Suami Tampanku Yang Sederhana

Suami Tampanku Yang Sederhana
Bab. 140


__ADS_3

Sebastian yang ditinggal pergi dengan kalimat-kalimat aneh dari ke 3 sahabatnya itu,ia hanya mampu terus menghela napas kesal sebanyak beberapa kali,lalu ia menghela napas pelan dengan panjang.


Kemudian ia kembali mengalihkan pandangannya kewajah istrinya yang masih setia dengan tidur panjangnya itu,Sebastian terus menatapnya sambil memikirkan semua perkataan-perkataan dari ke 3 sahabatnya tadi.


20 menit kemudian...


Sebastian mulai mengangkat tangannya Jennifer dan mendekatkannya kebibirnya,lalu ia memejamkan kedua matanya secara perlahan-lahan,sambil merenungi semua perbuatannya terhadap Jennifer,sedari awal hingga sekarang.


Dan saat ini hanya satu hal yang terus terlintas dibenaknya,diantara semuanya yang masih berputar disekeliling benaknya.Sepertinya sekarang ia mulai mengerti bagaimana rasanya diabaikan,saat ia mengingat tentang surat cerai dan Jennifer yang berniat ingin pergi darinya.


Beberapa kali tatapan kecewanya Jennifer pada sebelum-sebelumnya,telah berhasil membuat dirinya tersadar dengan kesalahan-kesalahannya tersebut.Sebenarnya ia telah menyadari sejak awal dan ikut merasa terluka, hanya saja ia selalu berusaha untuk menepis segala rasa luka dan bersalahnya tersebut,setiap ia melihat atau kembali mengingat tatapan kecewa tersebut.


"Apa aku sudah bersikap keterlaluan terhadapmu, hm?" gumam Sebastian dengan nada pelannya dan ekspresi wajah bersalahnya,tanpa membuka kedua mata terpejamnya.


"Bisakah kamu memaafkan kesalahan-kesalahanku padamu,selama ini? Sekarang bangunlah... Aku akan melakukan apapun yang kamu inginkan, asalkan kamu bangun dan ingin memaafkan aku..." gumam Sebastian lagi,sambil membuka pelan kedua matanya dan menatap wajahnya Jennifer.


Perlahan-lahan ia mulai menyadari tentang satu persatu kesalahan terbesarnya selama ini, semuanya karena ia terlalu fokus berusaha menutupi hatinya dari nama wanita manapun, karena rasa kecewanya terhadap cinta pertamanya pada tahun lalu.


Dan karena hal tersebut,ia telah menyakiti seorang wanita yang namanya telah masuk kedalam hatinya secara diam-diam,tanpa ia sadari.


"Bangunlah...Dan aku akan memberikan semua perhatianku,hanya untukkmu saja..." gumam Sebastian lagi.


"Aku juga akan memberikan semua cintaku,hanya padamu saja..." gumam Sebastian lagi,kedua matanya bahkan mulai memanas,karena sampai sekarang Jennifer tidak juga memberinya tanda-tanda ingin ataupun akan bangun.


Tanpa ia ketahui,kalau tadinya Jennifer telah memberi tanda kepada ke 3 sahabatnya tersebut, kalau Jennifer tidak ingin sampai Sebastian kembali menikah,menambah istri ataupun mencari wanita lain selain dirinya saja.


"Lihatlah...Sekarang kamu telah berhasil membuatku menjadi orang bod*h seperti ini,tanpa melakukan apapun..." gumam Sebastian lagi, dengan wajah yang tersenyum bod*h,sambil menepis beberapa tetes air mata yang baru saja meluncur dari kedua ekor matanya,tanpa mampu ia kendalikan.


Ia sudah menahannya selama beberapa hari ini,tapi saat ia merenung semuanya dengan lebih detail lagi.Ia baru menyadari kalau betapa egois dan bod*hnya dirinya,karena telah membuat seorang wanita cantik harus menunggu balasan cintanya, dan ia bahkan mengabaikannya begitu saja.


Padahal selama ini ia belum pernah menangis sama sekali,dan sekarang ia malah tidak mampu menahan tangisnya tersebut karena terus memikirkan tentang Jennifer yang mungkin saja,akan segera meninggalkan dirinya,tanpa memberinya kesempatan untuk meminta maaf atau melakukan apapun.


Jika saja ada keluarga atau sahabat-sahabatnya yang sedang bersamanya saat ini,ntah harus ia sembunyikan kemana kedua mata basahnya itu.


"Aku mohon,bangunlah untukku...Apa kamu sudah tidak mencintaiku lagi,hm? Ya,mungkin kamu memang sudah tidak mencintaiku lagi.Tapi kamu juga harus bangun,sayang.Setidaknya,demi bayi kita yang masih belum tahu apa-apa ini..." gumam Sebastian lagi,wajah sedihnya langsung berubah menjadi kaget dan sekaligus senang,saat ia merasakan kalau adanya pergerakan pelan dijari-jari istrinya barusan.


Wajah senangnya pun berubah menjadi kecewa saat ia merasakan kalau Jennifer baru saja memberikan jawaban padanya, kalau akan bangun,hanya demi buah hati mereka saja.


'Apakah kamu benar-benar sudah tidak mencintaiku lagi? Aku harap,apa yang aku pikirkan ini,tidak benar dan kamu masih mencintaiku sampai saat ini...' Sebastian hanya mampu membatin dengan perasaan kecewanya dan juga doa penuh harapnya,sambil terus berusaha untuk menetralkan perasaan kecewanya tersebut.


"Bangunlah...Tidak apa-apa,tidak masalah,kalau kamu tidak mencintaiku.Mulai sekarang biar aku yang akan memperjuangkan kamu,tapi kamu harus bangun terlebih dahulu.Karena sekarang aku baru menyadari,kalau ternyata aku telah mencintaimu selama ini, sebelum kamu pulang kesini..." lanjut Sebastian lagi,dengan nada serius dan wajah yang dipenuhi tekad,setelah ia sudah selesai menormalkan perasaan kecewanya tersebut.


Karena perkataan-perkataan ke 3 sahabatnya tadi,telah menyadarkan dirinya tentang banyak hal.Dan juga tentang mengapa bayangan-bayangannya Jennifer selalu menganggu pikirannya selama Jennifer berada di Australia selama 1 tahun hari itu,ternyata itu semua adalah perasaan rindu dan cinta yang telah tumbuh didalam hatinya tanpa dirinya sadari.


"Apakah kamu bisa mendengar apa yang sedang aku katakan,hm? Sekarang kamu bukan hanya mendapatkan ragaku saja,tapi kamu telah mendapatkan hatiku dan juga semua jiwaku. Sayang,aku mencintaimu... Cepatlah bangun, karena aku akan menunjukkan semua rasa cintaku padamu,supaya kamu bisa kembali mencintaiku..." lanjut Sebastian lagi.

__ADS_1


Semua rasa campur aduknya selama beberapa hari ini,langsung menjadi sebuah senyuman senang sekaligus bahagia diwajah tampannya yang mulai brewok itu.


Karena saat ini bukan hanya jari-jari tangannya Jennifer saja yang bergerak,tapi kedua matanya Jennifer juga ikut merespon perkataan- perkataannya tersebut,terbukti dengan bulu mata lentiknya yang mulai bergerak-gerak pelan.


"Cup... Sayang,bangunlah... Aku benar-benar telah mencintaimu sekarang,dan aku berjanji kalau aku tidak akan mengabaikan dirimu lagi,setelah kamu bangun nanti..." gumam Sebastian dengan nada senangnya sambil mengecup sayang punggung tangannya Jennifer, lalu berdiri dari duduknya, tanpa melepaskan genggaman tangannya.


"Dokter,dokter,dokter...." panggil Sebastian dengan nada tidak sabarannya,saat ia baru teringat dengan sang dokter.


Ia berteriak dengan nada tingginya dan ekspresi wajah senangnya,sambil berlari keluar dari ruangan tersebut,setelah ia sudah selesai melepaskan pelan genggamannya tersebut dengan tidak rela.


Karena rasa senang yang masih bercampur aduk itu,ia telah melupakan tombol yang ada disamping ranjang pasiennya Jennifer tersebut,tombol yang bisa ia pencet kapanpun ia ingin,untuk memanggil sang dokter atau perawat tanpa perlu ia berlari keluar lagi.


Sedangkan diluar sana,sang dokter yang baru saja ingin memasuki ruang operasi itupun langsung berbalik arah dan segera berlari kearah dimana berasalnya suara menggemparkan tersebut,dan ia bahkan langsung melupakan jadwal operasinya tersebut,begitu juga dengan beberapa perawat yang sedang mengikutinya tadi.


"Sayang..." panggil Sebastian lagi,dengan nada senangnya setelah ia sudah kembali keruangannya tadi,dengan sang dokter dan beberapa perawat yang telah berada dibelakangnya.


Terlihat dari kedua matanya Jennifer yang baru saja terbuka sempurna,dan sang dokterpun segera mendekati untuk memeriksa keadaannya Jennifer.


Sang dokter langsung tersenyum lega saat ia sudah selesai memeriksa,karena semuanya baik-baik saja,sesuai dugaannya.Dan sekarang,ia tidak perlu mengkhawatirkan keselamatan nyawanya lagi.


Apa lagi,saat ia melihat ekspresi senang dan bahagia yang sedari tadi terus terpancar diwajah tampan Tuan muda mereka itu.


Sedangkan Jennifer,ia hanya terus mengercap-ngercap kedua matanya sambil menelisik kesekelilingnya,dan juga sedikit memijit kepalanya karena ia merasa sedikit pusing.


"Tuan Muda,Nona Muda sudah baik-baik saja sekarang" ucap sang dokter dengan nada dan wajah tersenyum senangnya,sebelum Tuan Muda mereka sempat bertanya padanya.


Ia bahkan sudah tidak lagi, memperdulikan sang dokter dan beberapa perawat yang langsung menatap tidak percaya kearahnya,ia hanya tahu kalau ia perlu melampiaskan segala rasa rindu dan khawatirnya selama beberapa hari ini secepatnya.


Dan bertepatan dengan kedatangannya Ayah,Ibu dan juga Stella,yang baru saja datang untuk mengantar makan siang,karena saat ini sudah jam 12 siang lewat 10 menit.


"Sayang,kamu sudah bangun?"


"Kakak ipar,ternyata kamu sudah bangun..."


ucap Ibu dan Stella secara serentak dan wajah tersenyum senang mereka,sambil terus melangkah mendekat kearah Jennifer.


Begitu juga dengan Ayah yang ikut tersenyum senang,sambil mengikuti langkah tidak sabaran istrinya tersebut.


Mereka ber 3 bahkan juga merasa tidak percaya dengan permandangan langka yang baru saja mereka lihat barusan,tapi sekarang rasa senang dan bahagia mereka lebih banyak dari pada rasa tidak percaya mereka.


"Kalian?" tanya Sebastian dengan nada dan wajah kagetnya saat ia mendengar suara senangnya Ibu dan adiknya tersebut,sambil mengangkat pelan kepalanya yang menunduk tadi,dan juga mengusap-ngusap tengkuk lehernya karena merasa salah tingkah.


"Apa kamu sudah pikun,hm? Sekarang sudah waktunya makan siang... Kenapa kamu tidak memberitahu kami kalau Jennifer sudah bangun, nak?" jawab Ibu dan sekalian bertanya dengan nada kesalnya,karena pertanyaannya Sebastian barusan.


Sedangkan Sebastian,iapun langsung menghela napas kesal saat ia mendengar pertanyaannya Ibu barusan,padahal Jennifer baru saja terbangun.

__ADS_1


Kemudian wajah kesalnya berubah menjadi senang dan bahagia kembali,saat tatapannya beralih kearah Jennifer yang sibuk menatap mereka satu persatu,dan berhenti agak lama kearahnya.


"Sayang...Ada apa denganmu,hm? Kenapa kamu malah menatapku seperti itu?" tanya Sebastian dengan nada dan wajah herannya,sambil mengenggam pelan tangannya Jennifer.


Sedangkan Ayah,Ibu dan Stella,mereka ber 3 pun ikut menatap heran kearah Jennifer yang malah terlihat sedang kebingungan saat ini.


"Sayang,cup,cup...Apakah kamu tahu,kalau aku terus merasa takut selama beberapa hari ini,aku sangat takut kalau kamu akan meninggalkan aku. Aku mengira,kalau tadinya kamu benar-benar akan meninggalkan aku,tapi sekarang kamu telah kembali padaku..." lanjut Sebastian dengan nada dan wajah seriusnya,setelah sudah selesai kembali mengecup punggung tangannya Jennifer,sambil terus menelisik wajah bingungnya Jennifer tersebut.


"Jadi aku mohon,sayang...Kamu jangan membuatku menjadi takut,dengan menatapku seperti itu..." lanjut Sebastian lagi,dengan nada dan wajah yang mulai terlihat khawatir.


Ia takut,kalau saat ini sedang ada masalah dengan kepalanya Jennifer,karena benturan keras tersebut,hingga membuat Jennifer bersikap seperti ini saat ini.


Ia bahkan mengabaikan tatapan aneh dari semua orang yang ada bersamanya saat ini,karena saat ini,ia hanya ingin segera memperbaiki hubungan suami istri mereka yang sempat renggang itu.Apa lagi,sekarang ia telah menyadari betapa besar cintanya terhadap Jennifer selama ini.


"Sayang,kenapa kamu hanya diam saja?" tanya Sebastian lagi,ia sudah bingung mau mengatakan apa,karena sedari tadi Jennifer hanya diam saja.


"Sayang? Siapa kamu?" tanya Jennifer dengan nada dan wajah bingungnya,sambil menatap kearah pria yang tidak ia kenal itu sebentar,lalu ia segera melepaskan genggaman tangannya pria tersebut dengan gerakan kasarnya.


Ternyata sedari tadi,ia sibuk mengumpulkan kesadarannya yang belum sepenuhnya terkumpul karena tidur panjang yang belum ia sadari itu.


"What? Aku suamimu,sayang. Apa kamu sedang bercanda,sayang?" tanya Sebastian dengan nada dan wajah tidak percayanya,sambil memerhatikan wajah bingungnya Jennifer yang tidak terlihat sedang berpura-pura sedikitpun.


"Kenapa juga aku harus bercanda? Dasar pria aneh..." jawab Jennifer dengan nada dan wajah kesalnya,sambil mengalihkan pandangannya kearah yang lainnya,tanpa menghentikan pijatan tangan dikepalanya yang masih terasa sedikit pusing itu.


"Ayah,Ibu,Stella...Aku ada dimana sekarang?" lanjut Jennifer dengan nada dan wajah bingung yang masih sama,sambil kembali menelisik kesekitarnya dengan gerakan pelannya.


Wajah tidak percayanya Sebastian tadipun langsung menjadi sangat kacau,saat ia melihat kalau Jennifer mengenal keluarganya,tapi malah tidak mengenali dirinya seorang saja.


"Kamu berada dirumah sakit,nak..." jawab ibu dengan nada dan wajah yang serba salah,tapi ia tetap berusaha mempertahankan wajah tersenyum senangnya,tanpa melepaskan tangannya Jennifer yang satunya lagi.


Begitu juga dengan Ayah dan Stella,mereka hanya mampu terus memerhatikan secara bergantian kearah Jennifer dan juga Sebastian yang terlihat mulai frustasi,karena mereka juga merasa bingung dengan keadaan tidak terduga tersebut.


Dan bukan hanya mereka ber 3 saja,karena sang dokter juga kembali mengkhawatirkan keselamatan nyawanya saat ini.


"Bukankah tadi kamu mengatakan padaku, kalau semuanya sudah baik-baik saja...Kenapa sekarang, istriku malah tidak bisa mengenaliku,tapi hanya mengenali keluargaku saja?" tanya Sebastian dengan nada dan wajah marahnya,sambil mengcengkram kuat kerah kemejanya dokter tersebut.


"Ma maaf,Tuan Muda..." jawab sang dokter dengan nada terputus-putusnya dan juga wajah keringat dinginnya, karena napasnya kembali terasa sesak karena cengkraman kuat tersebut.


Bahkan dirinya sendiri juga merasa bingung dan juga heran dengan apa yang telah terjadi barusan, padahal saat ia memeriksa tadi,semuanya memang sudah baik-baik saja.


"Sebastian Sachdev Rendra..." panggil Ayah dengan nada dan wajah tegasnya,sambil menatap tajam kearah sebastian yang mau tidak mau terpaksa melepaskan cengkramannya tersebut.


"Aarghkkk... Yang benar saja..." ucap Sebastian dengan ekspresi wajah frustasinya setelah ia sudah selesai terpekik kesal dan juga marah,sambil mengusap kasar wajah tampannya hingga kerambutnya tersebut.


"Kenapa rumah sakit sebesar ini,bisa sampai memasukkan dokter sepertimu,hah?" tanya Sebastian dengan nada dan wajah marahnya, sambil menatap tajam sebentar kearah sang dokter yang terlihat sedang ketakutan,begitu juga dengan beberapa perawat yang ada disana.

__ADS_1


Kemudian Sebastianpun mengalihkan tatapan kacaunya sebentar kearah Jennifer yang masih terlihat bingung,lalu ia langsung berjalan keluar dari sana,dengan langkah lebar dan marahnya tersebut.


__ADS_2