir saja sendiri" jawab Sebastian dengan nada santainya,sambil mengalihkan tatapannya kearah depan dan juga membuka pelan kancing kemejanya dari yang teratas.


"Tapi kamu...? Tung Tunggu,apa lagi yang sedang kamu lakukan sekarang?" tanya Jennifer dengan nada gugupnya dan juga wajah kesalnya,saat ia melihat gerakan jarinya Sebastian saat ini.


"Apa kamu tidak bisa melihat,kalau kemejaku sudah kotor,hm..." jawab Sebastian dengan nada malasnya sambil menunjuk kearah bagian kemejanya yang tertumpah teh hangat tadi dengan matanya,tanpa menghentikan gerakan jarinya untuk membuka sisa kancing-kancing kemejanya.


"Kenapa bisa....." pertanyaannya Jennifer yang belum sempat selesai itu,kembali disela oleh Sebastian dengan cepat.


"Wanita tadi pelakunya..." jawab Sebastian dengan cepat saat ia sudah bisa menebak apa isi pertanyaannya Jennifer tersebut,sambil melepaskan kemejanya dari tubuhnya setelah kancing-kancing tersebut sudah terlepas semua,dengan gaya santainya tanpa merasa malu sedikitpun sama Jennifer.


"Wanita tadi...? Sebastian Sachdev Rendra,walaupun benar begitu,tidak bisakah kamu melepaskannya ditempat lain saja? Apakah kamu memang tidak punya rasa malu sedikitpun?" tanya Jennifer dengan nada kesalnya sambil menutup cepat kedua matanya dengan kedua tangannya, saat ia terlanjur melihat otot-otot kekar hampir diseluruh dada dan perutnya Sebastian,pelukan dilengannya Sebastianpun langsung terlepas begitu saja.


"Memangnya apa salahnya? Aku lebih nyaman melepaskannya disini.Dan aku mengira,kalau kamu juga akan menyukainya..." jawab Sebastian dengan nada menggodanya tapi tetap dengan wajah tenangnya,sambil berjalan pelan dan melewati Jennifer menuju keruangan pribadinya.


'Tidak tahu malu? Seperti dirinya punya malu saja...' lanjut Sebastian didalam hatinya dengan wajah yang tersenyum lucu,saat ia mengingat kembali tingkah agresifnya Jennifer pada tahun lalu.


Untung saja,dalam satu tahun ini,ia sudah mulai sedikit belajar,untuk menyeimbangkan kemampuannya tentang wanita dengan tingkah agresifnya Jennifer.


"Pria ini,sangat menyebalkan" ucap Jennifer dengan nada kesalnya tapi wajahnya mulai tersenyum malu,sambil mengintip punggung lebar dan kekarnya Sebastian yang sudah menghilang dibalik pintu tersebut.


"Oh iya,aku sampai lupa.Billy..." panggil Jennifer dengan nada tingginya saat ia hampir saja melupakan keberadaannya Billy dan makan siang buatannya tadi,takut-takut kalau Billy tidak mendengar suaranya.


"Iya,Nona Muda..." jawab Billy dengan cepat dan juga berjalan masuk dengan langkah cepatnya,sambil menetralkan rasa kagetnya karena suara tinggi Nona Mudanya barusan.


"Dimana makan siang yang aku bawa tadi?" tanya Jennifer dengan nada semangatnya,sambil mengulurkan tangannya untuk mengambil makan siang tersebut.


"Ini,Nona Muda..." jawab Billy dengan nada pelannya,sambil mengulurkan makan siang tersebut yang langsung diambil oleh Nona Mudanya.

__ADS_1


"Apa tadi telah terjadi sesuatu,Nona Muda?" tanya Billy dengan wajah penasarannya,walaupun ia ada sempat sedikit mendengar pembicaraan antara Jennifer dan Sebastian tadi,tapi ia masih merasa bingung dengan kejadian yang sebenarnya.


__ADS_2