Suami Tampanku Yang Sederhana

Suami Tampanku Yang Sederhana
Bab. 49


__ADS_3

'Dan Nona Muda tidak tahu saja,kalau hampir setiap siang,Nona Stella akan datang ke Perusahaan supaya bisa makan enak dan juga banyak.Dan satu lagi,biarpun suka makan banyak tapi tubuhnya hanya tetap seperti itu saja dan tidak akan bertambah besar atau gemuk ' batin Billy dengan wajah malasnya,sambil mengirim pesan ke Tuan Mudanya.


Dan mereka berdua sudah saling membalas pesan sedari 10 menit yang lalu,saat mereka berdua sudah selesai makan siang duluan.Billy mengetik pesan sambil memerhatikan keadaan disekitar mereka,beda dengan Sebastian yang mengetik sambil memerhatikan keadaan disekitarnya dan juga wajah cantiknya Jennifer secara bergantian.


Mereka berdua sedang membahas tentang beberapa orang yang sedang mengintai mereka ber 4 dari kejauhan.Dan hal tersebut,sudah sedari tadi disadari oleh Sebastian duluan dari pada Billy.


"Owh,ternyata begitu,aku mengerti" ucap Jennifer dengan nada santainya,sambil tersenyum lebar dan memimum jus mangganya dengan gerakan pelan juga.


"Apa kamu tahu, nama Perusahaan miliknya kakakmu?" tanya Jennifer dengan wajah penasarannya,saat ia memikirkan kalau tidak ada 1 pun anak buahnya yang berhasil menemukan Perusahaannya Sebastian,termasuk Billy.


"Ehem ehem ehem..." dehem Sebastian dengan nada pelannya dan tatapan tajamnya sebelum Stella sempat menjawab pertanyaannya Jennifer barusan,untuk memberi tanda kalau ia tidak memberi izin Stella untuk menjawabnya.


"Maaf kak,aku tidak tahu tentang itu " jawab Stella dengan nada pelannya,sambil menunjuk kakaknya pada Jennifer dengan ekor matanya.


"Tidak masalah kalau kakakmu tidak mau memberitahuku,aku akan mencari tahunya sendiri saja nanti" ucap Jennifer dengan nada kesalnya,sambil memerhatikan Sebastian yang sudah kembali memainkan HPnya setelah selesai berdehem tadi.


"Apa yang sedang kamu lakukan dengan HPmu,Honey?" tanya Jennifer dengan nada pura-pura manjanya dan perasaan penasarannya,sambil memerhatikan apa isi yang ada dilayar HPnya Sebastian dan juga kembali memeluk lengan kekarnya Sebastian supaya ia bisa melihat jelas apa yang sedang Sebastian ketik disana.


Stella dan Billy langsung tersenyum lucu,saat mereka berdua melihat tingkah manjanya Jennifer pada Sebastian tersebut.


"Apakah ada yang sedang kamu sembunyikan dariku?" tanya Jennifer dengan nada kesalnya tanpa melepaskan pelukan tangannya,saat ia melihat layar HPnya Sebastian yang sudah berubah menjadi gelap dengan begitu cepat, padahal ia baru saja melihat sekilas bayangan beberapa kalimat dilayar HP miliknya Sebastian tersebut.


"Aku rasa kamu tidak perlu tahu tentang apa saja yang sedang aku lakukan dengan HPku ,dan bisakah kamu menjauh dariku?" jawab Sebastian dan sekalian bertanya dengan nada malasnya,sambil menatap kesal kearah tangannya Jennifer yang kembali sedang memeluk erat lengannya.


"Menyebalkan..." jawab Jennifer dan mengabaikan tatapan kesalnya Sebastian,ia bahkan juga ikut berdiri saat Sebastian yang langsung berdiri dari duduknya.


Ia harus bisa sedikit bersabar lagi,walaupun ia sudah tidak sabaran ingin mengetahui apa namanya Perusahaannya Sebastian.Dan sekarang ia harus memanfaatkan kesempatan baik ini,pertemuan mereka yang tidak disengajakan ini sudah mampu mengarahkan dirinya kemanapun yang ia inginkan nanti,makanya ia harus terus mengekor kemanapun Sebastian pergi hari ini.


"Apakah kita sudah mau pulang,kak?" tanya Stella dengan nada bingungnya,sambil ikut berdiri dan diikuti oleh Billy.


"Jika kamu masih ingin berada disini,silakan saja...Aku akan pulang duluan..." jawab Sebastian dengan nada malasnya sambil berjalan pergi dari sana dengan langkah lebarnya dan diikuti oleh Jennifer disampingnya,begitulah adiknya kalau sudah pergi berbelanja dengan dirinya,pasti tidak akan mau sebentar saja.


"Kakak,aku baru beli 2 dress saja.Padahal kita baru 3 jam berada disini..." ucap Stella dengan nada tidak bersemangatnya sambil mengikuti langkah kakak dan Jennifer dengan terus menggerutu kesal,padahal ia masih ingin mencari beberapa dress lagi untuk ia pakai pergi keacara-acara temannya untuk kedepannya nanti.


' Nona,Nona...3 jam,kamu mengatakannya baru...Jadi berapa jam yang akan kamu katakan lama?...' Billy hanya mampu mengeluh didalam hatinya karena ia selalu ikuti Tuan Mudanya saat Stella bersama Tuan Mudanya, sebelum ia mengikuti Nona Mudanya,inilah salah satu hal yang dirinya tidak suka,yaitu menemani wanita pergi berbelanja,begitu juga dengan Tuan Mudanya.


"Kamu tidak perlu menampilkan ekspresi wajah yang seperti itu,cepat berikan No HPmu padaku...Lain kali,aku akan membawamu berbelanja pakaian yang lebih bagus dari ini..." ucap Jennifer dengan nada sungguh-sungguhnya dan tertawa kecil saat ia melihat wajah tidak bersemangatnya Stella,sambil mengambil HPnya dari dalam tasnya.


"Benarkah,kak? " tanya Stella dengan wajah tidak percayanya,tapi ia langsung tersenyum senang dan bersemangat lagi,saat ia melihat anggukan pelan kepalanya Jennifer,iapun segera ikut mengeluarkan HP miliknya juga.

__ADS_1


"Honey,apa kamu tidak bisa berjalan lebih pelan sedikit?" tanya Jennifer dengan nada kesalnya,karena langkah lebar dan cepatnya Sebastian,ia malah menjadi kesulitan untuk mengambil HPnya.


Lagi-lagi Sebastian kembali mendengkus kesal,saat ia mendengar pertanyaannya Jennifer barusan.Tapi walaupun begitu,ia mulai melambatkan langkah kakinya menjadi lebih pelan,dan hal itu mampu membuat Jennifer langsung tersenyum senang didalam hatinya.


Dan sepertinya mulai sekarang,ia juga harus terbiasa dengan tingkah menyebalkan dan kata panggilan "Honey" dari Jennifer.


Lalu iapun berjalan pelan sambil melirik kearah Jennifer yang sudah berhasil mengambil HPnya,dan langsung saling bertukar No HP bersama adiknya dengan wajah yang terus tersenyum lebar dan juga senang.


Kemudian mereka ber 4 pun terus berjalan pelan,berbeda dengan Sebastian dan Billy yang terus fokus memerhatikan beberapa pria tegap yang berada tidak jauh dari mereka dan terus saja mengikuti langkah mereka ber 4 dari jauh,dan bahkan teman-teman mereka sudah mulai banyak berdatangan dari kejauhan sana.


Sedangkan Jennifer dan Stella,2 wanita tersebut malah terus sibuk mengobrol tanpa henti.Tahu ada saja bahan cerita yang akan mereka obrolkan,hingga tidak menyadari kalau mereka sedang diperhatikan dari sudut sana dan mungkin saja mereka akan berada dalam bahaya.


Mereka bahkan juga tidak melihat arah jalan mereka saat ini,karena mereka hanya terus mengikuti langkah pelannya Sebastian saja.


Beberapa menit kemudian...


"Billy..." panggil Sebastian dengan nada tegasnya tapi terdengar seperti gumaman pelan yang tegas,saat ia melihat beberapa pria tegap tersebut sudah bersiap-siap ingin menembak mereka dari sudut sana,dan lebih tepatnya mungkin saja mereka hanya menargetkan Jennifer seorang saja.


"Apa kamu sedang mengatakan sesuatu?" tanya Jennifer dengan nada bingungnya saat ia seperti mendengar sesuatu dari mulutnya Sebastian,dan ia berniat ingin menatap wajah tampannya Sebastian,tapi malah tiba-tiba saja Sebastian merengkuh erat pinggulnya.


Walaupun rengkuhan erat tersebut tidak membuatnya merasa sakit tapi mampu membuat dirinya merasa kaget dengan tindakan tiba-tiba dari Sebastian tersebut.


"Ada apa? Kamu kenapa? Apa akan terjadi sesuatu?" tanya Jennifer dengan bertubi-tubi,nada bingungnya dan mulai bersikap waspada,saat ia merasakan tingkah anehnya Sebastian,tatapan mata tajamnya yang terus beralih kesembarangan arah,dan terutama saat ia melihat wajah seriusnya Sebastian saat ini.


"Apa kamu tidak bisa diam,walau untuk beberapa menit saja? Jangan banyak bertanya,kamu cukup menuruti apa kataku saja dan tetap bersamaku untuk saat ini..." tanya Sebastian balik dengan nada kesalnya karena mulut cerewetnya Jennifer, sambil membawa Jennifer kebalik tembok yang ada disana dengan pelan untuk bersembunyi,saat ia melihat semua orang yang ada didalam Mall tersebut mulai saling berlarian dengan buru-buru.


"Jangankan untuk saat ini saja,untuk selamanya pun aku rela,Honey..." jawab Jennifer dengan wajahnya yang tersenyum menggoda sambil terus menatap penuh cinta kearah wajah tampan seriusnya Sebastian yang tepat berada disamping atas wajahnya,mungkin hanya berjarak 5 cm saja.


Sebastian yang sibuk fokus pada pergerakan beberapa pria tegap tadipun langsung sedikit menurunkan wajahnya dengan pelan,lalu ia menggeleng-gelengkan pelan kepalanya saat ia melihat tatapan cinta yang sedang memenuhi kedua matanya Jennifer saat ini.


Ingin rasanya ia melepaskan rengkuhannya pada pinggulnya Jennifer saat ini juga,dan meninggalkan Jennifer begitu saja.Tapi sayangnya,saat ini bukan waktu yang tepat untuk melakukan hal tersebut.


Setelah beberapa detik mereka berdua saling menatap dengan arti tatapan mereka masing-masing,hingga...


"Auchkk..." terdengar pekikan sakit yang tertahan dari mulutnya Jennifer saat keningnya tiba-tiba saja terasa berdenyut ngilu karena disentil oleh Sebastian dengan sedikit kuat.


"Honey,apa yang kamu lakukan? Sakit tahu..." tanya Jennifer dengan nada kesalnya,sambil mengelus-elus keningnya yang masih terasa sakit.


"Cobalah untuk bersikap serius,dan jangan memanggil aku Honey,aku bukan siapa-siapamu...Dan satu lagi,jangan terus menatap wajahku..." jawab Sebastian dengan nada santainya,sambil kembali menatap fokus kedepan dan mengambil pistol miliknya dari dalam selipan pinggang belakangnya dengan gerakan pelan.

__ADS_1


"Sekarang memang bukan,tapi sebentar lagi aku akan segera mengubah kata bukan itu menjadi iya.Dan kamu juga jangan melarangku untuk menatap wajahmu,karena wajah tampanmu itu sangat sayang untuk dilewati" ucap Jennifer dengan jujur dan wajah kesalnya tapi malah diabaikan oleh Sebastian,ia berbicara sambil memerhatikan pistol yang sudah berada digenggamannya Sebastian dengan baik.


Jenniferpun langsung mengikuti arah tatapannya Sebastian dengan pelan,dan wajah kesalnya mulai terlihat serius saat ia melihat apa yang sedang diperhatikan oleh Sebastian sedari tadi.


"Apakah kamu masih ada pistol yang lainnya lagi? " tanya Jennifer dengan nada seriusnya,tapi ia harus kembali merasakan kesal karena Sebastian kembali mengabaikannya.


"Bukankah kamu tidak pandai dalam menggunakan pistol? Tapi kenapa kamu bisa memiliki pistol,dan dari mana kamu mendapatkannya? " lanjut Jennifer dengan bertubi-tubi lagi dan wajah penasarannya,saat ia mengingat kembali cerita dari pamannya tentang Sebastian pada 1 tahun yang lalu.


Ia memang selalu menyuruh pamannya untuk menjaga Sebastian dengan alasan kalau Sebastian adalah sahabat baiknya,tapi ia belum pernah mendengar dari pamannya kalau Sebastian memiliki Perusahaan ataupun sudah pandai memakai pistol.


Tapi sepertinya,saat ini bukan waktunya untuk bertanya banyak sama Sebastian,ia harus menepikan rasa penasarannya terlebih dahulu.


"Berikan saja pistolnya padaku,biar aku saja yang menembak mereka..." lanjut Jennifer lagi,dengan nada seriusnya karena ia sedang mengkhawatirkan Sebastian yang mungkin saja akan terluka,tanpa ia tahu kalau sekarang Sebastian sudah jauh lebih mampu dan ahli dari dirinya.


"Apa kamu tidak bisa diam? Apa kamu tidak mendengar apa kataku tadi?" tanya Sebastian dengan nada kesalnya,sambil menatap malas kearah Jennifer yang sedang mengulurkan telapak tangannya karena ingin meminta pistol miliknya itu.


Walaupun ia tahu kalau Jennifer mampu melakukannya,tapi ia juga tidak mungkin mengambil resiko tersebut.saat ini yang dirinya tahu,ia tidak akan membiarkan Jennifer terluka,walau sedikitpun.


"Apa kamu ingin aku meninggalkanmu disini saja?" tanya Sebastian lagi,dengan nada kesal yang masih sama,sambil kembali fokus dan bersiap-siap untuk menembak.


"Tidak,aku tidak mau kalau kamu meninggalkan aku disini.Baiklah aku akan menurutimu..." jawab Jennifer dengan cepat,sambil memeluk tubuh kekarnya Sebastian dengan erat dan tersenyum kesal,ia juga ikut memerhatikan beberapa pria tegap tersebut.


Bukan berarti ia merasa takut,tapi ia tidak mau berpisah dengan Sebastian tanpa mendapatkan apapun,setidaknya ia harus bisa mendapatkan No HPnya Sebastian nanti.


Sebastianpun hanya mampu menghela napas dengan berat,saat Jennifer kembali membuat dirinya sedikit tersiksa akibat pelukan erat tersebut,karena dirinya memang sangat jarang berpelukan sama wanita.


Beberapa detik kemudian...


"Dor dor dor dor dor dor..." terdengar suara beberapa tembakan dari samping mereka.


"Dor dor dor..." Sebastianpun langsung menembak beberapa pria tegap tersebut dengan gerakan cepat,hingga berhasil menembak 3 pria tegap tersebut.


Ternyata mereka sedang menembak Billy yang sedang bersama adiknya Stella,mungkin saja mereka mengira kalau Stella adalah Jennifer, karena kerumunan tidak menentu tersebut mampu membuat mereka kewalahan untuk melihat wajahnya Stella,dan yang hanya mereka tahu kalau Billy sedang bersama Jennifer.


'Apa ini benar-benar kamu,Honey?' Jennifer hanya mampu bertanya didalam hatinya saja saat ia melihat beberapa tembakannya Sebastian yang langsung tepat sasaran semua, ia takut kalau Sebastian kembali kesal padanya karena banyak bertanya lagi.


"Dor dor dor dor dor dor dor dor dor dor..." kembali terdengar suara tembakan yang terus saja berlanjut tanpa henti,Sebastian,Billy dan para musuh tersebut terus saja baku tembak didalam Mall tersebut,padahal masih banyak kerumunan yang sedang berlari kebingungan dan juga berlari keluar.


'Siapa mereka? Apa mereka adalah musuh-musuhnya Sebastian?' tanya Jennifer lagi,dengan wajah penasaran dan juga heran,sambil terus berpikir.

__ADS_1


"Mereka bukan musuhku,karena mereka semua adalah musuh-musuh dari Daddymu.Kenapa kamu tidak membawa anak buah,saat keluar rumah tadi?" jawab Sebastian yang seperti bisa membaca isi pikirannya Jennifer,padahal ia hanya menebak dari ekspresi wajahnya Jennifer saja,saat ia melirik sekilas kearah Jennifer barusan,dan tebakannya benar.


__ADS_2