Suami Tampanku Yang Sederhana

Suami Tampanku Yang Sederhana
Bab. 134


__ADS_3

Mereka semua terdiam selama beberapa menit, hingga Ibu teringat dengan sesuatu,dan hal tersebut mampu membuatnya merasa semakin khawatir saja.


"Aku rasa,kamu juga tidak mengetahui kalau istrimu terus saja merasa tidak enak badan selama 2 minggu ini..." ucap Ibu dengan nada menyindirnya,sambil terus mengelap sisa air matanya tersebut,dengan Ayah yang terus mengelus pelan pundaknya.


Sebastianpun langsung mengangkat kepala menunduknya tadi,dan menatap kaget kearah Ibu,saat ia mendengar kalimatnya Ibu barusan.


"Apa maksudnya,Ibu?" tanya Sebastian dengan nada bingungnya tapi ekspresi wajah kacaunya tidak berkurang sedikitpun,sambil memikirkan kembali tentang laporan yang telah diberikan oleh Aldy kemaren.


Sedangkan Ibu,lagi-lagi ia langsung menghela napas berat dengan panjang,begitu juga dengan Ayah dan juga Stella.


"Selama 2 minggu ini,Jennifer selalu merasakan pusing dan juga mual.Dan Ibu rasa,Jennifer sedang hamil saat ini..." jawab Ibu dengan nada dan wajah khawatirnya,sambil kembali meneteskan air matanya.


"Ibu,apa kamu berkata serius?" tanya Sebastian dengan nada dan wajah kagetnya dan juga senang, sambil berdiri dari duduknya.


"Tentu saja Ibu berkata serius,tapi kita tetap harus membawa Jennifer kerumah sakit.Maka dari itu, kamu harus segera pergi menyelamatkan menantu kesayangan kami itu sekarang juga..." jawab Ibu dengan nada dan wajah khawatir yang masih sama,sambil menyandarkan kepala lelahnya kepundaknya Ayah karena ia terus menangis sedari tadi.


Sebastianpun langsung berjalan pergi dari hadapannya Ayah,Ibu dan juga Stella,tanpa berkata apapun, hingga membuat Ayah langsung bersuara tegas untuk menghentikan langkahnya Sebastian.


"Kamu mau kemana,hm?" tanya Ayah dengan nada dan wajah tegasnya,sambil mengalihkan tatapan tajamnya kearah punggungnya Sebastian yang langsung menghentikan langkahnya.


"Aku ingin mencari istriku,Yah..." jawab Sebastian dengan nada dan wajah tegasnya juga,ia ingin kembali melanjutkan langkahnya,tapi suaranya Ayah kembali menghentikan langkahnya.


"Tapi sebaiknya,kamu pergi membersihkan diri kamu terlebih dahulu.Atau jika kamu ingin,kamu bisa bercermin terlebih dahulu..." ucap Ayah dengan nada tegas dan ekspresi wajah khawatirnya,sambil kembali menghela napas berat dengan panjang.


Sedangkan Sebastian,ia langsung menelisik penampilannya saat ini,dan ia baru menyadari kalau betapa kacaunya penampilannya saat ini.


"Pergilah membersihkan diri terlebih dahulu,baru kamu bisa melanjutkan pencariannya Jennifer..." tegas Ayah lagi,dengan nada tingginya saat ia melihat ekspresi wajahnya Sebastian yang terlihat tidak memperdulikan penampilannya saat ini,dan malah berniat ingin tetap melanjutkan langkahnya.


Sebastian yang mendengar nada tegas tingginya Ayah tersebutpun,mau tidak mau ia terpaksa langsung berjalan kekamarnya dan membersihkan diri,supaya ia bisa segera kembali mencari keberadaan istrinya.


"Tuan Besar,Tuan Muda sama sekali belum tidur sedari tadi malam.Dan,Tuan Muda juga hanya makan sedikit saja..." jawab pengawal yang telah mengikuti langkahnya Sebastian masuk kedalam rumah tadi,saat ia melihat tatapan tajamnya Ayah yang tertuju padanya.


Sedangkan Ayah,lagi-lagi ia hanya mampu kembali menghela napas berat dengan panjang dan juga mengalihkan tatapan tajamnya yang telah berubah menjadi khawatir itu lurus kedepan.


Pantasan saja,penampilannya Sebastian bisa sampai sekacau itu.Sekarang yang ia harapkan, kalau Sebastian akan segera menemukan menantu kesayangan mereka itu.


Sedangkan Ibu,ia hanya mampu terus menampilkan wajah sedihnya dan terus berdoa seperti apa yang diharapkan oleh Ayah,begitu juga dengan Stella yang juga ikut berdoa didalam hatinya.


Beberapa menit kemudian,terlihat Sebastian yang baru saja selesai membersihkan diri dan turun kebawah.Sebastian bahkan langsung keluar dari dalam rumah,tanpa memperdulikan tatapan sedih dan khawatirnya Ayah,Ibu dan juga Stella.Tapi tentu saja,dengan penampilan yang sudah lumayan rapi,dari pada yang tadi.

__ADS_1


***


"Perintahkan yang lainnya,untuk segera kejalan T***** sekarang juga..." perintah Sebastian dengan nada dan wajah datar,tegasnya,tanpa menghentikan langkah tegasnya tersebut.


Saat ini,dibenaknya hanya ada 1 tempat saja,dan ia yakin kalau istrinya ada disana.Sudah sedari tadi malam ia memikirkan tentang tempat tersebut,hanya saja ia terlalu sibuk fokus untuk memeriksa desa kecil tersebut,hingga sepagi ini dan membuat perasaannya semakin kacau dengan tubuhnya yang lelah.


Apa lagi saat ia mendengar semua kalimat dari Stella dan Ibu tadi,perasaan kacaunya semakin campur aduk saja.


Dan sekarang ia bukan hanya harus mengkhawatirkan 1 orang saja,tapi ia juga harus mengkhawatirkan 2 orang sekaligus saat ini.Tidak lupa juga,dengan pistolnya yang sudah ada disamping pinggangnya tersebut.


"Baik,Tuan Muda..." sekitar 40 han pengawal yang ada dihalaman rumah tersebutpun langsung menjawab secara serentak,sambil menunduk hormat kearah Sebastian yang telah berlalu kearah mobilnya.


Setelah itu,pengawal yang memang telah mengikuti Sebastian sedari tadi malam itupun segera mengikuti Tuan Muda mereka sambil menelepon untuk segera melakukan perintah dari Tuan Mudanya barusan.


Didalam mobil...


"Dring dring dring..." terdengar suara nada telepon dari HPnya Sebastian yang baru saja duduk didalam mobilnya,iapun langsung mengangkatnya dengan gerakan pelannya.


"Tuan Muda,dijalan T***** terdapat sebuah rumah kecil dihutan besar yang agak terpencil.Dan aku merasa,kalau tempat itu,tempat yang paling bagus untuk bersembunyi.Karena tempat itu tidak memiliki sinyal dan tidak bisa diakses oleh alat apapun, hanya tempat itu juga yang selalu dikawali oleh orang-orang yang berpakaian preman " ucap Gerry dari seberang sana dengan cepat,karena ia sudah tahu kalau Tuan Mudanya pasti tidak akan menjawabnya.


" Tiitt tiitt..." terdengar suara telepon yang ternyata telah dimatikan secara sepihak,dari Sebastian.


Padahal sedari tadi malam ia juga ikut kurang tidur, ia bahkan terus membantu untuk memikirkan tentang keberadaan Nona Mudanya tersebut.Dan ia baru saja terpikirkan tentang tempat terpencil dihutan tersebut yang pernah ia lihat secara tidak sengaja,saat ia memasuki hutan tersebut dulu.


Dan berbeda dengan Sebastian yang langsung kembali memasukkan HPnya kedalam saku celananya,tanpa merasa bersalah sedikitpun.


Lagi pula,ia sudah memikirkan tentang tempat yang dimaksudkan oleh Gerry tadi dilokasi cincin penemuannya tadi malam sedari tadi,dan Gerry baru saja mengatakan padanya.


Kenapa ia bisa mengetahui kalau ada tempat terpencil dihutan besar tersebut? Tentu saja,itu semua berkat paman Haddennya Jennifer.


***


Sedangkan disebuah rumah sebesar 2 ruko dengan 2 lantai,yang ada didalam hutan besar tersebut,seorang wanita cantik sedang duduk bersantai diteras kamar barunya sambil terus memikirkan cara untuk melarikan diri.


'Bagaimana ini? Mereka ada begitu banyak, bagaimana caranya aku bisa melarikan diri sekarang..' batin wanita tersebut yang ternyata adalah Jennifer,ia sedang sibuk berdiri bersandar diteras kamar barunya tersebut sambil terus memerhatikan kesekitarnya yang telah dijaga dengan ketat oleh bawahannya Irfan sedari tadi.


Berbeda dengan Sebastian yang telah lumayan kacau,Jennifer masih sempat bersantai.Hanya saja,ia masih juga belum berhasil mencari jalan keluar untuk melarikan diri.


"Apa yang sedang kamu pikirkan,hm?" tanya Irfan dengan nada dan wajah herannya,sambil mendekati dan berdiri tepat disampingnya Jennifer yang hanya diam saja.

__ADS_1


"Jangan pernah berpikir untuk kabur dari sini, karena kamu tidak akan berhasil kabur dari sini sampai kapanpun..." lanjut Irfan dengan nada dan wajah seriusnya,lalu menatap tersenyum puas kearah semua bawahannya yang telah berhasil ia sewa tersebut.


"Dan kamu juga tidak perlu menunggu suami bod*hmu itu,karena dia tidak akan mampu menemukan rumah kecil dihutan sebesar ini..." lanjut Irfan lagi, dengan nada dan wajah yang tersenyum yakin, sambil mengalihkan pandangannya kearah wajah cantiknya Jennifer yang langsung memberengut kesal.


"Suamiku tidak bod*h,dia hanya belum menemukannya saja..." ucap Jennifer dengan nada dan wajah kesalnya,sambil menatap kesal sekilas kearah Irfan dan kembali memerhatikan kesekitarnya yang memang tidak memiliki celah sedikitpun untuk dirinya bisa melarikan diri saat ini.


'Jika sebentar lagi,kamu tidak datang untuk membawaku pergi dari sini,berarti kamu benar-benar tidak menginginkan diriku lagi.Dan sebentar lagi,aku akan segera menjadi miliknya pria br*ngs*k ini...' lanjut Jennifer didalam hatinya,sambil terus berdoa dan berharap kalau Sebastian memang benar-benar akan datang untuk menyelamatkannya sebentar lagi.


"Lagi pula kamu tidak perlu memikirkan dia,sudah ada aku disini.Dan bersiap-siaplah sebentar lagi, karena pendeta akan tiba sebentar lagi..." ucap Irfan dengan nada dan wajah yang tersenyum tidak bersalahnya,sambil terus menatap wajah cantiknya Jennifer sedari tadi.


Ia sudah tidak sabar ingin menikahi Jennifer,dan menjadikan Jennifer miliknya seutuhnya,dan mereka akan segera menikah sebentar lagi.


'Jika saja,bukan karena aku masih memikirkan kedua orang tuaku...Aku pasti akan langsung bunuh diri dari tadi malam,dari pada aku harus menikah denganmu...' batin Jennifer dengan perasaan kesalnya,sambil tersenyum kesal sekilas kearah Irfan yang malah terus menatap bahagia kearahnya.


Lagi pula,ia masih berharap kalau akan ada yang datang untuk membawanya pergi dari tempat yang menurutnya terkutuk ini.Jadi mau tidak mau,iapun harus terpaksa berpura-pura menjadi penurut seperti ini, supaya Irfan tidak akan sampai memaksanya dengan cara yang lebih parah lagi.


"Kenapa kamu tidak menikah dengan dia saja? Bukankah dia lebih cocok denganmu?" tanya Jennifer dengan nada dan wajah malasnya,saat ia malah melihat kalau dikejauhan sana,datang seorang wanita yang sangat ia kenal.


Sedangkan Irfan,ia yang sibuk menatap wajah cantiknya Jennifer tadipun langsung mengalihkan pandangannya kearah lurus kedepan.Ia langsung mendengkus kesal,saat ia melihat siapa wanita yang dimaksudkan oleh Jennifer tersebut.


"Kenapa wanita itu malah datang kesini? " tanya Irfan dengan nada dan wajah kesalnya,sambil terus memerhatikan mobilnya wanita tersebut yang sedang melaju masuk kedalam halaman rumah terpencilnya tersebut.


'Pasti dia datang kesini,karena sedang ingin mencari masalah denganku...' batin Jennifer dengan tatapan malasnya,sepertinya ia bisa menebak apa tujuannya wanita tersebut datang kesini.


10 menit kemudian...


"Ada apa lagi,sampai kamu harus datang kesini?" tanya Irfan dengan nada dan wajah malasnya yang telah bercampur kesal,sambil menatap malas kearah wanita tersebut yang baru saja sampai dilantai ke 2 dan masuk kedalam kamar tersebut tanpa minta izin sedikitpun.


"Aku? Tentu saja,aku datang kesini untuk memberi pelajaran sama wanita j*l*ng ini..." jawab wanita tersebut yang ternyata adalah Rebeeca,sambil terus melangkah mendekat kearah Jennifer.


"Jangan mencoba-coba berani menyentuhnya,jika kamu tidak mau mati disini..." peringat Irfan dengan nada dan wajah tegasnya,sambil menatap tajam kearah Rebeeca yang terlihat tidak takut pada peringatannya tersebut.


"Kenapa aku tidak boleh menyentuhnya? Wanita j*l*ng ini telah menghancurkan rencanaku..." ucap Rebeeca dengan nada dan wajah kesalnya saat ia sudah berdiri tepat dihadapannya Jennifer.


Ia menjadi sangat kesal dan juga marah,saat tadi malam ia mengetahui kalau Sebastian batal berangkat kekota B,gara-gara mencari Jennifer sedari tadi malam hingga saat ini.


"Apakah kamu sudah tidak waras,hah?" tanya Irfan dengan nada dan wajah marahnya,sambil menatap waspada kearah Rebeeca.


Apa lagi,saat ia melihat Rebeeca yang telah bersiap-siap mengangkat tangannya ingin menampar calon istrinya.Sedangkan Jennifer,ia masih terlihat santai dan tidak ada ekspresi takut sedikitpun diwajah cantiknya tersebut.

__ADS_1


(Maaf ya, author baru keluar dari rumah sakit.Jadi uploadnya jadi terganggu,semoga kalian tidak merasa kecewa dan akan selalu terhibur...Terima kasih,😘)


__ADS_2