Suami Tampanku Yang Sederhana

Suami Tampanku Yang Sederhana
Bab. 79


__ADS_3

"Tapi Tante........" Sebastian yang ingin kembali membela diri,langsung disela oleh Daddy dengan cepat.


"Sekarang,kalian berdua cepat keluar,waktu kalian hanya 20 menit..." sela Daddy dengan nada tegasnya yang disertai tatapan tajamnya untuk Sebastian,sambil berjalan pergi dari sana dengan membawa istrinya,ia lupa tentang hal yang tidak pernah ia izinkan istrinya boleh melihatnya,selain boleh melihat miliknya saja.


"Brak..." terdengar suara pintu yang sedang ditutup dengan kuat oleh Daddy,yang menandakan kalau Daddynya Jennifer memang benar-benar sedang marah besar saat ini.


'Aku bahkan harus menerima umpatan brengsek yang ntah sudah keberapa kalinya,pagi ini.Dan aku sendiri bahkan juga tidak tau apa kesalahanku yang sebenarnya,walaupun......****...' batin Sebastian dengan wajah frustasinya,sambil mengusap kasar wajah tampannya yang sudah kacau itu,ia sudah bingung mau bagaimana caranya mengungkapkan ekspresi frustasinya saat ini.


"Apa lagi yang kamu tunggu? Apa kamu tidak mendengar berapa lama waktu yang telah Daddymu berikan tadi?Cepat pakai pakaianmu sekarang..." tanya Sebastian dengan nada kesalnya,saat ia melihat Jennifer yang hanya duduk diam saja sedari kedua orang tua tadi sudah menghilang dibalik pintu tersebut.


Jennifer yang tercengang dengan pintu yang tertutup kuat tadi itupun langsung tersadar,dan menatap wajah kesalnya Sebastian.


"Ba bagaimana dengan ini?" tanya Jennifer demgan nada gugupnya karena merasa bingung dan juga malu,sambil menunjuk kearah selimut mereka melalui matanya.


"****..." Sebastian kembali mengumpat kesal yang ntah sudah keberapa kalinya,saat ia melihat hanya 1 selimut saja yang menutupi tubuh tanpa benang mereka tersebut.


Sebastian segera mencari solusi,dan mengedarkan pandangan kesekitarnya,lalu ia hanya menemukan beberapa bantal saja...


Ya,dan juga pakaian mereka berdua yang telah berserakan dilantai.Sepertinya,ia tidak mau mempercayainya,tapi kenyataan yang ia lihat malah berkata lain...


"Yang benar saja..." ucap Sebastian dengan nada kesalnya,tapi ia tetap mengambil beberapa bantal tersebut untuk menutupi benda bawah miliknya itu.


"Sekarang pergilah,kamu duluan..." ucap Sebastian dengan menunjuk kearah kamar mandi yang ada disana melalui ekor matanya,sambil memegang erat bantal-bantal yang sedang melindungi benda bawah miliknya itu,dengan menahan rasa malunya.


"Apakah kamu masih menginginkannya lagi,setelah sudah merasakannya tadi malam? Atau yang tadi malam, masih belum cukup untukmu?" tanya Sebastian dengan nada menyindirnya dan wajah yang semakin kesal,karena Jennifer malah terus menatap kearah bawahnya.


"Hah! Dasar,pria brengsek.Sudah aku katakan padamu,aku tidak semurah itu,menyebalkan..." jawab Jennifer dengan nada kesalnya dan juga wajah kagetnya karena baru tersadar dari lamunan menggiurnya tersebut,sambil menahan rasa malunya dan menggulung selimut tersebut ketubuhnya dengan cepat tanpa berniat ingin menatap kearah Sebastian lagi.


Ia sudah melihat dada berototnya Sebastian sedari malam tadi,bahkan Sebastian sampai memeluknya karena menganggapnya sebagai bantal guling hingga mampu membuat dirinya beberapa kali harus terbangun dan kurang tidur malam tadi.Tapi tetap saja mampu membuat dirinya menjadi hilang fokus,jika saja dihadapkan dengan permandangan yang belum pernah ia lihat itu.


Sedangkan Sebastian,ia langsung mendengkus kesal dan terus memerhatikan Jennifer yang sudah turun dari atas kasur,dan sedang mengambil pakaiannya dengan wajah malu yang masih dibasahi air mata tadi,sebelum masuk kedalam kamar mandinya dengan langkah cepatnya.


"Apakah aku benar-benar sebrengsek itu?" tanya Sebastian pada dirinya sendiri dengan wajah tidak percayanya,sambil memikirkan tentang pakaian mereka yang berserak tersebut,hingga kecelana dalam mereka dan juga BHnya Jennifer.


Setelah itu Sebastianpun langsung bergegas mengambil pakaiannya yang berserak dilantai tersebut,ia hanya memakai ****** ***** dan celana panjangnya saja,dengan gerakan cepatnya karena ia harus membersihkan diri terlebih dahulu sebelum keluar untuk menghadapi kedua orang tuanya Jennifer.


Kemudian ia memerhatikan keadaan kasur tersebut,terlihat sebercak darah disana.Lalu ia kembali duduk diatas kasur dengan pikiran yang semakin kacau,ia sama sekali tidak bisa mengingat pertualangan indah tersebut.


Ia kembali menghela napas berat dengan panjang sambil menatap jam dinding yang ternyata baru jam 6 pagi,rambutnya bahkan sudah terlihat sangat berantakan karena ia tidak berhenti menggusarnya sampai Jennifer selesai membersihkan dirinya.

__ADS_1


30 menit kemudian,setelah mereka berdua sudah sama-sama selesai membersihkan diri,terlihat dari bawah tangga sana, Jennifer dan Sebastian yang sedang berjalan pelan kearah ruang tamu.


Dimana Daddy,Mommy,Aldy dan Billy,bahkan ke 3 sahabatnya Sebastian juga berada disana,dengan ekspresi wajah mereka masing-masing,dan tatapan yang terus tertuju kearah sepasang manusia yang sedang berjalan berjarak 2 langkah tersebut,secara bergantian.


Erik,Elvan dan Elisa,mereka ber 3 baru berada disana saat 10 menit yang lalu,karena tiba-tiba saja dibangunkan dan dipanggil kesini.Lihatlah,bahkan wajah mereka masih terlihat ngantuk,walaupun mereka ber 3 sudah mandi dan membersihkan muka.


Sebastian yang memang masih merasa tidak percaya itu,seperti biasanya,ia hanya berjalan dengan langkah tegasnya dan wajah kesalnya, sambil duduk bersama Jennifer,tepat dihadapan kedua orang tuanya Jennifer.


Ia bahkan menatap tajam kearah Billy dan juga Aldy,kenapa tadi malam kedua pria tersebut tidak memerhatikan dirinya ataupun mencegahnya, sampai hal tidak terduga tersebut terjadi padanya, dan ia harus menghadapi semua ini dengan perasaan bingungnya saat ini.


Berbeda dengan Billy yang sedang berusaha menahan rasa gugupnya dan tetap tenang,Aldy malah hanya mampu menampilkan wajah bingungnya sambil menelan air liurnya dengan susah payah saat ia melihat tatapan tajam dari Tuan mudanya barusan.


Karena ia memang sama sekali tidak tahu apa-apa,sedari semalam ia hanya ditugaskan untuk menjaga keamanan saja di Mansion tersebut,dan tiba-tiba saja ia dipanggil saat ia baru ingin pergi sarapan tadi.


Mereka semua duduk dalam diam,kecuali Billy dan Aldy yang dalam posisi berdiri disampingnya sofa tersebut,bahkan ruangan tersebut terasa dipenuhi aura yang mencekam karena tatapan tajam dari kedua pria beda usia yang berkuasa tersebut yang lebih mendominasi dari pada yang lainnya.Dan mereka semua masih terus setia sama diamnya mereka, hingga 10 menit kemudian...


"Kalian berdua harus segera menikah,pada besok pagi..." ucap Daddy dengan nada tegasnya,sambil saling membalas tatapan tajam sama Sebastian sedari 10 menit yang lalu.


Awalnya ia berniat ingin memprotes keterlambatannya mereka turun dan bergabung diruang tamu,tapi akhirnya ia memilih untuk langsung keinti masalahnya saja.


"What?" Sebastian.


"What?" Elisa.


"What?" Elvan.


Tanya mereka ber 4 sambil berdiri dari duduk mereka,secara bersamaan,karena merasa sangat kaget dengan pernyataan yang telah diberikan oleh Daddynya Jennifer barusan.


"Kenapa kita malah merasa kaget seperti ini, seharusnya kita harus merasa senang,bukankah ini kabar baik untuk kita semua? Ayo,kita duduk kembali..." ucap Elisa dengan nada tersenyum senang sambil menahan rasa gugupnya dan juga menarik pelan lengannya kedua pria tersebut yang memang berada diposisi kiri kanannya,saat ia melihat aura disekitar mereka masih terasa sangat mencekamkan.


Sedangkan Jennifer,ia hanya terus menampilkan ekspresi sedih sebagai korban diwajahnya,sambil tersenyum senang didalam hatinya.Berbeda dengan Mommy yang malah terus mempertahankan ekspresi sedih,marah dan juga kesal yang sudah bercampur menjadi satu.


"Iya.Kamu memang benar,ini kabar baik untuk kita semua..." ucap Erik dan Elvan secara bersamaan, dengan wajah tersenyum senangnya setelah mereka berdua sudah tersadar dari rasa kaget mereka barusan,sambil mengikuti tarikan pelannya Elisa dan duduk kembali.


Mereka ber 3 bahkan pura-pura tidak melihat,saat Sebastian langsung memberi mereka tatapan kesal,tapi mereka ber 3 memang benar-benar merasa senang saat mereka mendengar tentang pernikahan tersebut,akhirnya sahabat datar mereka itu akan menikah juga,walaupun mereka tidak tahu apa penyebab dari pernikahan tersebut.


"Apa paman sedang bercanda?" tanya Sebastian dengan nada dan wajah kesalnya,sambil duduk kembali.


"Apa wajahku terlihat sedang bercanda saat ini?" tanya Daddy balik,dengan perasaan kesal dibalik wajah tegasnya,karena Sebastian masih saja berharap kalau dirinya sedang bercanda,seperti dirinya sudah seperti tipe orang yang suka bercanda saja.

__ADS_1


"Tapi paman,kami tidak melakukan apa-apa. Bagaimana bisa kami menikah tanpa alasan yang belum jelas seperti ini..." jawab Sebastian dengan nada kesal dan wajah seriusnya,sambil melirik sekilas kearah Jennifer yang sedang duduk disampingnya,yang hanya terus menunduk sedih saja.


Ia tidak habis pikir,dengan sikap Daddynya Jennifer, semudah itu berkata kalau mereka harus menikah pada besok pagi,tanpa bukti yang kuat.


Ya,walaupun ia juga telah melihat darah perawan tadi,tapi ntah kenapa ia sangat yakin kalau dirinya memang tidak melakukan apa-apa terhadap Jennifer karena ia sama sekali memang tidak merasakan kalau dirinya telah melakukan hal tersebut.


"Apa kedua orang tuamu memang selalu mengajarimu,untuk menjadi pria brengsek seperti ini?" tanya Mommy dengan nada dan wajah marahnya,sambil bersedekap dada dengan tegas.


Walaupun hatinya merasa bersalah saat mengatakan semua itu,tapi ini hanya berakting bukan.Jadi,tidak masalah menurutnya.


"Tante,aku minta maaf,kalau aku telah melakukan kesalahan.Tapi aku mohon,Tante jangan pernah membawa kedua orang tuaku kedalam masalah yang belum jelas ini..." jawab Sebastian dengan nada dan wajah tegasnya,sambil mengepalkan kedua tangannya karena sedang menahan rasa kesalnya.


Jika saja wanita paruh baya tersebut bukan Mommynya Jennifer atau orang tua, mungkin saja ia akan berkata kasar saat ini juga,atau ia akan melakukan yang lebih parah lagi.Ia tidak masalah jika harus dikatakan sebagai pria brengsek,tapi jika sudah melibatkan kedua orang tuanya,ia tidak akan bisa menahannya terlalu lama.


"Minta maaf? Belum jelas,kamu bilang.Apakah yang telah kami lihat didalam tadi,masih belum jelas,ha?" tanya Mommy dengan nada tingginya, sambil tersenyum senang didalam hatinya,ternyata Sebastian memang tipe menantu idamannya.


Ia tidak merasa marah sedikitpun saat mendengar perkataannya Sebastian barusan,tapi ia malah merasa bersyukur karena sekarang diberikan pria seperti Sebastian pada keluarga mereka.


Ya,tegas,menghormati orang tua,tidak berwajah dua,dan tidak takut sama apapun,dan beberapa hal itu sudah cukup dan termasuk dalam daftar menantu idamannya.


Sedangkan yang lainnya,hanya terus menonton dengan wajah khawatir yang bercampur bingung, tanpa berniat ingin berpihak pada siapapun.Bukan karena tidak ingin,tapi karena rasa takut mereka lebih mendominasi saat ini.


"Tapi besok pagi,terlalu mendadak Tante...Bisakah pernikahannya diundur selama beberapa hari lagi?" tanya Sebastian dengan nada dan wajah seriusnya, ia ingin menggunakan waktu beberapa hari itu untuk mencari bukti kesalahannya yang masih belum mampu ia jelaskan dan mengerti tersebut.


"Tidak bisa...Lagi pula,ini tidak mendadak juga,karena pendetanya akan bersedia kapan saja,besok pagi kalian hanya perlu mengucapkan sumpah pernikahan saja.Dan untuk resepsinya, baru akan diadakan pada bulan depan.Aku juga sudah memerintahkan bawahanku untuk menjemput kedua orang tuamu kesini, mungkin sebentar lagi mereka akan sampai..." jawab Daddy dengan nada dan wajah tegasnya,ia bahkan menjawab dengan panjang lebar,ia tidak akan membiarkan Sebastian sampai menemukan bukti apapun,sebelum berhasil menikah dengan putri sulungnya tersebut.


"What? Apa paman tidak waras?" tanya Sebastian dengan wajah kagetnya sambil berdiri dari duduknya karena rasa kagetnya,ia bahkan mengurangkan rasa sopannya pada orang tua,ia juga semakin yakin kalau ada yang tidak beres dengan kejadian yang telah menimpanya hari ini.


Apakah dirinya telah dijebak,atau yang lainnya...Jika bukan begitu,kenapa Daddynya Jennifer begitu memaksa,bahkan sudah mengatur dengan begitu cepat karena kedua orang tuanya sudah didalam perjalanan saat ini.


"Apakah aku harus mengatakan sesuatu tentangmu,pada kedua orang tuamu nanti?" tanya Daddy nya Jennifer balik,dengan tenang tapi penuh ancaman,dan Sebastian langsung bisa mengerti apa maksud dari Daddynya Jennifer barusan.


'****...Pria tua ini,hanya tahu mengancam saja...' batin Sebastian dengan wajah tegasnya yang sedang menahan segala rasa kesalnya,ia lupa kalau Daddynya Jennifer mengetahui semua tentang dirinya.


"Kalau kamu masih ingin menolak atau mencari banyak alasan untuk mengundurkan pernikahan kalian...Aku akan dengan senang hati,mengobrol ringan bersama kedua orang tuamu nanti.Aku ingin melihat,bagaimana tanggapan mereka tentang hal itu..." lanjut Daddy dengan nada santainya dan menekankan katanya pada kata "hal itu",sambil menyandarkan tubuhnya kebelakang,dan sebelah kaki yang terangkat menyilang.


"Apa kamu akan diam saja? Atau memang ini yang kamu inginkan?" tanya Sebastian sambil menatap heran dan juga kesal kearah Jennifer,karena sedari tadi ia sama sekali tidak mendengar suara berisiknya Jennifer,tidak seperti saat mereka didalam kamar tadi.


"Memangnya aku harus mengatakan apa? Bukankah kamu memang harus bertanggung jawab atas perbuatan yang telah kamu lakukan padaku? Atau kamu sengaja ingin membuat nama baikku tercemar dan berniat ingin melarikan diri dari tanggung jawabmu?" tanya Jennifer balik dengan nada dan wajah kesalnya,sambil menolehkan kepalanya kearah Sebastian yang langsung mendengkus kesal.

__ADS_1


"Terserah kalian saja..." jawab Sebastian akhirnya, dengan nada kesalnya dan wajah pasrahnya,ia juga menghela napas panjang dengan berat.Ia merasa sangat heran dengan mereka sekeluarga yang terlihat sangat kompak dalam menyudutkan dirinya.Jika saja,ia diajarkan dan boleh mengumpat orang tua, maka pasti akan ia lakukan saat ini juga.


__ADS_2