
Dikediamannya Rendra...
Rumah miliknya Sebastian yang dulu hanya setengah batu dan setengah kayu saja,sekarang sudah tidak lagi.Karena Sebastian membongkar dan membangunnya kembali dengan luas yang selebar 10 ruko,bertingkat 3 dan memiliki halaman yang indah disekeliling rumah tersebut.
Dan Sebastian telah memilih arsitek terpilih untuk pembangunan rumahnya tersebut,hingga rumah tersebut terlihat sederhana jika dilihat dari luar,tapi akan terlihat sangat mewah jika kita sudah masuk kedalam rumah tersebut.
Dan jangan lupa juga dengan para pengawal yang sudah hitungan puluhan tersebut.Karena sudah ada sekitar 50 pria-pria tegap yang berpakaian rapi,yang sedang berjaga-jaga disekeliling rumah yang telah dibangunkan oleh Sebastian,dan soal rumahnya yang terlihat megah didalam itu juga berkat bakat dari salah satu ahli Arsitek terpilih yang dipilih oleh Sebastian langsung.
Bahkan uang modal yang dulu telah ia pinjam sama Pak tua tersebut untuk modal bisnisnya,Sebastian sudah langsung membayarnya sampai habis,setelah ia sudah mendapatkan hasil dari kerja-kerasnya selama 1 tahun ini.Walaupun Pak tua tersebut tidak mau menerimanya,tapi ia tetap memaksanya,karena ia tidak mau menggunakan apapun yang bukan dari kerja kerasnya sendiri,selagi ia masih mampu.
Tapi semua itu tidak ia dapatkan dengan begitu saja,karena ia terus berkerja sampai ia rela tidak memiliki waktu luang,walaupun hanya sekedar untuk duduk sedikit lama di Restoran Hotel bersama ke 3 sahabatnya,karena ia terlalu sibuk dengan Perusahaan barunya dan latihan bela dirinya.
Ia juga harus lebih fokus untuk menjual produk dengan harga murah dan melakukan seleksi produk. Sebastian juga harus berfokus pada barang-barang bermerk namun dengan harga yang murah yang pasti diminati oleh konsumen/pelanggannya,atau rekan-rekan bisnisnya.
Dan itu juga termasuk salah satu hal yang selalu membuat ke 3 sahabatnya merasa kesal padanya,karena jika ia datang mencari mereka,pasti selalu hanya 30 menit saja berada disana,itupun hanya 4,5 kali perbulan.
Tapi walaupun begitu,ke 3 sahabatnya,kedua orang tuanya Sebastian,adik perempuannya dan pak tua tersebutpun juga merasa sangat bangga,saat mereka ber 3 melihat bakat-bakat terpendamnya Sebastian yang baru saja terlihat itu.Dan ada 1 orang lagi yang ikut merasa bangga dalam diam,karena telah memiliki calon menantu yang sangat cerdas,yaitu Daddynya Jennifer.
"Bu,apa Ibu melihat apa yang sedang aku lihat tadi?" tanya Stella dengan nada seriusnya,sambil memakan sarapan paginya dengan gerakan pelannya.
"Tidak..." jawab Ibu dengan nada santainya,sambil mengoles selai strawberry ke roti tawar yang sedang ia pegang saat ini,ia memang selalu lebih memilih untuk sarapan roti saja,karena ingin ringkas dan bisa segera melanjutkan perkerjaan dapurnya yang tidak ada habis-habisnya itu.
"Apa Ibu merasakan apa yang sedang aku rasakan tadi?" tanya Stella dengan suapan terakhirnya,setelah itu ia segera meminum air putihnya sambil melirik kearah Ibunya.
"Tidak..." jawab Ibu dengan nada lambatnya dan ekspresi heran diwajahnya,sambil memakan rotinya dan terus menatap kearah putrinya yang sedang meliriknya.
"Ibu,apakah Ibu tidak bisa sekali saja,perhatian atau jeli sama keadaan disekitar Ibu?" tanya Stella dengan nada kesalnya,saat ia memikirkan tentang Ibunya yang memang selalu lebih fokus pada dapurnya dari pada pada anak-anaknya.Hanya saja,ia tidak tahu menahu kalau tentang Ayahnya,apakah Ibunya masih begitu perhatian sama Ayahnya atau tidak.
Dan malahan, Ibunya sangat menyukai aktivitas didapurnya tersebut,seperti memasak dan membuat kue.Berbeda dengan Ibu-Ibu rumah tangga yang ia tahu,kalau mereka sangat suka berada diluar rumah,seperti pergi berbelanja mungkin,atau bermain arisan.
Padahal kakaknya sudah sukses dan memiliki banyak uang untuk bisa mereka hambur-hamburkan,walaupun dirinya adalah pribadi yang tidak banyak berbeda sama Ibunya.Dan satu lagi,sudah banyak pembantu didalam rumah tersebut,tapi Ibunya...Ya,begitulah...
"Memangnya apa yang sedang kamu lihat dan rasakan tadi,nak?" tanya Ibu balik,dengan wajah penasarannya,sambil meminum kopi susu buatannya tadi.
"Tadi aku melihat,kalau ada kobaran semangat dan bahagia didalam kedua matanya kakak,dan aku juga bisa merasakan kalau kakak seperti sedang menemukan sesuatu yang berharga saja.Apa Ibu benar-benar tidak bisa melihat dan merasakannya? Apakah kakak sedang jatuh cinta lagi,Bu?" jawab Stella dengan nada seriusnya dan sekalian bertanya,sambil mengelap sisa sarapan dikedua sudut bibirnya dengan tisu.
Karena sudah dalam 1 tahun ini,jarang-jarang ia bisa melihat senyuman kakaknya itu.
__ADS_1
"Apa kamu baru saja selesai menonton drama korea lagi,saat bangun tidur tadi? Kamu ini baru tamat SMA,tapi pikiranmu sudah berkelana kemana-mana" jawab Ibu dengan wajah malasnya setelah ia berpikir untuk beberapa detik,lalu ia segera menghabiskan susu miliknya tadi.
"Lagi pula,kalau kakakmu benar-benar sedang jatuh cinta,itu hal yang wajar untuk pria tampan seusia kakakmu yang sudah berusia 24 tahun,tahun ini" lanjut Ibu lagi,dengan nada santainya,karena ia memang selalu berpikiran terbuka kecuali hal itu sudah serius dan menyangkut tentang putrinya itu.
Ia jarang merasa khawatir terhadap putranya itu,karena ia berpikir kalau Sebastian lebih mampu menjaga dirinya sendiri.Berbeda dengan putrinya yang tidak akan mampu menjaga dirinya sendiri dan setahunya wanita lebih rentan akan dalam bahaya dan mendapatkan hal-hal yang buruk,seperti pelecehan dan perampokan contohnya,dan yang lain-lainnya lagi.
Sedangkan Stella,ia hanya mampu terus menatap kesal kearah Ibunya saja.Karena memang benar,setelah bangun tidur dan mandi tadi,ia langsung menonton drama korea yang favoritnya yang berisi romantis-romantisan.
Dan kedua mata kakaknya tadi persis seperti kedua mata pria korea yang ada didalam drama korea yang ia nonton tadi.Bahkan ia rela bangun sedikit lebih pagi,supaya ia sempat menonton drama korea favoritnya tersebut.
"Sudah,kamu akan terlambat kekampus,kalau kamu terus menatap Ibu seperti itu" lanjut Ibu dengan wajah yang tersenyum lucu,saat ia melihat wajah putrinya yang masih saja memberengut kesal.
"Baiklah,aku akan berangkat sekarang.Cup,cup..." ucap Stella dengan wajah kesal yang sudah mulai mengurang,walaupun ia masih merasa kesal tapi ia tidak mampu menjawab banyak terhadap orang tuanya,ia tidak suka berdebat sama orang tua karena takut dosa 😁.
Kemudian ia langsung berdiri dari duduknya,dan mengecup Ayah dan juga Ibu,dengan wajah pasrahnya.Lalu ia segera berjalan keluar dari dalam rumah,karena waktunya kekampus memang sudah tinggal sedikit lagi.Sepertinya rasa penasarannya tadi,harus ia tepikan terlebih dahulu.
"Ayah,apakah semuanya baik-baik saja? Apakah Putra kita tidak akan berada dalam masalah nanti?" tanya Ibu dengan nada seriusnya sambil menelisik wajah tenang suaminya yang hanya diam saja sedari tadi,setelah ia melihat putri mereka yang sudah berangkat kekampus dengan mobil dan berserta seorang supir.
Ia hanya ingin memastikan saja,kalau putranya memang benar-benar tidak akan dalam masalah,walaupun suaminya sudah menceritakan semuanya padanya dan menenangkannya atau menghiburnya dengan kata-kata manis.
"Tapi Ibu khawatir kalau,,,Ayah,jangan macam-macam,ini masih pagi" ucap ibu dengan cepat,karena tarikan tangan suaminya,hingga mampu membuat dirinya langsung terduduk dipangkuan suaminya dengan kedua tangan suaminya yang sudah berada dipinggulnya.
"Ayah tidak pernah macam-macam,Ayah hanya 1 macam saja,Bu..." ucap Ayah dengan wajah yang tersenyum menggodanya,sambil terus menatap kearah wajah istrinya dengan tatapan penuh cinta.
"Apa kamu tidak percaya sama kemampuannya putra kita,hm?" tanya Ayah dengan wajah seriusnya,sambil menahan senyum karena ia melihat wajah malu istrinya saat ini.Mereka jadi seperti kembali kemasa muda dulu lagi,kalau sudah berada dalam posisi seperti ini.
"Percayalah padaku,kalau semuanya akan baik-baik saja.Dan aku pasti akan selalu mengawasinya..." lanjut Ayah lagi,saat ia melihat istrinya yang masih diam dengan wajah malunya,tapi kedua tangannya mulai bergentayangan dipunggung istrinya.
"Baiklah,kali ini aku akan kembali percaya padamu lagi.Tapi aku harap,calon menantu yang akan putramu bawa itu, tidak akan seperti Siska lagi.Dan jika sampai terjadi sesuatu pada putra kita,aku akan langsung membunuhmu diatas ranjang kita saat itu juga" jawab Ibu dengan nada kesal dan candanya,lalu ia langsung berdiri dari pangkuan suaminya dengan cepat saat pegangan kedua tangan suaminya sudah tidak begitu erat lagi.
"Apa suamiku itu memang benar-benar tidak punya malu? Dasar pria tua tidak tahu malu..." gerutu Ibu dengan nada pelannya dan wajah kesalnya,sambil berjalan kearah dapur.Dan ia merasa agak tenang,saat ia mendengar perkataan-perkataan meyakinkan dari suaminya tadi.
Tapi ia juga merasa heran sama sikap mesum suaminya yang tidak pernah berubah sedari waktu mereka muda dulu,bersikap mesum dimanapun dia suka,tanpa melihat keadaan disekitar mereka terlebih dahulu.
"Kamu tenang saja...Hal itu tidak akan pernah terjadi,sayang" ucap Ayah dengan sedikit berteriak dan wajah yang tertawa kecil,saat ia mendengar gerutu-gerutuan kecil istrinya itu,bahkan istrinya terus saja menggerutu kesal hingga kedapur.
"Ayah juga berharap begitu,nak.Semoga saja,kamu lebih mampu dari apa yang Ayah bayangkan saat ini" lanjut Ayah lagi,dengan bergumam pelan dan ditujukan untuk putra mereka Sebastian.
__ADS_1
Walaupun ia sebenarnya merasa sangat yakin dan percaya sama kemampuan putra kebanggaannya itu,tapi tetap saja ia masih bisa sedikit merasakan khawatir.Apa lagi,saat ia memikirkan tentang hidupnya pria tua itu yang dipenuhi oleh para musuh dan juga sisi-sisi gelapnya.
***
Di Bandara **********...
Terdengar dari ujung Bandara sana, suara deru pesawat yang sudah mendarat dengan baik dilapangan terbang sana.
10 menit kemudian...
Terlihat seorang wanita cantik yang memakai dress indah sebatas lutut dan sedang berjalan keluar dari dalam Bandara,ia memiliki tubuh yang tinggi,langsing,kedua mata yang terdapat bulu mata yang panjang dan melentik,bibir yang tidak tebal dan juga tidak tipis,hidung yang sangat mancung,rambut pirang yang sedang terurai indah,dan jangan lupa sama kedua lesung pipinya yang melengkapi kata cantik diwajahnya yang hampir sempurna tersebut.
Ya,wanita itu adalah Jennifer Amora Naava yang baru saja menyelesaikan kuliahnya di Australia sana.Dan hari ini ia kembali pulang ketempat asalnya,dengan membawa hampir segudang bakat dan perasaan cinta yang masih utuh untuk seorang pria yang ia cintai sedari 1 tahun yang lalu.
Lihatlah,ia berjalan bak model dari pintu keluar sana.Ia berjalan dengan langkah tegasnya dan juga langkah khas wanitanya.Dan hampir 100 persen pria-pria yang berada didalam Bandara sana,terus saja menatap kearah dirinya dengan penuh kagum dan damba.Bahkan yang sudah memiliki istri sekalipun,tapi seperti biasanya,Jennifer hanya akan mengabaikan semuanya dengan sikap cueknya.
"Nona Muda..." panggil Billy dengan menunduk hormat,saat Nona Mudanya sudah berjalan mendekat kearahnya dengan beberapa pengawal dibelakang Nona Mudanya.
"Kamu? Bukankah kamu..." tanya Jennifer dengan wajah penasarannya,sambil menghentikan langkahnya dan menjeda perkataannya diakhir kalimatnya karena rasa penasarannya itu,tepat dihadapannya pria yang memang sudah ia kenal tersebut.
"Benar Nona Muda,aku adalah salah satu pengawalnya Tuan Hadden" jawab Billy dengan cepat,sebelum Nona Mudanya sempat menyelesaikan pertanyaan yang sengaja ia jeda tersebut.
"Jadi,buat apa kamu ada disini? Dimana paman?" tanya Jennifer dengan wajah penasarannya yang masih belum menghilang sepenuhnya,dan dengan nada pelan diakhir kalimatnya,sambil mencari keberadaan pamannya yang tidak kelihatan ada dimanapun.
"Aku disini...Karena aku sedang diperintahkan oleh Tuan,untuk melindungi Nona Muda,mulai sekarang" jawab Billy dengan nada bingungnya,sambil berpikir bagaimana cara ia berbicara supaya Nona Muda tidak mencurigainya.
Tapi karena nada bingungnya dan nada lambatnya diawal kalimat tadi,ia malah membuat dirinya semakin tidak bisa terhindar dari kedua mata tajam Nona Mudanya saat ini.
"Kamu tinggal pilih,kamu mau bicara jujur atau aku akan menyuruh paman untuk mengurungmu dibawah tanah sana?" tanya Jennifer dengan tatapan tajam yang masih sama,sambil bersedekap dada dengan gaya arogantnya.
"Nona Muda,mak maksudku,saat ini aku sedang menggantikan pria muda yang telah diperintahkan oleh Tuan,untuk melindungi Nona Muda" jawab Billy dengan sedikit gugup,cepat dan kepala yang terus menunduk hormat,sambil terus merutuki dirinya sendiri yang tidak mampu melakukan akting berbohongnya,jika sedang berhadapan dengan Nona Mudanya,dan juga dengan beberapa majikannya yang lainnya lagi.
Karena ia tidak mau,kalau dirinya sampai dikurung didalam kamar yang pengap,walaupun selalu dikasih makan setiap harinya.
"Katakan pada Tuanmu,untuk tidak lagi mengutus orang baru untukku.Mau muda atau tua,aku tidak perduli karena aku tidak mau dilindungi oleh orang-orang yang baru lagi,cukup kamu saja yang pria terakhirnya.Apa kamu mengerti?" perintah Jennifer dengan nada tegasnya dan panjang lebar,sambil melanjutkan langkahnya tadi untuk keluar dari dalam Bandara dan segera sampai di Mansion Daddynya.
"Mengerti,Nona Muda" jawab Billy dengan cepat,sambil mengikuti langkah Nona Mudanya dari belakang.
__ADS_1