
Sedangkan Sebastian,ia sibuk menatap tajam kearah sang dokter yang masih sibuk tersenyum hormat kearah Nona Mudanya,tanpa melepaskan rengkuhannya pada pinggulnya Jennifer.
"Lalu bagaimana dengan pusing dan mualnya,hm?" tanya Sebastian dengan nada dan wajah tegasnya, dan tatapan tajam yang tidak mengurang sedikitpun.
"Hah! I itu......" sang dokter yang baru menyadari tatapan tajam Tuan Mudanya tersebut,iapun langsung menjadi kebingungan dengan ekspresi wajah yang telah bercampur ketakutan.
"Itu,Nona Muda bisa dirawat jalan,Tuan Muda. Pusing dan mualnya,hanya perlu memakan obat saja.Soalnya Nona Muda.........." sang dokter yang serba salah karena melihat Nona Mudanya yang juga menatap tajam kearahnya itupun,hingga akhirnya ia memilih Nona Mudanya,dan bahkan Sebastian langsung menyelanya dengan cepat.
"Ehem ehem ehem..." Sebastianpun segera menyela sang dokter dengan nada dan wajah yang berusaha tetap tenang,saat ia melihat sang dokter yang terlihat berniat ingin mengatakan tentang kehamilannya Jennifer.
"Mak maksudku,jika nanti Nona Muda mengalami pusing dan mual yang tidak mau berhenti juga, Nona Muda bisa langsung memanggilku saat itu juga,aku pasti akan datang tepat waktu..." jawab sang dokter dengan nada gugupnya, sebelum Tuan Mudanya bertanya padanya.
Padahal pusing dan mual Nona Mudanya tersebut hanya masalah biasa,karena Nona Mudanya yang sedang dalan keadaan berbadan dua.Tapi lihatlah,Tuan Mudanya malah bersikap berlebihan seperti ini.
"Baiklah.Ayo,sekarang kita pulang..." ucap Sebastian dengan nada cepatnya,sambil membawa Jennifer keluar dari sana.
"Ta tapi......." Jennifer yang sedari tadi mulai mengernyitkan keningnya dan ingin meminta penjelasannya sang dokter,tapi nyatanya belum sempat ia berbicara panjang lebar,tubuhnya sudah dibawa keluar dari ruangan tersebut tanpa menunggu jawaban darinya lagi.
Sedangkan sang dokter,ia langsung menghela napas lega dengan pelan,saat ia melihat kedua majikannya tersebut yang telah berjalan pergi hampir 10 langkah dari pandangannya.
"Kenapa kamu begitu terburu-buru seperti ini?Apakah kamu tidak melihatnya? Dokter itu terlihat sedang ingin mengatakan sesuatu pada kita,tadi..." Jennifer yang memang masih merasa penasaran tadipun,ia langsung menggerutu kesal sambil terus mengikuti langkah pelannya Sebastian yang tidak berniat ingin melepaskan dirinya.
"Dasar menyebalkan..." Jennifer hanya mampu kembali menggerutu kesal,saat ia melihat Sebastian yang hanya terus berjalan lurus kedepan tanpa menjawab pertanyaannya tersebut.
'Jika saja dokter itu bukan miliknya keluarga Naava,aku pasti akan segera memotong lidahnya itu,pada saat ini juga...' Sebastian hanya mampu menggerutu kesal didalam hatinya saja,sambil membawa Jennifer kedalam mobil.
Padahal tadinya ia berharap,kalau sang dokter akan membantunya supaya ia berhasil membuat Jennifer ingin tinggal dirumah sakit selama beberapa hari nanti.Tapi nyatanya,sang dokter malah semakin lama semakin merepotkan dirinya.
__ADS_1
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Sebastian dengan nada dan wajah khawatirnya setelah mereka berdua berada didalam mobil,saat ia melihat Jennifer yang terlihat sedang memegang kepalanya.
"Tidak,tidak apa-apa,hanya merasakan sedikit pusing saja..." jawab Jennifer dengan nada dan wajah seriusnya,sambil terus memijit pelan kepalanya.
"Apakah sebaiknya kita harus tinggal dirumah sakit beberapa hari lagi,hm?" tanya Sebastian dengan nada khawatirnya sambil menyandarkan kepalanya Jennifer kedadanya dan memijit pelan kepalanya Jennifer.
"Tidak perlu,sekarang kita pulang kerumahmu saja.Atau,,,," jawab Jennifer dengan nada cepatnya dan wajah tersenyum malasnya,dan juga menjeda perkataannya diakhir kalimatnya.
Tapi ia juga tidak berniat ingin menghindari pijitannya Sebastian tersebut,karena pijitannya Sebastian itu,memang terasa sangat nyaman dikepalanya
"Baiklah,baiklah,kita akan pulang saja..." ucap Sebastian dengan nada dan wajah yang tersenyum kesal,sambil memberi isyarat tangan pada sang supir,supaya segera melajukan mobilnya tersebut.
Ternyata istri cantiknya ini keras kepala juga,mau tidak mau iapun terpaksa harus mengalah.
"Apakah kamu pernah masuk khursus memijit,hm? Kenapa kamu bisa sampai pandai memijit,seperti ini?" tanya Jennifer dengan nada dan wajah penasarannya,sambil memejamkan kedua matanya untuk menikmati pijitan lembutnya Sebastian tersebut.
"Sejak kapan kamu pandai memijit,hm?" tanya Jennifer lagi,saat ia tidak mendengar jawaban apapun karena Sebastian yang malah hanya diam saja.
"Sejak kamu tersadar hari itu..." jawab Sebastian dengan jujur,singkat,dan nada santainya,sambil menatap lurus kedepan,tanpa menghentikan pijitannya tersebut.
Sedangkan Jennifer,ia langsung membuka kedua matanya dan menatap tidak percaya kearah Sebastian yang juga langsung menatapnya.
"Kamu adalah wanita pertama yang pernah aku pijit,selain Ibuku..." jawab Sebastian dengan nada dan wajah malasnya,saat ia melihat wajah tidak percayanya Jennifer tersebut.
"Benarkah?" tanya Jennifer dengan nada dan wajah yang masih tidak percaya.
"Terserah padamu saja,mau percaya atau tidak..." jawab Sebastian dengan nada malasnya,sambil mengalihkan wajah malasnya lurus kedepan kembali.
__ADS_1
"Dasar menyebalkan..." ucap Jennifer dengan nada dan wajah kesalnya,saat ia mendengar jawaban menyebalkannya Sebastian tersebut.
Setelah selesai menggerutu kesal,Jenniferpun kembali bersandar didada kekarnya Sebastian,tapi wajah kesalnya telah berubah menjadi tersenyum senang karena perhatian kecilnya Sebastian tersebut.
'Wanita ini benar-benar...' batin Sebastian dengan perasaan malasnya,saat ekor matanya melihat senyum senangnya Jennifer tersebut.
Sedangkan Jennifer,iapun kembali memejamkan kedua matanya dengan wajah yang terus tersenyum senang.Karena pijitan lembutnya Sebastian tersebut,iapun terlelap didada kekarnya Sebastian begitu saja.
40 menit kemudian...
Perjalanan senyap tanpa suara tapi terus dipenuhi dengan ekspresi senang dan bahagianya sepasang manusia tersebutpun,akhirnya sampai dirumahnya Sebastian juga.
Terlihat keluarga yang telah begitu antusias menunggu kepulangan mereka berdua,diluar teras rumah sana.
"Nak,hati-hati...." peringat Ibu saat ia melihat Jennifer yang baru saja keluar dari dalam mobil, setelah Sebastian membuka pintu mobilnya.
"Kakk ipar..." Stellapun ikut memanggil dengan nada dan wajah yang tersenyum senang,mereka berduapun segera berjalan menghampiri Jennifer.
Sedangkan Ayah,ia hanya terus berdiri dipintu utama,dengan wajah yang terus tersenyum kecil sambil memperhatikan istrinya dan yang lainnya.
"Bagaimana keadaanmu sekarang,nak? Apakah rasa pusingnu sudah menghilang?" tanya Ibu dengan nada dan wajah khawatirnya,setelah ia sudah selesai menatap kesal sekilas kearah Sebastian,begitu juga dengan Stella.
Karena selama beberapa hari ini,mereka berdua tidak bisa terus-terusan mengunjungi Jennifer seperti saat Jennifer belum sadarkan diri hari itu.Sebastian terus saja melarang mereka untuk datang berkunjung,dengan berbagai alasan yang menyebalkan.
"Hanya sedikit pusing saja,Bu.Bukan,maksudku Tante..." jawab Jennifer dengan nada cepat diakhir kalimatnya,karena terlanjur salah memanggil.
Sedangkan Sebastian,ia langsung mengernyit heran karena panggilan Ibu dari Jennifer barusan, sambil menelisik wajahnya Ibu dan juga Jennifer.
__ADS_1
"Syukurlah,kalau begitu.Ayo,kita segera masuk kedalam,supaya kamu bisa beristirahat cukup didalam..." ucap Ibu dengan nada cepatnya dan wajah yang tersenyum tulus,ia juga langsung mengambil alih rengkuhannya Sebastian yang seperti tidak mau terlepas tersebut,sebelum Sebastian sempat bertanya apapun pada Jennifer.