Suami Tampanku Yang Sederhana

Suami Tampanku Yang Sederhana
Bab. 76


__ADS_3

"Tentu saja untuk ikut merayakan ulang tahunku, kami juga bisa saling mengenal lebih dekat. Bukankah itu akan menjadi lebih baik untuk kita berdua?" jawab Jennifer dengan nada santainya, lagi-lagi ia menggoda Sebastian,walaupun apa yang ia katakan itu memang jujur dari dalam hatinya,karena ia memang berharap seperti itu.


Sedangkan Sebastian,ia kembali mendengkus kesal dan menyesap sisa winenya, saat ia mendengar perkataannya Jennifer yang terdengar seperti sangat yakin,kalau akan langsung disukai oleh kedua orang tuanya saja.


"Padahal aku juga sudah katakan pada Stella,kalau kami akan mengadakan acara ulang tahun kami bersama-sama hari itu...Kenapa malam ini,Stella malah harus pakai sakit kepala segala..." lanjut Jennifer dengan wajah kecewanya.


'Untung saja,Stella mudah untuk aku sogok...' batin Sebastian dengan tersenyum senang didalam hatinya,saat ia mengingat kembali saat ia menyogok Stella dengan kartu ATM yang akan bertambah dan sebuah tas mrek yang terkenal.


Karena tanpa Jennifer tahu,kalau kata sakit kepala itu hanya bohongan saja,karena Sebastian tidak mau kalau tentang kode diHPnya akan ketahuan.Apa lagi,ke 3 sahabatnya sangat tahu berapa tanggal ulang tahunnya Stella.


Jenniferpun menghela napas pelan,tiba-tiba saja ia memikirkan tentang bagaimana tanggapan dari kedua orang tuanya Sebastian padanya nanti.


"Dan aku juga sangat berharap kalau kedua orang tuamu akan menyukaiku...Aku memang bukan wanita yang pandai memasak,mencuci baju dan masih banyak yang lainnya lagi...Tapi aku pandai dalam beberapa hal,terutama mencari uang..." lanjut Jennifer dengan nada khawatirnya yang bercampur rasa bangga ,sambil meletakkan kedua tangannya keatas meja tersebut,sudah terbukti dengan beberapa Hotel yang telah berhasil ia kelola selama berada di Australia sana.


Karena dirinya memang tidak diperbolehkan mencuci pakaian oleh Mommynya,karena rasa sayangnya,tapi hasilnya ia menjadi tidak begitu paham cara mencuci pakaian dan lain sebagainya, walaupun ia paham tentang bisnis.


Sebastianpun terus menyesap sambil mendengar apa saja yang ingin dikatakan oleh Jennifer.


"Ya,dan aku juga pandai sedikit menyapu,mengepel dan mencuci piring...Tapi aku akan berusaha menjadi yang terbaik,kalau semua itu akan diperlukan nanti..." lanjut Jennifer lagi,dengan nada ragu-ragunya,tapi ia tetap meyakinkan dirinya kalau dirinya memang akan mampu menjadi istri yang baik Sebastian.


"Apa kamu yakin dengan apa yang telah kamu katakan itu?" tanya Sebastian dengan nada tidak percayanya,sambil menghabiskan sisa winenya dengan pelan.


Ia merasa tidak percaya kalau Jennifer yang biasanya hidup di Mansion yang serba mewah dan tidak pernah kekurangan apapun,dan hanya perlu mengkhawatirkan tentang mau diapakan sisa waktu kosongnya,selain melakukan kegiatan belajar tentang bisnis.


Dan kadang-kadang juga hanya melakukan apa yang disukai saja,kadang juga pergi melatih kemampuan bela diri dan menembaknya.


Karena Jennifer memang sama sekali tidak pernah mengurus yang namanya dapur,cuci mencuci ataupun hanya untuk menyapu dan mengepel,walaupun Jennifer pernah menyapu dan mengepel saat ia kuliah di Australia,itupun hanya untuk beberapa kali saja,karena Mommynya sudah menyediakan seorang pengurus rumah tangga disana.


Tapi lihatlah sekarang,Jennifer bersikap seolah ia mampu melakukan semua itu dengan mudah saja.


"Tentu saja,aku yakin,bahkan aku sangat yakin.Apa lagi,jika nanti kepala keluarganya adalah kamu... Jika hal itu benar-benar terjadi,aku pasti akan membuatmu merasa bahagia karena telah memiliki istri cantik,pandai dan baik sepertiku.Dan aku berharap,kalau hal itu benar-benar akan segera terjadi..." jawab Jennifer dengan nada semangatnya dan panjang lebar yang disertai doa tulusnya,sambil menyanggakan dagunya dengan kedua tangannya diatas meja tersebut,dan lagi-lagi hal tersebut mampu membuat Sebastian langsung mendengkus kesal.


Jennifer bahkan sibuk membayangkan,tentang akan betapa bahagianya dirinya,jika ia sudah menjadi istri dari seorang Sebastian Sachdev Rendra.Disayang,dicintai,dan setiap hari menjalani hidup bersama-sama dengan canda tawa dan lain-lainnya.


Sepertinya,ia sudah tidak sabar untuk menjalani kehidupan indah yang seperti yang ia bayangkan itu bersama Sebastian.


Sebastian bahkan sudah menampilkan ekspresi geli diwajahnya,saat ia melihat wajah tersenyumnya Jennifer yang terlihat menggelikan dimatanya itu.


Tapi beberapa detik kemudian,bayang-bayangan indah tersebut langsung sirna dengan disertai rasa sakit ngilu dikeningnya,berkat sentilan kuat jarinya Sebastian.


"Auchk...Kenapa kamu selalu mengincar keningku ini?" terdengar pekikan sakit yang tertahan dan gerutuan kesalnya Jennifer,sambil mengelus-elus keningnya yang terasa sakit ngilu.

__ADS_1


"Supaya,isi kepalamu yang telah bergeser jauh itu akan kembali normal lagi..." jawab Sebastian dengan nada kesalnya,sambil menatap kedepan lagi,dengan kedua tangan yang sudah bersedekap dada.


"Bergeser bagaimananya? Isi kepalaku sedari awal juga sangat normal,isi kepalamu saja yang tidak mampu mengimbanginya..." ucap Jennifer dengan nada kesalnya,sambil menatap kesal kearah Sebastian yang masih menatap lurus kedepan.


Sedangkan Sebastian,ia terus saja menghela napas pelan sampai beberapa kali,karena ia mendengar jawaban dari Jennifer barusan,tahu ada saja yang akan dijawab oleh Jennifer.


Sedangkan ditengah-tengah tempat acara tersebut,berbeda dengan Sylvia yang sudah pergi tidur duluan setelah teman-temannya tadi sudah pulang,kedua orang tuanya Jennifer malah masih duduk disana dan sibuk mengobrol tanpa mengalihkan pandangan mereka dari Sebastian dan Jennifer,sedari tadi.


"Apa kamu yakin,sayang? Kalau ide gil*nya Jennifer akan berhasil?" tanya Mommy dengan nada dan wajah khawatirnya.


"Sayang,kamu tenang saja.Kalaupun memang tidak berhasil,bukankah kita bisa membantu Jennifer, supaya ide konyolnya itu berhasil..." jawab Daddy dengan wajah yang tersenyum licik,tanpa melepaskan pelukannya pada istrinya,sedari 10 menit yang lalu.


"Tapi bagaimana caranya kita akan membantunya, sayang? Sebastian,pria yang sangat keras kepala dan tidak takut pada apapun.Jadi,tidak memungkinkan untuk Sebastian akan menurut sama kita..." tanya Mommy dengan wajah yang tampak berpikir khawatir tentang sikapnya Sebastian yang mampu ia nilai selama beberapa hari ini.


"Ternyata istriku jeli juga sama sikapnya pria keras kepala itu..." ucap Daddy dengan wajah yang tersenyum bangga dan mengabaikan pertanyaan istrinya.


"Bagaimana aku tidak jeli? Sikapnya sangat persis dengan sikapmu dulu,datar dan cuek..." ucap Mommy dengan wajah yang tersenyum kesal,karena sikapnya 2 pria beda usia itu memang 95 % hampir sama.


"Cup..." Daddy langsung mengecup sekilas pipinya Mommy,ia bahkan tidak merasa kesal atau apapun karena disamakan dengan Sebastian,karena ia merasa sangat bahagia dengan pengejaran cinta dari istrinya yang dulu telah berakhir bahagia sekarang ini.


"Memangnya apa yang akan kamu lakukan? Jika Sebastian sampai menolak permintaan kita secara terang-terangan...Apa lagi,kita memakai cara kejam untuk menjebaknya " tanya Mommy dengan wajah khawatir yang bercampur penasaran,sambil menolehkan kepalanya kearah suaminya.


Ia bahkan mengabaikan kecupan singkat tersebut,karena untuk saat ini rasa penasarannya lebih kuat dibandingkan dengan sikap manis yang sudah biasa dilakukan oleh suaminya itu.


Lagi pula,ia memang harus membantu putri sulungnya itu,karena sekitar 2 minggu lagi,ia akan meresmikan posisinya Jennifer sebagai Presdir di Perusahaan besarnya itu.Jadi,sosok Sebastian sangat ia butuhkan untuk berada disampingnya Jennifer nanti.


"Baiklah.Kalau begitu,aku akan mempercayaimu saja..." ucap Mommy dengan nada senangnya saat ia mendengar nada yakin dinada bicara suaminya barusan,walaupun masih ada sedikit perasaan khawatir.


Lalu Mommypun langsung menyandarkan kepalanya kedada suaminya dengan pelan,mereka berduapun terus berpelukan sambil menatap kearah sepasang manusia yang masih sibuk berdebat itu.


Kembali ke Jennifer dan Sebastian...


"Jangan pernah membayangkan apa yang tidak akan pernah terjadi,Nona Muda..." ucap Sebastian dengan nada kesalnya,setelah ia sudah selesai menghela napas pelan tersebut.


"Bagaimana kalau apa yang telah aku bayangkan tadi,akan terjadi?" tanya Jennifer dengan nada yakinnya dan wajah yang tersenyum menggoda.Ia ingin sekali tertawa,saat ia mendengar panggilan Nona Muda dari Sebastian untuknya barusan.


"Memangnya kapan aku mengatakan padamu, kalau aku akan menikahimu? Tidak pernah kan? Jadi kamu tidak perlu terlalu banyak berharap, karena hal itu tidak akan terjadi..." tanya Sebastian balik dengan nada yang semakin kesal karena nada yakinnya Jennifer barusan,ia masih belum berani untuk menata masa depannya,saat ini ia hanya ingin memikirkan tentang perkerjaannya saja.


"Benarkah? Tapi apa salahnya,kalau aku terus berdoa,supaya hal itu akan terjadi secepatnya..." jawab Jennifer dengan wajah yang tersenyum manis kearah Sebastian yang kembali mendengkus kesal.


'Aku yakin kalau sebentar lagi,kita pasti akan segera menikah.Dan sisanya,biarlah kita jalani dulu...' lanjut Jennifer didalam hatinya,tekadnya sudah bulat untuk membuat Sebastian bisa terikat dengan dirinya.

__ADS_1


'Aku benar-benar bisa menjadi bod*h,kalau aku terus bersama wanita menyebalkan ini..." batin Sebastian dengan wajah malasnya,sambil berdiri dari duduknya.


"Eh,tu tunggu dulu...Masih belum jam 11,kamu mau kemana? " tanya Jennifer dengan cepat, sambil ikut berdiri dari duduknya dan juga menahan lengan kekarnya Sebastian.


"Aku? Tentu saja aku ingin pergi tidur.Ini sudah larut malam,dan kamu masih berkata masih belum jam 11?" jawab Sebastian dan juga bertanya dengan nada malasnya,tapi ia sama sekali tidak terganggu dengan pegangan tangannya Jennifer dilengannya.


"Iya.Tapi kan,malam ini acara ulang tahunku...Seharusnya kamu menghargaiku,dan mau menemaniku minum,sebentar saja disini..." jawab Jennifer dengan nada manjanya,sambil mendekatkan wajah cantiknya kelengannya Sebastian,dengan tatapan manja kearah wajah malasnya Sebastian.


"Kenapa kamu tiba-tiba saja berubah menjadi manja seperti ini?" tanya Sebastian dengan nada malasnya,karena ini baru kali pertamanya,ia melihat wajah manjanya Jennifer.


"Ayolah.Hanya menemaniku untuk meminum segelas wine saja.Kamu bahkan,sama sekali tidak mengucapkan selamat padaku sedari tadi... Jika kamu tidak mau menghargai permintaanku, setidaknya kamu bisa memikirkan perasaanku, bukan?" tanya Jennifer dengan nada yang semakin manja,bahkan banyak orang-orang yang ada disekitar mereka langsung tersenyum karena terhibur dengan wajah manja Nona Muda Mereka yang hampir jarang terlihat itu.


"Ya,Tuhan,wanita ini...Bukankah itu sama saja... Kamu bahkan tidak mau memberiku pilihan... "jawab Sebastian dengan nada kesalnya,sambil duduk kembali dengan gerakan malasnya.


Jenniferpun langsung tersenyum senang,dan bersorak senang didalam hatinya karena bujukannya berhasil membuat Sebastian mau mendengarkannya.


"Nah,begitu baru menyenangkan.Aku akan menuangkan wine lagi, untukmu...Dan untukku juga..." ucap Jennifer dengan wajah yang tersenyum senangnya,sambil menuangkan wine kegelasnya Sebastian dan juga untuknya.


Sedangkan Sebastian,ia hanya mampu menahan senyum didalam hatinya sambil terus fokus menatap wajah tersenyumnya Jennifer,tanpa menyadari kalau Jennifer sedang mengeluarkan keahlian gerakan kilat tangannya saat ini.


'Yes...' batin Jennifer dengan wajah yang tersenyum puas setelah ia berhasil mencampuri sesuatu kewine miliknya Sebastian,ia bahkan telah melakukannya dengan sangat baik tanpa dicurigai oleh Sebastian sedikitpun.


"Nah,ini untukmu,dan ini untukku...Ayo,kita bersulang,untuk umurku yang ke 22 tahun pada tahun ini..." ucap Jennifer dengan nada senangnya, sambil menyodorkan gelas wine tersebut kehadapannya Sebastian.


"Apa saja yang telah kamu lakukan,selama berada di Australia?" tanya Sebastian dengan nada pelannya,sambil mengambil gelas winenya dengan gerakan pelannya.


Ia sengaja bertanya untuk menambah bahan obrolan dan sekalian juga ingin mengusir rasa kesal dan juga sedikit penasaran tentang kegiatan-kegiatan apa saja yang telah dilakukan oleh Jennifer disana, walaupun ia selalu mendengar langsung dari pamannya Jennifer.


"Tidak banyak...Hmm,aku hanya terus saja belajar,dan sekali-kali keluar untuk berjalan-jalan kebeberapa museum dan wisata yang ada disana.Tapi aku lebih banyak menghabiskan waktuku untuk belajar saja,karena aku ingin membuat Daddy merasa bangga sama aku..." jawab Jennifer dengan jujur,sambil melirik sekilas kearah Sebastian yang mulai meminum wine tersebut.


'Iya.Dan kamu pulang,dengan langsung mengejarku,dan terus saja bersikap aneh...' batin Sebastian dengan wajah malasnya,sambil mulai menyesap winenya tanpa merasa curiga sedikitpun pada Jennifer.


"Apakah kamu tahu,aku menyelesaikan kuliahku,6 bulan lebih cepat dari pada yang lainnya..." lanjut Jennifer lagi,dengan ekspresi bangga diwajahnya.


"Oh,iya..." ucap Sebastian dengan singkat dan nada santainya,dan tanpa berhenti menyesap winenya.


Ia sudah mendengarnya dari Pak tua,tapi nyatanya kecerdasannya Jennifer malah tertutup sama sikap-sikap anehnya tersebut.Belum lagi,sikap manja yang baru pertama kalinya ia lihat itu.


"Dasar pria menyebalkan.." ucap Jennifer dengan nada kesalnya sambil ikut menyesap wine miliknya,saat ia mendengar jawaban singkat tersebut, Sebastian bahkan tidak berniat ingin memujinya sedikitpun.


'Yes...Bagus,minum saja terus sampai habis...' walaupun merasa kesal,tapi Jennifer masih sempat bersorak senang didalam hatinya sambil melirik waktu dijam tangannya,saat ia bisa melihat dari ekor matanya kalau Sebastian masih sibuk menyesap wine tersebut.

__ADS_1


1 menit berlalu...


"Bagaimana dengan kamu? Apa saja yang telah kamu lakukan disini tanpa aku,selama 1 tahun ini?" tanya Jennifer dengan nada santainya,sambil menelisik ekspresi wajahnya Sebastian,sepertinya obat yang ia campurkan tadi sudah mulai bereaksi, bahkan winenya Sebastian masih tersisa beberapa sesapan lagi tapi obat tersebut sudah mampu berkerja dengan baik.


__ADS_2