Suami Tampanku Yang Sederhana

Suami Tampanku Yang Sederhana
Bab. 107


__ADS_3

Sebastianpun langsung menancapkan senjatanya tepat dimulutnya goa yang terpencil tersebut dengan gerakan pelannya,tanpa menghentikan c**m*n panas mereka itu.


Hingga...


"Auchk..." terdengar pekikan yang tertahan dan bernada pelan dari mulutnya Jennifer karena bibirnya masih sibuk berada dalam kekuasaannya Sebastian,ia bahkan langsung berusaha untuk bisa melepaskan diri tapi Sebastian malah lebih dulu menahan kedua tangannya.


'Kenapa sangat sulit untuk memasukinya? Bukankah kami sudah pernah melakukannya... Apakah memang selalu seperti itu,jika setiap akan melakukannya?' batin Sebastian dengan perasaan heran dan bingungnya,sambil menelisik kedua matanya Jennifer yang terlihat sedang menahan rasa sakitnya tersebut tanpa menghentikan c**m*n mereka.


Sebastian sebenarnya juga merasa tidak tega sama istrinya,tapi sekarang proses mengarungi samudra cintanya mereka yang sesungguhnya itu sudah terlanjur berjalan hingga separuh jalan dan saat ini hanya tinggal sedikit lagi.


Tanpa menunggu lebih lama lagi,Sebastianpun akhinya memilih untuk melanjutkan apa yang telah atau akan ia lakukan tersebut,karena saat ini seluruh tubuhnya semakin memanas dan menuntut untuk minta segera dituntaskan.


Sebastianpun terus memberi r*ngs*ng*n lembut pada bibirnya Jennifer,supaya rasa sakitnya Jennifer tersebut tidak akan begitu terasa lagi.


Sebastian bukan hanya tidak menghentikan kegiatan mel*m*tnya itu saja,tapi ia juga sambil terus mencoba untuk memasuki goa terpencil tersebut,dengan agak sedikit kesulitan.


Perlahan-lahan tapi pasti,senjatanya telah berhasil masuk kedalam goa terpencil itu dengan perlahan- lahan,setelah ia mencoba untuk ke 3 kalinya.


Jenniferpun langsung mencengkram erat kedua lengannya Sebastian karena rasa yang tidak bisa ia ungkapkan tersebut,ia bahkan bisa merasakan kalau senjatanya Sebastian memang benar-benar telah berhasil masuk melewati mulut goanya tersebut.


Sedangkan Sebastian,ia langsung berlanjut dengan memaju- mundurkan tubuhnya dengan gerakan pelannya, setelah senjatanya berhasil memasuki goa terpencil tersebut dan mendiamkannya selama 1 detik.


Rasa yang baru pertama kalinya,yang sedang dirasakan oleh Jennifer digoa terpencilnya tadi itupun langsung menghilang perlahan-lahan, hingga kemudian perlahan-lahan berubah menjadi rasa n*km*t yang tidak bisa atau tidak tahu bagaimana caranya ia akan mengungkapkannya.


Karena rasa tersebut memang baru pertama kalinya ia merasakannya,dan rasanya benar-benar mampu membuatnya seperti sedang melayang tinggi diudara bebas sana saat ini.


Sedangkan Sebastian,ia terus memacu dengan cara terus memajukan dan memundurkan tubuhnya.


Apa lagi,saat rasa yang tidak mampu ia ungkapkan tersebut semakin lama malah semakin terasa.Ditambah lagi, dengan suara merdunya Jennifer yang langsung terdengar,dengan semakin lama semakin merdu,semakin meninggi,dan tidak menentunya.


Kedua tangannya Jennifer bahkan tidak mau berhenti untuk meremas pundak dan rambutnya Sebastian yang semakin lama semakin tidak bisa ia remas,karena tubuh membungkuknya Sebastian perlahan-lahan berubah menjadi tegak,mungkin saja untuk supaya bisa lebih bertenaga lagi.


Sebastian bahkan terus memacu tanpa ada ekspresi lelah diwajahnya,dan sudah bisa dipastikan kalau pacuannya tersebut semakin lama akan semakin cepat dan juga kuat.


1 jam kemudian,setelah melakukan 3 gaya, tubuh mereka berdua juga telah dipenuhi dengan keringat-keringat dari hasil kerja kerasnya mereka tersebut, walaupun nyatanya Sebastianlah yang berkerja lebih keras dan banyak.


Hingga akhirnya,mereka berdua sama-sama sampai dipencapaian pelepasan tertinggi mereka,dan...


"*..."


"*..."


Terdengar suara pelepasan mereka berdua secara bersamaan,dengan tubuhnya Sebastian yang langsung ia lemparkan pelan keatas dada empuknya Jennifer,setelah ia sudah memajukan kandas tubuhnya dan disertai dengan benih-benih unggulnya yang telah ia lepaskan kedalam rahim istrinya.


Mereka berdua masih setia terdiam dengan posisi yang sedang berpelukan,mata yang masih terpejam rapat,dan napas yang sama-sama terengah-engah karena percintaan mereka yang lumayan begitu menguras tenaga tadi.


Dan yang lebih parahnya lagi,Sebastian masih setia berada diatas dada empuk istrinya tersebut karena merasa sangat nyaman,dan sekalian untuk menghilangkan rasa lelahnya setelah tadi ia harus menguras tenaganya habis-habisan,untuk mencapai puncak yang paling tertinggi tadi.


Sedangkan Jennifer,ia yang juga merasakan lelah, iapun tidak mampu banyak bicara lagi.Ia hanya sibuk ikut menetralkan napas terengah-engahnya sama seperti suaminya itu, sambil tersenyum malu karena sedang memikirkan apa yang baru saja telah terjadi pada mereka tadi.

__ADS_1


Lihatlah,bahkan senjata suaminya masih tertanam rapi disana,sepertinya suaminya masih belum berniat ingin mengeluarkannya terlebih dahulu sebelum rasa lelahnya itu menghilang.


Beberapa menit kemudian...


"Apakah tubuhmu tidak merasa lengket,Honey?" tanya Jennifer dengan nada dan wajah yang masih saja tersenyum malu,setelah napas terengah- engahnya tadi sudah lumayan teratur kembali.


"Tidak..." jawab Sebastian pelan dan singkat,tanpa ia sadari karena kepalanya memang terasa sangat nyaman berada ditempat terempuk yang baru saja ia ketahui itu,ia bahkan tidak berniat ingin membuka kedua matanya yang masih terpejam rapat sedari tadi.


Beberapa detik kemudian...


"Bu bukan seperti itu maksudku,maksudku tentu saja sangat lengket..." lanjut Sebastian lagi,dan segera duduk disampingnya Jennifer dengan cepat, setelah ia sudah sedikit memundurkan tubuhnya untuk mengeluarkan senjatanya yang masih setia berada digoa istrinya itu.


Sedangkan Jennifer,ia segera menarik selimut yang seperti tidak ada yang menginginkannya tadi,untuk menutup goa terpencilnya dan dadanya yang masih polos itu.


Begitu juga dengan Sebastian yang segera ikut menarik selimut tersebut untuk menutup senjatanya,tapi untungnya mereka tidak sampai harus berebut selimut,karena selimut tersebut memang sangat besar,dan cukup untuk 4 orang.


"Tidak apa-apa,Honey...Kalau kamu ingin tiduran agak lama diatas dada empukku ini,aku juga tidak akan merasa masalah sama sekali..." ucap Jennifer dengan nada menggodanya,tapi ekspresi malu diwajah tersenyumnya tetap tidak mampu ia sembunyikan.


Ia bahkan merasa malu ingin menatap kearah suaminya yang masih polos itu,bisa-bisa ia akan menjadi salah tingkah nanti,karena melihat dada kekar dan benda suaminya yang telah tertutup selimut itu.


Sebastian yang sedang menahan rasa malunya itu,hanya mampu menggaruk-garukkan pelan tengkuk lehernya yang tidak gatal itu.


Walaupun sedari awal ia memang melakukannya dengan kesadaran yang penuh dan bahkan sangat sadar, tapi tetap saja ia tidak menyangka kalau akhirnya ia telah melakukan semuanya dengan kesadaran dirinya yang penuh itu,dan bahkan hingga kepalanya berakhir diatas dada empuk istrinya tadi.


Mereka berduapun berdiam diri dengan duduk menatap lurus kedepan,selama beberapa menit lamanya,hingga suara pelannya Jennifer mampu menganggu konsentrasinya Sebastian yang sedang menyandarkan tubuhnya kebelakang,dan juga sibuk menetralkan rasa malunya yang masih belum juga menghilang sepenuhnya sedari tadi.


"Apakah itu berarti,sekarang kamu telah mencintaiku,Honey? Dengan yang telah terjadi diantara kita barusan?" tanya Jennifer dengan nada dan wajah tersenyum malunya,sambil melirik sekilas kearah Sebastian yang langsung menatap dirinya.


Karena sampai saat ini ia memang masih merasa begitu bingung dengan perasaannya ini,ia bahkan tidak mampu menilai,apa perbedaan atau persamaan diantara rasa tidak suka dan rasa cemburu itu.


"Jadi,apa maksudmu dengan apa yang baru saja kita lakukan tadi? Kamu bahkan tadi terlihat sangat men*km*t*nya,bukan?...Kalau itu bukan tandanya kalau kamu telah mencintaiku, lalu apa maksudmu sebenarnya?" tanya Jennifer dengan menggerutu kesal dan panjang lebar,sambil menatap kesal kearah Sebastian.


"Itu tadi?..." Sebastian sampai bingung mau menjawab apa,terlihat dengan ekspresi wajah tampannya yang sedang berpikir keras untuk mencari jawaban atas pertanyaan dari istrinya yang menurutnya sangat sulit untuk ia jawab itu.


Sedangkan Jennifer,tatapan kesalnya tadipun bertambah dengan kening yang mengernyit heran,karena sibuk menebak tentang jawaban apa yang akan dikatakan oleh Sebastian untuk berdebat dengannya saat ini.


"Bukankah,kita suami istri? Jadi apa yang baru saja kita lakukan itu,hal wajar yang memang akan selalu terjadi diantara suami istri seperti kita bukan?" Sebastian bukan menjawab tapi ia malah bertanya balik pada Jennifer,dengan nada santainya,karena ingin mengelak dari pertanyaan sulit istrinya tadi.


"Jadi kamu melakukan itu tadi,hanya sebatas karena suami istri saja?" tanya Jennifer dengan nada kesalnya dan tatapan kesalnya yang masih tidak beralih dari wajah tampan suaminya itu,untuk memastikan kalau pendengarannya barusan itu,kalau ia tidak salah mendengarnya.


"Iya.Memangnya apa yang sedang kamu harapkan, dari kegiatan panas kita tadi?" tanya Sebastian dengan wajah tidak bersalahnya,tapi tanpa Jennifer ketahui, jawaban dan ekspresi wajahnya tersebut berlawanan dengan perasaan dan kata hatinya.


Sedangkan Jennifer,wajah memberengut kesalnya tadi semakin kesal saja,saat ia mendengar semua yang dikatakan oleh Sebastian itu.Apa lagi,saat ia melihat wajah tidak bersalah suaminya itu.


"Bukankah kita juga sudah pernah melakukan kegiatan yang seperti tadi,pada malam itu? Jadi sekarang,apa yang sedang kamu permasalahkan, hm?" tanya Sebastian dengan nada bingung,heran dan kening yang juga mengernyit heran,saat ia melihat wajah memberengut kesal istrinya yang terlihat semakin jelas itu.


Ia baru saja teringat tentang malam yang menurutnya kalau dirinya sedang dijebak itu,tapi tidak mengerti bagaimana caranya ia membedakan, mana yang masih perawan,dan mana yang sudah buka segel.


Ya,ia baru teringat tentang tanda dari seorang perawan dari internet yang secara tidak sengaja ia baca di HP nya pada hari itu.Ya,darah perawan... Katanya mbah geogle,seorang yang masih perawan,akan mengeluarkan darah perawan saat melakukannya.Dan sekarang,ia harus mencari keberadaan darah tersebut disekitar atas kasur mereka.

__ADS_1


Tapi baru saja ia berniat ingin mencari apa yang baru saja ia pikirkan itu,suara kesal istrinya yang bercampur marah itu sudah duluan memghentikan niatnya itu.


"Apa sekarang, kamu sedang menganggapku sebagai wanita penggoda,atau mungkin kamu menganggapku sebagai wanita mu.........." belum sempat gerutuan kesalnya dan marahnya Jennifer terselesaikan, Sebastian langsung menyelanya dengan cepat.


"Hentikan...Jangan sembarangan menuduh,aku tidak pernah mengatakan yang seperti itu.Lagi pula bukankah tadi itu,kamu sendiri juga begitu men*km*t*nya? Karena tadi kita sama-sama mampu saling men*km*t*,mungkin saja seterusnya juga akan begitu...Jadi tidak akan menjadi masalah bukan,kalau saat ini aku masih belum mencintaimu?" sela Sebastian dengan panjang lebar dan nada kesalnya,lalu dengan nada santai didua kalimat pada akhir perkataannya.


Ntah kenapa ia sangat tidak suka mendengar perkataannya Jennifer barusan,ia bahkan tidak akan pernah ingin mengatakan hal tersebut terhadap Jennifer,walau ia akan merasa sekesal apapun nanti.


Dan perkataan panjang lebar itupun mampu membuat Jennifer semakin merasa kesal,kesal,dan kesal, dan juga menahan amarahnya,mungkin saja ia sedang menahan air matanya dibalik kelopak matanya saat ini,tanpa Sebastian sadari.


Rasanya ia sangat ingin mengambil pistol dan mengarahkannya kearah kepala brengsek suaminya itu saat ini juga,untuk mengurangi rasa kesalnya itu,tapi sayangnya tidak ada satupun pistol yang terlihat disekitarnya saat ini.


Setelah beberapa detik Jennifer diam dan berpikir keras untuk kebaikannya saat ini,tentunya dengan perasaan kesalnya...


"Baiklah.Kalau kamu memang benar-benar berpikir seperti itu,dan kalau perlu kamu juga bisa menganggap apa yang telah terjadi antara kita tadi tidak pernah terjadi..." jawab Jennifer dengan nada kesal tapi ia tetap menahan rasa marahnya,dan juga menekan kata-kata "tidak pernah terjadi" tersebut dikalimat panjangnya itu,sambil mengulungkan selimut besar tersebut ketubuh polosnya itu,hingga hanya tersisa sebatas untuk bagian menutup senjata suaminya saja.


"Bukan seperti itu yang aku mak.........." kalimat keberatannya Sebastian atas perkataan panjang lebarnya Jennifer barusanpun langsung terhenti, karena Jennifer langsung menyelanya dengan cepat.


"Cukup...Aku tidak ingin dan tidak perlu mendengar kalimat-kalimat emasmu itu lagi,karena sekarang aku sudah mengerti.Jadi aku rasa mulai sekarang, kita akan melakukan apa yang ingin kita lakukan dengan cara kita masing-masing.Aku harap,kamu tidak akan ikut campur dan menyulitkan diriku seperti tadi lagiJika perlu,kamu bisa sekalian saja tidak perlu menganggap hubungan kita ini sebagai suami istri.Mungkin saja,jika kamu ingin menganggapnya sebagai adik kakak saja,itu akan lebih baik untuk masa depan atau hubungan kita kedepannya..." sela Jennifer dengan nada kesalnya dan nada yang sedikit tinggi,sambil terus merebut sisa selimut tadi yang masih sedang dipertahankan oleh Sebastian.


Jennifer sendiri bahkan tidak mengerti dengan apa yang telah ia katakan barusan,karena ia hanya berkata panjang lebar dengan asal saja,untuk melupakan rasa kesal dan marahnya itu.


Ia jadi bertanya-tanya pada dirinya sendiri,kenapa ia bisa jatuh cinta pada pria yang bahkan untuk menjaga perasaan wanita saja,tidak mampu. Bukannya ia ingin terlalu menuntut,tapi ia hanya tidak menyangka kalau ternyata mengejar cinta dari seorang pria pujaannya,sangat sulit dan menyakitkan seperti ini.


Apakah hanya dirinya sendiri saja,yang harus menjaga perasaannya sendiri begitu...Tidak,ia tidak mau hidup yang seperti itu.Ia hanya menginginkan seorang pria yang mampu memanjakannya dan juga membahagiakannya.Dan tentunya mereka harus saling mencintai,tapi nyatanya sepertinya sampai saat ini hanya ia saja yang menginginkan dan mencintai Sebastian.


Ntahlah,ia merasa kalau perasaannya pagi ini sangat,sangat dan sangat kesal dan juga marah karena perkataan- perkataan tidak berperasaannya Sebastian tadi.Sekarang yang ia pikirkan,ia hanya ingin menenangkan diri saja,dan tidak ingin melihat wajah tampannya Sebastian yang selalu saja mampu membuatnya menjadi seperti wanita yang bod*h.


Padahal awalnya ia mengira kalau misi tersebut akan berakhir manis untuk mereka berdua,bukan ia saja yang berharap begitu, tapi yang lainnya juga berharap seperti itu,tapi nyatanya ia bahkan harus mendengarkan kalimat-kalimat menyakitkan dari mulutnya Sebastian.Tapi tanpa ia sadari,walaupun misinya malah tidak berakhir begitu manis, setidaknya mungkin saja sekarang didalam perutnya sudah mulai tumbuh malaikat yang manis untuk mereka semua.


Setelah selesai menggerutu kesal dengan asal,dan ia juga telah berhasil menarik sisa selimut tersebut karena pegangan erat digenggamannya Sebastian disisa selimut tersebut tiba-tiba saja melonggar.


Iapun tidak mau menyia-nyiakan kesempatan tersebut,iapun langsung berniat berdiri dari duduk bersandarnya,tapi baru saja ia ingin berdiri...


"Auchkk..." terdengar pekikan sakit dari mulutnya Jennifer,karena ia langsung merasa sangat sakit dan juga nyeri diarea terlarangnya itu.


Ia lupa kalau tadi Sebastian telah menggempurnya habis-habisan selama 1 jam lamanya,dan pastinya sentakan-sentakan yang telah dilakukan oleh suaminya itu tadi semakin lama semakin kuat.Dan ia baru menyadari kalau hal tersebut,ternyata mampu membuat goanya menjadi sedikit terluka.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Sebastian dengan nada dan wajah khawatirnya setelah ia tersadar dari terdiamnya barusan,sambil berniat ingin membantu Jennifer turun dari atas kasur mereka.


"Stop...Kamu tidak perlu berpura-pura berbaik hati padaku,sekarang aku sudah tidak memerlukannya sama sekali.Lagi pula,hubungan kita ini hanya sebatas suami istri saja.Jadi mau diriku sedang tidak baik-baik atau sedang baik-baik saja,tidak ada bedanya bagimu bukan..." jawab Jennifer dengan nada ketus dan juga menyindirnya,ia bahkan tidak berniat ingin menatap kearah suaminya sedikitpun, dan tanggapannya tersebutpun langsung mampu menghentikan niat baiknya Sebastian barusan.


Apa lagi,saat ia memikirkan tubuh polosnya Sebastian tersebut.Biaa-bisa tekadnya yang ingin berpikir ulang tentang pernikahan mereka itu,pasti akan sirna begitu saja.


Jika saja Sebastian bisa melihat tatapan matanya yang saat ini telah dipenuhi dengan tatapan kecewa,marah,terluka,dan kesalnya itu,pasti sekarang Sebastian akan merasa sangat bersalah terhadap istri cantiknya ini.


Setelah Jennifer selesai mengatakan separuh rasa kesalnya tersebut,ia langsung memaksa untuk berdiri sambil menahan rasa sakitnya tersebut, dan berjalan pelan kearah kamar mandi,dengan gulungan selimut tebal ditubuh polosnya.


Sedangkan Sebastian,ia masih sibuk mencerna semua kalimat-kalimat kesalnya Jennifer sedari awal ia tidak mampu menyela tadi,sambil memerhatikan Jennifer yang sedang berjalan agak sedikit kesulitan kearah kamar mandi.

__ADS_1


Ia bahkan bisa melihat dengan jelas,kalau Jennifer saat ini sedang menahan rasa sakit diarea yang telah ia terobos berkali-kali dengan kuat tadi.


Tapi ia masih tetap berada diatas kasur mereka dengan tatapan bingung dan khawatir kearah punggungnya Jennifer yang sudah hampir sampai dikamar mandi sana,karena ia tidak ingin membuat Jennifer akan merasa bertambah kesal lagi.


__ADS_2