
Jarinya Sebastian bahkan masih mengudara dilayar HPnya karena langsung terbengong mendengar atau melihat istrinya yang sibuk berbicara sambil berpikir.
"Dan martabak..." lanjut finalnya Jennifer,dengan nada dan wajah yang terus tersenyum senang.
"Ada apa? Kenapa kamu malah diam saja?" Lanjut Jennifer dengan nada dan wajah bingungnya,saat ia baru menyadari kalau Sebastian malah sibuk menatap heran dan bingung kearahnya.
"Apa kamu yakin?" tanya Sebastian balik,dengan nada dan wajah seriusnya.
"Maksudmu?" tanya Jennifer dengan nada dan wajah bingungnya.
"Apa kamu yakin,akan sanggup menghabisi semua makanan yang telah kamu sebutkan barusan?" Sebastianpun langsung mengulangi pertanyaan singkatnya tersebut,lebih jelas lagi.
"Ya sudah,kalau kamu tidak mau membelikannya untukku.Aku akan menyuruh..........." belum sempat Jennifer menyelesaikan kalimat kesalnya tersebut, Sebastian sudah lebih dulu menyelanya dengan cepat.
"Bu bukan begitu maksudku...Oke,oke,aku akan segera memesannya sekarang..." sela Sebastian dengan nada cepatnya dan wajah bingungnya saat ia melihat wajah cantiknya Jennifer yang akan kembali memberengut kesal,sambil menekan tombol hijau dilayar HPnya,untuk menyuruh bawahannya membeli semua makanan yang telah disebut oleh Jennifer tadi.
Wajah akan memberengutnya pun langsung berubah menjadi senang saat ia mendengar perkataan setujunya Sebastian barusan,lalu iapun kembali menatap bingung kearah Sebastian yang sibuk menelepon.
"Lalu,apa yang sedang kamu lakukan sekarang?" tanya Jennifer dengan nada dan wajah bingungnya kearah Sebastian yang kembali fokus kearahnya.
"Aku? Aku sedang menelepon gojek yang akan membeli makanan untuk kita,malam ini..." jawab Sebastian dengan nada dan perasaan malas dibalik wajah santainya, sambil menurunkan HPnya hingga keatas pahanya,dan menunggu apa yang akan dikatakan oleh Jennifer selanjutnya.
"Tapi aku tidak mau gojek yang membelinya..." ucap Jennifer dengan nada dan wajah tidak sukanya.
"Jika bukan gojek yang membelinya,lalu siapa yang akan pergi membelinya?" tanya Sebastian dengan nada dan wajah bingungnya,sambil memerhatikan wajah tidak sukanya Jennifer tersebut.
"Tentu saja,kamu yang harus pergi membelinya..." jawab Jennifer dengan nada senangnya dan wajah tidak bersalahnya,sambil menaik-turunkan alisnya kearah Sebastian yang langsung melotot kaget.
"What?" tanya Sebastian dengan nada dan wajah tidak percayanya,tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah senangnya Jennifer.
Yang benar saja,dirinya harus pergi membeli semua makanan tersebut,padahal dirinya telah memiliki begitu banyak bawahan untuk melakukan semua itu,dan ia hanya perlu memberi perintah saja.Apa lagi,dirinya memang sama sekali tidak pernah melakukan hal tersebut selama ini.
"Bukankah tadi kamu berkata,akan melakukan apa saja yang aku inginkan..." ucap Jennifer dengan nada dan wajah memelasnya,dan sekalian mengingatkan Sebastian tentang janji yang telah dilontarkan oleh Sebastian tadi,sambil menyentuh perutnya seolah ia begitu lapar saat ini.
"Oke,oke,aku akan segera pergi membelinya sekarang..." ucap Sebastian dengan nada cepat dan wajah pasrahnya,sambil mematikan HPnya dan segera berdiri dari duduknya saat ia melihat wajah memelasnya Jennifer yang akan berubah menjadi kesal kembali.
Sekarang ia bukan hanya merasa tidak tega terhadap wajah memelasnya Jennifer saja,tapi ia juga merasa tidak tega dengan sang buah hati mereka yang pasti juga sedang merasa lapar saat ini.
"Ingat ya,aku hanya ingin kamu yang membelinya.Aku tidak akan memakannya,kalau ketahuan bukan kamu yang membelinya..." ancam Jennifer dengan nada dan wajah kesalnya,sambil memerhatikan punggungnya Sebastian yang sedang bergerak kesana dan kesini.
"Kamu tenang saja,aku tidak akan membohongimu..." jawab Sebastian dengan nada dan wajah malasnya,tapi Jennifer tidak bisa melihat wajah malasnya karena Sebastian menghadap kearah sofa.
'Padahal tadinya,ia berlagak mandiri dan tidak ingin merepotkan aku.Kenapa sekarang malah,,, ya sudahlah...' batin Sebastian dengan perasaan kesalnya,sambil berjalan kearah sofa sana untuk mengambil sisirnya dan langsung menyisir rambutnya dengan gerakan cepatnya.
Setelah selesai,iapun segera memakai kembali jam tangannya dan juga menyimpan HP kesaku celananya,setelah ia sudah selesai mengirim beberapa kata kebawahannya yang berada diluar ruangannya.
__ADS_1
'Benar-benar menyebalkan...' batin Sebastian lagi,saat ekor matanya bisa melihat jelas kalau wajah tersenyum senangnya Jennifer tidak mengurang sedari ia menyetujui untuk membeli semua makanan tersebut tadi.
"Bisakah kamu menulis semua makanan yang kamu inginkan tadi,didalam HPku?" tanya Sebastian dengan berusaha mempertahankan senyum santainya,sambil mengeluarkan HPnya dan menyodorkannya kearah Jennifer yang langsung mengambilnya dengan senang hati.
'Dasar...' Sebastian hanya mampu kembali menggerutu kesal didalam hatinya,saat ia melihat Jennifer yang begitu bersemangat menulis berbagai macam nama makanan diHPnya tersebut.
Jika saja Jennifer bukan istrinya atau wanita yang baru ia sadari kalau Jennifer adalah wanita yang sangat ia cintai selama ini,ia pasti sudah langsung menembak mati wanita tersebut sedari tadi.Tapi sayangnya,untuk saat ini dan seterusnya ia harus menahan segala rasa kesalnya tersebut,demi wanita dan sang buah hati yang sangat ia cintai tersebut.
"Nah,sudah..." ucap Jennifer dengan nada dan wajah yang tersenyum senang,sambil menyodorkan kembali HP tersebut kearah Sebastian,setelah ia sudah selesai menuliskan apa saja yang ingin ia makan malam ini.
Sedangkan Sebastian,iapun segera mengambil HPnya dan membacanya sekilas dan kembali menyimpannya kesaku celananya.Wajah santainya tadipun langsung menghela napas pelan dengan panjang,saat ia melihat sekilas kalau pesanannya Jennifer tersebut telah bertambah 2 macam makanan lagi,didalam sana.
"Tuan Muda,apa Tuan Muda sedang memerlukan sesuatu?" tanya salah satu bawahannya Sebastian yang baru saja masuk bersama 9 rekannya,karena barusan ia mendapatkan sebuah pesan singkat dari Tuan Mudanya.
"Aku akan keluar sebentar,kalian jaga Nona Muda kalian dengan baik, selama aku berada diluar. Jangan sampai kejadian yang kemaren terulang kembali.Apa kalian mengerti?" perintah Sebastian dengan nada dan wajah tegasnya,sambil menatap tajam kearah sepuluh bawahannya tersebut yang sedang sibuk menunduk hormat kearahnya.
"Mengerti,Tuan Muda..." jawab semua bawahannya secara serentak,kali ini mereka semua memang harus benar-benar menjaga Nona Muda mereka. Jika tidak,kepala mereka pasti akan melayang satu persatu oleh Tuan Muda mereka nantinya.
"Bukankah,mereka semua memang anak buahmu?" tanya Sebastian dengan sedikit berbohong dan nada santainya,saat ia melihat Jennifer yang malah menampilkan wajah bingungnya.
Sedangkan Jennifer,ia hanya mengangguk pelan saja.Padahal ia bingung karena sedang memikirkan kenapa harus ada yang menjaganya didalam ruangannya tersebut,tapi akhirnya iapun mengurungkan niatnya ingin memprotes keberadaan sepuluh anah buah suaminya tersebut.
"Baiklah.Sekarang aku akan keluar sebentar,untuk membeli semua makanan yang kamu inginkan tadi.Tapi kamu harus berjanji 1 hal padaku...Kamu tidak boleh kemana-mana,sebelum aku pulang. Bagaimana?" tanya Sebastian dengan nada dan wajah seriusnya,sebelum ia benar-benar pergi dari sana
"Baik,aku berjanji..." jawab Jennifer dengan nada dan wajah seriusnya,karena lagi pula ia akan bisa kemana dengan penjagaan ketatnya Sebastian tersebut.
"Oke,kamu tenang saja.Lagi pula,aku bukan anak kecil lagi..." jawab Jennifer dengan nada dan wajah memberengut kesalnya,saat ia melihat sikapnya Sebastian yang menurutnya terlalu berlebihan itu.
Sebastianpun tidak mengatakan apapun lagi,ia hanya tersenyum kecil saja,lalu iapun langsung berjalan pergi dari hadapannya Jennifer,untuk pergi membeli semua makanan yang diinginkan oleh Jennifer tadi.
Sedangkan Jennifer,wajah memberengut kesalnya kembali berubah menjadi senang dan bersemangat karena sibuk memikirkan tentang makanan-makanan enak yang akan dibelikan oleh suaminya nanti.Hanya dengan memikirkannya saja,ia bahkan tidak mengeluh dan langsung mengabaikan sepuluh bawahan yang sedang berjaga-jaga didalam ruangannya tersebut.
Berbeda dengan wajahnya yang sedari tadi terus berseri-seri senang karena memikirkan semua makanan enaknya tersebut,Sebastian hanya mampu terus menghela napas pelan saja diluar sana.
"Jaga Nona Muda kalian dengan baik,selama aku berada diluar.Jika tidak,kalian semua akan tahu akibatnya..." perintah Sebastian,ia kembali memperingati anak buahnya yang ada diluar ruangan tersebut,dengan nada dan wajah tegasnya kembali setelah ia sudah berada diluar ruangan.
"Baik,Tuan Muda..." jawab bawahannya yang sekitar ada 50 orang tersebut,sambil menunduk hormat kearah Tuan Muda mereka yang terus melangkah tegas keluar dari rumah sakit tersebut.
Dihalaman parkirnya rumah sakit besar tersebut...
"Ceklek..." terdengar suara pintu mobil yang terbuka cukup kuat,dan berhasil mengangetkan sang supir yang sedang terlelap dikursi memgemudinya sedari 2 jam yang lalu tadi.
"Tuan Muda..." panggil sang supir dengan nada dan wajah kagetnya,sambil merapikan kemejanya yang sedikit berantakan karena posisi tidurnya yang agak miring tersebut.
Ia telah setia menunggu Tuan Mudanya selama beberapa hari ini dihalaman luas tersebut,tapi Tuan Mudanya tidak keluar-keluar juga dari dalam rumah sakit besar tersebut.Untung saja ia telah terlelap cukup lama,dan bisa labgsung terbangun saat Tuan Mudanya masuk kedalam mobil barusan.
__ADS_1
"Kita ke Restoran B****** sekarang..." perintah Sebastian dengan nada dan wajah tegasnya,sambil menyandarkan kepala lelahnya kebelakang dan memejamkan kedua matanya,dengan perasaan kesalnya,tentunya setelah ia sudah selesai melirik sekilas kearah wajah ngantuknya sang supir.
Ia lebih baik memilih untuk mengerjakan perkerjaan kantornya,dari pada ia harus mengerjakan perkerjaan yang satu ini.Tapi sayangnya,saat ini ia sama sekali tidak memiliki pilihan apapun selain menjalankannya saja.
"Baik,Tuan Muda..." jawab sang supir dengan cepat dan langsung melajukan mobil tersebut,sambil menghela napas leganya karena tidak dimarahi oleh Tuan Mudanya karena telah terlelap didalam mobil tadi.
Sedangkan Sebastian,ternyata ia sedang sibuk memikirkan tentang semua makanan yang sedang diinginkan oleh Jennifer tadi,dengan perasaan kesalnya.Dan ia berharap kalau tempat yang ingin ia tuju sekarang,akan memiliki semua makanan yang istri cantiknya inginkan itu.Jadi,ia tidak perlu lagi, berputar-putar atau berkeliling untuk mendapatkan semua makanan tersebut.
1 jam 30 kemudian...
Terlihat dihalaman rumah sakit besar tersebut, Sebastian yang sedang berjalan keluar dari dalam mobilnya yang baru saja berhenti dihalaman luas tersebut.
Dan tentu saja dengan beberapa kantong makanan dikedua tangan kekarnya,dan juga ekspresi wajah lelahnya,tapi ia tetap mampu berjalan dengan gaya khasnya atau langkah tegasnya tersebut.
"Tuan Muda..." semua bawahannya langsung menunduk hormat,saat mereka melihat Tuan Muda mereka yang ternyata sudah pulang dari membeli makanan dan akan berjalan melewati mereka satu persatu.
Sedangkan Sebastian,ia hanya mengabaikan semua itu dan terus berjalan tegas masuk kedalam ruangannya,dengan ekspresi wajah datar khasnya tersebut.
"Ceklek..."
"Tuan Muda..."
Terdengar suara pintu yang terbuka dari luar ruangan,dan berlanjut dengan panggilan hormat dari 10 bawahannya yang sedang berada didalam ruangannya Jennifer tadi,saat mereka semua melihat kepulangan Tuan Muda mereka tersebut.
Mereka semua juga bahkan langsung berjalan keluar dengan langkah cepat mereka,saat Tuan Muda mereka langsung mengisyaratkan untuk segera keluar dari dalam ruangan tersebut.
"Kenapa lama sekali?" Jennifer langsung bertanya dengan nada dan wajah kesalnya,saat ia melihat Sebastian yang sudah berjalan masuk hingga berada dihadapannya saat ini.
"Maafkan aku,sayang.Diperjalanan tadi,aku mengalami sedikit kemacetan jalan raya..." jawab Sebastian dengan wajah datar yang telah berubah menjadi begitu lembut,sambil meletakkan semua makanan yang telah ia beli tadi keatas nakas tersebut.
"Sayang,sayang apanya?... Kenapa kamu ini selalu bersikap aneh dihadapanku,hm?" tanya Jennifer dengan nada dan wajah yang masih saja kesal.
Apa lagi saat ia memikirkan tentang sekarang yang sudah jam 6 malam lewat 30 menit,ia sudah menunggu Sebastian begitu lama, hanya karena ingin memakan makan malamnya tersebut.
Sebastian langsung menggaruk-garukkan pelan tengkuk lehernya yang tidak gatal itu,dengan ekspresi serba salahnya,karena merasa bingung dan sekaligus heran dengan sikapnya Jennifer yang mudah sekali merasa kesal itu.
"Apakah kamu sudah merasa begitu lapar? Ayo,kita makan sekarang.Aku sudah membeli semua makanan kesukaanmu tadi,tanpa ada satupun yang kurang..." Sebastianpun segera mencoba untuk membujuk Jennifer supaya rasa kesalnya tersebut mereda,sambil menarik meja yang ada dikursi sofa sana,dan juga segera menyiapkan semua makanan yang ia beli tadi diatas meja tersebut.
Sebastian langsung menghela napas kesal sekilas,saat ia melihat wajah kesalnya Jennifer yang langsung berubah menjadi senang,saat ia mengatakan tentang makanan tersebut.
Apakah Jennifer tidak tahu,kalau dirinya harus berkeliling kota dan singgah kebeberapa tempat, untuk mencari semua makanan yang telah istri cantiknya tulis tadi,
Karena di Restoran yang mereka tuju tadi tidak memiliki menu yang begitu lengkap,hingga membuat dirinya harus mencari kesatu persatu Restoran-Restoran ternama yang ada dikota ini.
Untung saja ia telah berhasil mencari semuanya tanpa ada satupun yang hilang dari semua menu istrinya tadi.Hanya saja,semua itu begitu menyita waktunya karena dirinya yang harus turun tangan sendiri secara langsung,tapi ia tidak mengeluh sama sekali.
__ADS_1
Tapi sekarang dan selanjutnya,sepertinya ia harus terus bertahan dan bersabar untuk menghadapi sikap rewelnya Jennifer tersebut.
Ia bahkan juga baru tahu kalau Jennifer yang biasanya selalu bersikap mandiri,sekarang tiba-tiba saja berubah menjadi anak kecil yang permintaan-permintaannya harus segera dipenuhi. Dan mungkin saja,mulai sekarang ia harus segera belajar tips-tips untuk membujuk seorang wanita.