
Setelah ia selesai membersihkan wajah yang saat ini menurutnya sangat jelek itu,karena telah dibasahi oleh air matanya tadi.
Jenniferpun berniat ingin menukar jubah mandinya dengan pakaian yang telah ia ambil langsung dari tangannya Sebastian tadi,tapi baru saja ia ingin melepaskan jubah mandinya,wajahnya langsung saja menjadi kesal kembali,karena melihat kalau ada yang beda sama dressnya itu.
"Cih...Katanya hanya sebatas suami istri saja...Tapi lihatlah sekarang,siapa yang lebih buas? Dan juga munafik?" gumam Jennifer dengan nada dan wajah kesalnya setelah ia selesai berdecih kesal, sambil menelisik dressnya yang terlihat sedikit robek diujung resletingnya itu.
"Tapi bukankah sebatas suami istri saja,juga bisa sebuas itu? Cih...Kenapa aku malah menjadi bod*h seperti ini..." Jennifer kembali menggerutu kesal dan juga berdecih kesal.
"Semoga saja,setelah ini,kamu akan menggila karena ketagihan dengan kegiatan panas kita tadi, dan aku tidak akan semudah itu memberimu. Lihat saja nanti,aku akan membuatmu jungkir balik karena harus menahan kemunafikanmu itu..." lanjut Jennifer lagi,dengan wajah yang tersenyum kesal,sambil melemparkan pakaiannya yang sudah tidak bisa ia pakai itu kekeranjang pakaian kotor yang memang ada didalam kamar mandi sana,dengan gerakan kesalnya.
Setelah selesai menggerutu kesal,Jenniferpun segera berjalan kearah pintu kamar mandi,karena ia akan memakai pakaian diruang ganti saja.
Ruang ganti yang baru saja ia tahu,setelah ia sudah bertanya pada Ibu mertuanya dihari kedua pernikahan mereka pada hari itu,tapi ia masih belum mengetahui kalau masih ada pintu lain yang bisa digunakan untuk masuk keruang ganti tersebut.
"Mulai sekarang,aku tidak boleh melemah seperti yang sebelumnya,dan aku harus bisa lebih tegar dan kuat untuk kedepannya.Iya,aku harus bisa lebih tegar..." gumam Jennifer lagi,dengan nada seriusnya dan ekspresi wajah penuh tekadnya setelah ia sudah berjalan sampai dihadapan pintu, sambil membentuk tangannya menjadi isyarat semangat,untuk menyemangati dirinya sendiri.
Setelah ia sudah mengambil napas panjang dan membuangnya dengan perlahan-lahan, dan juga mengulangnya sebanyak 3 kali.Iapun langsung membuka pintu kamar mandi tersebut,dengan berusaha berekspresi santai diwajahnya,walaupun kedua matanya masih terlihat sedikit membengkak karena menangisnya tadi.
Beberapa detik kemudian...
"Ceklek..." terdengar suara pintu kamar mandi yang sedang dibuka dari dalam,Sebastian yang sedari tadi memang sedang menunggu istrinya keluarpun langsung kembali menegakkan kepalanya yang sibuk menunduk berpikir tadi.
Dan terlihatlah Jennifer yang langsung berjalan keluar dari dalam sana,dengan ekspresi santai diwajahnya.Ia bahkan mengabaikan suaminya yang tidak ia sangka,kalau ternyata suaminya masih setia berdiri didepan pintu sedari tadi.
"Tunggu dulu..." cegah Sebastian dengan nada kesalnya karena Jennifer telah berani melewatinya begitu saja,sambil menahan pelan tangannya Jennifer yang baru saja akan melewatinya.
"Ada apa lagi,hm? Apa kamu ingin mengajakku berdebat lagi,hm?" tanya Jennifer dengan nada santainya tapi wajahnya terlihat sedang menahan rasa kesalnya,sambil membalikkan badannya kearah Sebastian yang langsung menelisik wajahnya.
"Kalau tidak ada yang ingin kamu katakan lagi... Sekarang tolong lepaskan tanganku,aku ingin keruang ganti untuk mengganti pakaianku yang telah robek tadi..." lanjut Jennifer lagi,dengan nada kesalnya dan juga menyindirnya,karena Sebastian tidak juga menjawab ataupun melepaskan tangannya.
Sedangkan Sebastian,ia yang masih sibuk menelisik wajah lembabnya Jennifer yang terlihat sedikit pucat karena berada dibawah air keran terlalu lama itupun, langsung melepaskan tangannya Jennifer sambil menahan rasa malunya saat ia mendengar perkataannya Jennifer barusan.
Ia bahkan baru menyadari kalau ternyata ia begitu buas juga,sampai dressnya Jennifer bisa menjadi robek,sepertinya ia tidak akan pernah mampu melupakan kegiatan panas mereka tadi.Dan Jennifer masih belum mengeluh tentang yang lainnya lagi,seperti tanda-tanda merah yang telah ia cetak hampir disekeliling tubuh indahnya Jenifer tadi.
__ADS_1
"Apa saja yang sedang kamu lakukan didalam sana,sampai harus selama ini, hm?" tanya Sebastian dengan nada dan wajah penasarannya, setelah ia berhasil menyembunyikan rasa malunya,tanpa mengalihkan tatapan menelisiknya dari wajahnya Jennifer.
"Tentu saja aku sedang membersihkan diri didalam sana,kamu ini seperti tidak ada pertanyaan yang lain saja..." jawab Jennifer dengan nada santainya yang langsung berubah menjadi kesal.
"Benarkah?" tanya Sebastian dengan nada pelannya dan juga terdengar seperti sedang mengintimidasi.
"Tapi kenapa wajahmu terlihat seperti baru saja, habis menangis?" lanjut Sebastian dengan nada pelan dan wajah seriusnya,sambil terus menelisik wajahnya Jennifer yang langsung terlihat sedang menahan malu.
"Kenapa kamu masih bertanya,jika kamu sudah tahu? Dasar tidak waras..." tanya Jennifer balik,dengan nada kesalnya,sambil menetralkan rasa malunya tersebut.
Setelah selesai bicara,Jennifer langsung berbalik badan dan segera berjalan pergi dari hadapannya Sebastian,untuk pergi keruang ganti karena ingin menukarkan jubah mandinya dan juga menghindari pertanyaan suaminya yang bisa membuatnya merasa semakin malu itu.
"Kamu mau kemana? Aku masih belum selesai bicara..." ucap Sebastian dengan nada dan wajah kesalnya,saat ia melihat Jennifer yang malah sudah berjalan kesal pergi kearah ruang ganti sana.
"Brak..." dan lagi-lagi Jennifer menutup pintu dorong ruang ganti tersebut dengan sedikit kuat, karena rasa malunya yang telah bercampur dengan perasaan kesalnya itu.
Untung saja,semua pintu yang ada didalam rumahnya itu,adalah pintu yang sangat berkualitas tinggi,jadi tidak semudah itu akan rusak.
"Seharusnya aku yang marah-marah dan merasa kesal padanya,kenapa sekarang malah ia yang marah dan kesal padaku?" tanya Sebastian pada dirinya sendiri,dengan tatapan heran dan juga kesal yang terus tertuju kearah pintu ruangan ganti sana.
"Apakah karena aku telah mengambil keperawanannya tadi,makanya sedari tadi ia terus saja bersikap seperti itu padaku? Dan juga wajahnya...Apakah ia -benar-benar sedang menangis,saat berada didalam kamar mandi tadi?" Sebastian hanya mampu terus bertanya pada dirinya sendiri saja,tapi ia malah merasa semakin bingung dan juga salah paham.
Karena sesungguhnya bukan hal itu yang sedang dipermasalahkan oleh Jennifer,Sebastian bahkan tidak memikirkan tentang-tentang kalimat-kalimatnya tadi yang telah mampu membuat istrinya merasa kesal dan juga terluka itu.
Apa lagi,Jennifer hanya mengharapkan kalau Sebastian akan mengeluarkan kata cinta padanya tadi,tapi nyatanya hal itu tidak terjadi seperti yang ia inginkan.
Tapi walaupun begitu,terlihat ekspresi wajah bersalah diwajah tampannya Sebastian selama beberapa menit,saat ia memikirkan tentang Jennifer yang ternyata sibuk menangis didalam kamar mandi tadi.
Setelah berdiri diposisinya yang sama seperti tadi, selama hampir 10 menit.Sebastianpun segera masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang baru sekarang ia merasakan begitu lengket karena sisa-sisa keringatnya tadi.Dan tentunya,setelah ia menghela napas berat dengan panjang,karena kepalanya menjadi semakin pusing saat ini.
Iapun akhirnya melanjutkan pertanyaan-pertanyaannya tadi didalam hatinya saja,hingga ia selesai mandi.Sedangkan Jennifer, iapun berusaha untuk tidak memperdulikan suami menyebalkannya itu ,dan langsung keluar dari dalam kamar untuk membantu Ibu mertuanya memasak,setelah ia sudah selesai memakai pakaian santainya.
***
__ADS_1
Sedangkan ditempat lain,perasaannya pria tampan datar tersebut tidak kalah kesalnya dengan kedua majikannya itu.
Ya,pria tampan datar kedua dari Sebastian itu adalah Billy.Pria yang mau tidak mau,harus mengerjakan semua perkerjaan yang telah ditelantarkan oleh Tuan Mudanya selama beberapa hari ini.
"Dasar majikan tidak punya hati..." Billy kembali mengumpat yang ntah sudah keberapa puluh kalinya sedari beberapa jam yang lalu,sedari ia tiba diperusahaan majikan ini tadi.
Hanya saja,ia tidak sampai menyebut semua nama binatang,karena Tuan Hadden sendiri tidak pernah mengajarkan padanya untuk mengumpat seburan-sebutan yang seperti itu,kecuali jika ia sedang khilaf karena sedang marah besar.
Selama beberapa hari ini,Tuan Mudanya selalu saja menyuruhnya untuk cek ulang semua dokumen kerjasama antar perusahaan dan juga yang lain sebagainya,yang telah selesai ia periksa itu.
Dan sialnya dan juga bod*hnya,ia lupa untuk memisahkan yang telah sudah selesai ia periksa sebelum-sebelumnya itu,hingga membuat ia menjadi kewalahan untuk mengurus semua itu.
Lihatlah,setumpuk kertas putih yang berisi kalimat-kalimat penting itu,masih saja terlihat menggunung tinggi diatas mejanya Billy sekarang.
Belum lagi,ia juga harus menggantikan Tuan Mudanya untuk memimpin meeting didalam perusahaan dan juga diluar perusahaan.
Dan saat ini saja, Billy sudah mulai merasakan capek dan pegal-pegal disekujur tubuhnya,setelah ia baru saja menyelesaikan sebagjan dari setumpuk dokumen yang ada diatas mejanya tersebut yang sedang menggunung tinggi tadi.
"****...Apa pria menyebalkan itu mengira,kalau aku ini manusia robot,yang bisa melakukan apa saja,tanpa perlu merasakan lelah.Cih... Benar-benar sangat menyebalkan..." Billy kembali mengumpat dengan nada dan wajah kesalnya,dan juga berdecih kesal,saat ia melihat setumpuk kertas putih yang menurutnya terlihat seperti tidak juga mengurang sedari ia memulai tadi.
Karena merasa capek dengan perkerjaannya yang memang tidak akan ada habisnya itu,selama beberapa hari ini,iapun tidak mampu lagi membedakan berkurang atau tidaknya setumpuk kertas tersebut.
Rasanya semua jari-jari tangannya terasa telah mati rasa saat ini,tapi ia harus mengerjakan perkerjaannya yang seperti tidak akan ada habisnya itu,iapun memaksakan dirinya sebisa mungkin.
"Kenapa rasanya,sekarang aku malah merindukan kamu,paman..." gumam Billy dengan nada pelannya dan wajah yang tersenyum serius,saat ia memikirkan Tuan Hadden yang sekarang, mungkin saja sedang sibuk dimarkasnya sana.
Selama ia bersama Tuan Hadden dulu,ia memang sangat jaramg mengurus perkerjaan perusahaan, karena ia hanya akan lehih banyak mengurus tentang dunia hitam,menembak atau sebagainya.
Tapi sejak ia mengikuti Sebastian,ia harus mengurusi perusahaan,dan sekarang ia sekaligus harus ikut dalam dampak dari hubungan kedua majikannya yang tidak akan semulus yang orang-orang pikirkan untuk kedepannya nanti.
"Lihatlah,aku bahkan tidak menyadari kalau ternyata sekarang makan siangku sudah lewat... Benar-benar..." lanjut Billy lagi,dengan nada kesalnya,saat ia baru menyadari kalau ternyata sekarang sudah hampir jam 2 siang,dan tidak ada satupun yang berniat ingin memanggilnya untuk makan siang.
Padahal tadinya ia sendiri yang melarang dengan tegas pada yang lainnya untuk tidak menganggunya karena ia sedang berkerja,hingga membuat yang lainnya sampai tidak berani untuk memanggilnya keluar makan siang ataupun mengantarnya makan siang.Mereka semua bahkan tidak berani,walau hanya sekedar untuk mengetuk pintu saja.
__ADS_1
Setelah ia sudah selesai menggerutu kesal dengan panjang lebar dan wajah kesalnya yang telah bercampur lelah,Billypun segera berdiri dari duduknya dan memakai kembali Jas kerjanya dengan gerakan lelahnya.
Iapun langsung berjalan keluar dari sana,untuk makan siang.Dan menunda perkerjaannya terlebih dahulu,karena perutnya memang sudah memberontak sedari tadi, yang baru ia sadari sekarang.