
'Cih,mengobrol ringan katanya...' lanjut Sebastian didalam hatinya,ia hanya mampu pasrah saja saat ini,karena ia tidak mau kalau kedua orang tuanya sampai tahu tentang dirinya yang telah membunuh para musuh demi menolong pamannya Jennifer, terutama Ayahnya yang paling tidak menyukai tentang pembunuhan.
"Baiklah.Kalau begitu,besok pagi kalian akan menikah.Sekarang,kita hanya tinggal menunggu keluargamu saja..." ucap Daddy dengan tersenyum puas dibalik wajah tenangnya.
Sebastian tidak menjawab apapun,ia hanya terus menghela napas untuk beberapa kali,wajahnya memang terlihat kesal tapi kedua matanya sedang menelisik wajah tenang Daddynya Jennifer dan yang lainnya.
Kemudian ia langsung berdiri dengan gerakan kesalnya,lalu berniat berjalan pergi dari sana,tapi suaranya Daddy mampu menghentikan langkahnya.
"Dasar anak tidak sopan.Kamu mau kemana,hm?" tanya Daddy dengan nada kesalnya,saat ia melihat Sebastian yang tidak berniat ingin menjawabnya dan juga ingin pergi dari sana.
"Aku ingin pergi menenangkan kepalaku yang masih sakit ini,dikamar berkah tadi.Aku juga baru menyadari,kalau aku ternyata tidak mampu meminum terlalu banyak alkohol,walaupun hanya 3 gelas saja..." jawab Sebastian dengan nada menyindirnya dan wajah yang tersenyum kesal,lalu ia langsung berjalan pergi tanpa minta izin lagi,karena rasa kesalnya yang sudah berada ditingkat tinggi itu.
Ia tahu,kalau Daddynya Jennifer pasti tahu maksud dari sindirannya tersebut,hanya saja dirinya yang tidak tahu pasti bagaimana kebenarannya tentang jebakan yang telah dilakukan oleh sekeluarga tersebut padanya.Sudah sedari tadi ia terus menelisik ekspresi wajahnya Aldy,Billy, Daddy, Mommy dan juga Jennifer,tapi ia malah semakin bingung dengan tebakan-tebakannya tersebut.
Ia hanya mampu menebak,antara Daddynya Jennifer yang memiliki tujuan tertentu padanya, dan Jennifer yang memang sengaja ingin mereka segera menikah.
Tapi jika tentang Jennifer,bukankah Jennifer bisa mencoba menarik perhatiannya dengan perlahan-lahan seperti hari-hari sebelumnya,ia tidak habis pikir kenapa Jennifer malah menjebaknya dengan cara memalukan seperti ini.
"Aldy,panggil aku ,jika kedua orang tuaku sudah sampai..." perintah Sebastian dengan nada dan wajah tegasnya tanpa menghentikan langkah tegasnya,setelah ia sudah selesai kembali menatap tajam sebentar kearah Billy yang sama sekali tidak berani menatapnya.
"Baik,Tuan Muda..." jawab Aldy dengan cepat dan menunduk hormat.
Beberapa detik kemudian...
"Paman,Tante,kami minta maaf...Sepertinya kami akan pulang sekarang saja,karena kami masih harus berkerja sekarang..." ucap Elisa tiba-tiba sambil berdiri dari duduknya dan diikuti oleh Erik dan juga Elvan, dengan wajah yang tersenyum segan karena tadi Mommynya Jennifer dan Jennifer menyuruh mereka untuk tinggal hingga lewat makan siang nanti.
Dan suara sedangnya Elisa itupun mampu mengalihkan pandangannya Daddy,Mommy dan Jennifer yang sedari tadi terus saja tertuju kearah punggung lebarnya Sebastian itu, langsung beralih kearah ke 3 sahabatnya Sebastian tersebut.
"Sekarang? Kenapa tidak selesai makan siang nanti saja,baru kalian pulang?" tanya Jennifer dengan wajah yang berharap tulus ,kalau ke 3 sahabatnya Sebastian bisa makan siang bersama mereka, sambil ikut berdiri dan diikuti oleh Daddy dan juga Mommy.
"Iya.Di Mansion ini,belum pernah seramai ini.Jadi kalian tidak perlu buru-buru untuk pulang,kalian bisa makan siang dulu bersama kami,bagaimana?" timpal Mommy dengan nada lembut dan wajah yang tersenyum tulus.
"Iya,tapi maaf Jennifer,Tante,kami harus pergi berkerja.Mungkin lain kali saja,kami akan makan siang bersama kalian.Bukankah begitu,teman-teman?" jawab Elisa dengan wajah yang tersenyum ramah,sambil bertanya pada Erik dan Elvan,untuk meminta dukungan.
"Iya.Jennifer,Tante,apa yang dikatakan oleh Elisa memang benar..." jawab Erik dan Elvan secara bersamaan,sambil tersenyum ramah kearah Mommy dan juga Jennifer.
Bukan apa-apa,mereka ber 3 tidak mau menikmati makan siang mereka yang sudah pasti akan seperti kuburan nanti.Apa lagi,dengan suasana hatinya Sebastian yang buruk tersebut.
Mereka bahkan baru tahu kalau ternyata Sebastian bisa meniduri wanita juga,sampai pernyataan tentang pernikahan tadi terdengar ditelinga mereka.Walaupun mereka merasa penasaran dengan kejadian sebenarnya yang telah menimpa sahabat mereka itu,tapi mereka juga bisa menilai kalau saat ini bukan waktu yang tepat untuk mereka mewawancarai siapapun.
"Baiklah,tidak apa-apa.Kalau begitu,kalian harus datang kepernikahannya Jennifer dan Sebastian besok...Besok pagi,kalian tidak boleh memberi alasan apapun lagi,pada kami..." ucap Mommy dengan nada seriusnya.
"Iya.Kalian harus datang,jangan sampai tidak datang ya..." timpal Jennifer dengan nada dan wajah seriusnya.
__ADS_1
"Kalau yang satu itu,kalian tenang saja,kami pasti akan datang..." jawab Elisa dengan nada semangat dan wajah yang tersenyum senang.
"Iya,kami pasti akan datang..." timpal Erik dengan wajah yang tersenyum senang,dan disusul dengan anggukan kecilnya Elvan.
Tentu saja,mereka ber 3 tidak akan melewatkan hari pernikahan sahabatnya tersebut,karena akhirnya sahabat datar mereka akan menikah.
Walaupun harus membuat diri mereka beresiko akan dipecat,mereka pasti akan berusaha untuk tetap datang.Mungkin saja,majikan mereka juga akan datang untuk menghadiri pernikahannya Sebastian tersebut,mantan perkerja terbaik bagi majikan mereka.
"Baiklah.Kalau begitu,kami akan pulang dulu,Tante,Paman,Jennifer..." ucap Elvan dengan nada sopannya,sambil menunduk hormat kearah anggukan kecilnya Daddy, Mommy dan juga Jennifer yang terus tersenyum pada mereka sedari tadi,begitu juga dengan Elisa dan Erik yang juga ikut menunduk hormat.
"Iya.Ayo,kami antar kalian sampai didepan..." jawab Mommy dengan nada lembutnya,sambil merangkul Elisa dengan pelan dan membawa langkah mereka menuju kepintu utama sana.
" Terima kasih,Tante..." ucap mereka ber 3 secara bersamaan, Erik,Elvan dan Elisa hanya mampu melangkah dengan wajah yang tersenyum segan,karena keluarganya Jennifer dan Jennifer sendiri juga sangat ramah,baik hati,dan tidak memilih dalam berteman,bahkan Jennifer sekeluarga tidak masalah mengantar mereka sampai kepintu depan.
"Billy,kamu antar mereka..." perintah Daddy dengan nada tegasnya,sambil mengikuti langkah istrinya,begitu juga dengan Jennifer.
"Baik,Tuan besar..." jawab Billy dengan cepat,ia juga mengikuti langkah Tuan Besarnya,begitu juga dengan Aldy hang sudah bingung mau melakukan apa,padahal ia berniat ingin pergi berkerja,tapi mau tidak mau,ia harus menunggu kedatangan keluarga Tuan Mudanya terlebih dahulu.
Tapi baru hitungan kedelapan langkah,langkah mereka semua harus terhenti saat mereka semua melihat seorang wanita remaja yang berseragam sekolah dan sedang berlari dengan langkah buru-burunya,dari arah dapur sana.
Beberapa detik kemudian...
"Argghh..." terdengar pekikan tertahan dari wanita remaja tersebut,karena tiba-tiba saja tubuhnya setengah melayang karena ia tidak sengaja menginjak tali sepatunya yang ternyata sebelahnya belum ia ikat sama sekali.
Dan untung saja,Elvan yang memang selalu sigap itu,berhasil menangkap tubuhnya wanita remaja tersebut dengan gerakan cepat.Apa lagi,memang Kebetulan Elvan yang posisinya dibaris pertama dari arahnya wanita remaja tersebut berlari tadi.
Sedangkan yang lainnya,hanya mampu menatap tercengang dengan ekspresi mereka masing-masing,kearah sepasang manusia tersebut yang malah sibuk saling menatap tanpa berkedip.
Kecuali Mommy,Jennifer dan Elisa yang tercengang dan juga menutup mulut mereka dengan kedua tangan mereka karena merasa sangat kaget.
Lihatlah,bagaimana tidak membuat mereka semua tercengang...Tubuh wanita remaja yang hampir terjatuh tersebut, yang berada dipelukannya Elvan, yang posisinya setengah miring,dan dengan wajah mereka berdua yang hampir tidak berjarak,dan juga tatapan mereka yang seperti tidak ingin putus saja.
Beberapa detik kemudian...
"Ehm ehm ehm..." dehem Daddy dengan nada tingginya,saat ia melihat sepasang manusia tersebut yang tidak berniat ingin menyudahi tatapan yang menurutnya berlebihan untuk mereka berdua yang tidak saling mengenal tersebut.
Suara tingginya Daddypun langsung mampu membuat sepasang manusia tersebut tersadar dari tatap-menatap mereka,dan segera berdiri dengan baik kembali.Mereka bahkan langsung menjadi salah tingkah,terlihat dari garukan kepala mereka yang sebenarnya tidak gatal tersebut.
"Dad,Mom,kak..." panggil wanita remaja tersebut dengan wajah malunya, ternyata wanita remaja itu Sylvia,ia sudah hampir terlambat kesekolah pagi ini karena tidak ada yang membangunkan dirinya seperti biasanya.
Hingga membuat dirinya hanya memiliki waktu sedikit untuk bersiap-siap dan berlari dengan buru-buru,ia melupakan ikatan tali sepatunya, walaupun kadang ia juga mampu bangun sendiri.
"Jadi...?" tanya Elvan,Erik,dan Elisa dengan wajah kaget mereka,saat mereka baru mengetahui kalau ternyata Jennifer masih memiliki adik perempuan.
__ADS_1
"Benar,kami memiliki 2 putri,dan wanita ini adalah putri bungsu kami...Nak,perkenalkan dirimu pada mereka..." jawab Mommy dengan wajah yang tersenyum senang,setelah wajah tercengangnya tadi sudah menghilang begitu saja karena suara deheman tinggi suaminya tadi
"Perkenalkan,aku Sylvia Amora Naava,adiknya kakak Jennifer..." Sylvia memperkenalkan dirinya dengan wajah yang tersenyum malu,rasanya ia ingin sekali segera menyembunyikan wajah malunya ini saat ini juga,karena baru ini kali pertamanya ia berada dalam posisi intim seperti itu dengan pria.
Dan yang lebih parahnya lagi,tadi ia sampai terhipnotis sama wajah tampannya pria muda tersebut.
"Wah,nama yang cantik...Perkenalkan,aku Erik,ini kekasihku bernama Elisa,dan pria tampan yang satu ini,bernama Elvan..." ucap Erik yang langsung memperkenalkan dirinya dan yang lainnya dengan nada semangatnya,sambil berjalan pelan kearah Elvan dan mengulurkan paksa tangannya Elvan kearah Sylvia,tanpa izin terlebih dahulu.
"Tidak mendapatkan kakaknya,dapat adiknya juga bagus.Lagi pula,lumayan cantik juga bukan...?" lanjut Erik dengan bergumam pelan disamping telinganya Elvan,hingga mampu membuat Elvan langsung mendengkus kesal karena hanya dirinya saja yang bisa mendengarnya.
'Apa Erik sudah gil*,wanita ini masih anak kecil...' Elvan hanya mampu berkata kesal didalam hatinya,sambil menelisik seragam sekolah menengah atas yang sedang melekat ditubuhnya Sylvia tersebut.
Sedangkan yang lainnya,mereka semua langsung tersenyum lucu saat mereka tahu apa maksud dari tingkah nakalnya Erik barusan,kecuali Daddy yang memang selalu menampilkan wajah khas datarnya saja.
"Iya,salam kenal..." jawab Sylvia dengan wajah yang tetap tersenyum malu,sambil menyambut tangannya Elvan.
"Tapi memang benar kata kekasihku tadi...Kamu bukan hanya memiliki nama yang cantik saja,tapi kamu juga memiliki wajah yang cantik..." ucap Elisa dengan jujur dan wajah yang tersenyum senang, karena nyatanya memang begitu adanya,Sylvia memang terlihat sama cantik dengan Jennifer.
"Ya,Tuhan.Maaf semuanya...Aku lupa,aku harus cepat berangkat kesekolah.Jika tidak,aku akan terlambat..." lanjut Sylvia dengan wajah paniknya, sambil melepaskan tangan mereka dengan cepat dan berniat ingin berjalan keluar dari sana,tapi suaranya Erik mampu menghentikan niatnya tersebut.
"Nona Sylvia,tunggu dulu..." ucap Erik dengan cepat,dan nada sedikit tingginya.
"Ada apa?" tanya Sylvia dengan nada dan wajah bingungnya.
"Elvan,cepat ikat tali sepatunya Nona Sylvia...Apa kamu ingin membuat Nona Sylvia terjatuh diluar sana,karena tali sepatu yang belum diikat itu..." ucap Erik dengan mengabaikan pertanyaannya Sylvia sambil sedikit mendorong tubuh tidak siapnya Elvan, hingga mampu membuat Elvan hampir saja menabrak tubuhnya Sylvia,jika saja Elvan tidak segera menahan kakinya.
"Iya.Apa yang dikatakan sama Erik,memang benar,adikku ini memang sangat ceroboh. Elvan,bisakah kamu tolong ikat tali sepatu adikku,supaya kejadian yang tadi tidak akan terulang lagi..." timpal Jennifer dengan nada semangatnya,sambil menampilkan wajah seriusnya.
Elvanpun menjadi bingung,iapun menelisik wajah kedua orang tuanya Jennifer yang terlihat tidak keberatan sama sekali,Mommynya Jennifer bahkan terlihat sedang menganggukkan pelan kepalanya yang menandakan kalau mereka berdua sudah memberi izin.
Akhirnya mau tidak mau,Elvanpun segera berjongkok dengan sebelah lutut yang memijak lantai marmer tersebut,dan segera mengikat tali sepatunya Sylvia dengan gerakan cepat dan mengabaikan penolakannya Sylvia.
"Tuan,tidak perlu lagi,aku bisa melakukannya sendiri..." ucap Sylvia dengan nada dan wajah bingungnya yang bercampur malu,sambil menatap kesal sebentar kearah Jennifer,lalu beralih kearah kepala menunduknya Elvan dengan gerakan kedua tangannya salah tingkahnya.
"Nona,kamu tidak perlu memanggilnya Tuan,panggil saja Elvan..." ucap Erik dengan wajah yang tersenyum nakal.
'Harus aku apakan,sahabat gil* seperti dia ini...' batin Elvan dengan perasaan kesalnya saat ia baru saja selesai mengikat tali sepatu tersebut,dan iapun langsung berdiri dari jongkoknya.
Tingkah nakalnya Erik tiba-tiba saja kambuh tanpa diundang, bahkan rasa segannya Erik pada kedua orang tuanya Jennifer tadi langsung menghilang begitu saja.
Padahal,tentang ikatan sepatu tersebut bukan salahnya,karena kesalahan tersebut dari Sylvia sendiri.
"Terima kasih,Tu,Elvan..." ucap Sylvia dengan wajah yang tersenyum tulus,tapi masih saja terlihat ekspresi malunya disana.
__ADS_1
"Iya,sama-sama..." jawab Elvan dengan nada santainya,sambil terus menahan rasa kesalnya pada Erik.
"Baiklah.Kalau begitu,aku akan berangkat dulu Dad,Mom...Daa daa..." ucap Sylvia dengan nada buru-burunya,sambil menatap kesal kearah Jennifer yang sedang tersenyum mengejek kearahnya,lalu iapun langsung berjalan pergi dari sana untuk berangkat kesekolah,setelah melirik sekilas kearah Elvan yang sibuk menatap kesal kearah Erik.