
(Kembali ke Sebastian dan Jennifer...).
Mereka berdua masih sibuk saling *******,hingga kedua tangannya Sebastian yang tadi masih berada diatas kedua bahunya Jennifer,sekarang sudah turun kepunggung dan pinggulnya Jennifer dengan remasan lembutnya.
Beberapa detik kemudian,ternyata Sebastian masih belum hilang akal.Ia langsung mengusir gejolak-gejolak aneh yang sudah menguasai separuh tubuhnya itu,saat ia mengingat peringatan dari Daddynya Jennifer tadi.
Dengan cepat Sebastian langsung membuka kedua matanya dan segera melepaskan l*m*t*n mereka dengan pelan dan sedikit menjauhkan tubuh mereka dengan kedua tangannya yang mendorong pelan tubuhnya Jennifer.
Jennifer yang sedang men*km*t* semua sentuhan lidah lenturnya Sebastian tadipun langsung membuka kedua matanya dengan pelan,ia hanya mampu menampilkan wajah bingungnya saja karena masih sibuk menetralkan napas tidak beraturannya akibat sisa c**m*n mereka tadi.
"Kenapa berhenti?" tanya Jennifer dengan wajah bingungnya,sambil memerhatikan wajahnya Sebastian yang juga sama-sama baru saja selesai menetralkan deru napas tidak menentu mereka tadi.
"Kamu masih bertanya kenapa? Apakah kamu ingin kita melanjutkannya didalam kamar saja?" tanya Sebastian dengan mengusap wajah kesalnya dengan pelan,ia sudah tidak tahu mau berkata apa lagi.
Apakah Jennifer tidak memikirkan tentang bahaya yang akan menimpa mereka nanti,kalau mereka terus melanjutkan c**m*n tadi.
"Tidak,aku tidak mau.Aku kan hanya ingin menginginkan bibir seksimu itu saja..." jawab Jennifer dengan cepat dan wajah yang tersenyum malu.
Karena ia juga tidak akan melupakan peringatan dan nasihat dari kedua orang tuanya,kalau dirinya tidak boleh berhubungan intim sebelum adanya pernikahan.
Sebenarnya ia hanya ingin sedikit menggoda Sebastian saja,untuk menghilangkan rasa kesalnya tadi,tapi ntah kenapa bibir tebalnya Sebastian yang seksi itu bagaikan madu yang sayang jika tidak din*km*ti.
'Wanita ini,benar-benar...' batin Sebastian dengan menghela napas pelan dan wajah kesalnya,saat ia melihat Jennifer yang mengatakan semua itu dengan tidak tahu malunya.
"Jennifer Amora Naava,aku peringatkan padamu,mulai sekarang kamu tidak boleh berdekatan denganku lagi.Jika tidak,aku akan menjauh darimu saat itu juga,dan kamu tidak akan mampu menemuiku sampai aku sendiri yang mengizinkannya..." peringat Sebastian dan sekalian mengancam,karena menurutnya hanya itulah satu-satunya cara supaya Jennifer mau menuruti perkataannya.
"Tidak,itu tidak boleh terjadi.Kamu hanya bercanda saja kan?..." tanya Jennifer dengan wajah kaget dan khawatirnya,sambil menarik-narik pelan ujung kemejanya Sebastian dengan gerakan manjanya yang sangat jarang ia perlihatkan itu.
"Kalau begitu, mulai sekarang kamu jangan menyentuhku lagi.Dan aku tidak sedang bercanda,saat ini..." ucap Sebastian dengan nada dan wajah seriusnya,sambil menahan senyum saat ia melihat sisi lain dari sikapnya Jennifer itu.
"Hanya menyentuh sedikit saja?" tanya Jennifer dengan wajah penuh harapnya sambil mendekatkan kedua jari jempol dan telunjuknya dengan jarak 1 cm saja,mana tahu saja Sebastian masih memberinya izin untuk berpelukan atau sedikit mengecup mungkin.
"Hanya sebatas memegang tangan saja..." jawab Sebastian dengan nada dan wajah tegasnya,ia sendiri bingung dengan maksud kata "sedikit" dari Jennifer barusan,tapi ia tetap tidak mau mengundang bahaya tersebut.
"Baiklah...Tapi kamu janji ya,jangan pernah berpikir untuk menjauh dariku..." ucap Jennifer dengan nada dan wajah pasrahnya,tanpa melepaskan ujung kemejanya Sebastian.
Dan Sebastian hanya menanggapinya dengan anggukan pelannya saja,sambil menatap tenang kearah Jennifer.
"Dan satu lagi,yang barusan itu,aku harap kamu tidak akan melupakannya lagi..." lanjut Jennifer dengan nada memaksanya,sambil menelisik wajah tenangnya Sebastian yang kembali mengangguk pelan,ia hanya tidak mau kembali merasakan kecewa karena Sebastian kembali melupakan hal tersebut dan menganggapnya tidak penting.
"Sudah,sekarang pergilah beristirahat..." ucap Sebastian dengan nada tegasnya.
"Tapi bagaimana dengan bibirmu? Olesan creamnya sudah sedikit menghilang..." tanya Jennifer dengan wajah malunya,sambil menggaruk-garukkan tengkuknya yang tidak gatal.
"Letakkan saja creamnya disana,ntar aku obatin sendiri..." jawab Sebastian dengan ikut merasa malu dibalik nada santainya,tanpa mengalihkan pandangannya kearah wajah malunya Jennifer.
__ADS_1
"Tapi....."ucapannya Jennifer yang berniat ingin kembali mengoles cream itu lagipun langsung terhenti,karena disela oleh Sebastian dengan cepat.
"Jangan membantah lagi,sudah malam,sekarang pergilah beristirahat..." sela Sebastian dengan nada dan wajah tegasnya.
"Baiklah..." jawab Jennifer dengan wajah menunduk pasrahnya saat ia melihat wajah tegasnya Sebastian yang lebih tegas dari sebelumnya,sambil berjalan pergi dari hadapannya Sebastian.
Tapi baru berjalan beberapa langkah,tiba-tiba ia menghentikan langkahnya dan berbalik badan kearah Sebastian yang masih setia menatapnya...
"Harus sampai kapan,aku tidak boleh menyentuhmu?" tanya Jennifer dengan wajah penasarannya,ia baru teringat tentang ini.Lebih tepatnya,ia hanya ingin memastikannya saja,mana tahu saja Sebastian akan berubah pikiran.
Sedangkan Sebastian,ia tidak langsung menjawab,ia tampak sedang berpikir tenang...
"Bukankah tadi aku sudah mengatakannya,sampai kamu bisa mendapatkan izin dariku..." jawab Sebastian dengan wajah seriusnya,setelah ia sudah berpikir selama beberapa detik.
"Bagaimana caranya,supaya aku bisa mendapatkan izinmu?" tanya Jennifer dengan wajah yang masih penasaran,ia belum ingin menyerah sepenuhnya.
"Pikir saja sendiri..." jawab Sebastian dengan nada malasnya,ia saja tidak ingin mendapatkan bahaya dengan sentuhan-sentuhan nakalnya Jennifer,jadi ia tidak mungkin akan memberi Jennifer celah sedikitpun untuk menyentuhnya lagi.
"Dasar menyebalkan..." ucap Jennifer dengan nada dan wajah kesalnya,lalu ia langsung berbalik badan dan benar-benar berjalan pergi dari sana dengan terus menggerutu kesal.
Karena jika ia tidak bisa leluasa untuk mendekati atau menyentuh Sebastian,bagaimana caranya ia akan berhasil mendapatkan hati dinginnya Sebastian,sepertinya ia harus meminta bantuan dari kedua orang tuanya nanti.
"Wanita ini benar-benar tidak waras..." gumam Sebastian dengan nada pelannya,sambil menggeleng-gelengkan pelan kepalanya dengan heran,saat ia kembali mengingat c**m*n panas mereka tadi dan juga perkataan-perkataan tidak tahu malunya Jennifer.
Selama 20 menit lamanya,ia terus berdiri disana dengan posisi yang sama dan arah tatapan yang sama,sambil memikirkan perkataan-perkataan Daddynya Jennifer saat mereka berada didalam ruangan tadi.
Ia juga memikirkan tentang satu-persatu musuh-musuh mereka yang mungkin saja akan sangat merepotkan dirinya untuk kedepannya.Apa lagi,kalau mereka semua menyerang secara bersamaan,walaupun ia tahu kalau Jennifer juga ahli dalam bela diri dan menembak,tapi tetap saja hal tersebut akan sangat beresiko bagi keselamatannya Jennifer.
Belum lagi,Irfan yang sekarang terlihat masih tenang dan belum melakukan aksi apapun,biasanya musuh seperti itulah yang paling bahaya menurutnya.Karena mereka dalam diam menyusun rencana,dan akan menyerang disaat sedang ada celah,walaupun sedikitpun.
(Sebelum-sebelumnya Author ada menulis nama Satria didalamnya ya,itu Author salah nulis,itu sebenarnya Irfan...Maaf ya...😁).
Makanya ia lebih suka menyembunyikan identitasnya sebisa mungkin,supaya para musuh-musuh tersebut tidak akan mengincar keluarganya,dan ia juga tidak perlu repot-repot mengurusi mereka.
"Wanita menyebalkan ini bahkan musuh didepan matanya saja,ia tidak mampu menyadarinya... Bagaimana ia akan memegang perusahaan keluarganya nanti,kalau menjaga dirinya sendiri saja seperti ini..." gumam Sebastian dengan nada pelannya dan wajah tenangnya yang sedang menghela napas panjang yang berat,hingga terlihat wajah tenangnya yang mulai merasakan lelah.
Karena tingkahnya Jennifer yang sulit diatur dan juga rasa ngantuknya yang mulai menyerangnya saat ini,padahal biasanya jam-jam 10 hampir jam 11 malam seperti ini,ia masih akan sulit untuk tidur.
Tapi sekarang,,,ntah karena pengaruh Jennifer yang ada bersamanya sekarang,atau apa...Ia sendiri tidak mau terlalu memikirkannya...
"Maka dari itu,kamu harus selalu bersamanya, supaya ia bisa bersemangat untuk menjalani semua itu.Dan aku sama sekali tidak akan keberatan..." timpal Daddynya Jennifer dari belakang dengan tiba-tiba sambil berjalan mendekat kearah Sebastian,ia sudah sedari 10 menit yang lalu berada dibelakang sana,hanya saja ia masih memikirkan apa yang sedang dipikirkan oleh Sebastian.
Iapun tidak tahan untuk berdiam diri lagi,saat ia mendengar gumaman pelan tersebut dan melihat Sebastian yang tiba-tiba saja menghela napas panjang yang berat.
Apa lagi,saat ia memikirkan tentang Jennifer yang pasti akan melupakan segala-galanya jika sudah bersama Sebastian,dengan fokus sepenuhnya yang hanya terarah pada Sebastian saja.
__ADS_1
Sedangkan Sebastian,ia langsung mendengkus kesal tanpa menatap kearah Daddynya Jennifer lagi,karena dari suaranya saja ia sudah bisa mengenal siapa pemilik suara tersebut.
"Aku mengatakan yang sebenarnya,bahkan istriku juga sependapat denganku..." lanjut Daddynya Jennifer lagi,dengan nada dan wajah seriusnya,sambil mengikuti gaya berdirinya Sebastian.
'Istriku? Ternyata Mommynya Jennifer sudah mengetahui banyak hal tentang aku,wajar saja sikapnya tadi berubah drastis...' batin Sebastian dengan berusaha menetralkan rasa kesalnya,saat tebakannya tadi ternyata memang benar.
"Kamu hanya perlu mendampingi Jennifer,hingga ia mampu mengendalikan perusahaan besarku itu.Dan kalau perlu,untuk seumur hidupnya... Lihatlah mereka,mereka mungkin tidak akan berhenti sampai kita benar-benar membuka mata mereka dengan jelas,tentang siapa diri kita sebenarnya..." lanjut Daddynya Jennifer lagi,sambil mengikuti arah pandangnya Sebastian.
"Paman,apa paman sadar dengan apa yang telah kamu katakan itu? Lagi pula,aku tidak memiliki cinta untuk Jennifer...Kami bahkan sama sekali tidak memiliki hubungan apapun,dan aku rasa aku tidak perlu menjelaskannya lagi,karena Paman pasti sudah tahu maksudku bukan..." tanya Sebastian dengan wajah malasnya dan juga asal.
"Tentu saja sadar,malahan aku sangat sadar saat mengatakannya tadi.Kamu hanya belum menyadari cintamu kepada Jennifer saja, bersabarlah sebentar lagi...Aku yakin,kalau sekarang kamu sudah mulai mencintai Jennifer..." jawab Daddynya Jennifer dengan nada santainya.
"Apakah paman tidak takut,kalau aku akan menyakiti Jennifer dan merebut kekayaannya paman? Dan asal Paman tahu saja,kalau stok kesabaranku masih tersisa banyak saat ini..." tanya Sebastian dengan nada kesalnya,padahal baru tadi Daddynya Jennifer sudah memberinya peringatan dan nasihat-nasihat yang lumayan bagus untuk didengar,kenapa sekarang malah berbeda dengan pembicaraan yang ia dengar tadi.
"Ya,tapi aku berubah pikiran sekarang.Dan aku rasa,pernikahan kalian harus segera dilaksanakan secepat mungkin..." jawab Daddy dengan nada dan wajah seriusnya,ia sudah memikirkannya selama 30 menit lamanya tadi.
Apa lagi,saat ia memikirkan tentang Jennifer yang mungkin saja akan berada dalam bahaya pada sewaktu-waktu,dan menurutnya sangat bagus jika Sebastian bisa selalu berada disampingnya Jennifer,dan ia yakin kalau Sebastian pasti akan mampu mengatasi tingkah-tingkah nakal dan cerobohnya Jennifer dengan baik nanti.
Dan tentang cintanya mereka,biarlah saja putri nakalnya itu yang mengatasinya.Lagi pula,ia memahami putri sulungnya itu dengan sangat baik,dan sudah dipastikan kalau putri sulungnya itu tidak akan mau menyerah sebelum berhasil.
"Apakah kamu memang seperti ini,Paman? Berbicara tanpa memikirkannya kembali..." tanya Sebastian dengan menatap kesal kearah Daddynya Jennifer,sambil berbalik badan dan menyangga pinggangnya kepembatas kaca tersebut,dengan sebelah siku yang ikut menjadi penyangga.
"Tidak,aku hanya seperti ini,jika padamu saja...Lagi pula,jika aku sudah mengatakannya,berarti perkataanku itu sudah aku pikirkan dengan baik-baik..." jawab Daddy dengan nada seriusnya,sambil membalas tatapan kesalnya Sebastian dengan tatapan seriusnya.
"Cih,kalian berdua sama saja..." ucap Sebastian dengan berdecih kesal dan wajah kesalnya sambil berjalan pergi dari sana,ia sudah tidak tahu ingin berkata apa lagi tentang mereka berdua yang begitu menyebalkan dan memaksa.
"Sebastian Sachdev Rendra,aku benar-benar serius saat mengatakan semua itu sedari tadi,kalian berdua memang harus segera menikah...Jika tidak,aku akan segera menikahkan Jennifer dengan pria pilihanku saja..." ucap Daddynya Jennifer dengan wajah yang berpura-pura serius,padahal ia hanya asal bicara saja.
Tapi ternyata perkataan ancamannya Daddy itu berhasil membuat langkahnya Sebastian langsung berhenti,tapi Sebastian tidak berniat ingin berbalik badan ataupun menoleh sedikitpun.
"Silakan saja,aku tidak akan keberatan sama sekali...Mungkin begitu juga lebih bagus..." jawab Sebastian dengan nada santainya setelah ia terdiam selama beberapa detik,lalu iapun segera melanjutkan langkahnya kembali.
Walaupun hatinya merasa tidak rela,tapi ia menganggap itu hanya reflek atas perasaan bingungnya saja karena selama satu tahun ini Jennifer selalu menganggu pikirannya.Lagi pula,sekarang ia hanya ingin segera memeluk bantal guling saja,karena kedua matanya sudah sangat berat saat ini,ia bahkan melupakan cream lukanya tadi.
"Kita lihat saja nanti...Aku ingin melihat seberapa lama,kamu bisa menahan kata hatimu itu..." gumam Daddy dengan nada pelannya,sambil tersenyum yakin dan menatap punggung lebarnya Sebastian.
Lalu tatapannya beralih kecream luka yang ada diatas meja tersebut,walaupun ia juga merasa kesal dengan jawabannya Sebastian yang tidak sesuai dengan harapannya itu.
Kemudian iapun kembali mengalihkan pandangannya kearah mobil musuh yang ternyata baru saja pergi dari sana,lalu iapun menghela napas berat,sepertinya Sebastian memang kiriman dari Tuhan untuk menjaga keluarganya.
Apa lagi,diusia tuanya saat ini,ia bisa merasakan kalau dirinya sudah tidak begitu tangguh lagi,seperti masa ia muda dulu.
Iapun akhirnya berjalan masuk dengan membawa cream tersebut,dengan langkah lebar dan pelannya.
***
__ADS_1