
"Apa keputusanmu tentang tawaran yang telah adikku berikan padamu,pada satu tahun yang lalu?" tanya Daddy dengan nada dan wajah seriusnya.
"Aku masih belum memutuskannya,paman..." jawab Sebastian dengan malas,karena itu sudah pertanyaan yang sama,dan yang ke 3 kalinya dalam satu tahun ini,hanya saja 2 kali sebelumnya dari pria tua yang berbeda, yaitu Pak tua adik Daddynya Jennifer.
"Belum memutuskannya? Tapi sepertinya, keputusanmu sudah terlihat jelas sekarang,sebelum kamu memutuskannya..." ucap Daddy dengan nada menyindirnya,Sebastian mengatakan belum memutuskannya,tapi kenapa beberapa hari ini mereka terus selalu bersama.
"Itu hanya kebetulan saja,paman.Jangan salah paham..." ucap Sebastian dengan nada kesalnya,ia langsung bisa mengerti apa maksud dari sindiran Daddynya Jennifer tersebut.
Lagi pula,semua itu terjadi karena Jennifer yang terus saja mendekati dirinya,dengan berbagai tingkahnya.
'Dasar keras kepala,1pria ini juga sama seperti Jennifer,sulit diatur...' batin Daddy dengan menggeleng-gelengkan pelan kepalanya karena merasa heran dengan sikap keras kepalanya Sebastian.Apa susahnya menjawab iya saja,tentang keputusan tersebut...
"Apakah kamu sudah mulai mencintai putri sulungku itu?" tanya Daddy dengan wajah penasarannya,walaupun ia sendiri juga bisa menebak kalau Sebastian masih ragu-ragu dengan hatinya,tapi apa salahnya kalau ia hanya ingin mencoba bertanya saja.
Sebastianpun langsung menghela napas panjang dengan berat,sambil memutar kedua bola matanya dengan malas,Jennifer dan Daddynya memang benar-benar mampu membuat dirinya merasa cepat lelah dan tidak tahu ntah harus menjawab apa karena dirinya sendiri saja tidak mengerti.
"Seharusnya paman tidak perlu bertanya lagi, karena paman bisa langsung membelah dadaku dan melihat isinya dengan jelas...Apakah sudah ada nama putri sulungmu disana?..." jawab Sebastian dengan nada kesalnya,sambil melanjutkan langkahnya.
"Iya,kamu memang benar.Jika saja,Jennifer tidak mencintaimu,aku pasti akan melakukannya dengan senang hati tanpa menunggu izin darimu lagi..." ucap Daddy dengan nada santainya,sambil terus menatap senyum kearah punggung lebarnya Sebastian yang sudah berada dipintu sana.
Sebastian hanya mengabaikan perkataannya Daddy,tapi gerakan tangannya yang ingin menggapai pegangan pintu itupun langsung terhenti saat ia teringat sama sesuatu.
"Paman,aku harap paman tidak akan mengatakan identitasku pada siapapun,terutama pada musuh-musuh kita.Aku sudah memiliki banyak masalah saat ini,aku takut kalau aku tidak akan sanggup melindungi Jennifer dengan baik.Dan bisa menilai,kalau Jennifer adalah wanita yang sedikit ceroboh,walaupun ia bisa bela diri atau ahli tentang senjata.Aku rasa,paman pasti sudah bisa mengerti maksudku ini bukan?... " ucap Sebastian dengan panjang lebar dan nada seriusnya,sambil membuka pintu dan keluar begitu saja setelah ia sudah menutup pintu kembali,ia bahkan tidak berniat ingin mendengar jawaban dari Daddynya Jennifer lagi.
Karena ia baru teringat tentang Daddynya Jennifer yang ingin mengatakan identitasnya pada Brennan sekeluarga tadi,jadi ia hanya memperingati Daddynya Jennifer saja,supaya lain kali tidak akan seperti itu lagi.
Bukan apa-apa,dirinya sudah dibebani sama Siska dan Rebeeca,dan sekarang ditambah lagi dengan Brennan sekeluarga.Bagaimana jadinya kalau mereka mengetahui kalau dirinya memiliki kekayaan dengan peringkat kedua saat ini.
Padahal dirinya selalu menyembunyikan identitasnya,hingga tidak banyak yang tahu tentang wajah,kekayaannya ataupun keluarganya.Lagi pula,itu lebih baik baginya.
Bukan berarti dirinya takut,hanya saja ia tidak bisa menebak,apa yang akan dilakukan oleh wanita-wanita tersebut,untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.Takutnya mereka akan melakukan cara kotor,karena ambisi mereka yang dipenuhi tekad itu.
Ia hanya merasa khawatir,kalau ia akan lengah suatu hari nanti,hingga ia tidak mampu menjaga Jennifer dengan baik.Dan ia tidak mau itu semua sampai terjadi,sekarang saja ia sudah mulai waspada.Apa lagi,saat ia membaca laporan dari Billy tadi.
Sedangkan didalam ruangan,Daddynya Jennifer masih sibuk mencerna perkataan panjang lebarnya Sebastian tadi,perlahan-lahan ia mulai mengerti dengan maksudnya Sebastian tadi.
Padahal ia hanya ingin membanggakan calon menantunya didepan mereka saja,dan ia juga percaya kalau Sebastian pasti akan mampu melindungi Jennifer dari bahaya apapun.
Ia bahkan sama sekali tidak tersinggung,ia malah merasa sangat senang saat ia mendengar perkataan "musuh-musuh kita" dikalimatnya Sebastian tadi.
Ia merasa senang karena dengan hal itu saja sudah menandakan kalau Sebastian sudah menganggap mereka sebagai orang-orang terdekatnya atau yang disayanginya,walaupun ia tahu kalau mungkin saja Sebastian tidak sadar saat mengatakannya tadi.
"Ada benarnya juga,katanya Sebastian.Jennifer memang suka ceroboh...Apa lagi,saat ini ia sedang dilanda cinta.Sudah bisa dipastikan,kalau fokusnya akan mengurang karena fokusnya terus saja beralih pada pria angkuh itu.." gumam Daddy dengan nada pelannya,sebagai Daddy yang sangat menyayangi putrinya,ia juga memikirkan keselamatan putrinya,walaupun putri sulungnya itu memang suka membuat dirinya merasa khawatir.
Ternyata inilah perbedaan diantara mereka berdua,dirinya lebih suka terang-terangan melawan musuh dan suka tantangan yang lebih keras.
__ADS_1
Sedangkan Sebastian,pria muda itu lebih suka mengurangi resiko,dan pembawaannya juga lebih santai dari pada dirinya yang pasti akan beraksi duluan,walaupun Sebastian juga menyukai tantangan dan kemampuan mereka berdua juga sama-sama tangguh.
Kemudian iapun kembali menghela napas pelan dan duduk sebentar lagi,untuk beberapa menit disana.Setelah itu,barulah ia berdiri dari duduknya dan mengikuti langkahnya Sebastian yang sudah keluar duluan.
Diluar ruangan,Sebastian masih berdiri didepan pintu tersebut dan menghela napas panjang dengan berat,tanpa menyadari kalau ternyata sudah ada Jennifer yang sedang berdiri dan memerhatikannya dari samping pintu tersebut.
'Kenapa aku harus menjadi selemah ini sama wanita,dan aku juga harus mengurus masalah yang seharusnya bisa aku selesaikan tanpa pikir panjang lagi.Untung saja pria tu itu Daddynya Jennifer,jika tidak,rasanya aku ingin sekali membunuhnya saat ini juga...' batin Sebastian dengan wajah lelahnya sambil memikirkan masalah-masalah baru yang sedang menghampirinya saat ini.Dan dengan perasaan kesal diakhir kalimatnya,untuk Daddynya Jennifer.
Padahal biasanya masalah-masalah tersebut pasti akan ia serahkan pada Billy,ia hanya perlu mengerjakan perkerjaan perusahaannya saja,kecuali masalah tersebut darurat.
Lagi-lagi ia kembali menghela napas panjang dengan berat,sepertinya ia harus lebih waspada dari pada sebelum-sebelumnya.
Iapun ingin melangkah kekamar tamu yang telah ia tempati tadi,tapi sebuah suara wanita malah tiba-tiba saja menghentikan gerakan kakinya, bahkan mampu mengagetkan dirinya hingga membuat dirinya tersentak kaget.
"Maaf..." ucap Jennifer tiba-tiba dengan wajah yang sedang menunduk bersalah saat ia melihat wajahnya Sebastian yang seperti sedang menyimpan beban berat saja,sambil mengenggam erat sebuah kotak P3K yang memang sudah sedari tadi ia pegang.
"Ya,Tuhan...Jennifer,apa kamu ingin membuat aku jantungan?" tanya Sebastian dengan wajah kesalnya setelah wajah kagetnya sudah menghilang,sambil memegang dadanya karena rasa kagetnya tadi.
"Maaf..." jawab Jennifer dengan nada pelannya,lagi-lagi ia hanya mampu mengatakan kata maaf saja,karena ia benar-benar merasa bersalah dengan perbuatannya yang membuat Sebastian menjadi merasa terbebani seperti ini,tanpa ia tahu kalau Sebastian seperti itu,bukan sepenuhnya karena dirinya.
Bahkan dibenaknya Sebastian,sedikitpun tidak berpikir untuk menyalahkan Jennifer,ia hanya berpikir tentang menghadapi musuh-musuh mereka saja.Dan ya,ia juga merasa sedikit lelah saat ini.
Sedangkan Sebastian,wajah kesalnya tadi berubah menjadi bingung dengan kening yang mengernyit heran,sambil menelisik wajah tertunduknya Jennifer.
Ia bertanya-tanya didalam hatinya,kemana mulut cerewet dan wajah kesalnya Jennifer,atau yang lainnya itu.
"Maafkan aku,karena gara-gara aku kamu harus mendapatkan luka dibibir tampanmu.Dan aku juga minta maaf,karena telah mengagetkanmu tadi..." jawab Jennifer dengan nada dan wajah yang benar-benar merasa bersalah,bahkan kepalanya masih tetap menunduk.
'Dasar wanita ini...' batin Sebastian dengan tersenyum didalam hatinya,wajah bingungnya tadi kembali kewajah tenangnya,ia kira ada apa dengan wanita menyebalkan ini,ternyata karena merasa bersalah.
Apa lagi,saat ia mendengar kata "tampan" dari kalimat minta maafnya Jennifer barusan.Ia juga baru menyadari kalau Jennifer sedang memeluk sebuah kotak P3K,dan ia bisa menebak kalau itu pasti untuk dirinya.
'Ternyata wanita menyebalkan ini memiliki sisi baiknya juga,tidak semuanya menyebalkan...' batin Sebastian lagi,dengan kata-kata memujinya.
"Sejak kapan kamu berdiri disini?" tanya Sebastian,untuk memastikan tebakannya yang lainnya,sambil bersedekap dada.
Ia bahkan tidak berniat ingin menjelaskan pada Jennifer kalau dirinya tidak mempermalahkan semua itu,ia hanya sedikit lelah saja.
"Dari tadi,dari aku keluar tadi,aku langsung kekamar untuk mengambil kotak P3K dan kembali lagi kesini sampai sekarang..." jawab Jennifer dengan nada pelannya,sambil mendongakkan kepalanya dengan gerakan pelan-pelan.
"Sekarang pergilah beristirahat,tidak perlu mengobatiku lagi..." ucap Sebastian dengan nada seriusnya,ia langsung menolak untuk diobati sebelum Jennifer memintanya,ia juga tidak menyangka kalau Jennifer akan menunggu sekitar 30 menit disana.
"Tapi aku akan merasa sangat bersalah,kalau aku meninggalkan lukamu tanpa diobati dulu..." ucap Jennifer yang benar-benar berniat ingin mengobati lukanya Sebastian,ia masih saja ikut merasa bersalah dan juga ngilu saat ia melihat lukanya Sebastian yang masih belum kering itu.
"Ini hanya masalah kecil,pergilah..." ucap Sebastian dengan nada yang sudah mulai kesal karena Jennifer yang terlihat memaksanya,ia jadi semakin yakin dengan penilaiannya terhadap sikap kedua anak dan Ayah tersebut yang sama semua, sama-sama menyebalkan dan juga memaksa.
__ADS_1
"Kalau begitu,aku akan terus berdiri disini sampai kamu mau membiarkan aku mengobati lukamu itu..." ucap Jennifer yang ngotot dengan keinginannya tadi.
"Kamu ini,,,,,benar-benar...." ucap Sebastian dengan nada lambatnya karena sedang menggeram kesal,ia bahkan harus berusaha untuk terus mempertahankan nada pelannya,dan hal seperti itu hanya bisa terjadi terhadap Jennifer saja,selain keluarganya.
Bukan apa-apa,ia hanya tidak ingin kalau mereka berdua berdekatan,dan hal yang tidak baik untuknya itu akan terjadi lagi.
Sebastian baru saja ingin kembali menolak tawarannya Jennifer tadi,tapi langsung terdengar suara pintu ruangan yang terbuka dari dalam...
"Ceklek..." terlihat Daddynya Jennifer yang baru saja keluar dari dalam ruang kerjanya,wajah santainya tadi langsung menjadi bingung saat ia melihat sepasang manusia yang sedang berdiri didepannya saat ini.
"Apa yang sedang kalian lakukan didepan pintu?" tanya Daddy dengan wajah bingungnya,sambil memerhatikan Sebastian yang sedang bersedekap dada dan Jennifer yang sedang menampilkan wajah bersalahnya dengan memeluk sebuah kotak P3K.
"Dad,tolong bantu aku pujuk Sebastian...Aku hanya ingin mengobati lukanya saja,tapi Sebastian malah mengusirku..." jawab Jennifer dengan wajah yang memberengut kesal.
'Wanita ini,sejak kapan aku mengusirnya,padahal aku hanya menyuruhnya untuk pergi beristirahat saja.Aku tarik kembali kata "Sisi baik" tadi...' batin Sebastian dengan berusaha menetralkan wajah kesalnya.
Sedangkan Daddy,sepertinya Daddy sudah mengerti apa alasan mereka berdua ada dihadapannya saat ini.Kemudian ia menghela napas pelan,saat ia melihat wajah memberengut kesalnya Jennifer.
"Sebastian,apa salahnya Jennifer mengobati lukamu?" tanya Daddy dengan nada santainya.
"Paman,ini hanya luka kecil.Aku masih bisa mengobatinya sendiri..." jawab Sebastian dengan nada santainya juga setelah ia sudah mampu menetralkan wajah kesalnya.
"Apa kamu tidak bisa menghargai niat baik putriku sedikit saja?" tanya Daddy dengan nada dan wajah tegasnya,ia harus membantu putri sulungnya itu,ia merasa tidak tega dengan wajah memberengut kesalnya Jennifer itu.Selain itu,ia juga ingin sekalian mengerjai Sebastian.
"Tapi paman,itu benar-benar tidak perlu..." jawab Sebastian yang tidak mau menyerah untuk menolak.
"Kalau begitu,aku akan segera memerintahkan......." belum sempat Daddynya Jennifer menyelesaikan kalimatnya,Sebastian sudah terlebih dulu menyelanya dengan cepat.
"Baiklah paman,biarkan Jennifer mengobatiku saja..." sela Sebastian dengan wajah tenang yang sedang menahan rasa kesalnya,ia tahu kalau Daddynya Jennifer pasti akan mengancamnya melalui kedua orang tuanya lagi.
Jadi lebih baik ia menyerah saja,dari pada ia harus melanjutkan perdebatan diantara mereka yang tidak akan pernah usai itu.
"Bagus..." ucap Daddynya Jennifer dengan wajah yang tersenyum senang,dan diikuti dengan wajah memberengut kesalnya Jennifer yang juga langsung menjadi tersenyum senang.
Sedangkan Sebastian,ia hanya mampu memutar kedua bola matanya dengan malas,saat ia melihat wajah tersenyum senangnya kedua Ayah dan anak tersebut.
"Sekarang,segera obati calon suamimu nak.Setelah itu,kamu harus segera masuk kekamarmu sendiri dan tidur.Jangan berlama-lama berdekatan dengannya...Daddy takut,kalau kalian akan khilaf lagi..." lanjut Daddynya Jennifer dengan nada tegasnya,dan nada menyindir diakhir kalimatnya.
Lalu iapun langsung berjalan pergi dari sana menuju kearah istrinya dan putri bungsunya berada,dengan wajah yang tersenyum kecil,sebelum kedua manusia itu sempat menjawabnya.Ia juga ingin melihat,seberapa yakin Sebastian pada dirinya sendiri,tentang keyakinannya tadi yang untuk tidak akan khilaf lagi.
'Cih,calon suami? Pria tua ini benar-benar tidak waras,tadi saja dia memperingatiku dengan akan membunuhku, sekarang dia malah sengaja mendorong putrinya sendiri untuk mendekat padaku...' batin Sebastian dengan perasaan kesalnya,sambil menatap tenang kearah punggung Daddynya Jennifer yang semakian berjalan semakin menjauh.
"Ayo,kita kesana saja..." ajak Sebastian dengan nada pelannya sambil berjalan malas kearah teras yang ada dilantai 2 tersebut,karena ia memang harus mencari tempat yang terbuka,supaya dirinya tidak akan sampai hilang akal lagi.
"Ayo..." jawab Jennifer dengan wajah yang tersenyum semangatnya,sambil mengikuti langkahnya Sebastian.
__ADS_1