
45 menit kemudian...
"Tu Tuan Muda..." panggil dokter tersebut dengan nada gugupnya,sambil menatap takut kearah Tuan Muda mereka yang sedang berjalan mondar-mandir tanpa henti sedari tadi,didalam ruangan tersebut.
"Katakan..." jawab Sebastian dengan nada dan wajah tegasnya yang telah bercampur aduk itu, sambil menghentikan langkahnya dan mendekat kearah dimana istrinya masih sedang berbaring diam.
Ia manatap sedih dan khawatir kearah Jennifer yang telah dipasang infus dan beberapa alat yang juga ikut melekat pada tubuh istrinya,dan bekas benturan yang telah diperban,kedua mata istrinya bahkan terus terpejam tanpa berniat ingin terbuka sedari tadi.
"Tu Tuan Muda...Semuanya baik-baik saja,tidak ada cedera sedikitpun disaraf-saraf kepalanya Nona Muda.Nona Muda hanya sedang mengalami geger otak ringan saja,saat ini..." jelas dokter tersebut dengan nada dan wajah takutnya,saat ia malah mendapatkan tatapan tajam dari Tuan Muda mereka.
"Apa matamu buta,hah? Jika istriku baik-baik saja,kenapa istriku masih belum sadar sampai saat ini,hah?" tanya Sebastian dengan nada tinggi dan wajah marahnya,sambil berjalan kearah sang dokter dan kembali mengangkat kerah kemejanya seperti tadi.
"No Nona Muda mungkin akan sadar sebentar lagi atau dalam beberapa hari lagi,Tuan Muda..." jawab dokter tersebut dengan nada dan wajah yang semakin takut saja,napasnya bahkan mulai terasa sempit sekarang.
"Mungkin,kamu kata...Apa kamu begitu ingin mati,hah?" kemarahannya Sebastian semakin menjadi-jadi saat ia mendengar jawaban ketidak pastiannya dokter tersebut,dan bertepatan dengan Ayah,Ibu dan Stella yang baru sampai dan masuk kedalam ruangan tersebut,setelah mendengar suara tingginya Sebastian barusan.
"Cepat katakan...Kenapa sampai sekarang,istriku masih belum bangun juga?" lanjut Sebastian dengan nada dan wajah yang semakin tidak terkendali saja,cengkraman tangannya pada kerahnya dokter tersebut bahkan semakin kuat saja.
Lihatlah,bahkan dokter tersebut sampai tidak bisa bernapas dengan baik saat ini.Sedangkan perawat-perawat yang ada disana,tidak ada satupun yang berani membantu sang dokter ataupun mencegah karena rasa takut mereka.
"Sebastian,lepaskan dia..." ucap Ayah dengan nada dan wajah tegasnya,sambil mencoba untuk melepaskan cengkraman tangannya Sebastian yang lumayan kuat tersebut.
Ia tidak menyangka kalau ia akan melihat permandangan yang seperti ini,saat ia baru saja sampai disini,begitu juga dengan Ibu dan Stella.
"Tapi Yah..." Sebastian masih tidak ingin melepaskan cengkramannya tersebut,tapi saat ia melihat tatapan tegas Ayah yang tajam itu, cengkramannya pun mulai mengendur.
"Cepat lepaskan...Apa kamu tidak melihat,jika dia sudah hampir tidak bisa bernapas sekarang,hah?" ucap Ayah dengan nada dan wajah tegas yang telah bercampur marah saat ini,sambil terus berusaha melepaskan cengkraman tangannya Sebastian yang akhirnya terlepas juga.
"Uhuk uhuk uhuk..." terdengar suara batuknya dokter tersebut,karena lehernya yang terasa sangat mencekikkan barusan,dan napasnya hampir saja tidak bersisa tadinya.
Untung saja,Tuan Besar mereka berhasil membuat Tuan Muda mereka melepaskannya.Jika tidak,ia rasa saat ini dirinya hanya tinggal nama saja.
"Kenapa Ayah malah membela dokter bod*h ini? Apa Ayah tidak melihat keadaan istriku sekarang, tapi dia malah mengatakan kalau istriku sedang baik-baik saja..." ucap Sebastian dengan nada marah dan wajah kacaunya,sambil menatap tajam kearah dokter tadi yang langsung terduduk lemas karena napasnya yang hampir terputus tersebut.
Ayah,Ibu dan Stellapun langsung berjalan mendekat kearah brankarnya Jennifer dengan wajah khawatir mereka,mereka jadi melupakan keadaannya Jennifer sejenak karena permandangan yang diluar dugaan mereka tadi.
Sedangkan yang lainnya,beberapa bawahannya Sebastian segera masuk kedalam ruangan tersebut,takut-takut kalau Tuan Muda mereka membutuhkan bantuan atau mungkin saja Tuan Muda mereka malah akan melakukan tindakan-tindakan bodoh yang lain nantinya.
"Bagaimana keadaan putri kami sekarang,Dok?" tanya Ayah dengan nada tegas dan wajah khawatirnya,setelah ia sudah selesai menghela napas berat dengan panjang.
"Kenapa putri kami masih belum sadarkan diri, Dok?" timpal Ibu dengan nada dan wajah khawatirnya,sambil terus mengelus-elus pelan tangannya Jennifer dan juga memerhatikan wajahnya Jennifer yang masih terlihat pucat.
Sedangkan Stella,ia hanya mampu menatap sedih dan khawatir saja kearah Jennifer,sambil menajamkan pendengarannya.Sekarang iapun turut merutuki dirinya sendiri,jika saja ia diam-diam memberitahu kakaknya lebih awal,kakak iparnya pasti tidak akan berakhir seperti ini.
"Tu Tuan Besar,Nyonya Besar,Nona Muda baik-baik saja.Mungkin karena benturan keras yang Nona Muda dapatkan tersebut,hingga membuat Nona Muda masih belum sadarkan diri sampai sekarang.Jika menurut dari pemeriksaan saya tadi,Nona Muda mungkin akan bangun sebentar lagi atau mungkin dalam beberapa hari lagi..." jawab sang dokter dengan nada terputus-putusnya karena napasnya yang masih terasa sesak,sambil berusaha berdiri dari duduk lemasnya tadi,dengan bantuan beberapa perawat.
Jika saja tadinya benturan keras tersebut mengenai belakang kepala Nona Mudanya,dirinya pasti akan mendapat masalah yang lebih besar dari yang ini.Karena benturan dibelakang kepala akan beresiko lebih tinggi,seperti pembekuan darah diotak,berakibat parah pada syaraf-syarafnya,atau koma yang cukup lama,atau bisa jadi akan terjadi yang lebih buruk lagi.
"Sebastian..." panggil Ayah dengan nada dan wajah marahnya,saat ia melihat Sebastian yang kembali ingin mencekik sang dokter.Apa lagi,ia bisa melihat jelas kalau sang dokter terlihat masih ingin mengatakan sesuatu lagi.
__ADS_1
Sebastian yang baru melangkah 1 langkah itupun,mau tidak mau terpaksa menghentikan langkahnya dan berusaha mengendalikan semua amarahnya tersebut.
"Hanya saja,,," sang dokter bahkan menjeda kalimatnya karena rasa takutnya tersebut,sambil melirik kearah Tuan Mudanya dan yang lainnya,dan juga mengatur napas putus-putusnya supaya kembali normal.
"Cepat katakan,atau aku akan menembakmu sekarang juga..." ucap Sebastian dengan nada tingginya dan wajah yang masih saja dipenuhi amarah,saat ia melihat sang dokter yang terlalu lama menjeda kalimatnya tersebut.
"Ha hanya saja,Nona Muda sedang hamil saat ini..." jawab sang dokter dengan nada gugupnya,sambil memerhatikan ekspresi wajah semuanya satu persatu.
Terlihat ekspresi wajahnya Ayah,Ibu dan Stella yang langsung berubah menjadi begitu senang dan bahagia,tapi hanya sebentar saja,karena mereka kembali mengingat tentang keadaannya Jennifer saat ini.
Kecuali,Sebastian yang masih tetap dengan ekspresi wajahnya sedari tadi.Semua rasa senang dan bahagianya tersebut tertutupi oleh semua perasaan khawatirnya tersebut.Apa lagi,sedari tadi istrinya pingsan hingga sampai saat ini,masih belum sadarkan diri juga.
Tidak ada satupun yang tidak akan merasa bahagia saat mereka mendengar kabar baik tersebut,tapi yang paling dikhawatirkan oleh Sebastian saat ini,hanya istrinya saja.
"Jika nanti Nona Muda tidak juga sadarkan diri selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan, saya takut kalau hal itu akan berakibat buruk terhadap keselamatannya bayi yang ada dalam kandungannya Nona Muda dan maupun terhadap Nona Muda sendiri..." lanjut sang dokter dengan nada hati-hatinya,sambil melirik sekilas kearah wajah pucatnya Nona Muda.
"Apa kamu benar-benar ingin mati,hah?" tanya Sebastian dengan nada dan wajah marahnya, sambil berniat ingin kembali mencengkram kerah kemejanya sang dokter,tapi lagi-lagi suara tegasnya Ayah kembali berhasil menghentikan dirinya.
"Sebastian Sachdev Rendra..." panggil Ayah dengan nada yang lebih tinggi dan wajah marahnya,sambil menahan langkahnya Sebastian yang hampir kembali mendapatkan sang dokter.
Baru kali ini ia melihat tingkahnya Sebastian yang seperti ini.Padahal biasanya Sebastian selalu mampu mengendalikan emosimya,tapi kali ini sangat berbeda dari yang biasanya,mungkin saja karena saat ini istrinya yang sedang berada diatas brankar tersebut.
"Jadi,bagaimana caranya supaya putriku ini bisa segera sadarkan diri,Dok?" tanya Ayah dengan nada pelannya,sambil menatap serius kearah sang dokter yang terlihat hanya mampu menunduk takut dan tidak berdaya saja.
"Tuan Besar,kita bisa mengajak Nona Muda mengobrol supaya Nona Muda bisa sadarkan diri secepatnya.Biasanya,cara itu selalu akan berhasil... Tapi saya sangat yakin,kalau Nona Muda pasti akan sadarkan diri dalam 3 hari ini,Tuan Besar..." jawab sang dokter dengan nada dan wajah yakinnya,tapi terselip perasaan takut dan ragu-ragu didalam hatinya,karena Tuan Mudanya terus saja menatap tajam kearahnya.
Dan dari hasil yang ia periksa tadi,Nona Mudanya tidak sampai terkena geger otak berat,karena sama sekali tidak ada syaraf-syaraf yang cedera didalam sana.
Janinnya Nona Muda dan Tuan Mudanya bahkan masih sangat kuat didalam sana,terbukti dengan bunyi detak jantung yang begitu kuat dan normal,yang telah ia dengar saat sedang proses pemeriksaan tadi,padahal baru berusia hampir 7 minggu saja.Dan itu hanya geger otak ringan saja,tapi ia juga bingung,kenapa Nona Mudanya masih belum sadarkan diri juga sampai saat ini.
"Jika dalam 3 hari nanti,istriku belum sadarkan diri juga,bersiap-siaplah untuk menyerahkan kepalamu padaku..." peringat Sebastian dengan nada dan wajah tegasnya yang telah bercampur dengan amarah,sambil terus menatap tajam kearah sang dokter tersebut yang langsung menampilkan wajah pucat pasinya yang mulai dialirin keringat dingin.
Walaupun ia tahu kalau sarannya sang dokter tadi ada benarnya juga,tapi ia sangat tidak menyukai, kalau ada yang mengatakan tentang kabar buruk sedikitpun tentang istrinya.
"Baik,Terima kasih,Tuan Besar..." jawab sang dokter dengan menunduk hormat,saat ia melihat helaan tangannya Tuan Besar yang mengisyaratkan kalau dirinya harus pergi dari sana terlebih dahulu.
'Nona Muda,tolong selamatkan diriku.Dan semoga saja,Nona Muda benar-benar akan sadarkan diri dalam 3 hari ini...' lanjut sang dokter didalam hatinya,sambil berjalan keluar dari sana,setelah ia sudah selesai menunduk hormat kearah Tuan Muda,Ibu dan juga Stella.
"Cobalah untuk tenangkan dirimu sekarang...Jika kamu tidak bisa tenang,siapa yang akan membuat Jennifer cepat sadarkan diri nantinya?" tanya Ayah dengan nada kesalnya,sambil menepuk pelan pundaknya Sebastian yang telah menatap kearah wajah pucatnya Jennifer kembali.
"Iya nak,kamu harus bisa menenangkan diri kamu terlebih dahulu.Bukankah tadi dokter itu sudah mengatakan,kalau Jennifer pasti akan sadarkan diri dalam 3 hari ini..." timpal Ibu dengan nada dan wajah sedihnya,sambil ikut menepuk pelan pundaknya Sebastian yang masih setia berdiri dan menatap Jennifer yang masih setia dengan tidurnya tersebut.
"Kalian semua, cepat pindahkan putri kami keruang inap sekarang juga..." perintah Ayah dengan nada dan wajah tegasnya,sambil menatap tajam kearah beberapa perawat yang masih terbengong takut disana.
Jika ia harus menunggu reaksinya Sebastian, sepertinya akan sangat lama,dan mereka masih berada diruang IGD saat ini.Dan hal tersebut, sangat tidak nyaman untuk mereka semua.Apa lagi,untuk Jennifer yang masih belum sadarkan diri.
"Baik,Tuan Besar..." jawab beberapa perawat tersebut,lalu merekapun segera melakukan perintah dari Tuan besar mereka barusan,dengan perasaan takut dan gerakan waspada karena takut kalau mereka sendiri akan melakukan kesalahan dan malah mendapatkan amukan dari Tuan Muda mereka,seperti yang didapatkan oleh sang dokter tadi.
Sebastianpun segera mengikuti langkah kakinya Ayah,Ibu dan Stella yang sedang mengikuti langkah kakinya beberapa perawat tersebut,tanpa mengalihkan tatapan khawatir dan sedihnya kearah wajah pucat istrinya tersebut.
__ADS_1
Sekarang ia hanya mampu terus merenungi kesalahan yang baru saja ia sadari tersebut,ia bahkan tidak tahu harus berkata apa lagi,untuk mengurangi segala rasa penyesalannya tersebut.
Ia tidak menyangka kalau sikap cueknya akan membuat Jennifer sampai merasakan sakit hati,berniat ingin meninggalkan dirinya,hingga berakhir seperti ini.Jika saja,ia mampu mengerti apa yang diinginkan oleh Jennifer sedari hari itu, kejadian hari ini pasti tidak akan terjadi.
Tapi semuanya sudah terlambat,sekarang ia merasakan perasaan khawatir yang tidak mampu ia ungkapkan.Ia merasa khawatir,kalau Jennifer benar-benar akan meninggalkan dirinya sebentar lagi.
Beberapa menit kemudian...
"Ayah,bisakah Ayah jangan memberitahu mereka terlebih dahulu?" tanya Sebastian yang terdengar seperti permohonan ditelinganya Ayah dan Ibu, setelah mereka semua sudah sampai didalam ruangan inap yang memang dikhususkan untuk keluarga Naava.
"Tapi nak,Ayah rasa,mereka harus diberitahu..." jawab Ayah dengan nada pelannya,sambil menurunkan HPnya dari telinganya.
Ternyata Sebastian juga memerhatikan dirinya sedari tadi,karena barusan ia memang sedang ingin menghubungi kedua orang tuanya Jennifer yang masih sibuk berbulan madu dinegeri orang lain sana.
"Tapi Yah,bagaimana kalau nanti mereka merasa marah dan malah memutuskan untuk membawa Jennifer dari sisiku saat itu juga?" tanya Sebastian balik dengan nada pelannya dan wajahnya yang terlihat begitu takut akan kehilangan istrinya.
Inilah salah satu hal yang ia khawatirkan sedari awal,maka dari itu,ia memerintahkan semua anak buahnya serta miliknya keluarga Naava,untuk tidak boleh memberitahukan masalah ini kepada majikan mereka.
Ia memang tidak akan membiarkan hal itu terjadi,tapi bagaimana kalau nanti Daddynya Jennifer memaksa.Apa lagi,kejadian ini terjadi karena kecerobohannya juga,dan Daddynya Jennifer juga pasti akan menggunakan kekuasaan dan haknya tersebut,untuk merebut Jennifer dari sisinya.
"Tapi nak......." sekarang Ayah menjadi serba salah,saat ia melihat ekspresi wajah kacaunya Sebastian tersebut.
"Ayah,bagaimana kalau kita tunggu beberapa hari lagi..." Ibupun mencoba memberi saran supaya Ayah tidak merasa serba salah lagi,sambil memeluk pelan lengannya Ayah.
Walaupun ia tahu kalau kedua orang tuanya Jennifer wajib tahu tentang keadaan putrinya mereka saat ini,tapi ia juga merasa tidak tega dengan Sebastian.
"Baiklah..." jawab Ayah dengan nada dan wajah pasrahnya sambil menyimpan HPnya kembali, setelah ia sudah selesai menghela napas pelan dengan panjang.
Sebastian dan yang lainnya pun langsung menghela napas lega,walaupun ekspresi khawatir diwajah mereka masih belum berkurang sedikitpun.
"Ayah,Ibu,bagaimana kalau kalian pulang bersama kakak.Biar aku saja,yang menjaga kakak ipar disini malam ini..." Stella yang sedari tadi hanya diam saja,iapun ikut memberi saran karena tidak tega terhadap kakaknya yang sama sekali belum tidur sedari malam semalam.Apa lagi,saat ini sudah mulai malam kembali.
"Tidak perlu...Aku sendiri yang akan menjaga kakak iparmu,kalian pulanglah untuk beristirahat..." Sebastian langsung menolak dengan nada cepatnya dan wajah seriusnya,sambil melirik sekilas kearah jam tangannya yang ternyata sudah jam 6 malam lewat 10 menit.
"Tapi kak......" kalimat tidak teganya Stellapun terhenti, karena Sebastian langsung menyelanya dengan cepat.
"Pulanglah bersama ayah dan Ibu,aku sendiri yang akan menjaga kakak iparmu..." sela Sebastian dengan cepat dan nada tegasnya,sambil berjalan mendekat kearah brankarnya Jennifer.
"Sudah,sudah...Ayo,kita pulang,biar kakakmu saja yang menjaga kakak iparmu..." timpal ibu dengan cepat dan nada seriusnya,saat ia melihat Stella yang kembali ingin berdebat dengan kakaknya.
Lagi pula,menurutnya bagus juga jika Sebastian yang menjaga menantu kesayangannya itu,supaya hubungan mereka bisa menjadi lebih baik dari pada yang sebelum-sebelumnya.
Apa lagi ia dan suaminya bisa melihat dengan jelas, Sebastian yang begitu takut dengan kehilangan atas dirinya Jennifer.
"Ayo,sekarang kita pulang terlebih dahulu,besok pagi baru kita datang kesini lagi..." lanjut Ibu dengan nada pelan dan seriusnya,sambil menyeret Stella yang mau tidak mau terpaksa mengikuti langkah kakinya Ibu,walaupun ia masih merasa tidak tega terhadap kakaknya.
Sedangkan Ayah,ia juga segera mengikuti langkah kakinya Ibu setelah ia sudah selesai kembali menepuk pelan pundaknya Sebastian,untuk memberi semangat.
Tidak lupa juga,mereka ber 3 terus berdoa untuk keselamatannya Jennifer,disepanjang perjalanan mereka pulang kerumah.
__ADS_1