Suami Tampanku Yang Sederhana

Suami Tampanku Yang Sederhana
Bab. 28


__ADS_3

"Ehm ehm ehm...Baiklah,aku akan segera kesana" ucap Sebastian dengan wajah datarnya setelah ia sudah selesai berdehem untuk mengusir rasa malunya,lalu ia segera berdiri dari duduknya dan berjalan melewati para karyawannya dengan langkah tegasnya,sambil menyimpan kotak cincin miliknya tadi kesaku celananya.


'Sepertinya aku juga sudah benar-benar menjadi gila,setelah wanita menyebalkan itu bertingkah aneh tadi' batin Sebastian dengan perasaan bingung dibalik wajah tenangnya,sambil terus berjalan dan sedikit mengangkat tangannya untuk melihat jam tangannya yang ternyata sudah jam 12 malam lewat.


Ia bingumg,ntah kenapa ia menjadi tidak berkutik seperti ini terhadap Jennifer dan terlihat bodoh oleh orang-orang yang ada disekitarnya.Padahal bisa saja ia menolak ataupun menghentikan tingkah gilanya Jennifer tadi,tapi nyatanya tidak ia lakukan.


Lalu ia segera menyentuh bibirnya saat ia merasakan perbedaan dibibir tebal miliknya,tanpa menghentikan langkahnya yang sedang menuju kearah ruang belakang.


'****...' umpat Sebastian didalam hatinya,ternyata bibirnya bengkak karena ulahnya Jennifer tadi,ia baru saja menyadarinya saat ini,karena terlalu sibuk dengan rasa kesalnya tadi.Dan ternyata, l*m*t*nnya Jennifer cukup kuat juga.


'Apa mereka semua telah menyadarinya juga?' tanya Sebastian pada dirinya sendiri didalam hatinya,sambil melirik sekilas kearah para karyawannya.


Lalu ia segera menurunkan tangannya dengan cepat dan kembali harus menahan rasa malunya,saat ia bisa melihat jelas wajahnya para karyawan yang sedang menahan tawa.Dan ia sudah tahu jawaban dari pertanyaannya barusan ,tanpa dijawab lagi.


'Benar-benar menyebalkan...' batin Sebastian lagi,dengan perasaan kesal,saat ia kembali mengingat c**man panas mereka yang hanya berlangsung sebentar tadi tapi tetap saja meninggalkan bengkak dibibir tebalnya.


40 menit kemudian...


Terlihat Sebastian yang baru saja berjalan keluar dari dalam Restoran tersebut dengan langkah gontainya dan wajah lelahnya.


Wajar saja,karena menurut Sebastian,rasanya malam ini adalah malam terberatnya selama berkerja di Restoran tersebut.


Karena setelah berbagai rasa yang ia rasa sedari tadi,saat ini malah sudah tidak ada lagi rasa kesal didalam hatinya,karena hanya ada rasa lelah saja saat ini.Malam ini ia harus menghadapi tingkah anehnya Jennifer dan juga perkerjaannya yang harus ia kerjakan sekaligus.


Ditambah lagi,dengan ke 3 sahabatnya yang biasanya akan membantunya saat ada acara seperti ini,malah sudah menghilang dan pulang lebih awal darinya.


"Sepertinya, aku harus membeli Jas baru lagi" gumam Sebastian dengan nada pelannya saat ia baru teringat dengan Jasnya yang ia berikan pada Jennifer tadi,sambil terus berjalan menuju motornya dan menatap sebentar kearah jam tangannya yang sudah menunjukkan hampir jam 1 dini hari saat ini.


Hanya tinggal beberapa langkah lagi,ia akan sampai ditempatnya memarkir motornya,tapi tiba-tiba saja sebuah suara tinggi dari seorang pria meneriakinya dari belakangnya...


"Hey,berhenti..." seru pria tersebut dengan nada tingginya,sambil berjalan mendekat kearah Sebastian dengan beberapa anak buah dibelakangnya.


Sebastianpun langsung menghentikan langkah gontainya dan berbalik badan secara perlahan-lahan,saat ia mendengar seruan tersebut.


" Apa kamu masih ingat sama aku?" tanya pria tersebut dengan nada santainya tapi sudah ada emosi yang terpendam diwajah santainya sedari 2,3 jam yang lalu,sambil bersedekap dada.Apa lagi,saat ia memikirkan tentang Jennifer yang lebih memilih Sebastian dari pada dirinya.

__ADS_1


Sedangkan Sebastian,ia terus menelisik pria yang memang baru ia kenal sekitar 3 jam yang lalu,pria itu ternyata adalah Irfan.Ia juga menelisik waspada terhadap pria-pria tegap yang sedang berada dibelakangnya Irfan.


"Ada perlu apa? Langsung saja?" tanya Sebastian dengan nada tegasnya dan wajah malasnya setelah diam selama 1 menit,ia sudah mengira kalau ini akan terjadi,hanya saja ia tidak mengira kalau akan terjadi secepat ini.


Ia sudah merasa sangat lelah saat ini,dan berniat ingin segera sampai rumah dan beristirahat.Tapi sepertinya ia harus melayani pria yang Jennifer katakan brengsek ini,terlebih dahulu.Bahkan dirinya tidak begitu ahli dalam bela diri,ntah apa yang akan terjadi sama dirinya setelah ini.Ntahlah,ia tidak mau berpikir sampai kesana terlebih dahulu.


"Cih...Ternyata kamu bukan hanya sok berani saja,tapi kamu juga bisa sombong" jawab Irfan dengan wajah yang tersenyum sinis,sambil terus berjalan pelan mendekat kearah Sebastian yang sudah mulai waspada padanya.


"Tinggalkan Jennifer..." lanjut Irfan lagi,dengan wajah tidak senangnya.Setelah ia dan Sebastian sudah saling berhadapan dengan jarak yang dekat,iapun langsung keinti dari maksudnya tadi,saat ia melihat Sebastian yang terlihat tidak mau banyak bicara padanya.


"Kenapa tidak kamu sendiri saja,yang menyuruhnya untuk meninggalkanku?" tanya Sebastian balik dengan nada santainya,sambil menahan rasa kesalnya,saat ia mengingat kembali tentang Jennifer yang lebih duluan mendekatinya dengan drama hubungan kekasih dan juga kalimat-kalimat mutiara tadi,belum lagi dengan goda-godaannya Jennifer tadi.


'Tinggalkan apa? Bahkan aku dan wanita menyebalkan itu,sama sekali tidak memiliki hubungan apa-apa' lanjut Sebastian lagi,dengan rasa kesal didalam hatinya.


Awalnya antara ingin dan tidak,ia berniat untuk memberitahu Irfan tentang hubungan palsunya bersama Jennifer,tapi tidak mungkin ia membeberkan semuanya,saat ia mengingat drama-dramanya Jennifer yang telah menyelamatkan harga dirinya tadi,walaupun itu semua diluar prediksinya.


Apa lagi,saat ia melihat wajah tidak bersahabatnya Irfan saat ini.Belum lagi,tentang persengkokolannya Irfan bersama Siska.Jadi,iapun langsung mengikuti alur drama yang sudah dibuat oleh Jennifer tadi.


"Apa kamu tidak takut mati,ha?" tanya Irfan dengan wajah emosinya, sambil berniat ingin mengcengkram kemeja atasnya Sebastian,tapi ternyata tidak berhasil.


Ternyata Sebastian sudah terlebih dahulu menahan pergelangan tangannya Irfan,sambil memikirkan jalan keluar untuk dirinya sendiri.


"Jika sudah tidak ada yang ingin kamu katakan lagi,pergilah...Jangan menghambat kepulanganku lagi..." lanjut Sebastian lagi,lalu ia langsung menghempaskan tangannya Irfan dengan kuat dan berniat ingin segera pergi dari sana.


Bukan berarti ia takut,tapi Irfan bersama anak buahnya saat ini lebih ramai dari dirinya yang hanya seorang saja.Jika saja,yang akan ia lawan hanya 1 atau 2 orang,mungkin masih bisa ia atasi.Tapi saat ini,ia harus melawan lebih dari 2 orang.


Tapi baru saja Sebastian berbalik badan,semua anak buahnya Irfan yang berjumlah 8 orang itupun langsung berjalan dekat untuk mengelilingi Sebastian dengan cepat.


Sebastianpun hanya mampu menghela napas berat saat dirinya sudah terkepung dan tidak ada jalan keluar lagi untuknya.Iapun kembali berbalik badan dan kembali menatap kesal kearah Irfan,karena mau tidak mau,ia harus menghadapi Irfan.Ya,walaupun dengan keahlian bela dirinya yang minim tersebut.


"Apakah kamu sedang berpikir untuk melarikan diri?" tanya Irfan dengan wajah yang tersenyum mengejek kearah Sebastian.


"Tidak.Aku hanya sedang lelah saja" elak Sebastian dengan nada malasnya.


"Apa sebenarnya yang kamu inginkan? Waktuku sangat berharga,kalau hanya untuk meladeni pembicaraan tidak bergunamu itu" lanjut Sebastian lagi,sambil terus menatap kesal kearah Irfan.

__ADS_1


"Apa sebenarnya yang aku inginkan? " Irfan mengulang pertanyaannya Sebastian dengan wajah yang tersenyum sinis.


"Aku hanya ingin kamu tahu,kalau Jennifer adalah milikku.Jadi kamu harus tahu diri..." lanjut Irfan lagi.


"Tapi sepertinya,kamu tidak mau memperdulikan hidup matimu sendiri.Jadi terimalah ini..." lanjut Irfan lagi.Setelah selesai bicara,ia langsung melayangkan tinjunya kearah wajahnya Sebastian.


"Apa kamu tidak bisa bicara baik-baik saja,teman? Perkelahian hanya akan membuat tubuhmu kesakitan saja nanti" ucap Sebastian dengan wajah seriusnya yang sudah bercampur rasa kesal,dan lagi-lagi ia harus kembali menahan atau menangkap kepalan tangannya Irfan dengan cepat,untung saja kedua matanya sangat jeli.


"Apakah kamu menungguku sedari tadi,hanya untuk mengatakan semua ini? Padahal kamu sudah tahu jelas,siapa yang menjadi pemilik sebenarnya..." lanjut Sebastian lagi,dengan wajah yang dipenuhi keyakinan.Walaupun ia tidak yakin tentang dirinya,tapi ia sangat yakin kalau Irfan tidak akan pernah bisa memiliki Jennifer ,karena yang ia lihat tadi sama sekali tidak ada tatapan cinta untuk Irfan.


Dan hanya tatapan cinta untuk dirinya saja yang ia lihat di kedua matanya Jennifer tadi.Ntahlah,ia tidak mau ataupun berniat untuk terlalu memikirkannya...


Irfan yang sudah emosi itupun langsung melepaskan paksa kepalan tangannya dari genggamannya Sebastian,lalu ia langsung kembali menyerang Sebastian,dan ternyata Sebastian berhasil menghindar.


Mereka berduapun terus beradu bela diri,hanya saja Irfan yang lebih banyak menyerang dan Sebastian yang lebih banyak menghindar.


Tapi malah Irfan yang mulai kewalahan,nyatanya tidak ada satu pukulanpun yang mampu mengenai Sebastian dalam 10 serangannya itu.


Beberapa detik kemudian...


"Buk..." terdengar suara pukulan keras dipipinya Irfan dari kepalan tangannya Sebastian,karena Sebastian sudah geram dengan serangan bertubi-tubinya Irfan yang terus menyerangnya.


"Cuihh..." Irfanpun langsung mel*d*h air liurnya yang telah bercampur sedikit darah ke tanah,karena bogeman mentah kerasnya Sebastian barusan.Bahkan,bogeman mentah tersebut mampu membuat dirinya mundur sampai beberapa langkah.


"Apa lagi yang kalian lihat dan tunggu,ha? Cepat tangkap dia..." perintah Irfan dengan nada emosi dan tingginya saat ia melihat beberapa anak buahnya tadi yang hanya berdiam diri dan terus menonton saja.


Beberapa anak buahnya Irfan yang sedikit tercengang karena tidak menyangka kalau Sebastian ternyata bisa bela diri juga itupun langsung melakukan apa yang telah diperintahkan oleh Tuan mereka tadi.


"Aku tidak tahu kalau ternyata pria bod*h ini pandai bela diri juga..." gumam Irfan dengan nada kesalnya,sambil menyentuh pelan sudut bibirnya yang masih terasa sedikit sakit itu,dan juga melihat Sebastian yang sedang mencoba untuk melawan para anak buahnya.


Sedangkan Sebastian,ia yang sudah kewalahan itupun hanya mampu pasrah saja saat dirinya berhasil ditangkap oleh beberapa anak buahnya Irfan.Walaupun tadi mereka tidak berhasil memukulnya,tapi sekarang mereka memegangnya dengan kuat,hingga membuat dirinya tidak mampu melepaskan diri lagi.


'Kenapa aku harus mengalami yang seperti ini? Mana Erik dan Elvan tidak ada lagi.Semua ini,gara-gara wanita menyebalkan itu" batin Sebastian dengan perasaan kesalnya dan wajah pasrahnya.


Irfanpun langsung tersenyum puas saat ia melihat anak buahnya yang sudah berhasil menangkap Sebastian,sambil berjalan mendekat kearah Sebastian yang sedang berdiri dengan kedua tangan yang dipegang kuat oleh anak buahnya.

__ADS_1


__ADS_2