
Setelah 15 menit berlalu...
"Apakah masih ada lagi,yang tersisa didalam sana, hm? Kalau masih ada,kamu bisa keluarkan semuanya.Bahu besarku ini masih mampu menahannya,dan kemejaku juga masih mampu untuk membersihkan semuanya,walau mau seberapa banyakpun yang akan kamu keluarkan..." tanya Billy dengan nada pelannya dan wajah yang tersenyum kecil karena ia sengaja ingin membuat Jennifer merasa kesal,tentu saja setelah ia mendengar suara tangisannya Jennifer yang sudah reda.
Pertanda kalau Jennifer sudah puas menumpahkan segala rasa kesal dan sakit hatinya itu,dan hal tersebut sudah mampu membuat dirinya bisa menghela napas lega.
"Dasar menyebalkan..." ucap Jennifer dengan nada serak dan wajah kesalnya,sambil menjauhkan wajah basahnya dari dada kekarnya Billy tersebut.
"Apakah ada yang salah dengan perkataanku,hm? Tidak ada salahnya,bukan? Kalau kamu ingin keluarkan lagi,yang masih tersisa tadi..." ucap Billy dengan nada dan wajah yang tersenyum santai tapi terlihat sedang menahan tawa karena wajah memberengutnya Jennifer, sambil mengambil sekotak tisu yang ada didepan kursi pengemudi dan langsung memberikannya pada Jennifer yang juga langsung mengambilnya dengan gerakan kesalnya.
"Aku bertanya serius,tapi kamu malah mengabaikan diriku.Jangan menyia-nyia diriku seperti ini, karena saat ini aku sedang berbaik hati,dan kamu sendiri juga tahu kalau aku jarang-jarang seperti ini..." lanjut Billy dengan nada dan wajah tersenyum menggodanya saat ia melihat Jennifer yang malah sibuk mengelap wajah basahnya itu,sambil kembali merentangkan kedua tangannya seperti tadi.
"Ya,ya,ternyata hari ini adalah hari keberuntunganku.Apakah aku juga perlu mengeluarkan ingusku ini kekemeja kakak,hm?" tanya Jennifer dengan nada kesalnya yang masih terdengar serak,tanpa menghentikan kegiatan mengelapnya itu,ia juga sekalian membuang ingusnya secara terang-terangan dihadapannya Billy.
Walaupun sebenarnya ia juga merasa bersalah dengan kemeja basahnya Billy itu,tapi karena rasa kesalnya itu,jadi iapun menyembunyikan rasa bersalahnya tersebut.
Ia bahkan harus menahan senyum gelinya,karena kalimat-kalimat menggelikan Billy barusan,Billy memang selalu mampu membuatnya terhibur dalam waktu beberapa menit saja.
"Silakan saja...Aku sama sekali tidak akan merasa keberatan dengan itu.Jika kamu ingin melakukannya,lakukan saja..." jawab Billy dengan nada dan wajah tersenyum santainya,tanpa menurunkan rentangan kedua tangannya itu.
Ia bahkan sama sekali tidak merasa geli sedikitpun,dengan kegiatannya Jennifer yang terlihat sedikit menjijikkan itu.
"Kakak,ternyata kamu memang tidak pernah berubah dari dulu.Dasar menyebalkan..." ucap Jennifer dengan nada dan wajah memberengut kesalnya,sambil terus mengelap wajah basahnya yang sudah tidak begitu basah lagi.
Jennifer bahkan sengaja membuang semua tisu bekas mengelap air mata berserta ingusnya tadi kesekitar dalam mobil tersebut,karena ingin membalas Billy yang telah sengaja kembali membuatnya merasa kesal.
Walaupun ia tahu kalau mobil tersebut adalah miliknya sendiri,tapi Billy pasti akan segera membersihkannya tanpa anak buahnya atau dengan anak buahnya,karena setelah selesai mengantarnya,Billy akan kembali berangkat kekantor untuk membantu suaminya yang menyebalkan itu.
Sedangkan Billy,ia hanya mampu menghela napas dengan pelan dan menampilkan ekspresi wajah malas diwajahnya saja,sambil terus memerhatikan apa saja yang sedang dilakukan oleh Nona Mudanya yang menyebalkan itu.
"Buat apa juga,aku harus berubah? Kecuali,jika ada yang mampu merubah diriku..." ucap Billy dengan asal,setelah ia selesai memerhatikan Jennifer yang sengaja merepotkan dirinya itu.
"Yang mampu merubah kakak?" tanya Jennifer dengan nada bingungnya dan wajah yang terlihat sedang berpikir serius,sambil menelisik wajahnya Billy yang lumayan tampan tapi tetap saja masih lebih tampan suaminya tentunya.
"Aku harap memang akan ada seseorang yang akan segera datang kehidupmu,kak.Dan mampu merubahmu,kak..." lanjut Jennifer dengan nada dan wajah tersenyumnya yang penuh harap, sebelum Billy sempat menjawabnya,sambil mengelap tisu terakhirnya itu.
"Seseorang? Datang kehidupku?" kali ini,Billy yang merasa bingung dengan apa yang dikatakan oleh Jennifer barusan.
"Ya,tentu saja seseorang yang akan mampu merubah sikap menyebalkan kakak itu...." jawab Jennifer dengan nada dan wajah malasnya,saat ia melihat wajah dan tatapan bingungnya Billy yang tertuju kearahnya itu.
__ADS_1
"Ya,seseorang... Seseorang wanita yang akan mampu mengisi hatinya kakak yang telah lama menjomblo itu,dan juga mampu mengisi kesepian yang ada diapartemen kakak sana ..." lanjut Jennifer dengan nada dan wajah tersenyum menggodanya,sambil menaik turunkan pelan kedua alisnya kearah Billy.
Ia sangat yakin kalau apartemennya Billy,pasti tidak jauh beda dengan kamar miliknya mereka itu, memang memiliki desain yang bagus tapi sayangnya semua sudut dan sisinya hanya diwarnai hitam putih saja..
"Cih..." Billypun langsung berdecih kesal saat ia sudah mengerti apa yang dimaksudkan oleh Jennifer tadi,tapi wajah kesalnyq itu hanya untuk beberapa detik saja.
"Jangan begitu yakin...Itu tidak akan pernah terjadi,karena tidak akan ada satupun wanita yang akan mampu merubahku.Kecuali,jika aku sendiri yang menginginkannya..." ucap Billy dengan nada dan wajah tersenyum yakinnya,sambil berlagak percaya diri,dengan menyisir pelan ujung rambut depannya memakai ujung jari-jarinya,dan disertai ekpresi wajah angkuhnya itu.
"Cih...Kalau begitu,aku akan terus setia untuk menunggu dan melihat...Bagaimana jadinya,jika benar-benar akan ada seorang wanita yang mampu membuat kakak berubah menjadi tidak waras nanti..." ucap Jennifer dengan nada dan ekspresi wajah senangnya,penuh harapnya kembali tapi juga disertai dengan nada menyindirnya,sambil terus berdoa didalam hatinya.
'Bagaimana,kalau kak Billy malah berubah menjsdi mesum seperti suamiku yang menyebalkan itu... Mereka berdua kan 11,12 saja...' lanjut Jennifer didalam hatinya,sambil memikirkan tentang suaminya yang biasanya tidak suka dekat-dekat dengan wanita manapun tapi sekarang malah menjadi begitu mesum padanya.
Ia tidak ingin membayangkan kalau nanti Billy akan ikut-ikutan berubah seperti Tuan Mudanya itu,tapi tidak apa-apa juga,asalkan sikapnya tidak akan sama seperti suaminya itu.
"Ya,kamu tunggu dan lihat saja..." ucap Billy dengan nada dan wajah tersenyum santainya, sambil terus menelisik wajah lembabnya Jennifer yang sudah lumayan lebih baik dari pada yang tadi.
"Apakah kamu sudah merasa lebih baik,sekarang?" lanjut Billy,iapun langsung bertanya dengan nada dan wajah seriusnya kembali,karena ingin memastikan kalau Jennifer akan dalam keadaan baik-baik saja, saat ia beranngkat kekantor nanti.
"Ya,yang seperti kakak lihat sekarang..." jawab Jennifer yang memang sudah langsung mengerti dengan apa maksud dari pertanyaannya Billy barusan.
"Cih..." Billy langsung kembali berdecih kesal,saat ia lagi-lagi mendengar jawaban yang sama dari Jennifer.
Setelah selesai berdecih kesal,Billypun segera pindah duduk kekursi pengemudi tanpa keluar mobil lagi,karena tidak ingin yang lainnya menjadi salah pahan dengan kemeja basahnya itu.
Sedangkan Jennifer,ekspresi wajah santainya tadipun berubah menjadi sedikit muram,sambil terus memerhatikan Billy yang sedang berpindah duduk.
"Apakah menurut kakak,dia telah mencintaiku sekarang?" tanya Jennifer dengan tiba-tiba,nada dan wajah seriusnya,sambil menelisik wajah kesalnya Billy yang langsung berubah menjadi bingung.
Billy yang baru saja sampai ditempat duduknya itupun langsung mengalihkan wajah bingungnya kearah Jennifer yang masih sibuk menelisik wajah bingungnya itu,ia langsung bisa tahu siapa yang dimaksudkan oleh Jennifer barusan.
"Kalau kamu sedang menanyakan pendapatnya kakak...Kakak rasa,dia telah mulai mencintaimu sedari kamu berangkat ke Australia dulu..." jawab Billy dengan jujur dan wajah seriusnya,karena ia bisa melihat dengan jelas tatapan cintanya Sebastian untuk Jennifer.
Belum lagi,saat ia memikirkan tentang kegiatan-kegiatannya Sebastian didanau itu selama 1 tahun ini.Ia memang sama sekali belum memiliki pengalaman,tapi ekspresi wajahnya Sebastian terlihat jelas kalau Sebastian memang sedang merindukan Jennifer.
"Benarkah?" tanya Jennifer dengan nada dan wajah tidak percayanya.
Ia bahkan sampai mengernyitkan keningnya dengan tajam,karena setahunya selama ini dirinyalah yang duluan dan selalu mengejar cintanya Sebastian.Jadi,mana mungkin Sebastian akan seperti yang Billy katakan barusan.
"Sudahlah,kakak tidak perlu memberiku semangat dan harapan palsu yang seperti itu.Dia memang tidak pernah akan mencintaiku,sekarang ataupun nanti.Aku sudah tau itu sejak lama,tapi aku malah memaksakan diri.Jadi,ya seperti inilah hasil yang telah aku dapatkan dari sikap keras kepalaku itu..." lanjut Jennifer yang sudah bertekad tidak mau menaruh harapan apapun lagi terhadap Sebastian, bisa saja Billy hanya ingin menyemangati dirinya saja.
__ADS_1
Sedangkan Billy,ia langsung menghela napas pelan, saat ia melihat wajah tegarnya Jennifer yang telah kembali melihat kearah keluar jendela,hanya itu saja yang bisa dilakukan oleh Jennifer saat ini.
"Apakah kita pulang,sekarang?" tanya Billy dengan nada dan wajah khawatirnya,sambil menelisik kedua matanya Jennifer yang masih terlihat bengkak karena telah menangis selama 15 menit tadi.
Billypun juga memilih untuk menyusun kata-kata yang tepat terlebih dahulu,sebelum ia akan kembali membahas tentang Sebastian.
"Iya Kita pulang saja,kak.Kakak tidak perlu mengkhawatirkan kedua mataku,mereka semua pasti akan mengerti..." jawab Jennifer dengan nada yakin dan wajah yang tersenyum santai,saat ia tahu apa yang sedang dikhawatirkan oleh Billy saat ini.
Billypun langsung melajukan mobil tersebut dengan kecepatan pelannya,saat ia mendengar nada yakin disuaranya Jennifer barusan.
"Apakah kamu masih begitu mencintainya,hm?" tanya Billy tiba-tiba,saat ia sudah mendapatkan kalimat yang menurutnya sudah benar untuk ia tanyakan pada Jennifer.
"Tentu saja aku masih sangat mencintainya,kak. Tapi sayangnya,sepertinya cintaku selalu bertepuk sebelah tangan,sedari dulu sampai sekarang...Dan sekarang,aku sudah merasa lelah untuk menantikan cintanya..." jawab Jennifer dengan nada dan wajah tidak bersemangatnya,tanpa mengalihkan tatapannya tersebut.
"Kalau begitu,mulai sekarang kamu harus mencoba untuk menjauhinya.Jika dia benar-benar telah mencintaimu,dia pasti akan mengejarmu, kemanapun kamu pergi. Karena kakak sangat yakin kalau dia telah mencintaimu sejak dulu,hanya saja dia masih belum menyadarinya sampai sekarang..." ucap Billy dengan nada dan wajah seriusnya dan juga yakin,sambil melirik kearah Jennifer yang langsung menatapnya dan terlihat sedang berpikir serius.
"Tapi jika dia tidak juga mengejarmu,berarti itu........." belum sempat Billy menyelesaikan kalimatnya itu,Jennifer sudah langsung menyelanya dengan cepat.
"Itu berarti dia memang tidak mencintaiku,dan aku harus melepaskannya pada saat itu juga..." sela Jennifer dengan nada pelan dan wajah tidak bersemangatnya kembali.
Padahal sebelum Billy mengatakan kalimat terakhirnya itu,didalam hatinya ia sudah mulai kembali berharap lebih lagi,tapi sepertinya sudah cukup dan ia memang tidak boleh terlalu berharap banyak lagi.
"Ya,aku hanya tidak ingin kalau kamu sampai harus menyia-nyiakan waktu berhargamu,hanya untuk pria yang tidak mencintai kamu..." ucap Billy,sambil memerhatikan wajahnya Jennifer yang memang terlihat lebih tegar dari pada yang tadi.
Mungkin saja,karena tadi Jennifer telah melepaskan semuanya,jadi ekspresi kecewa diwajahnya sudah berkurang banyak dari yang tadi.
Ia juga ingin sekalian memberi Tuan Mudanya itu sedikit pelajaran,walaupun didalam hatinya merasa sangat yakin kalau namanya Jennifer memang telah tumbuh lama didalam hatinya Sebastian tanpa Sebastian sadari.Tapi kalau memang nyatanya Sebastian tidak mencintai Jennifer,ia pasti akan mendukung apapun keputusan yang akan diambil oleh Jennifer nanti.
"Tapi ingat,kamu tidak boleh melakukan hal-hal yang bod*h,kalau dia memang benar-benar tidak mencintaimu nanti..." lanjut Billy dengan nada dan wajah yang lebih serius dari pada yang tadi,dan juga dengan perasaan khawatirnya,sambil menghentikan mobil tersebut tepat dihalaman depan rumah Tuan Mudanya karena memang mereka sudah sampai rumah.
"Jika mood kamu sedang tidak baik seperti tadi atau lebih parah dari yang tadi,kamu hanya perlu............" lanjutannya Billypun kembali terhenti, karena lagi-lagi disela oleh Jennifer dengan cepat,
"Ya,aku hanya perlu mencari kakak saja.Lalu aku harus mencurahkan semuanya pada kakak, dan mood burukku itu akan menghilang dengan cepat..." sela Jennifer dengan cepat dan nada kesalnya,sambil membuka pintu mobil.
"Apakah kakak pikir,aku adalah wanita yang akan semudah itu menjadi tidak waras,hanya karena pria.Dasar jomblo sejati ini,sangat menyebalkan..." lanjut Jennifer dengan nada dan wajah memberengut kesalnya,sambil keluar dari dalam mobil dan menutupnya kembali, tanpa menunggu Billy membuka pintunya atau sempat bicara apapun lagi.
"Aku harap,kalau kakak akan segera mendapatkan seorang wanita yang lebih manja dan juga lebih cerewet dari pada diriku.Dan pada saat itu tiba, pasti akulah orang pertama yang akan merasa paling bahagia..." lanjut Jennifer lagi,ia bahkan terus menggerutu kesal tanpa menghentikan langkah kakinya yang akan membawanya masuk kedalam rumah itu.
Sedangkan Billy,ia hanya mampu menggeleng-gelengkan pelan kepalanya dengan wajah yang tersenyum heran.Kenapa wanita selalu akan bersikap seperti itu,jika sedang merasa kesal,dan ia paling tidak suka dengan hal yang seperti itu.
__ADS_1
Untung saja,Jennifer termasuk salah satu orang yang ia sayangi,jadi mau tidak mau ia terpaksa berbesar hati untuk menerima semua umpatan dan doa tidak jelas dari Jennifer untuknya itu.Dan semoga saja,doa-doa tersebut tidak akan terkabul.
Jika tidak,ia pasti akan terus merasa pusing dan mungkin saja akan stres karena telah mendapatkan wanita yang seperti ada didalam doanya Jennifer tadi.