Suami Tampanku Yang Sederhana

Suami Tampanku Yang Sederhana
Bab. 96


__ADS_3

"Kamu itu sama saja dengan kakak datarmu itu,sama-sama menyebalkan..." ucap Jennifer dengan wajah yang mendengkus kesal kearah Stella yang langsung tertawa kecil.


"Nak,tapi perkataannya Stella barusan memang ada benarnya juga.Kamu harus meminta izin pada suamimu terlebih dahulu, kamu sendiri juga tahu bukan,bagaimana begitu perhitungannya suamimu itu..." timpal Ibu dengan suara lembutnya dan wajah tersenyum kecilnya,sambil menarik dan mengenggam kedua tangannya Jennifer dengan pelan.


Walaupun Jennifer memang tidak bisa seperti wanita kampung lainnya yang mampu melakukan perkerjaan rumah dengan sigap atau baik,tapi inilah salah satu sikapnya Jennifer yang ia sukai.


Sikapnya Jennifer yang kadang-kadang suka mengatakan apapun yang dia inginkan dan pikirkan,tapi nada bicaranya tetap sopan.


Sedangkan Jennifer,iapun langsung menghela napas berat dengan panjang dan perasaan kesalnya,saat ia mendengar nama suaminya yang kembali disebut oleh mertuanya barusan.


"Ibu seperti tidak tahu Sebastian saja...Sebelum aku sempat meminta izin padanya,dia pasti akan menghindar ataupun pura-pura tidak mendengar..." jawab Jennifer dengan nada kesalnya,sambil membalas genggaman tangan mertuanya yang terasa nyaman itu.


"Apa Ibu tahu? Selama 2 minggu ini,Sebastian malah semakin mengurangi komunikasinya denganku, dan baru akan masuk kedalam kamar saat aku sudah tertidur saja...Padahal perasaanku, aku tidak menganggunya,tidak menyulitkannya tentang apapun,,dan cerewetku juga sudah aku kurangin.Dan Ibu sendiri juga sudah melihatnya bukan,kalau aku sudah merngerjakan perkerjaanku,dengan lebih baik dibanding yang kemaren-kemaren..." lanjut Jennifer lagi,dengan wajah yang serius dan juga kesal.


Karena selama 2 minggu ini,hubungan mereka berdua memang seperti itu adanya,tidak ada perkembangan sedikitpun.


Jarak mereka bahkan semakin terkikis,karena Sebastian yang selalu saja menghindarinya,ia jadi bingung sendiri dengan sikapnya Sebastian.


Sebastian bahkan suka mengunci diri diruang kerjanya,jika saat dihari-hari weekendnya tiba, hingga ia tidak bisa masuk kedalam ruangan tersebut sesuka hatinya.


Ia hanya bertemu dan dapat melihat wajah tampan suaminya itu,saat makan siang dan makan malam saja, sisanya saat ia sudah terbangun hingga ia tertidur,ia tidak dapat banyak melihatnya lagi.Ditambah lagi dengan telepon dan pesannya yang juga lebih banyak tidak dibalas,dari pada yang dibalas.


Jika dibalaspun,ia pasti hanya akan mendapatkan beberapa kata saja dibalasan pesannya tersebut. Kecuali dalam 3 hari belakangan ini,ia tidak mendapatkan balasan apapun dari suami tampannya itu,karena dalam 3 hari tersebut Sebastian memang benar-benar sedang super sibuk,dan ia sangat memaklumi semua itu.


"Kalau hubungan kami seperti itu terus,bagaimana caranya aku bisa mendapatkan cintanya..." lanjut Jennifer lagi,ia sudah tidak perduli dengan siapa saja yang sedang ia curhat saat ini,berkat segala rasa kesalnya yang telah ia pendam selama 2 minggu ini.


Sedangkan Ibu dan Stella,mereka berdua terus saja tersenyum lucu saat mereka mendengar keluhan- keluhan yang baru pertama kalinya mereka dengar dari mulutnya Jennifer selama 2 minggu ini. Ayah bahkan juga ikut tersenyum kecil,walau hanya selama beberapa detik saja.


Padahal sebelum-sebelumnya,Jennifer hanya akan ikut menonton dan ajak bercanda bersama mereka,dan juga beberapa kalimat sindiran untuk suaminya.Ya,mungkin saja itu untuk mengusir segala rasa kesalnya saja.


Dan sekarang,mereka bahkan,tidak sempat menyela sedikitpun karena keluhan-keluhannya Jennifer terus saja ada lanjutannya.


"Apakah Ibu juga tahu? Selama 2 minggu ini, Sebastian sangat menyebalkan,dia bahkan tidak mau tidur seranjang denganku,seperti aku ini wabah penyakit saja...Rasanya,aku ingin sekali mengcekiknya hidup-hid........" lanjut Jennifer lagi,tapi ia segera menghentikan perkataannya dan menutup mulutnya yang telah keceplosan mengatakan tentang urusan mereka yang menurutnya terlalu pribadi itu,dan itu sudah terlambat untuk bisa ia putar ulang lagi.


"Apa?"


"Apa?"


Tanya Ibu dan Stella secara serentak,dengan nada dan wajah kaget mereka,bahkan duduk santainya mereka tadi langsung duduk dengan badan yang tegak.

__ADS_1


Berbeda dengan Ayah yang hanya melirik sekilas kearah Jennifer dan masih tetap dengan posisinya yang sedang membaca koran tadi,walaupun ia merasa sedikit kaget juga,tapi ia tidak akan bersikap berlebihan seperti istri dan putrinya itu,karena ia masih mampu sekedar untuk mengontrol rasa kagetnya tersebut.


Lagi pula,ia juga sudah sangat hapal sama sikap keras kepala putranya itu.Jangan sampai didengar sama orang luar saja,bisa-bisa ntar menyebar ntah kemana-mana.Apa lagi,jika sampai didengar sama kedua orang tuanya Jennifer.


Sedangkan Jennifer,ia hanya mampu menggaruk-garukkan pelan tengkuk lehernya yang tidak gatal itu,dengan wajah yang tersenyum malu,sambil sedikit menunduk dan terus merutuki dirinya yang malah keceplosan.


"Kakak ipar,apa barusan yang kamu katakan itu benar?" tanya Stella dengan nada dan wajah seriusnya,untuk memastikan,apakah yang barusan itu ia tidak salah mendengar,karena ia masih merasa tidak percaya dengan kenyataan yang baru saja ia dengar itu.


"Hahahahahaha...Kakak ipar,ternyata kalian berdua sangat lucu juga...Padahal kalian sudah menikah selama 2 minggu...Aku mengira, kalau kalian sudah melakukan itu,ntah sudah keberapa puluh kalinya..." lanjut Stella dengan wajah yang tertawa terbahak-bahak sambil menyatukan kedua jari telunjuknya kearah kakak iparnya, sebagai isyarat 2 orang yang sedang bercinta,setelah ia melihat anggukan pelan dari kakak iparnya.


Lalu ia segera memegang perutnya yang terasa sakit dan juga geli,tanpa menghentikan tawanya yang malah tidak mau berhenti,karena kenyataan yang ia dengar tersebut.


"Auchk auchk...Kakak ipar,Ibu..." terdengar pekikan kesal dari mulutnya Stella,karena wajahnya yang sedang sibuk tertawa itu,tiba-tiba saja mendapatkan lemparan bantal dari kakak ipar dan juga Ibunya,hingga berhasil membuat tawanya terhenti begitu saja.


"Kamu ini,bukannya membantu kakak iparmu untuk mencari solusi,tapi kamu malah menertawainya..." tegur Ibu dengan nada dan wajah malasnya,sambil mengeleng-gelengkan pelan kepalanya dengan heran karena tingkah nakal putrinya itu.


"Ah,Ibu ini tidak seru..." ucap Stella dengan wajah yang memberengut kesal,setelah ia selesai mendengkus kesal kearah kakak iparnya yang sedang tersenyum menang kearahnya.


Lalu iapun memilih untuk melanjutkan tontonannya saja,dari pada ia harus mendapatkan amukan dari Ibu dan kakak iparnya lagi.


"Ayah..." panggil Ibu dengan nada kesalnya,saat ia melihat suaminya yang masih saja duduk tenang dengan santai membaca koran.


"Apa Ayah tidak mendengarnya tadi? Lihatlah tingkah anehnya putramu itu, kenapa Ayah masih saja begitu tenang?" tanya Ibu,sambil menatap kesal kearah suaminya yang baru saja menolehkan kepalanya.


"Ibu...Apa aku juga harus mengatakan apa? dengan ekspresi wajah yang seperti kalian berdua tadi,hm?" tanya Ayah balik,dengan nada malasnya,sambil menghela napas pelan,lalu ia kembali melanjutkan bacaannya tadi.


"Dasar,Ayah sama putranya sama saja..." ucap Ibu dengan nada dan wajah kesalnya,hingga membuat Stella harus menahan tawa,termasuk Jennifer yang juga ikut menahan tawa dan hanya mampu memerhatikan kedua mertuanya saja.


Sedangkan Ayah,ia hanya tetap dengan gaya cuek dan santainya saja.Ia paling malas,kalau menyuruhnya untuk mengurusi masalah yang berkaitan dengan wanita,kecuali jika terpaksa.Dan tentang putra keras kepalanya itu,nanti saja ia akan turun tangan,jika masalahnya tidak ada penyelesaiannya juga.


"Apa kamu ingin tahu,bagaimana caranya membuat suamimu itu luluh padamu,supaya hubungan kalian berdua akan menjadi semakin baik..." tanya Ibu dengan nada dan wajah seriusnya,sambil melepaskan pelan genggaman tangan mereka tadi.


"Mau,aku mau,Ibu...Memangnya bagaimana caranya,Bu...?" tanya Jennifer dengan nada senangnya,tapi ia juga menjadi penasaran dengan cara apa yang dimaksudkan oleh Ibu mertuanya itu.


"Apa kamu jago dalam akting,seperti yang ada didrama-drama korea atau disinetron-sinetron itu?" tanya Ibu dengan nada seriusnya,sambil memikirkan ide kecilnya itu,mana tahu saja harus ia pikir ulang kembali,tapi rasanya ide kecilnya itu tidak akan beresiko yang gimana-gimana,dan juga tidak akan menambahkan masalah,jika dilakukan dengan baik dan jelas.


"Hah! Maksudnya Ibu?" tanya Jennifer balik,dengan nada dan wajah bingungnya.


Sedangkan Stella,ia lebih suka fokus pada tontonannya saja,tapi ia tetap menajamkan sebelah pendengarannya untuk pembicaraan 2 wanita beda usia tersebut yang memang sudah terdengar jelas ditelinganya,begitu juga dengan Ayah.

__ADS_1


"Kamu jawab saja dulu,pertanyaannya Ibu tadi..." jawab Ibu dengan suara lembutnya dan wajah seriusnya.


"Bisa Bu,aku sangat jago dalam akting.Memangnya aku harus berakting apa,Bu?" tanya Jennifer dan sekalian bertanya dengan wajah yang semakin bingung saja,kenapa pembahasannya malah jadi keakting.


Ibu mertuanya tidak tahu saja,kalau aktingnya bahkan mampu membuat Sebastian menjadi kebingungan.Apa lagi,tentang jebakannya hari itu.


Sedangkan Ibu,ia langsung tersenyum senang.Apa lagi,saat ia memikirkan idenya yang pasti akan berhasil tersebut.


"Begini,pertama-tama kamu harus membuat Sebastian merasa cemburu terlebih dahulu...Dan selanjutnya,kita akan melihat bagaimana sikapnya Sebastian terhadap kamu nanti...Apakah Sebastian akan berubah atau masih seperti itu lagi..." jawab Ibu dengan nada dan wajah tersenyum seriusnya.


Sepertinya ia memang harus berpindah pihak sekarang, karena ternyata putranya itu sudah sangat keterlaluan terhadap menantu cantiknya ini.


Bukannya terus memupuk cucunya supaya terus tumbuh kembang didalam sana,atau menanam benih kembali disana,jika saja yang kemaren itu belum jadi.Tapi apa yang ia dengar tadi,mereka berdua bahkan tidur terpisah dalam 1 kamar.Jika seperti itu terus,kapan cucunya akan terlahir kedunia yang indah ini,dan hal itu tidak boleh ia biarkan.


"Membuat Sebastian cemburu? Tapi,bagaimana caranya,Bu?" tanya Jennifer balik,tiba-tiba saja kepalanya error,mungkin saja karena rasa lelahnya tadi yang masih tersisa,atau mungkin saja terlalu lelah karena terus saja diabaikan oleh pujaan hatinya.


"Dasar,anak bod*h...Tentu saja,kamu harus berakting dengan pria lain,seakan-akan kalian berdua itu sedang dekat...Dan jika putraku itu bisa merasakan cemburu,dia pasti akan keberatan dengan kedekatannya kalian,itu berarti putra bod*hku itu telah mencintaimu...Jika sudah begitu adanya,kamu harus terus membuatnya cemburu.Maka setelah itu,Ibu yakin kalau hubungan kalian pasti akan menjadi lebih baik lagi..." jawab Ibu dengan panjang lebar,setelah ia sudah sedikit mengumpat Jennifer,karena rasa kesalnya itu.


Apa lagi,saat ia mengingat kembali,kalau pernikahan mereka berawal dari keterpaksaan dari putranya itu.Tapi ia sangat yakin,kalau putra bod*hnya itu pasti hanya belum menyadari rasa cintanya pada menantu cantiknya ini saja.


Karena selama 1 tahun ini,belum ada satu wanitapun yang berhasil berdekatan dengan putranya,bahkan jika itu hanya berjarak sekitar 3 langkah saja,Sebastian pasti akan langsung memarahinya ataupun dengan memerintahkan Billy untuk bersikap kasar pada wanita tersebut.


"Benar,benar,Ibu memang benar..." ucap Jennifer dengan nada dan wajahnya yang tersenyum semangat,saat ia langsung bisa mencerna perkataan panjang lebarnya Ibu dengan baik.


"Tapi siapa pria yang akan kita ajak kerja sama,untuk kita jadikan pria yang seperti Ibu katakan tadi?" lanjut Jennifer,ia bertanya dengan nada dan wajah bingungnya kembali.


Ia bahkan tidak memiliki satupun sahabat pria yang bisa ia ajak berkerja sama,karena semua pria yang ia kenal,hampir semuanya sangat menginginkan dirinya untuk dijadikan sebagai istri mereka,dan ia takut kalau idenya Ibu akan berakhir menjadi malapetaka untuk dirinya sendiri.


"Hmm....." Ibu tampak berpikir,sama seperti Jennifer.Ibu sedang mencari sesosok pria yang baik,bukan playboy, dan juga bukan penjahat ****.Dan yang paling utama,pria tersebut harus bisa mengerti tentang tujuan mereka,dan pria tersebut juga tidak akan jatuh cinta kepada menantu cantiknya ini.


"Bagaimana,,,kalau kita meminta bantuan sama Erik saja?" tanya Ibu akhirnya,sepertinya dikepalanya hanya terlintas namanya Erik saja.


Bukan hanya karena Erik adalah sahabatnya Sebastian saja,tapi juga pria baik,dan ia yakin kalau Erik tidak akan berani menaruh hati pada Jennifer. Karena sekarang Erik telah memiliki kekasih, setahunya Erik sangat mencintai kekasihnya itu,dan mungkin saja tidak lama lagi,akan segera menikah.


"Ibu,apa Ibu pikir,kakak mudah dibohongi? Apa lagi,prianya adalah Erik...Kakak pasti tidak akan percaya,karena kakak sendiri sangat tahu kalau kak Erik sangat mencintai kak Elisa,melebihi kedirinya sendiri...Itu pasti akan terlihat ganjil dimatanya kakak nanti,jika Erik tiba-tiba saja berpindah haluan..." timpal Stella yang tadi hanya menyimak saja,dengan nada dan wajah seriusnya,sambil menatap secara bergantian kearah Ibu dan kakak iparnya yang masih sibuk berpikir.


"Benar juga katamu,lalu pria mana yang tepat untuk kita minta bantuannya?" tanya Ibu dengan nada dan wajah bingungnya,karena memang benar juga perkataan putrinya barusan.


Mereka berempat sangat akrab,dan sudah dipastikan,kalau mereka berempat telah saling mengetahui prinsip,sikap dan apa saja yang akan dilakukan oleh sahabatnya mereka masing-masing.

__ADS_1


"Bagaimana kalau dengan kak Elvan?" Stellapun langsung memberi saran dengan nada semangatnya, saat nama kak Elvan tiba-tiba saja terlintas dikepalanya,ia jadi mengingat tentang cerita dari kak Elisa yang telah menceritakan padanya kalau kak Elvan pernah jatuh cinta pada kakak iparnya.


__ADS_2