
Diluar ruangan meeting...
"Ceklek..." terdengar suara pintu yang terbuka dari dalam ruangan meeting tersebut,terlihat Sebastian yang sedang berjalan keluar dari dalam sana,dan masih sibuk merapikan rambutnya yang sudah lumayan rapi itu.
Sedangkan Billy,ia masih dalam posisi berdiri bersandar ditembok pagar kaca yang ada disekitar ruang meeting tersebut,dengan kedua telinga yang juga masih terpasang headset dengan rapi sedari tadi.
Karena volume yang telah ia tekan tadi itu ada ditingkat yang tertinggi,hingga ia tidak mendengar suara pintu yang terbuka itu,ataupun langkah kaki Tuan Mudanya tersebut.
"Ehem ehem ehem..." dehem Sebastian dengan nada tingginya dan wajah kesalnya setelah ia sudah selesai merapikan rambutnya,sambil bersedekap dada kearah Billy yang sedang sibuk memejamkan kedua matanya karena terlalu fokus untuk menikmati lagunya itu.
"Ya,Tuhan..." dan dehemannya Sebastian itupun,langsung berhasil membuat Billy sampai terlonjak kaget.
Hampir saja, HP miliknya itu akan terjatuh, jika saja ia tidak gerak cepat untuk menangkap HPnya yang telah mengudara itu,walaupun ia harus sampai sedikit kesulitan untuk menangkapnya karena HPnya terlempar mendadak seperti barusan.
"Tu tuan Muda..." panggil Billy dengan nada gugupnya dan wajah yang masih terlihat kaget, gugup karena masih merasa kaget, sambil menunduk hormat kearah Tuan Mudanya,setelah ia sudah berhasil menangkap HPnya tersebut.
Sedangkan Sebastian,ia langsung mendengkus kesal saat ia melihat tingkah kagetnya Billy barusan.
"Apakah aku menggajimu,hanya untuk bersenang-senang disini,hm?" tanya Sebastian dengan nada dan wajah tegas datarnya kembali.
"Maaf,Tuan Muda..." jawab Billy dengan berusaha tetap tenang,sambil menahan segala rasa kesalnya.
Padahal ia menjadi seperti itu,juga karena ulah Tuan Mudanya sendiri,tapi sayangnya ia tetap tidak akan bisa berbuat apa-apa selain menerima saja.
"Mana kunci mobilnya?" tanya Sebastian dengan nada tegasnya,ia sudah tidak punya banyak waktu untuk berdebat dengan Billy saat ini.
Sedangkan Billy,ia yang masih sibuk menahan segala rasa kesalnya itupun langsung menampilkan ekspresi bingungnya,saat ia mendengar kalau Tuan Mudanya bukan kembali mengumpatnya tapi malah meminta kunci mobil padanya.
"Apakah karena kamu mendengar lagu terlalu lama, jadi sekarang kamu telah menjadi tuli?" tanya Sebastian lagi,dengan nada tegas yang telah bercampur kesal saat ia melihat Billy yang bukannya segera memberinya kunci mobil tapi malah terus menatap bingung kearahnya.
"Tidak,Tuan Muda.Tapi......." Billy langsung menjawab dengan cepat,tapi sayangnya belum sempat ia bertanya,Tuan Mudanya sudah menyelanya terlebih dahulu.
"Cepat berikan saja,kunci mobilnya padaku..." perintah Sebastian dengan nada dan wajah tegas datarnya kembali,sambil merentangkan sebelah telapak tangannya tepat dihadapannya Billy.
Walaupun ia masih merasa bingung sekaligus penasaran,tapi Billy tetap segera mengeluarkan kunci mobil tersebut dari dalam saku celananya, dan meletakkannya diatas telapak tangan Tuan Mudanya itu.
"Kamu antar istriku pulang kerumah dengan selamat,sekarang juga.Aku akan pergi mengurus yang lainnya terlebih dahulu,selama kamu dalam perjalanan..." perintah Sebastian dengan nada dan wajah seriusnya yang bercampur tegas itu,sambil mengenggam pelan kunci mobilnya tersebut.
Dan juga mengetuk-ngetuk pelan jam tangannya dengan jari telunjuknya,supaya Billy tidak akan terus menampilkan wajah bingungnya itu lagi.
Setelah selesai bicara,Sebastianpun langsung berjalan pergi dari hadapannya Billy,tanpa menunggu Billy bertanya padanya lebih banyak lagi.
"Tuan Muda..." panggil Billy dengan nada yang sedikit tinggi,karena jarak Tuan Mudanya sudah berjarak banyak langkah darinya,karena langkah lebar Tuan Mudanya itu.
Ia merasa bingung dengan Tuan Mudanya itu,baru saja keluar dari dalam ruangan tersebut tapi sudah bersikap membingungkan seperti itu untuknya. Bukankah mulai hari ini Nona Mudanya akan menggantikan posisinya Tuan Besar,dan saat ini masih belum waktunya Nona Mudanya pulang kerumah.
Dan sedari tadi,ia hanya mengerti tentang ketukan pelan yang dilakukan oleh Tuan Mudanya dijam tangannya tadi.
__ADS_1
Baru saja,Billy ingin kembali mempertanyakan rasa bingung dan penasarannya yang masih bersarang didalam kepalanya itu,lagi-lagi Tuan Mudanya kembali menyelanya dengan cepat dan perintah yang lebih mengancam lagi.
"Billy,jangan berpikir untuk bertanya apapun lagi. Kamu hanya harus ingat 1 hal yang terpenting,jaga istriku dengan baik selama perjalanan pulang nanti.Jika aku sampai melihat ada bagian kulit istriku yang terluka atau apapun,aku pasti akan melubangi kepalamu terlebih dahulu..." sela Sebastian dengan nada yang lebih serius dan tegas dari yang tadi,sambil menghentikan langkah lebarnya tanpa berniat ingin membalikkan badannya kearah Billy sedikitpun.
Setelah ia selesai memberi perintah yang berisi peringatan penting itu,iapun kembali melanjutkan langkah tegasnya tadi,untuk menuju kemobilnya dan segera berangkat keperusahaannya.
"Baik,Tuan Muda..." Billy hanya mampu menjawab sambil terus menatap punggung lebar Tuan Mudanya yang semakin lama semakin menjauh saja,dengan ekspresi wajah bingung dan penasaran yang sedari tadi masih belum mengurang sedikitpun.
"Cih...Istri?" gumam Billy dengan nada dan wajah kesalnya yang bercampur perasaan gelinya,sambil menatap secara bergantian kearah punggung Tuan Mudanya yang telah menghilang itu dan pintu ruangan yang masih tertutup itu.
Sedari Tuan Mudanya keluar dari dalam ruangan itu tadi,ia terus saja mendengar Tuan Mudanya mengeluarkan kata istri sepanjang pembicaraan mereka tadi.Ya,terdengar sangat manis karena Tuan Mudanya memang sangat jarang mengatakan hal kecil seperti tadi.
Tapi lihatlah, kenyataan yang ia lihat sekarang,tidak mampu mencerminkan Tuan Mudanya sebagai suami yang baik untuk Nona Mudanya.
Bercinta,lalu meninggalkannya begitu saja,dan malah memerintahkan dirinya untuk mengantar Nona Mudanya pulang kerumah dengan selamat.
Jika memang istrinya yang terpenting baginya, Tuan Mudanya pasti akan mengutamakan Nona Mudanya terlebih dahulu dari pada perkerjaannya itu.
Ternyata Tuan Mudanya tidak pernah berubah, tetap akan lebih mengutamakan perkerjaannya dari pada apapun.Saat ini bahkan Nona Mudanya sendiri masih belum begitu mampu untuķ menggantikan posisi perkerjaan dibenak Tuan Mudanya sedari dulu.
Ya,walaupun tadinya ia sempat merasa kesal karena rasa cemburu Tuan Mudanya yang secara tidak sadar tadi itu.Tapi menurutnya situasi sekarang sama yang tadi agak berbeda,sepertinya saat ini ia lebih mengkhawatirkan Nona Mudanya dari pada yang lainnya.
"Lebih baik,aku menunggu sebentar lagi..." gumam Billy lagi,dengan nada pelannya.Karena sebanyak yang ia kenal dan paham tentang Nona Mudanya itu selama ini,pasti saat ini Nona Mudanya sedang menenangkan diri didalam sana.
Lalu iapun bersabar dan berdiri agak didepan pintu tersebut,sambil terus menghela napas berat karena sedang memikirkan keadaan Nona Mudanya didalam sana.
Didalam ruangan meeting...
Lalu iapun berdiri dari duduknya,setelah ia sudah duduk selama hampir 30 menit dikursinya itu sedari tadi.
Ya,tentu saja,juga setelah ia sudah selesai menetralkan atau menenangkan semua rasa dan perasaannya yang kurang baik tadi.Walaupun masih tersisa sedikit,tapi ia berhasil menahan tangisnya sedari tadi.
"Sepertinya,aku akan meminta mereka untuk memperbaiki semua ini..." gumam Jennifer lagi,dengan nada dan wajah kesalnya kembali, sambil melihat sebentar kearah CCTV-CCTV yang telah hancur itu.
Setelah selesai menghela napas berat dengan panjang, Jennifer segera berjalan keluar dari sana sambil merapikan rambutnya yang hanya sedikit berantakan itu,dan ia sangat yakin kalau Billy pasti sedang menunggunya diluar ruangan.
"Ceklek..." terdengar suara pintu yang terbuka pelan dari dalam,terlihat Jennifer yang sedang berjalan keluar dengan langkah dan juga wajah santainya.
"Nona Muda..." panggil Billy dengan nada dan wajah khawatirnya yang sudah mulai mengurang, sambil menghela napas lega karena akhirnya Nona Mudanya keluar juga.
Tadinya hampir saja ia akan mendobrak pintu itu,karena rasa khawatirnya semakin bertambah, dan takut kalau Nona Mudanya akan melakukan tindakan yang bod*h karena Tuan Mudanya.
"Hm..." jawab Jennifer dengan pelan dan singkat,sambil menelisik wajah khawatirnya Billy yang sempat ia lihat itu,dan tebakannya tadi benar kalau Billy sedang menunggunya.
"Ada apa dengan wajahmu,hm?" tanya Jennifer dengan nada dan wajah herannya,sambil menyandangkan tas kecilnya yang belum sempat ia sandangkan kepundaknya tadi.
"Tidak,tidak ada apa-apa,Nona Muda..." jawab Billy dengan nada dan wajah bingungnya sambil melirik kesal sekilas kearah Aldy yang sedang tertawa tanpa suara disudut sana,baru kali ini ia tidak mampu berakting didepan Nona Mudanya karena rasa khawatirnya tadi.
__ADS_1
"Cih...Dasar..." ucap Jennifer dengan nada dan wajah memberengut kesalnya,ia bisa melihat kalau Billy pasti sedikit banyak,juga tahu tentang apa yang telah terjadi samanya dan Sebastian barusan.
"Dimana Daddy dan Mommy?" tanya Jennifer dengan nada dan wajah santainya kembali,sambil mencari keberadaan kedua orang tuanya disekitar sana.
Lebih baik ia membahas yang lainnya saja,dari pada harus merasa malu kalau Billy sampai bertanya yang lainnya padanya nanti.
"Tuan besar dan Nyonya besar sudah pulang sedari tadi,Nona Muda..." jawab Billy dengan nada dan wajah tenangnya kembali,karena ia sepemikiran dengan Nona Mudanya,karena ia juga tidak berniat ingin membuat Nona Mudanya merasa malu.
Sedangkan Jennifer,ia langsung menghela napas lega saat ia mendengar jawabannya Billy barusan. Dengan begitu,jadi ia tidak perlu pusing-pusing lagi,untuk mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang akan ditanyakan oleh kedua orang tuanya.
"Aldy..." panggil Jennifer dengan nada tinggi dan wajah malasnya,saat ia baru menyadari kalau Aldy sedang berdiri tidak jauh dari mereka,mungkin saja sudah sedari 15 menit yang lalu.
"I iya,Nona Muda..." jawab Aldy yang mau tidak mau langsung keluar dari tempat persembunyiannya itu,dengan wajah yang sedikit gugup.
Tadinya ia memang baru kembali dari mengantar para tamu tadi,dan berniat ingin kembali mendampingi Nona Mudanya,tapi ia malah memilih untuk menonton terlebih dahulu.
"Perintahkan yang lainnya untuk memperbaiki ruangan ini,sekarang juga...Aku akan pulang sekarang,jadi kamu urus semua meetingnya hari ini,yang menolak diwakilkan,kamu tundakan sampai hari esok saja.Sisanya,kamu bisa mengatasinya kan?" perintah Jennifer dengan nada dan wajah tegasnya kembali,saat ia melihat Aldy yang sudah berada dihadapannya.
"Baik,Nona Muda.Bisa,Nona Muda..." jawab Aldy dengan cepat,nada dan wajah seriusnya, setidaknya ia bisa menghela napas lega karena Nona Mudanya tidak sampai menghukumnya atau memarahinya, karena tentang dirinya yang telah bersembunyi disudut sana tadi.
"Baiklah.Kalau begitu,aku pergi dulu..." ucap Jennifer dengan nada dan wajah tegasnya,lalu ia langsung berjalan pergi dari sana dengan langkah tegasnya kembali.
"Baik,Nona Muda..." jawab Aldy dengan cepat, sambil menunduk hormat kearah Nona Mudanya yang sudah mulai melangkah pergi.
Tapi kemudian Jennifer langsung menghentikan langkah tegasnya yang baru langkah ke 8 itu,saat ia merasa kalau ternyata Billy tidak ikut melangkah bersamanya.
Jennifer langsung mengernyitkan keningnya dengan heran saat ia sudah berbalik badan untuk mengecek,apakah Billy benar-benar tidak ikut melangkah bersamanya atau tidak.
Terlihat disana, Billy yang ternyata malah sedang sibuk menampilkan wajah bingungnya,yang tertunduk kebawah itu.Jenniferpun langsung bertanya kepada Aldy dengan isyarat matanya,tapi Aldy hanya mampu mengedik-ngedikkan kedua pundaknya karena dirinya sendiri juga tidak tahu apa penyebab yang telah membuat Billy menjadi seperti itu.
"Apakah kamu berniat ingin berdiri disana sampai pagi esok,hm?" tanya Jennifer dengan nada yang sedikit tinggi karena jarak mereka yang berjarak 8 langkah itu,sambil terus menelisik wajah tertunduk bingungnya Billy tersebut.
"Hah!" Billy langsung mengarahkan wajah bingungnya kesegala arah,saat ia tidak menemukan Nona Mudanya yang tadinya masih ada dihadapannya itu sudah menghilang ntah kemana.
"Apa sebenarnya yang sedang kamu pikirkan,hm? Bukankah ada yang memerintahkan kamu,untuk mengantarku pulang? Kenapa sekarang,kamu malah sibuk termenung disana?" tanya Jennifer dengan nada dan wajah yang sudah menjadi kesal, saat ia melihat Billy yang masih menampilkan wajah bingungnya itu.
Karena saat Sebastian memberi perintah pada Billy tadi,ia bisa mendengar dengan jelas dari dalam ruangan tersebut.Jadi hanya dengan mengingat namanya saja,sudah mampu membuat dirinya merasa kesal.
Apa lagi,saat ia mengingat kembali tentang apa yang telah terjadi padanya tadi,ia bahkan tidak berniat ingin menyebut nama suami menyebalkannya itu.
"Maaf,Nona Muda..." jawab Billy dengan wajah yang menunduk bersalah kearah Nona Mudanya, ia baru menyadari kesalahannya itu karena terlalu sibuk memikirkan apa yang telah Tuan Mudanya lakukan pada ruangan tersebut,sampai Nona Mudanya memerintahkan untuk memperbaikinya.
"Tuan Mudamu itu,telah berhasil membuat 3 buah CCTV ruangan meeting hancur berkeping-keping. Jadi, sekarang kamu tidak perlu merasa bingung seperti itu lagi.Ada-ada saja...Kalian berdua, ternyata memang sama-sama menyebalkan..." ucap Jennifer dengan wajah memberengut kesalnya, saat ia melihat tingkahnya Billy yang tidak perlu itu,dan ia juga baru selesai berhasil mencerna wajah bingungnya Billy tadi.
Setelah ia selesai bicara,Jennifer langsung berbalik badan dan berjalan pergi dari sana tanpa menunggu Billy lagi.
"Maaf,Nona Muda..." Billy hanya mampu terus meminta maaf karena benar-benar merasa bersalah tapi diabaikan sama Nona Mudanya begitu saja,sambil menggaruk-garukkan pelan tengkuk lehernya yang tidak gatal itu.
__ADS_1
Tapi kemudian Billypun segera mengejar langkah Nona Mudanya yang sudah menjauh darinya itu,dengan langkah lebarnya dan meninggalkan Aldy begitu saja.Tapi tentunya setelah ia sudah selesai menatap sebentar kearah Aldy yang malah gantian menampilkan wajah bingung seperti dirinya tadi.
Dan ia sangat tahu apa yang sedang dibingungkan oleh Aldy saat ini,pasti tentang CCTV yang baru saja dikatakan oleh Nona Mudanya tadi.Tapi beda dengan dirinya,yang sudah mengerti apa penyebabnya dari CCTV yang telah hancur berkeping-keping itu.