Suami Tampanku Yang Sederhana

Suami Tampanku Yang Sederhana
Bab. 130


__ADS_3

Sedangkan didalam mobil yang sedang melaju sedang tersebut,Sebastian langsung memerintahkan sang supir untuk berputar arah, tanpa perlu berpikir lama lagi.


Sekarang ia merasa khawatir dengan keadaan istrinya,tapi firasat buruknya mengatakan kalau pasti sedang terjadi sesuatu yang diluar dugaannya pada istrinya saat ini.


"****...Cepat putar arah,sekarang juga..." perintah Sebastian dengan nada tegas,tingginya dan wajah tegas yang telah diselimuti amarah saat ini,setelah ia sudah mematikan telepon sebelah pihak tersebut dan juga mengumpat marah.


Ia memerintah,sambil mencari nama kontak seseorang,seseorang yang saat ini telah berhasil membuat amarahnya meningkat secara tiba-tiba.


Walaupun sebenarnya nama istrinya yang pertama kali terlintas dibenaknya saat ini,karena rasa khawatirnya tersebut.Tapi ia harus terlebih dahulu mencari namanya Billy,karena seperti biasanya Billy akan selalu melakukan tugasnya dengan baik,tapi kenapa kali ini malah melanggar perintahnya dan membohonginya.


Dan setahunya istrinya selalu masuk kantor,dan bahkan tidak pernah terdengar dari mulutnya Billy kalau istrinya sedang tidak enak badan atau apapun selama 2 minggu ini


"Baik,Tuan Muda..." jawab supir tersebut dengan cepat,dan langsung memutarkan mobil tersebut tanpa banyak bertanya lagi.


Bahkan dengan melihat ekspresi wajah Tuan Mudanya saja,ia sudah mampu langsung mengerti, kalau dirinya tidak boleh membuat kesalahan sedikitpun.Jika tidak,nyawanya pasti akan terancam tinggal nama.


"####...Apa yang sedang dilakukan olehnya, disaat-saat seperti ini? Jangan katakan,kalau saat ini mereka sedang tidak ada dirumah..." Sebastian kembali mengumpat marah saat teleponnya tidak diangkat oleh Billy,ekspresi wajah marahnya bahkan telah bercampur khawatir saat ini,karena baru ini pertama kalinya Billy tidak mengangkat telepon darinya selama Billy berkerja dengannya.


"Kita kedanau sekarang juga,dan tambahkan lajunya secepat mungkin..." perintah Sebastian dengan nada tegas,tinggi dan wajahnya yang semakin terlihat sangat marah,saat ia langsung memilih untuk memeriksa titik lokasi GPS nya Jennifer terlebih dahulu.


"Baik,Tuan Muda..." jawab sang supir dengan cepat dan berusaha tetap tenang karena merasa takut dengan amarah Tuan Mudanya itu,ia juga segera menambahkan kecepatan yang telah ia tingkatkan tadi.


Perintah dari Tuan Mudanya tersebut bahkan terdengar harus dimungkinkan,walaupun tidak mungkin.Dan untung saja,ia tahu arah jalan kedanau,dimana tempat Tuan Mudanya akan selalu nongkrong disana.


"Sedang apa mereka disana? 2 minggu? Apa jangan-jangan Jennifer memang sudah sering kesana, selama 2 minggu ini? Dan kenapa tadi Aldy mengatakan kalau Jennifer tidak enak badan?" tanya Sebastian pada dirinya sendiri,dengan nada pelannya tapi ekspresi wajahnya masih terlihat sangat marah, sambil kembali menelepon Billy dengan begitu tidak sabaran.


Sekarang sudah berbagai pertanyaan yang telah bersarang dibenaknya,dan hanya Billy yang mampu memberinya semua penjelasan tentang pertanyaan-pertanyaannya tersebut.


Beberapa detik kemudian...


"Hal hallo...Tuan Muda..." jawab Billy dengan nada gugupnya dari seberang sana karena ia tahu kalau Tuan Mudanya pasti telah mengetahui sesuatu saat ini,sambil terus menembak para musuhnya yang masih belum berhenti menyerang mereka.


"Jelaskan padaku,sekarang juga..." perintah Sebastian dengan nada tinggi, marahnya,dan perasaan khawatirnya yang saat ini semakin tidak terkontrol saja.


Apa lagi,saat ia bisa mendengar dengan jelas kalau diseberang Billy sana sedang terjadì saling tembak-tembakan,terbukti dengan suara-suara tembakan yang sepertinya tidak ingin berhenti tersebut.


"Ma maafkan aku,Tuan Muda..." jawab Billy dengan nada yang masih tetap gugup karena merasa sangat bersalah sekaligus takut akan amarah Tuan Mudanya saat ini.Tapi walau bagaimanapun,tetap saja rasa bersalahnya lebih banyak kalau ingin dibandingkan dengan rasa takutnya saat ini.


"Aku meneleponmu,bukan untuk mendengar kata maaf darimu..." ucap Sebastian dengan nada marahnya yang masih tetap tinggi,saat ia tidak mendapatkan jawaban yang ingin ia dengarkan dari Billy saat ini.


"Kami baru saja diserang secara tiba-tiba,Tuan Muda.Dan,dan dalangnya adalah Irfan,Tuan Muda..." jawab Billy dengan cepat dan berusaha menahan segala rasa gugupnya yang telah bercampur rasa khawatir karena memikirkan tentang Nona Mudanya tersebut,tanpa menghentikan tembakannya.

__ADS_1


"####..." Sebastian kembali mengumpat marah,kali ini nadanya lebih tinggi dari pada yang tadi.


"Dimana istriku sekarang?" tanya Sebastian lagi, dengan nada tinggi yang disertai amarahnya tersebut,rasa khawatirnya tersebut bahkan sudah tidak mampu ia sembunyikan lagi.


"Tuan Muda,Nona Muda,arhhggg..." belum sempat Billy menyelesaikan kalimatnya,tapi malah berlanjut terdengar pekikan sakit dari mulutnya karena sebuah peluru yang langsung menghampirinya tepat dilengan kirinya akibat dirinya yang setengah fokus keHPnya tersebut, hingga membuat HPnya terjatuh begitu saja.


"Billy,Billy...####..." panggil Sebastian dan juga kembali mengumpat marah,dengan nada dan wajah yang semakin khawatir dan telah bercampur marah itu,tapi sayangnya sudah tidak ada jawaban apapun lagi,dari seberang sana.


Padahal masih banyak hal yang ingin ia pertanyakan pada Billy,tapi belum sempat ia mengetahui keadaan istrinya saat ini,Billy malah telah terkena tembakan terlebih dahulu.


"Lebih cepat lagi..." perintah Sebastian dengan nada marahnya,sambil melirik sekilas kearah jam tangannya yang sudah jam 6 malam lewat 40 menit.


Karena berkat laju mobil yang dibawa oleh supir tersebut,saaat ini ia sudah berada dititik awal berangkatnya tadi.Dan untuk menuju kedanau tersebut,mobilnya harus melaju sekitar selama 50 menit lagi.


Menurutnya ia tidak akan berhasil menyelamatkan Jennifer,jika ia harus kesana dengan waktu yang selama itu.Dan hal tersebut, berhasil membuat ekspresi wajahnya menjadi semakin kacau saja.


"Lebih cepat lagi.Jika tidak,aku akan segera melubangi kepalamu" perintah Sebastian dengan nada tingginya sambil mengeluarkan pistolnya, duduk tenangnya tadi bahkan langsung menjadi tidak tenang dan juga tidak karuan karena segala rasa khawatirnya tersebut.


Padahal laju mobilnya sudah diangka yang lumayan tinggi,tapi saat ini rasa khawatirnya lebih tinggi dari pada angka laju mobilnya tersebut. Untung saja,sang supir tersebut adalah bawahan yang hari itu pernah menjadi supirnya,dan bawahan yang memang sangat ahli dalam melajukan mobil atau membalap dalam keadaan apapun.


"Baik,Tuan Muda..." jawab supir tersebut dengan cepat,tanpa menatap kearah Tuan Mudanya sedikitpun karena ia sibuk fokus menyetir,dan ia benar-benar terus menambahkan lajunya mobil tersebut saat ia memiliki kesempatan untuk menyelip atau disaat jalanan sedang tidak begitu banyak kendaraan.


'Aku sedang mengusahakannya,Tuan Muda...' lanjut supir tersebut didalam hatinya karena ia hanya berani bicara didalam hatinya saja.


"####...Kenapa aku bisa menjadi begitu bo###,kali ini. Dengan mempercayai Billy,dan menganggap firasat burukku malam semalam itu sebagai angin lalu saja..." Sebastian kembali mengumpat yang ntah sudah keberapa kalinya sedari tadi,ia juga terus menggerutu marah.


Ia terus merutuki kebod#### dirinya sendiri itu selama diperjalanan yang menurutnya sangat lama itu,sambil mencari nama kontak istrinya.


Saat ia sudah menemukannya,Sebastian langsung menekan nama kontak yang telah ia tulis dengan kata Sweety yang sedari 3 minggu yang lalu itu, saat ia mulai merasakan kesepian dan juga sekaligus merasa kehilangan sesuatu yang sampai saat ini masih belum begitu bisa untuk ia mengerti.


Beberapa detik kemudian...


"Hallo..." jawab Jennifer dengan nada santainya, sambil berusaha menyembunyikan perasaan khawatirnya saat ia melihat dari kejauhan sana, kalau saat ini Billy sedang berdiri tidak berdaya disana karena telah dikepung oleh orang-orangnya Irfan.


"Kamu ada dimana sekarang? Bagaimana keadaanmu sekarang? Apakah kamu baik--baik saja?" Sebastian langsung bertanya secara beruntun,saat ia mendengar suaranya Jennifer tersebut.


Rasa khawatirnya tadi tidak juga mengurang,rasa khawatirnya bahkan semakin meningkat saat ia mendengar beberapa kali suara tembakan yang baru saja berhenti.Ia terus bertanya-tanya didalam hatinya...Apakah istrinya telah tertangkap atau belum saat ini?...


Sedangkan Jennifer,ia terdiam selama beberapa detik saat ia mendengar beberapa perhatian dari suaminya itu.Dan ia juga merasa sangat senang karena akhirnya Sebastian meneleponnya juga setelah ia menunggu begitu lama,karena ini adalah telepon pertama dari Sebastian sedari mereka berdua kenal sampai saat ini.


Tapi beberapa detik kemudian, segala rasa senangnya tersebut langsung berubah menjadi hambar,saat ia kembali menyadari kalau Sebastian tidak pernah akan bisa mencintainya sampai kapanpun.Apa lagi,Sebastian meneleponnya disaat-saat seperti ini,dan hal tersebut bukan hal yang harus ia senangin.

__ADS_1


"Jennifer,Jennifer...Apakah kamu masih disana? Apakah kamu baik-baik saja? Cepat jawab pertanyaanku,jika kamu memang baik-baik saja..." lanjut Sebastian dengan nada dan wajah khawatirnya.


Bahkan ia telah memanggil nama istrinya yang ntah sudah keberapa kalinya selama beberapa detik tersebut,karena ia tidak mendengar suaranya Jennifer lagi.


"Apakah kamu telah mencintaiku,sekarang?" Jennifer malah bertanya balik dengan nada seriusnya,karena ia ingin kembali memastikan untuk terakhir kalinya,secara langsung dari Sebastian sendiri.


"What?" tanya Sebastian dengan ekspresi tidak percaya diwajah kacaunya itu,saat ia mendengar pertanyaan tidak masuk akalnya Jennifer tersebut, karena saat ini mereka memang sedang berada disituasi yang tidak tepat untuk bertanya tentang hal yang seperti itu.


"Jennifer...Aku sedang serius dan tidak sedang bercanda,saat ini.Katakan saja,kalau saat ini kamu baik-baik saja...Dimana kamu sekarang?" lanjut Sebastian dengan menahan rasa kesalnya,dan juga dengan beberapa pertanyaan yang sama seperti tadi.


"Aku juga sedang serius,dan ini adalah pertanyaanku untukmu yang terakhir kalinya. Apakah tidak ada sedikitpun rasa cintamu untukku? Apakah namaku,memang sama sekali tidak tersimpan dihati kecilmu itu?" Jennifer bahkan tidak berniat ingin menjawab pertanyaan-pertanyaannya Sebastian,ia malah kembali memberi beberapa pertanyaan yang tidak terduga tersebut,dan ia berharap kalau jawabannya kali ini tidak akan mengecewakannya lagi.


Ia bertanya,sambil memerhatikan Billy yang saat ini telah berhasil ditangkap oleh orang-orangnya Irfan,dan selanjutnya mungkin saja nyawanya Billy akan dalam bahaya.


"A aku......" Sebastian yang tiba-tiba saja mendapatkan pertanyaan-pertanyaan tidak terduga ini dan disituasi darurat yang seperti ini,ia malah langsung menjadi kebingungan harus menjawab apa.


Sebelumnya Jennifer hanya terus mengabaikan dirinya,dan tidak pernah mengungkit kembali tentang kata cinta tersebut,setelah kejadian dikantor tersebut.Tapi sekarang,bukan pertanyaannya yang tidak tepat,tapi menurutnya waktunya yang tidak tepat.


"Cukup.Tidak perlu dijawab lagi,aku sudah tahu apa jawabannya.Jadi, sekarang aku hanya perlu melakukan apa yang harus aku lakukan saja..." sela Jennifer dengan cepat,dan berniat ingin mematikan teleponnya tersebut.


"Tunggu...Apa sebenarnya maksudmu? Melakukan apa? Jangan pernah melakukan tindakan yang bod##...Jika tidak,aku akan sangat marah padamu..." Sebastian segera memberikan ancaman pada Jennifer dan melupakan sejenak tentang jawaban yang belum sempat ia jawab tersebut.Tapi sayangnya, sepertinya ancamannya tersebut tidak berpengaruh sedikitpun pada Jennifer.


"Aku tidak akan membiarkan kak Billy dalam bahaya karena aku,jadi aku akan segera menolongnya sekarang juga..." jawab Jennifer dengan nada cepatnya, sambil berusaha untuk terus menyembunyikan perasaan kecewanya tersebut.


Jawaban dari Jennifer tersebutpun bertepatan dengan teriakan keras dari Irfan dan juga Billy,dan Sebastian bisa mendengarnya dengan sangat jelas,karena mereka berdua memang berteriak dengan sangat keras.


"Jennifer Amora Naava,aku tahu kamu ada disekitar sini.Jika kamu tidak keluar dari persembunyianmu sekarang juga,aku akan langsung menembak kepala Asisten bod##mu ini dalam hitungan ke 3..." ancam Irfan dengan nada tingginya dan wajah seriusnya,sambil memerhatikan kesekitarnya dan juga menekankan ujung pistolnya tepat kepelipisnya Billy yang telah berhasil ia tangkap barusan.


"Nona Muda,jangan dengarkan perkataannya,kamu harus tetap dengan perkataanku tadi..." teriak Billy dengan keras dan ekspresi wajah khawatirnya, sambil menahan rasa sakit dilengannya dan ikut memerhatikan kesekitarnya sama seperti yang dilakukan oleh Irfan.


Ia merasa khawatir,bukan karena sedang mengkhawatirkan keselamatannya saat ini.Tapi ia hanya mengkhawatirkan,kalau Jennifer malah benar-benar akan keluar menghampirinya dan bertukar nyawa dengannya.Ia terus berdoa dan berharap didalam hatinya,kalau Jennifer tidak akan melakukan hal yang sedang ia khawatirkan tersebut.


(Kembali ke Sebastian...)...


"Tidak,kamu tidak boleh kesana.Tetaplah dipersembunyianmu,atau cobalah untuk mengulurkan waktunya.Percayalah padaku,aku akan segera tiba..." cegah Sebastian dengan nada tegasnya dan wajah yang tidak kalah khawatirnya dengan Billy.


"Tidak,tidak akan ada waktunya lagi.Aku harus kesana,sebelum pria brengsek itu menembak kepalanya kak Billy.Tolong sampaikan kepada kedua orang tuaku,aku akan baik-baik saja.Dan kamu...Lagi pula kamu tidak mencintaiku,kita hanya sebatas suami istri saja,jadi kamu tidak perlu terlalu mengkhawatirkan diriku..." jawab Jennifer dengan nada santainya,ia benar-benar tidak ingin kembali berharap lagi.


Lagi pula,saat ini ia tidak memiliki banyak semangat untuk berusaha menyelamatkan dirinya lebih keras lagi.Apa lagi,saat ini ia memang harus segera membantu Billy,sebelum Irfan benar-benar akan melubangi kepalanya Billy sebentar lagi.


Dan Sebastian malah menyuruhnya untuk mengulur waktu,memangnya ia harus mengulurkan waktunya Irfan dengan apa,ia hanya memiliki 1 buah pistol saja.Dan terlebih lagi, jika ia bersuara untuk mengulurkan waktu,Irfan dan yang lainnya pasti akan langsung mengetahui atau menemui tempat persembunyiannya dengan cepat.

__ADS_1


"Semoga kamu akan selalu bahagia..." lanjut Jennifer dengan nada pelannya dan wajahnya yang sedang berusaha untuk terus terlihat tegar,saat ini ia hanya memikirkan keselamatannya Billy saja.


Jennifer bahkan langsung mematikan telepon mereka secara sepihak,sebelum Sebastian sempat mengatakan apapun lagi.


__ADS_2