
Sedangkan Jennifer,iapun segera turun dari atas ranjang karena sudah tidak sabaran ingin mencicipi makanan-makanan tersebut.
Tapi karena tingkah tidak sabarannya itu, langkahnya menjadi tidak stabil karena sebelah kakinya malah memijak sebelah kakinya yang satunya lagi,secara tidak sengaja.
Hingga...
"Arghhkk..." terdengar suara terpekik tertahannya Jennifer,karena dirinya yang langsung terhuyung kedepan tanpa mampu ia cegah sedikitpun.
Tapi untung saja,gerakan dan kedua matanya Sebastian lebih sigap dan juga jeli,hingga membuat tubuh depannya Jennifer tidak jadi terjatuh keatas lantai,tapi jatuh kedada kekarnya atau kedalam pelukannya Sebastian tanpa ada yang terluka sedikitpun.
"Kenapa kamu begitu ceroboh,hm?" tanya Sebastian dengan nada pelannya dan wajah tenang yang terlihat sedang menahan rasa kesalnya,karena memikirkan kecerobohannya Jennifer tersebut.
Sedangkan Jennifer,ia hanya mampu menunduk bersalah dibalik dada kekarnya Sebastian saja, setelah ia bisa melihat sekilas wajah kesalnya Sebastian tersebut,kedua matanya bahkan mulai memanas saat ini.
Sebastian langsung menghela napas berat saat ia melihat tingkah anehnya Jennifer,didalam satu hari ini mood istrinya terus saja berubah-ubah dan agak berbeda dari pada yang sebelum-sebelumnya.
"Hiks hiks hiks..." baru saja Sebastian ingin bersuara untuk mengajak Jennifer makan malam, tiba-tiba saja terdengar suara tangisan pelan dibalik dada kekarnya tersebut.
"Sa,Nona Jennifer...Apakah kamu sedang menangis?" tanya Sebastian dengan nada dan wajah herannya,sambil mengangkat pelan wajahnya Jennifer yang sedang menunduk tadi.
"Kenapa kamu malah memarahiku? Aku kan,tidak sengaja..." jawab Jennifer dengan nada seraknya dan wajah kesalnya yang basah,sebelum Sebastian sempat melihat jelas wajah basahnya tersebut,dan juga sambil menangis tersedu-sedu bagaikan rasa sedihnya tersebut tidak mampu dibendung lagi.
"Aku bukan memarahimu,aku hanya bertanya saja. Oke,oke,aku minta maaf... Kamu jangan menangis lagi,oke?... Sekarang,ayo,kita makan malam dulu. Dan biar aku yang akan menyuapimu,ya..." ucap Sebastian dengan panjang lebar dan suara lembutnya,sambil membawa pelan Jennifer kesofa sana,tentunya setelah ia sudah melihat anggukan pelannya Jennifer.
Untung saja,pujukannya tersebut berhasil membuat tangisan tersedu-sedunya Jennifer mengurang.
"Benarkah?" tanya Jennifer dengan nada pelannya,sambil mengelap pelan kedua ekor matanya yang air matanya sudah mereda itu.
"Tentu saja,benar. Apakah wajahku terlihat sedang marah,hm?..." jawab Sebastian dan sekalian bertanya dengan suara lembutnya dan wajah tersenyum lebarnya,sambil menahan rasa kesalnya dan juga mendudukkan pelan Jennifer kesofa tersebut.
'Apa kamu tidak tahu,kalau aku tidak akan pernah bisa memarahimu,sayang...' lanjut Sebastian didalam hatinya,dengan jujur,karena memang begutu benar adanya.
Apa lagi,saat ia telah menyadari betapa penting dan berharganya Jennifer didalam hidupnya selama ini,dan juga untuk sisa hidupnya nanti.
"Sudah,jangan menangis lagi.Ayo,sekarang kita makan,kamu pasti sudah sangat lapar..." lanjut Sebastian lagi,dengan nada cepatnya dan wajah yang masih terus tersenyum lebar,sebelum Jennifer sempat menjawabnya,sambil membuka dan menyediakan semua makanan yang ia beli tadi diatas meja tersebut.
Ia tidak mau kalau Jennifer kembali berdebat dengannya,lalu jika ia salah bicara,nanti pasti ia juga yang harus mengalah dan membujuknya kembali.
Jennifer yang tadinya ingin memprotes wajah senyumnya Sebastian yang terlihat sedang menahan rasa kesal itupun,ia langsung tersenyum senang saat ia melihat kalau telah ada berbagai makanan yang ia pesan tadi diatas meja tersebut.
"Wah...Apakah ini semua,benar-benar kamu sendiri yang membelinya?" tanya Jennifer dengan nada dan wajah tidak percayanya tapi kedua matanya terlihat berbinar-binar senang,karena ia sudah tidak sabar ingin melahap semua makanan tersebut.
Ternyata suaminya yang selama ini hanya tahu tentang mengerjakan perkerjaan-perkerjaan didalam perusahaan besarnya tersebut saja,tapi sekarang suaminya juga mampu membeli semua makanan-makanan yang ia inginkan tadi sekaligus.
"Benar,aku sendiri yang membelinya.Memangnya kenapa? Kamu tidak percaya?" jawab Sebastian dan sekalian bertanya dengan nada pelannya dan kening yang mengernyit heran,sambil menghentikan kegiatannya tersebut dan menatap heran kearah Jennifer yang terus menatap lapar kearah semua makanan tersebut.
__ADS_1
"Percaya sih,tapi juga sulit untuk dipercaya,karena biasanya para pria itu selalu akan melupakan beberapa makanan dari semua pesanan yang telah aku pesan tadi.Apa lagi,pria yang sepertimu..." jawab Jennifer dengan alasan dan nada santainya, tanpa mengalihkan pandangannya dari semua makanan enak tersebut.
Lebih tepatnya,sebenarnya dulu banyak pria yang membelikan atau memberi makanan padanya tanpa ia minta,tapi sama sekali ia tidak pernah memakan atau menerimanya.
"Kenapa kamu berbicara,seperti kamu pernah memesan atau dibeli makanan sama pria yang lain saja,selain diriku..." ucap Sebastian dengan nada santainya, sambil membuka pesanannya Jennifer yang terakhir,lalu nasi goreng special miliknya.
Lagi pula ia telah tahu sangat banyak tentang Jennifer,ditambah dengan pamannya Jennifer yang selalu menceritakan tentang hidupnya Jennifer disini ataupun di Australia padanya.Jadi tentang pria-pria itu,ia tidak akan mempermasalahkannya karena Jennifer sendiri tidak pernah merespon mereka.
"Belum,sama sekali belum.Dan kamu adalah pria yang beruntung,karena kamu adalah pria pertama yang telah berhasil membuat aku memesan makanan dan membelikan makanan untukku. Apa kamu mempercayai kata-kataku?..." jawab Jennifer dan juga bertanya dengan nada santainya dan wajah yang sedikit tersenyum bangga,sambil mengambil salah satu makanan yang telah Sebastian beli dan sediakan dihadapannya tersebut.
"Ya,ya,aku percaya kok.Ya sudah,sekarang buka mulutmu aaa......" ucap Sebastian dengan nada seriusnya,sambil menyodorkan sesuap nasi yng telah dicampurin kuah berserta udang yang baru saja selesai ia kopek kearah bibirnya Jennifer yang langsung terbuka dengan senang hati.
"Ehm,enak..." ucap Jennifer dengan nada dan wajah yang tersenyum senang,setelah satu sendok makanan tersebut telah selesai ia lahap.
"Kalau begitu,makanlah yang banyak sedikit.Yang ini,letakkan saja disini dulu..." ucap Sebastian dengan nada dan wajah yang tersenyum semangat,sambil mengambil makanan yang telah dipegang oleh Jennifer tadi.
Sedangkan Jennifer,ia langsung tersenyum senang dan juga bahagia,saat ia melihat ekspresi wajah bersemangatnya Sebastian tersebut.Walaupun ia masih belum mendengarkan ungkapan cinta dari mulutnya Sebastian,tapi sekarang perhatian yang telah Sebastian berikan padanya itu,telah berhasil membuatnya merasa begitu bahagia.
"Aaa......" Sebastianpun terus menyuapi Jennifer tanpa merasa lapar sedikitpun,ia bahkan lupa kalau dirinya sendiri juga belum makan malam.
Kali ini Sebastian tidak akan melewati waktu bersama mereka begitu saja,sekarang ia ingin mengisinya dengan berbagai hal,supaya bisa ia ingat untuk kenangan mereka nantinya.
Mereka berduapun saling bercanda dan sedikit berdebat,dengan Sebastian yang terus menyuapi Jennifer tanpa mengeluh sedikitpun.
Hingga...
"Aku ingin makan ini juga..." ucap Jennifer dengan nada senangnya,sambil menunjuk sekotak nasi goreng yang sama sekali belum tersentuh oleh siapapun sedari tadi.
"Nona,apa kamu yakin?" tanya Sebastian dengan nada dan wajah tidak percayanya,sambil menunjuk kearah beberapa macam makanan yang telah habis dilahap oleh Jennifer melalui ekor matanya.
Dan hanya tersisa sekotak martabak,sekotak roti panggang.Dan juga beberapa macam minuman,jus mangga,jus sirsak,dan juga jus terung belanda yang telah Jennifer masukkan dimenu terakhirnya tadi.
"Maafkan aku... Apakah aku terlalu banyak makan,malam ini.Ntah kenapa,malam ini nafsu makanku jadi tidak terkontrol seperti ini.Tapi bukankah aku tidak memesan nasi goreng,tadi?.." jawab Jennifer dan sekalian bertanya dengan nada dan wajah yang menunduk malu yang telah bercampur penasaran,sambil *******-***** pelan pakaian pasiennya.
"Tidak,tidak,bukan begitu maksudku.Maksudku,aku hanya tidak ingin kamu makan terlalu kekenyangan saja.Kamu memang tidak memesannya,karena nasi goreng itu milikku..." ucap Sebastian yang langsung jadi serba salah,sambil terus memerhatikan wajah malunya Jennifer yang malah berubah menjadi kesal.
Sebastianpun langsung menghela napas berat dengan panjang,ia bukannya tidak ingin merelakan nasi gorengnya,tapi sedari tadi Jennifer benar-benar telah memakan begitu banyak makanan.
Ia juga harus menahan sedikit rasa kesalnya,karena Jennifer bahkan tidak memikirkan tentang dirinya yang masih belum makan malam sampai saat ini,dan sekarang sudah hampir jam 7 malam lewat 20 menit.
"Jadi,apa maksudmu,sekarang aku tidak boleh memakan nasi goreng itu?" tanya Jennifer dengan nada kesalnya,sambil menatap kesal kearah Sebastian dan nasi goreng itu secara bergantian.
Walaupun didalam hatinya ia juga merasa bersalah karena baru menyadari kalau suami tampannya ini masih belum sempat makan malam karena sibuk menyuapinnya,tapi ia juga merasa penasaran dengan rasanya nasi goreng tersebut.
"Ti tidak juga.Tentu saja,kamu boleh memakannya..." jawab Sebastian dengan cepat dan wajah bingung serba salahnya,sambil menahan tangannya Jennifer yang berniat ingin berdiri dari duduknya.
__ADS_1
"Benarkah?" tanya Jennifer dengan nada dan wajah tersenyum senangnya kembali,dan hal itu mampu membuat Sebastian langsung menghela napas pelan.
"Benar.Sini,aku suapin..." jawab Sebastian dengan suara yang selembut mungkin,karena saat ini ia sedang merasa serba salah.
Ia hanya takut kalau Jennifer akan kesulitan jika sampai terlalu kekenyangan nantinya tapi dari pada istri cantiknya ini merajuk nantinya,lebih baik ia yang mengalah saja.
"Tidak.Kali ini,biar aku yang makan sendiri,dan aku akan sekalian menyuapinmu.Bagaimana?" tanya Jennifer dengan nada dan wajah yang terus tersenyum senang,sambil mengambil alih nasi goreng tersebut dari tangannya Sebastian.
"Baiklah.Terserah pada kamu saja..." jawab Sebastian yang sudah bingung harus berkata apa, sambil meminum air putihnya beberapa teguk, menjelang Jennifer selesai menyendok nasi goreng untuknya.
"Aaa..." kali ini gantian Jennifer yang menyuapin Sebastian,tapi tentunya setelah ia selesai memakan suapan pertamanya tadi terlebih dahulu.
Sedangkan Sebastian,ia hanya mampu menatap tidak percaya dan juga bingung kearah Jennifer, sambil menerima suapan-suapan yang sedang diberikan oleh Jennifer.
'Ternyata disuapin oleh wanita,tidak buruk juga.Apa lagi,wanita itu adalah istriku dan wanita yang sangat aku cintai...' batin Sebastian dengan perasaan senangnya,sambil terus memperhatikan wajah cantiknya Jennifer yang terlihat begitu bersemangat menyuapinnya.
Karena terlalu sibuk menyuapin diri sendiri dan juga Sebastian,Jennifer sampai tidak menyadari kalau dirinya sedang diperhatiin oleh Sebastian sedari tadi.
Beberapa menit kemudian...
"Bagaimana? Apakah nasi gorengnya enak,hm?" tanya Sebastian dengan nada lembutnya,sambil memerhatikan Jennifer yang sedang melahap sesendok nasi goreng terakhirnya.
"Iya,nasi gorengnya sangat enak,dari mana kamu bisa mendapatkan nasi goreng seenak itu... Lihatlah... Sekarang,perutku benar-benar sudah kenyang..." jawab Jennifer dengan nada dan wajah tersenyum senangnya,sambil membuang bekas nasi goreng tersebut ketong sampah,lalu ia kembali mengambil sisa jus mangganya tadi.
'Apakah wanita hamil itu,nafsu makannya memang selalu akan sekuat ini?' Sebastian hanya tersenyum senang kearah Jennifer,dan membatin dengan perasaan bingungnya,sambil memerhatikan keatas meja tersebut yang benar-benar hanya tersisa martabak dan beberapa macam minuman saja.
'Sekarangpun,aku masih benar-benar merasa tidak percaya... Lihatlah Mommymu nak,dia bahkan makan lebih banyak dari pada yang sebelumnya...' batin Sebastian lagi,dengan perasaan herannya,karena memikirkan tentang nafsu makannya Jennifer yang memang sangat jauh beda dengan yang sebelum-sebelumnya.
Karena biasanya Jennifer akan menjaga makan untuk bisa menjaga tubuh idealnya,tapi lihatlah tadi, Jennifer bahkan tega memakan nasi gorengnya Sebastian,walaupun tadinya Sebastian sendiri yang memang lebih banyak menyuruh Jennifer untuk memakannya dari pada untuknya sendiri.
"Aaa..." Jenniferpun menyodorkan jus terung belanda kearah bibir tebalnya Sebastian yang mau tidak mau,langsung menerimanya.
Dan sekarang lihatlah,padahal tadi Jennifer sudah mengatakan kalau dirinya sudah sangat kenyang tapi mulutnya tetap tidak berhenti sampai martabak dan jus-jus tersebut masih belum habis dilahap olehnya.
Walaupun Jennifer juga menyuapinya kemulutnya Sebastian,tapi tetap saja bagi Sebastian,Jennifer telah terlalu banyak makan malam ini.Ia juga harus membuka paksa mulutnya saat Jennifer terus menyodorkan martabak dan juga jus kemulutnya,ia bahkan tidak berniat ingin mencegah tingkah menyebalkan istrinya itu,karena takut kalau istrinya itu akan merajuk atau merasa kesal kembali padanya nanti.
30 menit kemudian,dan ternyata sudah jam 8 malam saat ini...
Jennifer dan Sebastian sama-sama sudah selesai membersihkan wajah mereka masing-masing,dan sekarang Jennifer sedang duduk bersandar diatas ranjangnya sambil menonton drama kesukaannya, dengan Sebastian yang selalu setia duduk disampingnya untuk menemaninya.
Segala rasa kesalnya Sebastian tadi telah berganti dengan rasa senang dan bahagianya saat ini,saat ia melihat Jennifer yang terlihat sudah begitu sehat saat ini dan wajah yang tidak pucat lagi,tidak seperti beberapa hari kebelakangan ini.
Sekarang saja Jennifer berhasil membuatnya terus tersenyum lucu,karena Jennifer yang terus menampilkan tingkah dan wajah senyum bapernya akibat menonton drama kesukaannya itu sedari 10 menit yang lalu.
"Siapa yang lebih tampan? Dia atau aku?" tanya Sebastian dengan nada dan wajah tersenyum penasarannya, sambil menatap secara bergantian kearah Jennifer yang terlihat sedang berpikir dan layar TV yang sedang menampilkan seorang aktor pria korea yang menurutnya hanya biasa-biasa saja.
__ADS_1
Ia bahkan menganggap kalau semua aktor pria korea yang ada didalam TV tersebut terlihat seperti wanita,karena wajah tampan mereka yang dipenuhi make up.Belum lagi,wajah mereka semua yang hampir-hampir mirip.