Suami Tampanku Yang Sederhana

Suami Tampanku Yang Sederhana
Bab. 78


__ADS_3

Sedangkan Jennifer,ia langsung menghentikan wajah kesalnya dengan perlahan,sambil terus menatap punggung kedua orang tuanya yang sudah menjauh dari pandangannya.


Kemudian iapun berbalik badan dan menghela napas panjang dengan pelan,sambil terus menatap pintu kamar yang tertutup tersebut selama beberapa detik.


"Aku harap, keputusanku ini sudah benar dan tepat.Dan hubungan kami untuk kedepannya akan menjadi semakin baik,dan juga bahagia..." gumam Jennifer dengan nada pelannya dan penuh doa, sambil kembali menghela napas singkat dengan pelan.


Lalu iapun segera membuka pintu kamar tersebut dan berjalan masuk kedalam dengan perasaan khawatir,malu,dan juga sedikit kesal.


Tapi saat ia melihat wajah terlelapnya Sebastian yang terlihat sangat tampan itu,segala perasaan campur aduknya tadipun langsung sirna begitu saja,setidaknya hal tersebut mampu membuat dirinya ikut terlelap untuk malam ini hingga besok pagi nanti,setelah 10 menit menatap Sebastian.


***


Besok paginya,sepasang manusia yang belum berstatus suami istri tapi sudah seranjang itupun masih setia terlelap pulas dengan selimut tebal dan bantal empuk mereka.


Bahkan mereka berdua tidak terganggu dengan cahaya matahari yang telah masuk sedikit demi sedikit melalui celah tirai jendela tersebut,hingga akhirnya sang pria tersadar dari tidur nyenyaknya karena terik matahari yang semakin lama semakin terasa menyengat diwajah tampannya itu.


Kedua mata ngantuknya perlahan-lahan mulai terbuka dengan sebelah tangan yang sedang menutup sebagian wajah tampannya,hingga sepenuhnya,setelah ia sudah bisa menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya matahari tersebut.


kedua matanya yang terasa berat itu langsung terbuka lebar saat ia melihat permandangan indah yang mampu membuatnya langsung merasa kaget tingkat tinggi itu.


"Kenapa wanita menyebalkan ini bisa berada diatas ranjangku?" tanya Sebastian pada dirinya sendiri, dengan nada bingungnya sambil menelisik wajah terlelapnya Jennifer yang tepat ada dihadapannya yang hanya berjarak 2 cm saja, bahkan ekspresi kagetnya masih belum berkurang sedikitpun diwajah tampannya itu.


Kemudian masih dengan tatapan kagetnya yang bercampur bingung, tatapan menelisiknya perlahan-lahan mulai beralih kesekitarnya untuk memastikan kalau dirinya tidak sedang berada dikamar yang salah.


Setelah itu kembali kewajahnya Jennifer yang masih setia terlelap pulas,lalu beralih turun kebawah,ketubuh mereka yang masih tertutup dengan 1 selimut besar hingga sebatas dada mereka itu.


Beberapa detik kemudian...


"****..." umpat Sebastian dengan nada tingginya sambil langsung duduk dengan ekspresi campur aduk diwajahnya dan juga memegang kepalanya yang langsung terasa pusing, karena rasa kagetnya tadi menjadi semakin tinggi saat ia melihat tubuh mereka tanpa pakaian atasan saat ini,bahkan Jennifer sampai terlelap dipelukannya.


Dan gerakan kasar dan nada tingginya Sebastian barusanpun mampu membuat Jennifer yang masih terlelap tadi langsung terbangun dengan langsung terduduk dan disertai wajah bingungnya,ia bahkan masih merasa sangat ngantuk karena ini masih sangat pagi.


"Ada apa denganmu? Kenapa kamu malah menganggu tidurku?" tanya Jennifer dengan wajah ngantuknya,sambil memegang erat selimutnya yang hanya sebatas dada itu,karena hanya itu saja yang ia ingat dan harus ia jaga sedari malam tadi.


"Seharusnya aku yang bertanya padamu...Apa yang sedang kamu lakukan dikamarku,hm?" tanya Sebastian dengan nada kesalnya,sambil menatap kesal kearah wajah ngantuknya Jennifer.


"Aku? Kamarmu?" tanya Jennifer dengan nada dan wajah bingungnya,sambil berusaha mengingat-ngingat apa yang sedang ia lakukan dikamarnya Sebastian.


"Tentu saja kamu,memangnya masih ada orang lain yang berada didalam kamarku,selain kamu? Dan apa yang sedang kamu lakukan dikamarku, dengan tubuh polos yang seperti itu?" tanya Sebastian lagi,dengan nada yang semakin kesal, saat ia melihat Jennifer yang malah tampak sedang berpikir dengan wajahnya yang terlihat masih ngantuk.


Sebastian menunjuk dengan melirik sekilas kearah dada polosnya Jennifer yang tertutup selimut itu,lalu ia kembali menatap kesal kearah Jennifer.


Rasa kagetnya Sebastian tadipun perlahan-lahan sudah menghilang,dan diganti dengan perasaan bingung,kenapa dirinya bisa sampai seranjang dengan Jennifer.Ia masih belum bisa berpikir jernih,kepalanya masih terasa sedikit pusing karena wine yang telah ia minum tadi malam.

__ADS_1


'Aduh,kenapa aku bod*h sekali...' batin Jennifer dengan wajah yang berpura-pura masih bingung, sambil terus merutuki dirinya didalam hatinya, kesadarannya baru kembali sepenuhnya saat ia sudah mengingat kembali apa saja yang ia lakukan tadi malam.


"Jangan katakan kalau kamu lupa sama arah jalan kekamarmu,dan salah masuk kamar..." lanjut Sebastian lagi,tanpa mengalihkan tatapan kesalnya dari wajah bingungnya Jennifer.


"Hiks hiks hiks hiks hiks..." Jennifer langsung memulai aksi dari bagian idenya itu,ia langsung menangis tersedu-sedu dengan menyembunyikan wajah cantiknya diantara tekukan kedua lututnya yang sudah merapat.


Jennifer sengaja melakukan itu,karena ia tahu pasti kalau kedua orang tuanya pasti sekarang sudah berada diluar kamar tersebut.Apa lagi,kamar tamu tersebut,tidak memiliki dinding kedap suara.


Sebastian yang tadi merasa sangat kesal,ia langsung menjadi kebingungan saat ia melihat Jennifer yang tiba-tiba saja menangis,bahkan tangisannya terdengar sangat memekakkan dipendengarannya.


"Hei,ada apa denganmu? Aku hanya bertanya saja, kenapa kamu malah menangis? " kali ini Sebastian yang bertanya dengan nada dan wajah bingungnya, tapi kedua tangannya masih setia berada dikepalanya karena kepalanya malah menjadi semakin pusing saja.


"Kenapa kamu malah menuduhku,padahal kamu sendiri yang membawaku masuk kedalam kamar ini,dan kamu juga yang telah merampas keperawananku tanpa izin..." jawab Jennifer dengan suara tersedu-sedunya karena sambil menangis,tanpa mengangkatkan kepalanya.


"What? Merampas keperawanan apanya? Dan aku hanya bertanya,bukan menuduh..." tanya Sebastian dengan wajah yang semakin bingung sambil menurunkan kedua tangannya keatas pahanya,ia masih belum sadar kalau dirinya saat ini telah tanpa sehelai benangpun,hanya ditutupi dengan selimut tebal itu saja.


"Kamu masih tidak mengaku,setelah puas men*km*t*i tubuhku? Dasar pria brengsek,pria tidak punya perasaan..." jawab Jennifer dengan nada dan wajah marah yang dibuat-buat,sambil menahan rasa malunya dan mengangkat kepalanya setelah wajahnya sudah dipenuhi dengan air mata bohongan tersebut.


"What? Men*km*t* tubuhmu?" lagi-lagi Sebastian kembali bertanya,tapi kali ini kedua matanya langsung menelisik tubuh mereka berdua,ia juga sedikit mengintip kedalam selimut,bagian bawahnya.


"****...Kenapa menjadi seperti ini?" tanya Sebastian dengan umpatan kesalnya sambil segera memegang erat selimut yang sebatas pinggangnya itu dan sebelah tangan yang kembali memijit pelan kepalanya,setelah ia sudah selesai mengintip.


Kemudian Sebastian menatap bagian bawahnya yang masih tertutup selimut itu,beralih kepunggung mulusnya Jennifer,wajah bingungnya langsung menjadi semakin bingung,kaget,tidak percaya,ekspresi diwajahnya menjadi sangat kacau saat ini.


"Apa kamu sudah mengingatnya sekarang?" tanya Jennifer dengan nada kesalnya sambil menahan rasa malunya karena Sebastian malah terus menatap punggungnya yang terbuka itu,karena posisinya sedang duduk,jadi ia tidak bisa menutup seluruh tubuhnya hingga menyisakan punggung mulusnya tersebut.


Ia berharap kalau mereka berdua memang tidak melakukan apa-apa,bukan karena ia tidak mau bertanggung jawab tapi karena dirinya sama sekali tidak pernah berpikir untuk menodai wanita sebelum ia menikahi wanita tersebut.


Apa lagi,wanita itu Jennifer,wanita yang selalu memenuhi kepalanya selama 1 tahun ini.Dan ia juga sama sekali tidak mengingat,kalau tadi malam dirinya telah melakukan hal yang aneh-aneh terhadap Jennifer.


"Apa kamu benar-benar tidak punya perasaan,atau kamu ini memang pria brengsek yang selalu mencari alasan setelah selesai men*km*t* tubuhnya wanita? Apa bukti dengan keadaan kita yang sedang kamu lihat sekarang,masih belum cukup untukmu? " tanya Jennifer balik dengan wajah marahnya,tangisannya bahkan semakin kuat dari yang tadi.


"Apa yang sebenarnya telah aku lakukan?" tanya Sebastian pada dirinya sendiri,sambil terus memijit pelan kepalanya,ia juga merapatkan dan menekukkan kedua lututnya sedikit keatas sama seperti Jennifer ,untuk menyangga kedua tangannya.


Semua ekpresinya tadipun langsung menjadi frustasi,karena ditambah dengan suara tangisannya Jennifer yang tidak mau berhenti sedari tadi.


Sebastian terus mencoba untuk mengingat apa saja yang telah terjadi antara dirinya sama Jennifer tadi malam didalam kamar tersebut,tapi yang ia ingat hanyalah dirinya yang dibantu oleh Jennifer untuk berjalan hingga kekamarnya ini.


Ia bahkan masih ingat jelas dengan perkataan-perkataannya Jennifer padanya tadi malam,ia juga mengingat wajah tersenyum kesalnya Jennifer,setelah itu ia sudah tidak tahu apa lagi yang telah terjadi.


Ia ingin menyangkalnya karena yang ia ingat terakhir kali,ia tertidur,tapi keadaan mereka saat ini malah menunjukkan kalau memang telah terjadi sesuatu diantara mereka.


Sedangkan Jennifer,ia terus saja menangis sambil melirik kearah Sebastian yang sedang menampilkan wajah frustasinya yang lurus kedepan itu, sambil tersenyum lucu didalam hatinya karena wajah frustasinya Sebastian.

__ADS_1


"Apakah kamu sedang menjebakku,hm?" tanya Sebastian dengan nada kesalnya,sambil mengalihkan tatapan frustasinya kearah Jennifer.


Ia ingin memastikan tebakannya barusan,walau perasaan yang tidak ia sadari itu menolak,tapi ia lupa dengan pepatah lama ini " Maling teriak maling..."


Ia merasa sangat tidak masuk akal,kalau mereka berdua telah melakukan hubungan intim tersebut, tapi ia bahkan tidak mampu mengingat sedikitpun tentang pertualangan indah yang belum pernah ia lewati tersebut.


"What? Jadi,sekarang kamu malah menuduhku telah menjebakmu.Apa aku ini terlihat seperti wanita murahan,sampai harus menjebakmu seperti ini? Apa aku harus memeriksakan keperawananku ke Dokter sekarang juga,baru kamu akan percaya? Dasar pria brengsek..." jawab Jennifer dengan nada dan wajah marahnya,suara tangisannya yang sudah mengurang tadipun kembali meninggi.


Sekarang ia harus berakting seperti wanita yang telah teraniaya,padahal dirinya sendiri yang sedang menganiayai Sebastian.


"Bukan seperti itu yang aku maksudkan,tapi........." Sebastian yang kembali ingin membela diri,malah terhenti karena suara pintu kamar yang tiba-tiba saja terbuka.


"Ceklek..." terdengar suara pintu kamar yang dibuka kasar dari luar,terlihat Daddy yang duluan masuk,lalu diikuti oleh Mommy,langkah mereka bahkan terlihat buru-buru.


"Sayang,kenapa kamu menangis?" tanya Mommy dengan nada khawatirnya sambil melangkah masuk,karena suara tangisannya Jennifer memang terdengar hingga keluar,mereka berdua bahkan sengaja menunggunya selama beberapa menit,baru mereka membuka pintu.


"Apa yang telah kalian lakukan,ha?" tanya Mommy dan Daddy secara serentak,dengan wajah kagetnya Mommy dan wajah marahnya Daddy.


"Mom,Dad..." panggil Jennifer dengan wajah kagetnya yang bercampur takut,sambil memegang selimut tersebut semakim erat,tangisannya masih belum berhenti,hanya saja nada tingginya sudah berkurang saat ini.


Sedangkan Sebastian,ia hanya mampu menatap kaget kearah kedua orang tuanya Jennifer untuk beberapa detik,lalu tatapan kagetnya hilang menjadi bingung.Apa lagi,saat ia melihat wajah takutnya Jennifer.


'Kenapa hari ini aku sial sekali?...Aku bahkan belum mampu mencerna semuanya dengan baik,tapi lihatlah mereka...Sepertinya,masalahku akan menjadi semakan besar nanti...' batin Sebastian dengan wajah frustasinya yang terlihat sangat kacau.


"Aku bertanya sekali lagi...Apa yang telah kalian lakukan,ha?" tanya Daddy dengan wajah yang semakin marah,sambil berjalan lebar untuk mendekat kearah Jennifer dan juga Sebastian yang masih kebingungan.


"Kami......." Jennifer yang ingin menjawabpun langsung terhenti,saat Sebastian menyelanya dengan cepat.


"Paman,kami tidak melakukan apapun.Kami hanya tidur bersama saja...." sela Sebastian dengan cepat dan bertepatan dengan Daddy yang sudah berdiri disampingnya,ia tahu pasti kalau Jennifer akan mengatakan yang aneh-aneh tentang mereka,tapi jawabannya juga tidak terdengar tepat.


"Tidak melakukan apapun,kamu bilang...Bukk..." ucap Daddy dengan nada kesalnya,sambil memberi Sebastian sebuah bogeman mentah, padahal dirinya sedang menahan senyum saat ia mendengar kata "Hanya tidur bersama" dari kalimatnya Sebastian tadi.


Bahkan bukan hanya Daddy saja yang menahan senyumnya,Mommy dan Jennifer juga ikut menahan senyum mereka.


Sedangkan Sebastian,ia hanya mampu menghela napas dengan berat,sambil menyentuh sekilas sudut bibirnya yang telah berdarah dan terasa lebih sakit dari yang sebelumnya.


Ia sendiri tidak mengerti,ntah kenapa ia harus menerima bogeman-bogeman mentah dari Daddynya Jennifer,yang menurutnya kesalahan tersebut sebenarnya bukan dari dirinya.


"Paman,Tante,percayalah padaku,aku benar-benar tidak melakukan apa-apa terhadap putri kalian..." ucap Sebastian dengan nada dan wajah seriusnya, walaupun ekspresi bingungnya masih terlihat.


'Kasihan sekali priaku,aku jadi merasa tidak tega sekarang.Tapi maafkan aku,Honey.Aku harus melakukannya,supaya kita bisa terus bersama...' batin Jennifer dengan tangisan yang mulai mereda,sambil menampilkan sedikit ekspresi ngilu diwajahnya karena tatapannya Sebastian masih tertuju kearah Daddynya.


"Dasar pria brengsek.. Kamu masih bisa berkata tidak melakukan apa-apa...Jadi,apakah kamu bisa menjelaskan apa maksud dari semua ini,ha?" tanya Daddy dengan nada marahnya yang terdengar sangat tinggi itu,sambil menunjuk kearah tubuh mereka dengan gerakan kesalnya.

__ADS_1


"Tante mengira,kalau kamu pria yang baik-baik, ternyata kamu tidak lebih baik dari pada pria-pria yang ada diluar sana..." timpal Mommy yang sedari tadi hanya diam saja,dengan nada dan wajah sedihnya.


Ia bahkan tidak berani untuk mendekat karena dada berototnya Sebastian terpampang jelas disana,ia memang selalu melihat dada berotot suaminya,tapi yang kali ini dada berototnya pria muda yang lainnya.


__ADS_2