Suami Tampanku Yang Sederhana

Suami Tampanku Yang Sederhana
Bab. 117


__ADS_3

"Apa lagi,ada dia yang bersamaku.Jadi apa yang tidak bisa aku ketahui,Daddy?..." lanjut Sebastian lagi,ia bertanya dengan nada lembutnya tepat dikata "Daddy" diakhir kalimatnya itu sambil menunjuk sekilas kearah Billy yang ada disampingnya dengan ekor matanya,tapi tatapannya yang tertuju kearah Daddy itu tetap terlihat santai.


"Cih...Sangat menggelikan.Kamu sangat tidak cocok,untuk melakukannya.." Daddy kembali berdecih kesal,saat ia mendengar nada lembutnya Sebastian yang ada diakhir kalimatnya itu.


Setelah itu iapun mengalihkan tatapan menggelikannya itu kearah Billy yang langsung menunduk pasrah,lagi-lagi ia hanya mampu mendengkus kesal saja.


Sudah dipastikan kalau Billylah sang pelaku utamanya yang telah menjadi info sedetail itu untuk Sebastian.


"Lagi pula itu memang sudah menjadi tugasnya, Dad...Jadi,Daddy tidak perlu menyalahkannya... " lanjut Sebastian dengan nada santainya,sambil mengalihkan pandangannya kearah Jennifer yang masih setia sibuk mengobrol dan tidak berniat ingin menatapnya sedikitpun.


Sedangkan Daddy,ia hanya berusaha menetralkan perasaan kesalnya yang sengaja ditambahkan oleh Sebastian itu.Karena itu bukan kalimat bentuk pembelaan untuk Billy,tapi hanya sengaja untuk membuatnya merasa semakin kesal saja.


Lalu tatapan kesalnya Daddypun teralih kearah putri cantiknya itu selama beberapa menit lamanya,karena ia mengikuti arah tatapannya Sebastian tersebut.


"Apakah kalian berdua sedang bertengkar,hm?" tanya Daddy dengan nada santainya kembali setelah rasa kesalnya itu sudah berhasil ia kendalikan,sambil terus menatap wajah cantik putrinya yang terlihat hanya fokus mengobrol bersama istrinya saja.


"Hah!" Sebastian yang terlalu fokus kearah Jennifer tadipun,ia langsung menolehkan kepalanya kearah Daddy dengan ekspresi wajah bingungnya.


"Apa barusan,Daddy ada mengatakan sesuatu?" tanya Sebastian dengan nada dan wajah bingungnya,sambil terus menatap kearah Daddy yang sudah menatapnya kembali.


Sedangkan Daddy,ia langsung menghela napas pelan dengan panjang.Sepertinya memang ada masalah diantara mereka berdua,tapi Daddy juga tidak bisa terlalu banyak ikut campur,jika putrinya sendiri bahkan belum bercerita apapun padanya dan juga istrinya.


Atau mungkin saja,pesonanya Jennifer telah berhasil menjerat menantunya yang keras kepala ini,menurutnya bahkan terlihat semakin kuat dan mungkin tidak akan bisa terlepaskan.


"Apakah kalian berdua sedang bertengkar sekarang?" Daddypun terpaksa kembali mengulangi pertanyaannya tadi,sambil menahan rasa kesalnya yang kembali ingin meloncat keluar karena ulah menantunya itu.


"Oh,yang itu...Bukan,maksudku...Apakah tentang kami sekarang yang dimaksudkan dengan Daddy?!..." jawab Sebastian dengan nada dan wajah bingungnya,ia bahkan belum memiliki persiapan kata-katanya karena tiba-tiba saja ditanya oleh mertuanya ini.


"Ehmm...Tidak,tidak juga,kami hanya sedang saling belajar memahami saja..." lanjut Sebastian dengan asal sambil memperbaiki cara duduknya yang padahal sudah benar dari awal,tapi untungnya kalimat tersebut terdengar masuk akal dibenaknya Daddy.


"Ya,sepasang suami istri memang harus bisa saling belajar untuk bisa saling mengerti dan juga memahami.Apa lagi,kalian berdua masih baru menikah belum lama..." ucap Daddy dengan nada pelannya,sambil menyandarkan punggungnya kebelakang dan juga menahan senyumnya karena melihat tingkah bingungnya Sebastian tadi,tapi tatapan menelisiknya masih tidak beralih dari wajah bingungnya Sebastian yang masih terlihat bingung saat ini.


Ia memang sudah pengalaman dalam masalah ini,dan hal tersebut sudah biasa baginya karena itu adalah memang selalu menjadi bumbu-bumbu didalam rumah tangga semua orang.


Walaupun sebenarnya ia merasa tidak begitu percaya dengan jawabannya Sebastian barusan, tapi hati kecilnya juga ikut berkata kalau ia tidak perlu ikut campur terlalu banyak didalam masalah keluarga putrinya itu.


Kecuali,jika Jennifer sendiri yang meminta bantuan darinya atau jika ia sampai melihat sedikit saja ada luka dibagian-bagian tubuh putrinya itu.Dan itu semua karena Sebastian,maka ia akan langsung turun tangan sendiri tanpa ada yang mampu menghentikannya nanti.


Billy dan Aldy,sedari tadi mereka berdua hanya mampu mendengar saja,tanpa berani menyela sedikitpun pembicaraan diantara kedua majikannya mereka tersebut.


Sedangkan Sebastian,ia langsung menghela napas lega dengan wajah bingung yang mulai mengurang sedikit demi sedikit,saat ia melihat kalau Daddy tidak bertanya lebih jauh lagi tentang kabar hubungannya bersama Jennifer.

__ADS_1


Setelah itu,tatapan mereka berduapun sibuk fokus kearah pasangan mereka masing-masing.Hingga beberapa menit kemudian...


"Tuan Besar..." panggil Aldy dengan nada takutnya, dan suara pelannya itupun mampu memecah keheningan yang baru saja terjadi selama beberapa menit itu.


Ia takut kalau laporannya ini akan menganggu atau membuat Tuan Besarnya yang sibuk menatap Nyonya besarnya itu akan memarahinya,tapi hal tersebut harus ia laporkan supaya mereka semua bisa bersiap-siap,terutama Nona Mudanya.


"Hm..." jawab Daddy dengan singkat,tanpa mengalihkan tatapannya dari wajah cantik istrinya tersebut,begitu juga dengan Sebastian yang masih fokus menatap wajah cantik istrinya itu.


"Tuan Besar,sebentar lagi akan diadakan pertemuan diruangan meeting, untuk membahas tentang proyek yang ada dikota B pada hari itu. Dan meetingnya akan dimulai,sekitar 10 menit lagi..." Aldypun langsung melaporkan apa yang sedang ia pikirkan sedari tadi,sambil melirik sekilas kearah jam tangannya dan juga memerhatikan kedua majikan mereka yang masih fokus sama istri mereka masing-masing.


"Proyek dikota B?" Daddypun mencoba untuk mengingat-ngingat tentang beberapa kerjasama antara perusahaan yang telah ia setujui belakangan ini,tanpa mengalihkan tatapannya dari wajah cantik istrinya.


Sedangkan Sebastian,tatapannya tersebutpun langsung mulai terlihat tidak tenang,sambil melirik kesal sekilas kearah Aldy yang memang tidak menyadarinya sama sekali.


"Salah satu perusahaannya milik Tuan Irfan,Tuan Besar..." Aldypun membantu untuk mengingat,sebelum Tuan Besarnya sempat mengingat dengan jelas.


"Irfan? Pria brengsek dan tidak tahu malu itu..." Daddypun baru mengingat dengan jelas,tentang kerja sama yang telah ia tanda tangani pada 2 minggu yang lalu.


Ya,ia menanda tanganinya karena proyek tersebut lumayan menguntungkan untuknya dan juga untuk perusahaannya.


Walaupun ia tahu tentang Irfan yang selalu menganggu Jennifer dulu,tapi sekarang perusahaannya Irfan sudah berada ditingkat ke 10.


Dan proyek tersebut bukan hanya ada Irfan seorang saja,ada beberapa perusahaan hebat lainnya juga yang ikut dan masuk daftar didalamnya,hingga membuatnya harus menanda tangani kerja sama tersebut.Karena tidak mungkin untuknya mengabaikan beberapa yang lainnya,hanya karena perselisihannya dengan Irfan.


'****...Sekretaris tidak tahu diri ini,kenapa kamu harus mengatakannya sampai sedetail itu..' Sebastianpun hanya mampu mengumpat Aldy,dan menggerutu kesal didalam hatinya saja.


Sedangkan Daddy,ia mulai berpikir jernih sekarang. Ia langsung mengalihkan tatapannya tadi kearah Sebastian yang masih fokus menatap Jennifer.


Iapun mulai mengait-ngaitkan kemunculan tiba-tibanya Sebastian tadi,dengan meeting yang baru saja dilaporkan oleh Aldy barusan.


Sepertinya ia akhirnya mendapatkan jawaban yang sedari tadi ingin ia ketahui tapi belum bisa ia dapatkan itu,hingga mampu membuat wajah santainya tadi langsung tersenyum kecil,tanpa mengalihkan tatapannya dari wajah tampan menantunya itu.


"Sepertinya aku sudah tahu sekarang,ternyata........" baru saja Daddy ingin membongkar apa yang telah Sebastian sembunyikan sedari tadi itu,tapi ia terpaksa harus menghentikan perkataannya itu karena Sebastian langsung menyelanya dengan cepat.


"Ehem ehem ehem...Dad,kalau begitu aku akan keruang meeting duluan..." Sebastianpun langsung menyela Daddy setelah ia sudah selesai berdehem pelan, sambil berdiri dari duduknya dan juga merapikan kembali Jas kerjanya.


Sedangkan Billy,ia hanya mampu menahan senyum berserta tawanya itu saja ,saat ia melihat tingkah Tuan Mudanya yang sangat jarang sekali bisa ia lihat ini.


"Keruang meeting? Untuk apa kamu juga ikut keruang meeting?" tanya Daddy dengan nada dan wajah bingungnya,sambil ikut berdiri dari duduknya.


"Dad,apa kamu sudah lupa? Kalau didalam dokumen-dokumen yang telah kamu tanda tangani pada hari itu,ada namaku dan nama perusahaanku didalam sana..." jawab Sebastian dengan nada dan wajah santainya.

__ADS_1


"Dad...Ternyata benar kata orang,kalau umur seseorang itu akan mempengaruhi kemampuannya nantinya...Dan sekarang,aku mempercayainya dengan sangat,karena sekarang aku sudah melihatnya dengan mata kepalaku sendiri..." lanjut Sebastian dengan nada dan wajah yang tersenyum santai kearah Daddy yang langsung kembali mendengkus kesal,karena senyuman dan perkataan santai tersebut malah terdengar/terlihat seperti ejekan untuk Daddy.


Lalu iapun berjalan tegas kearah pintu dan mengabaikan wajah kesalnya Daddy,untuk menuju keruang meeting yang telah ia maksudkan tadi. Tapi kemudian ia menghentikan gerakan tangannya saat ia ingin kembali membuat mertuanya itu merasa kesal lagi,hingga tangan lebarnya itu berhenti tepat dihandle pintu ruangan itu dengan baik.


"Oh iya...Jika Daddy ingin,Daddy bisa memeriksa kembali dokumen-dokumen kerjasama antara perusahaan kita itu,karena didalam sana juga terdapat tanda tanganku dengan sangat jelas..." lanjut Sebastian lagi,dengan nada dan wajah yang masih tetap santai,sambil menolehkan sekilas wajahnya kearah Daddy yang menjadi semakin kesal saja.


Setelah selesai bicara,Sebastianpun langsung berjalan keluar dengan langkah tegasnya,dan diikuti oleh Billy dari belakangnya.Dan tentunya, setelah Billy sudah selesai memberi hormat kepada ke 3 orang yang termasuk majikannya itu.


"Dasar menantu kurang ajar,brengsek,tidak tahu diri,dan tidak tahu malu.Kenapa aku bisa sampai mendapatkan menantu sepertinya?" Daddypun langsung menggerutu kesal dengan nada dan wajah kesalnya itu,sambil duduk kembali dengan gerakan kesalnya,setelah pintu tersebut sudah tertutup kembali.


Padahal tadinya ia yang berniat ingin membuat Sebastian merasakan kesal dan juga malu,kenapa sekarang semuanya malah berbalik padanya.


'Apakah aku benar-benar sudah tua,sekarang?' setelah sibuk menetralkan segala rasa kesalnya, Daddypun membatin dengan ekspresi wajah pasrahnya.


Karena memang benar apa yang dikatakan oleh Sebastian tadi,kenapa ia bisa sampai melupakan tentang perusahaan Sebastian yang memang ikut serta dalam proyek tersebut.


Padahal ia sendiri yang memeriksa dokumen-dokumen tersebut,sebelum ia menanda tanganinya pada hari itu.


Karena proyek tersebut memang pembangunan yang cukup besar dikota B sana,hingga memang mengharuskan beberapa perusahaan besar untuk menyelesaikannya.Lagi pula,sebuah perusahaan memang memerlukan kerjasama antar perusahaan,walaupun ia sendiri juga mampu melakaukannya.


Hanya saja,sekarang ia baru menyadari sesuatu atas nama menantunya yang tertulis jelas didalam dokumen tersebut.Kenapa pada hari itu ia tidak terpikir sampai kesana,ternyata dirinya memang benar-benar sudah berumur.


Setelah segala rasa kesalnya sudah reda dan juga menghela napas berat dan pelan sebanyak beberapa kali,iapun segera berdiri dari duduknya dengan gerakan pelannya.


"Sayang,nak...Ayo,kita susul suami kurang ajarmu itu..." ajak Daddy dengan nada malasnya,pada kedua istri dan putrinya yang terus memerhatikannya sedari sebastian keluar dari sana tadi.


Sedangkan Mommy dan Jennifer,mereka berduapun langsung berjalan kearah Daddy dengan wajah tersenyum lucu mereka karena melihat tingkah kesalnya Daddy sedari tadi.


"Sayang,kamu itu sudah berumur.Tidak baik untuk kesehatan tubuhmu ini,jika kamu terus-terusan marah dan kesal seperti ini..." ucap Mommy dengan nada santai dan wajah tidak bersalahnya, sambil memeluk lengan suaminya dengan sayang.


Dan mereka berduapun berjalan keluar dari sana dengan wajah malasnya Daddy yang sedang menahan rasa kesalnya karena perkataan istrinya barusan.


Hari ini,Daddy memang harus memiliki stok kesabaran yang cukup,kerena banyak hal yang telah mampu membuat dirinya terus saja merasa kesal pada hari ini.Mau menantunya,mau istrinya sendiri,sekarang keduanya sama saja.


Sedangkan Jennifer,iapun langsung mengikuti langkah kedua orang tuanya dengan senyum lucu yang masih belum mengurang diwajah cantiknya. Begitu juga dengan Aldy,yang hanya mampu menahan senyumnya saja,saat ia melihat tingkah lucu majikan-majikannya yang jarang-jarang bisa ia lihat ini.


'Aku baru tahu,ternyata didalam proyek itu ada Sebastian yang ikut didalamnya...' batin Jennifer yang juga baru tahu tanpa menghentikan langkah tegasnya tersebut,karena saat membaca dokumen-dokumen yang diberikan oleh Aldy tadi, didalamnya hanya berisi tentang bahan-bahan, dan bagaimana cara-cara dan juga desain-desain pembangunannya saja.


'Tapi buat apa juga ia ikut-ikutan didalam proyek besar ini? Setahu aku,ia tidak pernah kekurangan proyek diperusahaan besarnya itu...' lanjut Jennifer lagi, didalam hatinya,dengan ekspresi wajah bingungnya.


'Kenapa juga, aku kembali menjadi bod*h seperti ini lagi? Buat apa juga aku memikirkan tentang pria yang tidak punya hati itu,lebih baik aku memikirkan tentang bagaimana caranya mengatasi proyek ini nantinya...' lanjut Jennifer lagi,didalam hatinya.

__ADS_1


Wajah bingungnya tadipun menjadi kesal saat ia memikirkan tentang sikap cueknya Sebastian tersebut.Apa lagi,saat ingin keluar dari ruang kerjanya tadi saja,Sebastian bahkan tidak menatapnya ataupun mengatakan apapun padanya terlebih dahulu.


Kemudian Jenniferpun kembali menampilkan wajah tegasnya yang seperti awal tadi,lalu iapun fokus pada langkahnya,untuk menuju keruang meeting,dimana semuanya sudah berkumpul rapi didalam sana.


__ADS_2