
"Nanti paman pikirkan lagi,baru paman kabari kamu ya..." tulis pak tua tersebut,sambil merebahkan tubuh lelahnya ke atas kasurnya.
Bukannya ia tidak mau bertemu sama keponakannya itu,hanya saja ia takut kalau ada salah satu musuhnya yang tidak sengaja melihat kedekatan mereka.Dan keponakannya itu,sudah di pastikan akan menjadi target selanjutnya untuk mereka semua.
"Baiklah paman.Tapi paman jangan sampai lupa untuk mengabariku ya,karena aku hanya akan berada di sini selama beberapa minggu ke depan saja" balas keponakannya lagi,dengan wajah tidak bersemangatnya di seberang sana.
"Iya,paman akan mengingatnya.Sekarang kamu cepat tidur.Jika tidak,paman akan menelepon Daddymu saat ini juga" balas pak tua tersebut lagi,sambil menahan rasa ngantuknya.
"Baik,baik,aku akan segera tidur.Good night,paman,sweet Dreams(semoga mimpi indah)" balas keponakannya dengan cepat,lalu ia segera menyimpan HP miliknya dan langsung memejamkan kedua matanya berusaha untuk tidur,dari pada pamannya benar-benar akan menelepon Daddynya nanti.
"Have a nice dream too(semoga mimpi indah juga)" tulis pak tua tersebut dengan menggeleng-gelengkan pelan kepalanya,sambil tersenyum.
Kemudian ia segera meletakkan HP miliknya ke atas nakas,lalu iapun menarik selimut,memejamkan kedua matanya dan langsung terlelap begitu saja karena rasa teramat ngantuknya.Beda dengan keponakannya sana yang harus membutuhkan sekitar 15 menit,baru keponakannya itu bisa terlelap.
***
Seminggu kemudian...
Di kediamannya keluarga Rendra.
"Kakak,apa kamu masih berhubungan sama wanita seksi itu?" tanya Stella dengan wajah penasarannya,sambil terus memakan sarapannya.Ia ingin sekali menyebut wanita tidak tahu malu,tapi ia takut kalau kakaknya akan memarahinya saat ini juga.
"Masih.Memangnya kenapa?" tanya Sebastian balik dengan nada santainya,sambil memakan suapan terakhirnya.
Sedangkan Ayah dan Ibu,mereka berdua hanya mampu menghela napas dengan pelan saja.Putri mereka itu memang selalu suka banyak bicara,beda sama putra mereka,bahkan di waktu sarapan seperti ini.
"Tidak kenapa-kenapa.Hanya saja,aku tidak menyukainya.Dan aku rasa,kakak sangat tahu tentang hal itu.Apa kakak tidak bisa mengganti atau mencari wanita yang lainnya saja?" tanya Stella dengan nada kesalnya,dan langsung di tanggapi anggukan pelan oleh Ayah dan juga Ibu,karena mereka berdua juga sama-sama tidak menyukai Siska kekasihnya Sebastian.
Mereka ber 3 jadi terheran-heran dan bertanya-tanya di dalam hati,apa Sebastian sedang kerasukan atau jiwanya yang sedang bermasalah.Ntah apa yang Sebastian lihat pada Wanita tersebut.
Wanita yang bernama Siska,yang hari itu Sebastian bawa ke rumah mereka untuk bisa saling mengenal.
Wanita yang berpakaian sangat seksi,hanya sedikit bagian tubuh saja yang tertutupi,tidak punya sopan santun, cara bicaranya terdengar sangat sombong dan juga suka merendahkan.
Tapi lucunya,sampai sekarang Sebastian masih tetap bertahan dna bersabar sama wanita tersebut.Akhirnya mereka ber 3 jadi mengerti kata pepatah 'cinta itu buta',terbukti dari Sebastian yang telah mengabaikan hal negatif yang ada pada diri wanita tersebut.
Walaupun hari itu,Sebastian sudah meminta maaf pada mereka,tetap saja mereka tidak menyukai wanita tersebut.
"Auchk...Kakaakkk..." terdengar pekikan sakit dari mulutnya Stella,saat ia merasakan sakit dan juga ngilu di keningnya karena di sentil kuat oleh kakaknya sendiri.
"Jangan merusak moodku,pagi ini" ucap Sebastian dengan nada kesalnya,sambil meminum airnya.Kemudian ia menatap ke arah wajah kesal adiknya,dan beralih ke arah Ayah dan juga Ibunya.
Lalu ia menghela napas dengan berat,ia bukan tidak tahu kalau kedua orang tua dan juga adiknya tidak menyukai kekasihnya.
Ia juga menyadari tentang sifat buruk kekasihnya itu,hanya saja ia berpikir kalau semua sifat kekasihnya masih bisa di rubah dan itu semua butuh waktu.Tanpa dirinya tahu,kalau kekasihnya masih memiliki sifat buruk yang lainnya lagi.
"Ayah,Ibu,aku berangkat kerja dulu ya,,," lanjut Sebastian lagi,dengan nada pelannya sambil berdiri dari duduknya.
"Hm" jawab ayah dan Ibu dengan nada tidak bersemangatnya,karena Sebastian masih tetap saja tidak mau mendengarkan kata adiknya.Sedangkan Stella,ia sibuk menatap kesal ke arah Sebastian yang sedang mengabaikannya.
__ADS_1
Kemudian Sebastian langsung berjalan keluar dari dalam rumahnya,lalu ia segera melajukan motornya ke tempat kerjanya.
"Ayah,Ibu,apa kedua matanya kakak sedang bermasalah?" tanya Stella dengan wajah yang memberengut kesal,sambil terus mengelus-elus pelan keningnya yang masih terasa sakit.
"Tidak,Ibu rasa kepala kakakmu yang sedang bermasalah saat ini" jawab Ibu dengan wajah malasnya,sambil menatap punggung lebar putranya mereka,begitu juga dengan suaminya yang juga sedang menatap punggung lebarnya putra mereka.
"Aku rasa perkataan Ibu memang benar" ucap Stella,masih dengan nada kesalnya,sambil memakan sisa sarapannya lagi,lalu di ikuti oleh Ibu dan juga Ayah.
***
Di Restoran A*****.
Setelah Sebastian sampai di Restoran tempatnya berkerja,ia langsung masuk ke dalam Restoran,bersamaan dengan Elvan yang juga sama-sama baru saja sampai.
"Lihatlah,kamu terlihat sangat tampan sama Jas dan dasimu ini" puji Elvan dengan nada tulusnya,sambil tersenyum dan terus berjalan berdampingan dengan Sebastian.
"Kamu ini suka berlebihan" ucap Sebastian dengan wajah malasnya tanpa menghentikan langkahnya,setelah ia selesai menatap ke arah Jas dan juga ke arah wajah tersenyumnya Elvan.
Ia memang sedang memakai Jas barunya saat ini,karena ia harus terus bertukar Jas setiap harinya,dan ia masih memiliki 3,4 Jas lainnya.Makanya ia harus segera membeli pengganti Jas dan dasinya semalam,supaya ia bisa bergonta ganti Jas dan juga dasi
Kadang ia hanya memakai kemejanya saja,untung saja hari itu,kemeja kerjanya tidak ikut terkena darahnya pak tua tersebut karena terbungkus rapi oleh Jas miliknya hari itu.
"Aku berkata apa adanya saja" ucap Elvan dengan nada santainya sambil tersenyum tapi hanya di tanggapi oleh wajah malasnya Sebastian saja.Lalu mereka berdua langsung berjalan ke tempat mereka masing-masing.
Sedangkan para karyawan wanita,seperti biasanya,pasti akan terus menatap penuh damba ke arah Sebastian.Apa lagi,dengan penampilan Jas dan dasi barunya Sebastian saat ini.
………
"Dasar pria ini,masih pagi tapi kamu sudah sibuk duduk melamun di sini" umpat Erik dengan nada kesalnya saat ia melihat Elvan yang sedang melamun,sambil menatap jam tangnnya yang baru saja menunjukkan pukul 8 pagi.
"Prraanngggg"
"Ya Tuhan" Elvan.
Terdengar suara nampan gelas yang di pukulkan ke meja bar oleh Erik,tepat di depan wajahnya Elvan.Hingga mampu membuat Elvan langsung tersentak kaget,ia juga langsung berdiri dari duduknya sambil menyebut nama Tuhan karena rasa kagetnya.
"Apa yang kamu lakukan,hah?" tanya Elvan dengan wajah kesalnya,sambil duduk kembali ke tempat duduknya tadi.Hampir saja ia terjatuh karena rasa kagetnya tadi,tapi karena ia masih sempat dan mampu segera menyeimbangkan tubuhnya,iapun tidak jadi terjatuh.
"Apa yang sedang kamu pikirkan? sampai aku memanggilpun,kamu tidak mendengarnya⁷" tanya Erik dengan wajah penasarannya,sambil duduk di hadapannya Elvan dan mengabaikan pertanyaan dan wajah kesalnya Elvan barusan.
"Tidak ada,aku hanya sedang melihat orang-ornag yang sedang keluar masuk saja" jawab Elvan demgan salah tingkah sambil mengusap-ngusap tengkuk lehernya dengan pelan,lalu ia kembali berdiri dari duduknya untuk membuat pesanannya pelanggan. dan sekalian ia bisa menghindari pertanyaan-pertanyaan yang akan di lontarkan oleh Erik nanti.
Ia merutuki dirinya sendiri,karena terlalu sibuk memikirkan dan terus membayangkan wajah cantiknya wanita yang mereka jumpai di Butik hari itu.Ia jadi melamun berlebihan dan akhirnya ia ketahuan oleh Erik,walaupun tidak sampai ketahuan sepenuhnya.
"Sepertinya ada yang sedang kasmaran di sini..." ucap Erik dengan wajah yang tersenyum menggoda ke arah Elvan yang sedang mengabaikan dirinya.
"Siapa yang kamu bilang sedang kasmaran?" tanya Sebastian dari belakangnya Erik secara tiba-tiba,dengan nada yang agak sedikit tinggi.
"Ya Tuhan,apa kamu tidak bisa memelankan suaramu terlebih dahulu sebelum berbicara? Atau paling tidak,kamu harus berdiri di hadapanku terlebih dahulu,baru kamu boleh berbicara" tanya Erik balik dengan nada kesalnya,tanpa menjawab pertanyaannya Sebastian tadi.
__ADS_1
"Siapa yang sedang kasmaran?" tanya Sebastian lagi,dengan wajah penasarannya dan mengabaikan pertanyaan dan juga wajah kesalnya Erik,sambil duduk di sampingnya Erik yang masih menampilkan wajah kesalnya itu.
"Siapa lagi....Yang jelas,bukan aku...." jawab Erik dengan wajah seriusnya yang bercampur rasa kesal,sambil menunjuk ke arah Elvan yang masih sibuk itu dengan menggunakan ekor matanya.
Sebastianpun langsung mengikuti arah tunjuk ekor matanya Erik,lalu ia langsung tersenyum saat ia melihat dan mengerti siapa yang sedang di maksudkan oleh Erik tadi.
"Apa kamu tahu sesuatu,bro?" tanya Erik dengan wajah penasarannya sambil menelisik ke arah wajahnya Sebastian dengan tatapan menuntut jawaban,saat ia melihat wajah tersenyumnya Sebastian.
"Yang kamu bilang tadi,memang benar.Elvan sedang jatuh cinta pada seorang wanita" jawab Sebastian dengan wajah seriusnya,sambil menatap ke arah Elvan yang langsung mendengkus kesal ke arah mereka berdua.
"Benarkah?" tanya Erik dengan wajah tidak percayanya,saat ia mendengar jawabannya Sebastian barusan.Padahal setahu dirinya,Elvan sangat tidak suka kalau di ajak berkenalan ataupun memdekati wanita-wanita kenalan kekasihnya.
"Siapa wanita yang beruntung itu?" tanya Erik lagi,setelah ia sudah melihat anggukan pelan kepalanya Sebastian.
"Kamu lihat saja nanti,kalau dia sudah berhasil mendapatkan hati wanita itu..." jawab Sebastian dengan nada santainya,lalu wajahnya menjadi sedikit kesal saat ia teringat kembali pada wanita yang di maksudnya tadi juga wanita yang membuat dirinya kesal pada beberapa waktu lalu.
"Baiklah,aku akan sabar menantinya.Tapi kenapa wajahmu malah seperti tidak senang begitu sekarang?" tanya Erik dengan wajah penasarannnya kembali,sambil menatap ke arah Elvan dan juga Sebastian secara bergantian.
"Aku akan keluar sebentar...Sampaikan juga pada Elvan" ucap Sebastian dengan wajah malasnya tanpa menjawab pertanyaannya Erik barusan,ketika ia melihat betapa keponya sahabatnya yang satu ini.Inilah yang menjadi alasannya mereka,tidak mau bercerita apa-apa sama Erik.
Kemudian ia segera berdiri dari duduknya,lalu ia langsung berjalan keluar dari dalam Restoran tersebut dengan langkah lebarnya.
"Hey,Bas,kamu masih belum menjawab pertanyaanku lagi..." teriak Erik dengan nada kesalnya dan juga sedikit teriakan,sambil berdiri dari duduknya.
"Dasar...Aku masih penasaran tapi dia malah pergi begitu saja" lanjut Erik lagi,sambil menatap kesal ke arah punggung lebarnya Sebastian yang terus berjalan keluar dan mengabaikan teriakannya.
Kemudian ia kembali duduk dengan kasar,lalu menatap ke arah Elvan dengan penuh tanda tanya di dalam benaknya terhadap kedua sahabatnya itu.Mereka berdua terlihat seperti sedang menyembunyikan sesuatu yang ia tidak tahu.
Sedangkan Sebastian,ia sudah berada di perjalanan ke rumah kost kekasihnya dengan menggunakan motor biasanya.
Karena hari ini,Restoran sedang agak sedikit sepi.Jadi ia gunakan untuk menemui kekasihnya yang terus-menerus tidak ada kabar,bahkan no HP milik kekasihnya sudah tidak bisa ia hubungi lagi.
***
Di depan sebuah rumah kost yang berlantai 2 dan terdiri dari beberapa puluh kamar kost,sedang berdiri seorang pria tampan yang baru saja sampai.
Ya,itu adalah Sebastian yang baru saja sampai di rumah kost kekasihnya.Ia berdiri dengan wajah yang tersenyum bahagia,sambil menatap sebuah kotak kecil di genggaman tangannya yang berisi cincin.
Cincin permata cantik yang berharga hampir 30 juta,hingga mampu membuat uang gajinya selama 6 bulan itu,harus ia gunakan untuk membeli cincin tersebut karena cincin tersebut adalah salah satu permintaan dari kekasihnya yang masih belum sempat ia belikan.
Bahkan ia harus berpikir panjang dan sangat lama,selama 3 hari 3 malam,baru ia memutuskan untuk membeli cincin tersebut di sebuah toko perhiasan,ketika ia sedang dalam perjalanan ke sini tadi.
"Aku harap,kamu akan menyukainya" gumam Sebastian dengan nada pelan dan ragunya tapi wajahnya tetap tersenyum,lalu ia segera berjalan masuk ke dalam rumah kost tersebut dengan langkah lebarnya.
"Tok tok tok" terdengar suara pintu yang di ketuk dari luar oleh Sebastian yang baru saja sampai di depan kamar kost milik kekasihnya.
"Tuan,kamu sedang mencari siapa?" tanya seorang wanita paruh baya pemilik rumah kost tersebut,sambil menatap Sebastian dengan wajah penasarannya.
"Maaf bu,aku sedang mencari kekasihku.Dia yang bernama Siska dan tinggal di kamar kost yang ini" jawab Sebastian dengan wajah yang tersenyum ramah,setelah ia sudah berbalik badan.
__ADS_1
"Owh,ternyata Tuan sedang mencari Siska.Siska sudah tidak tinggal di kamar kost ini lagi,Tuan" jawab Ibu kost tersebut dengan wajah yang tersenyum ramah ke arah Sebastian yang langsung menampilkan wajah kagetnya.
"Sejak kapan,bu?" tanya Sebastian dengan wajah yang masih kaget, penasarannya dan juga bingung.