
"Aku? Aku hanya terus fokus berkerja saja,sampai aku mendapatkan kesuksesan yang saat ini sudah aku miliki...Bukankah,kamu juga sudah melihatnya..." jawab Sebastian dengan nada lambatnya,ia bahkan tidak bisa mengekspresikan wajah bangganya dan juga mengabaikan kata "Tanpa aku" dari perkataannya Jennifer barusan, karena tiba-tiba saja rasa ngantuk dan pusing menyerang kedua mata dan kepalanya tapi ia masih berusaha untuk menahannya sebisa mungkin.
"Oh,ternyata kamu pria perkerja keras juga ya..." ucap Jennifer dengan wajah yang pura-pura masih santai,sambil menghitung didalam hatinya.
'Satu,dua,ti....' belum sempat ia menghitung hingga angka ke 3,Sebastian sudah memegang keningnya karena tidak tahan dengan rasa ngantuk dan pusing tersebut.
'Aduh,kenapa tiba-tiba saja mataku terasa sangat berat? Dan kepalaku,arghh...' batin Sebastian dengan perasaan bingungnya,sambil memijit pelan keningnya dan juga menelisik wine miliknya dengan kedua mata yang hampir terpejam.
Padahal dirinya baru saja minum beberapa gelas wine,biasanya jika ia meminum 5 gelaspun ia hanya akan baru merasakan sedikit pusing saja.Walaupun ia memang jarang minum tapi ia masih mampu menahan rasa pusingnya,jika hanya untuk beberapa gelas.
Tapi sekarang,gelas yang baru saja ia minum itu,baru gelas ke 3 nya malam ini,dan ia malah sudah tidak bisa menahan rasa ngantuknya yang disertai rasa pusing dikepalanya.
"Aku akan pergi beristirahat dulu...Jika kamu masih ingin disini,silakan saja..." ucap Sebastian dengan nada lambatnya dan mengabaikan pujiannya Jennifer tadi,sambil berusaha untuk berdiri dari duduknya.
"Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Jennifer yang pura-pura kebingungan,sambil berdiri dan membantu Sebastian untuk bisa berdiri dengan baik.
Ternyata karena akibat rasa ngantuknya yang semakin kuat itu, saat ini Sebastian sedang menyangga tubuhnya dengan satu tangannya diatas meja tersebut,dan sebelah tangannya lagi,masih bertahan dikeningnya.
"Aku baik-baik saja..." jawab Sebastian dengan nada pelan yang sedang menahan rasa ngantuk, sambil menelisik wajah cantiknya Jennifer,dengan kedua matanya yang sedikit menyipit karena tingkat rasa ngantuknya yang terus meningkat itu.
Bahkan wajah cantiknya Jennifer mampu menghipnotis Sebastian untuk tidak memikirkan tentang penyebab dirinya menjadi seperti ini, walaupun dihati kecilnya sedang mulai merasa curiga saat ini,mungkin saja karena pengaruh kadar alkohol yang ia minum dan ditambah dengan obat yang telah dicampur oleh Jennifer tadi.
"Baik-baik apanya? Bahkan untuk berdiri saja,kamu tidak mampu..." ucap Jennifer dengan wajah khawatirnya,sambil mengalungkan tangannya Sebastian kepundaknya dengan cepat dan memegang erat pinggangnya Sebastian.
Tapi ia benar-benar merasa khawatir sekarang, karena tidak tega melihat Sebastian yang malah mulai kehilangan keseimbangannya.
"Apakah kamu tahu,itu baru gelas ke 3 ku.Tapi kenapa kepalaku bisa sampai sepusing ini?" tanya Sebastian dengan nada pelan dan seriusnya untuk mengutarakan rasa bingungnya,sambil berusaha menyeimbangkan tubuhnya yang memang sudah tidak bisa berdiri dengan tegak itu, karena rasa ngantuk yang disertai rasa pusing tersebut.
"Baru,kamu bilang...Jika aku minum 2 gelas saja,aku pasti sudah akan terkapar duluan,tidak sepertimu yang masih bisa berbicara seperti ini..." jawab Jennifer dengan nada kesalnya.
Tapi sebenarnya ia juga berkata jujur karena ia memang tidak tahan minum makanya ia sangat-sangat jarang meminum minuman tersebut,yang tadi itu saja,ia terpaksa karena ingin membuat Sebastian menemani dirinya,itupun ia hanya menyesap beberapa sesapan saja.
"Sudah,biar aku antar kamu kekamar tidurmu saja..." lanjut Jennifer lagi,dengan wajah yang berpura-pura lugu supaya Sebastian tidak akan mencurigainya karena tatapan ngantuknya Sebastian terus saja tertuju kearah wajahnya, sambil membawa Sebastian pergi dari sana.
Jika tidak segera dibawa kekamar tidur,ia takut kalau pria pujaan hatinya akan terkapar diatas rumputan hijau sana.
Sebastian yang memang sudah tidak mampu menyeimbangkan tubuhnya itupun akhirnya pasrah,iapun mengandalkan tenaganya Jennifer untuk membawanya kelantai atas,dimana kamar tidurnya berada.
Tapi tatapan menelisiknya kebanyakan tertuju kearah wajah cantiknya Jennifer,ia bahkan tidak berpikir untuk meminta bantuan sama Aldy atau Billy yang memang selalu bisa ia andalkan.
"Ternyata kamu berat juga,Honey..." ucap Jennifer dengan ekspresi wajah yang sedang nenahan beban berat,karena hampir 60 % tubuh kekarnya Sebastian yang harus ia rasakan,terlihat dari langkah-langkahnya yang tidak sejajar,walaupun tidak begitu parah.
"Kalau begitu,tinggalkan saja aku disini..." ucap Sebastian dengan nada pelannya karena merasa tidak tega dengan Jennifer yang terlihat agak sedikit kesulitan,sambil berusaha mempertahankan kesadarannya yang masih tersisa saat ini.
"Tidak,aku tidak akan mau meninggalkanmu disini,dan membiarkan wanita-wanita lain yang akan dengan senang hati membawamu ..." ucap Jennifer dengan nada kesalnya,sambil memperhatikan langkah mereka,takut-takut kalau akan ada batu-batu kecil didepan sana.
Tapi apa yang ia katakan memang benar adanya, memangnya siapa yang akan menyia-nyiakan pria tampan paripurna yang sedang tergeletak tidak berdaya diatas rumput hijau disana.
__ADS_1
Sedangkan Sebastian,ia langsung tersenyum tipis saat ia mendengar gerutuan kesalnya Jennifer barusan, tanpa tahu kalau besok pagi dirinya akan terbangun dengan kejutan yang tidak pernah ia duga sebelumnya.
Merekapun terus melangkah hati-hati hingga sampai didepan kamar tidurnya Sebastian,dengan Daddy,Mommy dan Aldy yang sedang mengekori mereka berdua,dengan langkah pelan mereka.
Sedangkan ke 3 sahabatnya Sebastian,mereka diperintahkan oleh Daddy untuk menginap disana saja,hingga besok.
Walaupun agak merasa segan dan juga bingung dengan Sebastian yang berjalan dengan dibantu oleh Jennifer,tapi merekapun mengabaikan permandangan jarak jauh tersebut,karena beberapa pengawal yang sibuk mengawal mereka kekamar tamu sana.
"Ceklek.." terdengar suara pintu yang dibuka oleh Jennifer dengan sebelah tangannya,walau agak sedikit kesulitan karena sibuk menahan beban badannya Sebastian.
"Sepertinya,aku telah merepotkanmu,malam ini..." ucap Sebastian dengan nada pelannya,sambil terus mengikuti langkahnya Jennifer,kesadarannya bahkan hanya tinggal beberapa watt saja.
"Kamu memang merepotkan,tapi aku tidak akan merasa keberatan sedikitpun..." jawab Jennifer dengan jujur dan napas terengah-engahnya,karena jika Sebastian tidak sedang kena jebakannya pun,ia pasti akan tetap membantu Sebastian.
"Kamu jangan berprasangka buruk padaku...Aku berbaik hati,hanya padamu seorang saja,selain pada keluargaku..." lanjut Jennifer dengan nada seriusnya,ia takut kalau Sebastian akan salah paham sama perkataannya tadi.
Padahal untuk memikirkan dirinya sendiri saja,Sebastian bahkan sudah tidak mampu saat ini,karena kesadarannya sudah mulai tidak bisa dipertahankan lebih lama lagi.
"Aku tahu..." jawab Sebastian dengan nada pelan yang terdengar serius,walaupun kesadarannya terus mengurang,tai ia masih bisa mendengar samar-samar apa saja yang dikatakan oleh Jennifer.
Sedangkan Jennifer,ia langsung menghentikan langkahnya tepat disampingnya kasur tersebut,dan menolehkan kepalanya kearah wajah tampannya Sebastian yang sedang bersandar dipundaknya,
hingga membuat wajah mereka hampir tidak berjarak.
'Kenapa kamu selalu terlihat tampan disetiap tempat dan disetiap waktu,walaupun wajahmu ini sedang nahan ngantuk seperti ini...' batin Jennifer dengan wajah yang tersenyum malu,padahal Sebastian sudah tidak mampu memperhatikan senyum malunya lagi.
"Apa kamu berniat ingin membuatku berdiri sambil tiduran dipundakmu sepanjang malam?" tanya Sebastian dengan nada kesal yang sedang menahan rasa pusingnya,sambil berusaha tetap mempertahankan keseimbangan tubuhnya,bahkan wajah cantiknya Jennifer sudah menjadi beberapa bayangan dimatanya.
"Inginnya aku memang begitu,tapi rasanya aku tidak akan setega itu.Lagi pula,itu hanya akan semakin merepotkan aku saja.Bisa-bisa,tulang pundakku akan segera bergeser dari tempatnya..." jawab Jennifer dengan wajah yang tersenyum kesal,sambil membaringkan Sebastian keatas kasur tersebut dengan gerakan pelan,ternyata walaupun kesadarannya sudah hampir menghilang tapi Sebastian masih mampu membuatnya kesal.
Sebastianpun langsung terlelap begitu saja, saat kepalanya bertemu bantal dan tubuhnya sudah terbaring diatas kasur tersebut dengan baik.Bayangan terakhir dipenglihatan buramnya itu,hanyalah wajah cantiknya Jennifer yang sedang tersenyum kesal padanya.
"Ternyata obat yang aku berikan tadi,reaksinya cepat juga..." gumam Jennifer dengan nada pelannya, sambil menelisik wajah tampannya Sebastian yang sedang terlelap,ia bahkan mendekatkan wajahnya, hingga wajah mereka hanya berjarak 2 cm saja.
Semakin lama menatapnya,Jennifer malah semakin tidak tahan dengan bibir tebalnya Sebastian.Hingga...
"Cup..." Jennifer mengecup sekilas bibir tebalnya Sebastian,lalu ia langsung tersenyum malu sendiri,padahal Sebastian juga tidak akan mengetahuinya karena sudah masuk kealam mimpi duluan.
"Sebaiknya,sekarang aku harus segera memanggil Billy..." gumam Jennifer lagi,ia akhirnya memilih untuk keluar dari sana terlebih dahulu,dan meminta bantuan pada Billy.
Setelah sampai diluar kamar,ternyata Daddy,Mommy dan Billy sudah berada disana karena sedang menunggu Jennifer.
"Dad,Mom..." panggil Jennifer dengan nada dan wajah kagetnya saat ia berbalik badan setelah menutup pintu barusan,dan mereka ber 3 sudah ada dihadapannya.
"Bagaimana?" tanya Mommy yang memang sedari tadi terus saja merasa khawatir,sambil mendekat kearah Jennifer yang langsung tersenyum senang.
"Sebastian sudah terlelap,Mom.Sekarang gantian Kak Billy yang harus melakukan tugasnya..." jawab Jennifer dengan nada senangnya,sambil menatap kearah Billy yang sedang berdiri pasrah disamping Daddynya.
__ADS_1
'Saat sedang ada inginnya saja,baru bersikap manis...' batin Billy dengan perasaan kesalnya,saat ia mendengar tambahan kak diawal namanya barusan.
"Kamu,tunggu apa lagi? Cepat masuk kedalam dan kerjakan tugasmu dengan baik..." perintah Daddy dengan nada tegasnya,sambil bersedekap dada.
Ia merasa sedikit kesal,karena saat sebelum ia berhasil membawa Billy kesini tadi,ternyata Billy berusaha untuk kabur dari tugasnya ini.
"Baik,Tuan Besar..." jawab Billy dengan nada dan wajah pasrahnya,sambil berjalan cepat masuk kedalam kamar tersebut.
"Mom,Dad,besok aku hanya akan mengandalkan kalian berdua saja..." ucap Jennifer dengan wajah seriusnya sambil memeluk sayang lengan Mommynya,setelah ia melihat Billy yang sudah masuk kedalam.
"Tenang saja,Daddy fan Mommy pasti akan melakukan yang tebaik untukmu,nak..." jawab Daddy dengan nada tenangnya,tanpa menurunkan kedua tangannya.
"Ya,Mommy juga berharap,kalau semuanya akan berjalan dengan baik besok..." timpal Mommy dengan wajah yang tersenyum khawatir,sambil membalas pelukan tangan dari Jennifer.
Beberapa menit kemudian...
"Ceklek..." terdengar suara pintu kamar yang terbuka dari dalam,terlihat Billy yang sedang berjalan keluar dengan langkah pelannya.
"Tuan Besar,Nyonya Besar,Nona Muda,tugasku sudah selesai..." ucap Billy dengan wajah bingungnya yang sedang menunduk hormat kearah ke 3 majikannya tersebut.
"Bagus...Sekarang,kamu sudah boleh pergi..." ucap Daddy dengan nada senangnya,dan diikuti dengan wajah tersenyum senangnya Mommy dan juga Jennifer.
"Tunggu dulu..." lanjut Daddy lagi,saat ia melihat Billy yang baru saja berjalan beberapa langkah.
"Apa masih ada yang harus aku kerjakan,Tuan besar?" tanya Billy dengan nada dan wajah penasarannya,sambil berbalik badan kearah Tuan Besarnya.
"Tidak.Aku hanya ingin kamu mengingatnya saja,jangan sampai buka suara terlebih dahulu sebelum Nona Mudamu sendiri yang akan menyelesaikannya terlebih dahulu...Apa kamu mengerti?" jawab Daddy dengan nada serius dan wajah tegasnya,sambil menatap tajam kearah Billy yang langsung menundukkan kepalanya.
"Aku mengerti,Tuan Besar..." jawab Billy dengan cepat dan wajah pasrahnya.
"Sekarang,kamu sudah boleh pergi..." perintah Daddy dengan nada santainya kembali.
"Baik,Tuan Besar..." jawab Billy,iapun langsung berbalik badan dan berjalan pergi dari sana untuk kembali memeriksa keamanan diluar Mansion.
'Tuan Muda,tolong maafkan aku.Bahkan untuk menolong diriku sendiri saja,aku tidak mampu.Aku harap,Tuan Muda akan mengerti dengan ketidak mampuanku ini...' lanjut Billy didalam hatinya dengan wajah bersalahnya,sambil memikirkan tentang apa yang akan terjadi sama Tuan Mudanya besok, tanpa menghentikan langkahnya.
Ingin mencegah dan berkata jujur pada Tuan Mudanyapun ia serba salah,karena ia harus berada diantara 2 pria yang dipenuhi kekuasaan penuh atas dirinya.
Nona Mudanya bahkan sampai sekarang masih belum tahu,kalau sekarang dirinya sudah berkerja sama Sebastian.Berbeda dengan Tuan Haddennya yang malah masih sibuk sama beberapa musuhnya yang sedang ingin merebut wilayah kekuasaannya disana.
"Sekarang,kamu juga pergilah beristirahat..." ucap Daddy dengan nada pelannya,sambil menarik pelan istrinya kedalam pelukannya.
"Iya,kata Daddymu itu memang benar.Dan jangan lupa,besok kamu harus bisa melakukan dengan lebih baik lagi,dari pada Mommy..." timpal Mommy dengan wajah yang tersenyum serius,ia ingin memberi semangat pada Jennifer dulu.
"Itu sudah pasti Mom,besok Mom juga harus melakukan yang terbaik.Lihat saja,aktingku juga pasti akan lebih baik dari pada Mommy..." ucap Jennifer dengan nada dan wajah yakinnya,sambil tersenyum senang atas dukungan penuh dari kedua orang tuanya.
"Ingat,kamu jangan sampai melakukan hal yang aneh-aneh didalam sana ya...Jika tidak,Mommy tidak akan ingin memaafkan kamu untuk seumur hidupmu..." peringat Mommy dengan nada dan wajah tegasnya,mana tahu saja putri sulungnya itu tiba-tiba menjadi semakin gil* karena tidak tahan melihat tubuh kekarnya Sebastian yang hampir dipenuhi otot itu.
__ADS_1
"Mom,aku tidak segil* itu juga kali..." ucap Jennifer dengan nada kesalnya hingga membuat kedua orang tuanya langsung tersenyum lucu,ia masih waras bukan, walaupun tubuh berototnya Sebastian memang akan sangat menggoda imannya nanti.
"Sudah.Sekarang,kita juga harus beristirahat... Dan kamu,masuklah dan beristirahat" ucap Daddy dengan suara lembutnya,sambil tersenyum kecil sama Jennifer dan disertai senyum kecil Mommy juga,lalu iapun segera membawa istrinya untuk tidur bersama,karena memang sudah larut malam saat ini.