
Sudah hampir 3 jam para orang tua sibuk mengobrol sambil menonton pertunjukan bola kaki,dan belum juga selesai,terlihat seperti sudah begitu akrab saja.
Sedangkan Sebastian dan Jennifer,mereka berdua sudah beralih kedalam kamar tidur mereka sedari 1 jam yang lalu,karena merasa begitu bosan untuk menemani ataupun menunggu para orang tua tersebut selesai mengobrol.
"Honey,apakah dalam beberapa bulan ini kamu belum pernah bertemu dengan paman? Ntah bsgaimana kabarnya paman sekarang,ya?" tanya Jennifer dengan nada dan wajah penasarannya,tapi juga terbersit perasaan rindu didalam hatinya karena ia belum bertemu paman semenjak ia pulang hari itu.
"Belum,mungkin paman sedang sibuk dengan perkerjaannya.Memangnya kenapa,hm?" jawab Sebastian dengan suara lembutnya,sambil membelai pucuk kepalanya Jennifer yang sedang bersandar manja didada kekarnya yang sedang dalam keadaan tanpa sehelai benangpun sedari 30 menit yang lalu.
Karena Sebastian baru saja selesai bergempur panas-panasan bersama Jennifer,sedari mereka berdua masuk kamar tadi.
"Apakah paman sesibuk itu,sampai tidak sempat menelepon aku? Atau apakah paman sedang dalam masalah sekarang?" tanya Jennifer lagi, dengan nada dan wajah khawatirnya,sambil membuat lingkaran atau bintang didada telanj*ngnya Sebastian.
"Tidak ada hal yang seperti itu,Sweety.Bukankah kamu sendiri juga sangat mengenal pamanmu itu,memangnya siapa yang mampu melawannya. Jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkan pamanmu lagi,ya..." jawab Sebastian dengan nada seriusnya dan wajah yang terlihat sedang memikirkan perkataannya Jennifer barusan,tapi ia juga tidak mau membuat Jennifer terlalu banyak pikir nanti.
Paman Hadden memang juga sudah jarang menelepon dirinya belakangan ini,tapi yang ia dengar,kalau pamannya Jennifer sedang sibuk membasmi atau memburu beberapa pembeli senjata yang telah menipunya hari itu,dan ada yang berhasil kabur dari tangkapannya paman Hadden hari itu.
Dan sampai sekarang,ia masih belum bertanya pada yang lainnya tentang paman Hadden lagi, karena selama beberapa minggu ini fokusnya hanya pada Jennifer saja.
"Jangan khawatir,pasti tidak akan sampai terjadi apa-apa sama pamanmu,dia pasti hanya sedang sibuk saja.Jika dia sudah tidak sibuk,pamanmu pasti akan segera meneleponmu..." lanjut Sebastian dengan nada dan wajah tersenyum yakinnya, saat ia melihat kalau Jennifer malah menatap malas kearahnya.
'Dengan binatang buas saja,pamanmu tidak takut.Apa lagi,hanya dengan manusia,Sweety...' lanjut Sebastian didalam hatinya.
"Tapi Honey,apa kamu tidak mengkhawatirkan paman? Dia itu sudah tua,dan sekarang dia harus mengerjakan perkerjaan yang berbahaya itu, dan yang seharusnya anak muda lakukan. Dan kamu malah........" Jenniferpun tidak sempat menyelesaikan kalimat kesalnya,karena langsung disela oleh Sebastian dengan cepat.
"Kamu tenang saja,ya... Nanti aku akan mencari tahu,paman sedang melakukan perkerjaan apa disana.Oke?" sela Sebastian dengan nada dan wajah yang tersenyum pasrah,tanpa menghentikan belaian tangannya dipucuk kepalanya Jennifer.
__ADS_1
Sedangkan Jennifer,ia langsung tersenyum senang,dan juga menurunkan kepalanya kedada kekarnya Sebastian kembali.
"Sweety,kamu akan memilih negara mana,untuk berbulan madunya kita,hm?" tanya Sebastian lagi,dengan nada dan wajah penasarannya, karena ia ingin sekalian mengalihkan pembahasan tentang paman Hadden tadi.
"Hmmm...Bagaimana kalau kita ke paris saja,Honey..." jawab Jennifer dengan nada dan wajah tersenyum semangat,sambil memikirkan akan betapa menyenangkan perjalanan bulan madunya mereka nanti.
Persiapan-persiapannya untuk pergi berbulan madu nantipun bahkan sudah selesai ia kemaskan,dan besok ia dan Sebastian hanya perlu berangkat saja.
"Baiklah.Kita akan kesana,besok..." jawab Sebastian dengan nada dan wajah tersenyum senangnya.
Walaupun nantinya ia tidak akan terlalu bisa menggempur Jennifer,baginya tidak masalah.Karena itu semua demi buah hatinya mereka,tadi saja ia hanya melakukannya dengan pelan saja.
Saat ini yang terpenting baginya,adalah Jennifer bisa menikmati jalan-jalannya dengan hati yang senang dan juga bahagia disana nanti.
"Oh iya...Aku baru teringat,bagaimana dengan Irfan dan Rebeeca,Honey?" tanya Jennifer yang memang baru teringat dengan kedua orang tersebut,sambil memerhatikan ekspresi wajah tampannya Sebastian.
"Tidak ada,aku hanya merasa penasaran saja..." jawab Jennifer dengan nada dan wajah tersenyum santainya,karena ia sudah bisa langsung mengerti dengan perkataannya Sebastian barusan.
Mereka berduapun terus melanjutkan obrolan ringannya hingga makan siang bersama para orang tua,karena kedua orang tuanya akan tinggal bersama mereka selama beberapa hari kedepan.
Beberap jam kemudian...
"Aku ingin berbicara denganmu sebentar..." ucap Daddy dengan nada dan wajah tenangnya,sambil berdiri dari duduknya dan mengabaikan tatapan bingung yang lainnya.
"Baik Dad..." jawab sebastian dengan nada dan dan wajah santainya,sambil ikut berdiri.
__ADS_1
Daddypun segera berjalan tegas kehalaman belakang,dan langsung diikuti oleh Sebastian.
Sedangkan yang lainnya,mereka hanya mampu menatap bingung kearah punggung lebarnya kedua pria beda usia tersebut.
"Mungkin saja,mereka berdua sedang ada urusan bisnis yang harus dibicarakan. Ibu,Ayah,Mom...Ayo,sebaiknya kita pergi keruang tamu saja..." Jenniferpun segera memberi saran,supaya mereka semua tidak terlalu memikirkan apa yang sedang dilakukan oleh kedua pria beda usia tersebut.
"Iya,kamu benar nak.Ayo kita keruang tamu saja..." timpal Ibu yang juga sependapat dengan Jennifer.
Merekapun berjalan santai keruang tamu,untuk mengobrol dan juga sekalian menonton,dan juga melupakan tentang kedua pria beda usia tersebut untuk sejenak.
Dihalaman belakang...
Sebastian langsung menghentikan langkah kakinya tepat disampingnya Daddy,saat ia melihat Daddy yang telah menghentikan langkah kakinya duluan.
Selama beberapa menit menunggu,tapi masih belum ada satupun dari mereka yang bicara duluan.
"Apa tidak ada yang ingin kamu katakan padaku,hm?" tanya Daddy dengan nada dan wajah malasnya,sambil terus menatap lurus kedepan.
"Memangnya apa yang harus aku katakan padamu,Dad?" tanya Sebastian balik,dengan nada santainya,sambil menolehkan kepalanya sebentar kearah Daddy.
"Cih... " Daddy langsung berdecih kesal,sambil membalikkan badannya kesamping tepat dihadapannya Sebastian yang juga ikut berbalik kearahnya.
"Buk,buk..." tanpa banyak kata lagi,Daddy langsung memberi bogeman mentah yang cukup kuat pada Sebastian sebanyak 2 kali dikiri dan dikanan.
"Auchk... " Sebastian langsung terpekik pelan karena rasa sakit dikedua pipinya tersebut,padahal ia tahu apa yang ingin dilakukan oleh Daddy padanya barusan
__ADS_1
Ia bahkan tidak berniat ingin menghindari ataupun membalas,karena ia merasa kalau dirinya memang pantas mendapatkannya.
Ia sudah tahu,cepat atau lambat Daddy pasti akan tahu juga,tentang apa yang telah terjadi kepada Jennifer hari itu.Dan sekarang,mau tidak mau ia harus bisa menerimanya tanpa mengeluh sedikitpun.